<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331</id><updated>2011-04-21T18:37:42.745-07:00</updated><title type='text'>Sihir Cinta</title><subtitle type='html'>"..Kombinasi yang menyihir antara elemen pop dan kecerdasan literasi. Seru!" (Dewi 'Dee' Lestari)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>83</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115760615802986117</id><published>2006-09-06T22:08:00.000-07:00</published><updated>2006-09-06T22:33:25.863-07:00</updated><title type='text'>I Love You, Om... -the novel-</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebuah pembunuhan telah terjadi. Menyamar sebagai juru warta kematian dirinya sendiri, Orestes masuk ke dalam istana. Mengendap diam-diam ke dalam kamar dan membunuh Aegisthus, lalu Clytemnestra—ibu kandungnya sendiri. Sebuah balas dendam atas permintaan Electra, saudara perempuannya, untuk pasangan yang telah membunuh Agamemnon, ayah kandung mereka. &lt;/span&gt;Kisah Yunani kuno ini yang menginspirasi Freud untuk ekuivalensi feminin dari teori &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oedipus complex&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada mitologi Yunani dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I Love You, Om...&lt;/span&gt; Dion bukan Electra yang dendam pada sang ibu karena telah berselingkuh dan membunuh ayahnya. Ia juga tak punya adik laki-laki yang akan membalas dendam atas kematian ayahnya. Ia hanya kadang-kadang sangat merindukan Ayah. Ayah, yang kerap membawakannya buku cerita bergambar—bukan komik seperti yang dibawa ibunya—dan hadiah-hadiah tak terduga dari perjalanannya berlayar keliling dunia. Yang akan membacakan cerita sebelum ia terlelap tanpa jatuh tertidur seperti ibunya. Dion hanya seorang gadis kecil berusia sebelas tahun, yang kerap merindukan perhatian, setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya menjadi sangat sibuk demi mereka. Dion baru berusia sebelas tahun, ketika ia bertemu Gaza. Seorang laki-laki yang akan membujuknya ketika ia ngambek. Yang bersedia menemaninya berkeliling kota sepulang sekolah dan membelikannya es krim. Seperti ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi perasaan itu pun bertransformasi. Dion terlampau kecil untuk dapat menerka, menjelaskan, dan membatasi perasaannya. Gaza yang terlalu matang untuk Dion bahkan kesulitan memahami pergulatan besar dalam dirinya: tentang perasaan, norma, ukuran kewarasan, kerinduan-kerinduan dari masa lalu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penis envy&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Castration complex&lt;/span&gt;. Entah jika Dion juga mengalaminya. Tetapi cinta datang kepada siapa saja. Bahkan pada gadis kecil dua belas tahun dan laki-laki matang dua puluh delapan tahun. Pilihannya ada pada tangan si pelaku. Bukan penonton. Bukan pengamat. Bukan kritikus. Karena cinta bebas nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I Love You, Om...&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the novel&lt;/span&gt;, diadaptasi dari skenario film karya Aviv Elham dan diproduksi oleh Gunja Film dengan judul sama. Diterbitkan oleh GagasMedia, September 2006. 139 halaman, Rp 17.000. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-115760615802986117?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115760615802986117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115760615802986117&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115760615802986117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115760615802986117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/09/i-love-you-om-novel.html' title='I Love You, Om... -the novel-'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115632240065139523</id><published>2006-08-23T01:35:00.000-07:00</published><updated>2006-08-23T01:40:00.713-07:00</updated><title type='text'>Mobil Tua dan Mata yang Mengintai dari balik Reruntuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;sebuah pengantar proses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt;. Itu namanya. Sebuah kijang tua tujuhpuluhan yang mengantar kami ke kehidupan di balik pepuing dan jejak debu di udara. Yang mempertemukan kami dengan dunia ajaib di balik bencana, dan menjadi saksi tumbuhnya kembali sebuah desa. Tempat di mana anak-anak tak lupa cara tertawa, dan orang-orang tua masih bisa bersenda. Di tengah kepasrahan dan reruntuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik jendela &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt; berkecepatan sedang, kami merekam tilas hidup desa yang luluh lantak akibat gempa berkekuatan 5,9 S.R, 27 Mei 2006 lalu, yang masih berdenyut tak kenal lelah meski bencana merenggut banyak dari mereka. Sebuah keajaiban yang membuat kami belajar memahami makna paradoks di balik bencana. Lihatlah. Di balik sekian pasang mata yang mengintai ketika kendaraan tua kami menyusur jalan yang membelah desa, kami melihat pijar. Menyala, meski tersaput jelaga sisa gempa. Sekian pasang mata itu tidak semata bertanya: ‘apa bantuan yang dapat diberikan untuk kami’, tetapi ‘apa yang dapat kita lakukan bersama untuk kembali pulih’. Darinya, kami membaca tekad untuk beranjak dari keterpurukan. Sebuah keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu banyak keajaiban lain. Relawan-relawan yang dengan komitmen penuh mengisi proses dengan atmosfir sejuk waktu ke waktu, bantuan demi bantuan yang datang tak terduga, sampai mogoknya sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt; dan ban yang pecah ketika menjalankan tugas. Ajaib, sebab tak ada yang membuat kami surut, meski mesti melangkah dengan tersaruk-saruk. Meski compang-camping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armada ini memang compang-camping. Ketika bencana memorak-morandakan sebagian wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah seratus hari yang lalu, Perkumpulan Seni Indonesia, organisasi yang berangkat dari semata-mata komitmen ini, bertanya: apa yang dapat dilakukan untuk mereka, para korban bencana. Apa yang dapat kami gayuh, hanya dengan kapasitas dan kemampuan yang kami miliki. Hingga tersepakati sebuah proses yang demikian sederhana: pendampingan untuk anak-anak korban bencana, pada lingkup yang tak kalah kecil jika diperbandingkan dengan luas lingkup wilayah korban bencana. Sebentuk pendampingan yang diformulasikan dalam program sederhana pula: mengajak anak untuk mengungkapkan, dengan bahasa mereka sendiri, ketakutan-kegelisahan-luka jiwa-pikiran-anganangan dan harapan mereka untuk masa depan. Mengajak anak menyuarakan diri sendiri, dengan sesedikit mungkin menempatkan mereka sebagai objek. Dengan sedikit bekal yang kami miliki, selama bulan Juli hingga pertengahan Agustus, PSI menjalankan pendampingan di beberapa titik, antara lain: Pelemsewu, Kasongan, Pengkol, Bawuran, dan Karangasem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di sinilah kini kami berada, bersama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt; dan serangkaian keajaiban yang membuat program tahap awal berhasil terlampaui. Sesungguhnya, masih banyak yang ingin kami lakukan untuk bangkit bersama korban bencana. Masih banyak titik yang ingin kami singgahi menitih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt;: Payak, Bawuran Tengah, lereng Merapi, bahkan Pangandaran, jika saja kami mampu. Mungkin kelak. Sebab, ketika tikar digulung, anak-anak dampingan kami kembali ke rumah, dan sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt; disimpan kembali dalam garasi, diam-diam kami menyimpan janji. Untuk selalu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudayeksa &lt;/span&gt;mungkin berhenti. Sejenak saja. Tetapi celoteh anak yang meramaikan hidup kami sebentar kemarin akan menggantikannya, melanglang tanah air dan belahan lain dunia, menceritakan suka-duka mereka di tengah reruntuhan dan kehilangan. Sementara kami hanya bisa memandang dan berdoa: semoga sesuatu yang sederhana ini cukup berarti. Semoga mereka, anak-anak di wilayah bencana, menemukan kekuatannya untuk melompat keluar dari ingatan buruk tentang gempa, pada suatu pagi dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Dan inilah armada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt;, relawan-bagian PSI pada mana saya mesti mengucapkan terima kasih sedalamnya: Landung Simatupang, Hari Santosa, Pak Piet Hari, Ina Landung, Ibu Tuti, Ibnu ‘Denko’ S, Anto, Ivan Bestari, Dewi, Tri ‘Mungil’ W, Prasetyo ‘Sinyo’, Fr. Danang, Anggie, dan Tita.&lt;br /&gt;Terima kasih pula untuk dukungan penuh awak PSI di Betawi terhadap proses: FX Rudy Gunawan, Agung Yudha, Andi Yuwono, Raharja W. Jati.&lt;br /&gt;Serta seluruh keajaiban yang menyertai kami sepanjang proses: Maya, Frans, Ibu Agus Sukidi, Ibu Soni, Paroki Katedral Denpasar, Ibu Retno Iskandar dan KPH Kotabaru, Pak Wiwit C-59, Ninit Yunita dan Adhitya Mulya, Icha Rahmanti, Rumah Seni Cemeti, Rm. Windyatmaka dan Wisma Mahasiswa, Gerakan Jogja Bangkit, Bapak Ryan Masagung dan TB Gunung Agung, Tinuk Yampolsky, Yayasan Pustaka Kelana, Penerbitan Kanisius, Tita Rubi dan Studio Biru, Shabaviz Publishing House Iran, Gun Yayincilik Publishing House Mesir, Bp Diyono dan Masyarakat Pengkol-Kulonprogo, dan semua pihak yang tak dapat disebut satu per satu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There always be miracle, when you believe. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;“You may give them your love but not your thoughts.&lt;br /&gt;For they have their own thoughts.&lt;br /&gt;You may house their bodies but not their souls.&lt;br /&gt;For their souls dwell in the house of tomorrow, which&lt;br /&gt;you cannot visit, not even in your dreams.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Kahlil Gibran, The Prophet, “On Children”—&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-115632240065139523?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115632240065139523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115632240065139523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115632240065139523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115632240065139523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/08/mobil-tua-dan-mata-yang-mengintai-dari.html' title='Mobil Tua dan Mata yang Mengintai dari balik Reruntuhan'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115632199992713704</id><published>2006-08-23T01:29:00.000-07:00</published><updated>2006-08-23T01:33:29.210-07:00</updated><title type='text'>Bencana, Trauma, dan Akar Kultur</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Miranda Harlan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ada satu hal yang kerap ternafikan ketika bencana mengembalikan sebagian manusia ke titik mula kehidupan, dan menggerakkan sebagian yang lain untuk memberi bantuan, hampir tanpa arah dan koordinasi. Ialah akar kultur masyarakat korban bencana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pascabencana bagi masyarakat korban adalah masa yang rentan secara sosiokultural. Ketergantungan korban terhadap bantuan di masa tanggap-darurat bencana menimbulkan problema-problema sosial yang peka, karena hiruk-pikuk bantuan tak lepas dari tumpang-tindih kepentingan. Wajar bila isu semacam Kristenisasi, Islamisasi, Indomie-sasi, sampai terbentuknya budaya ‘kridha lumahing asta’, tanpa memasalahkan tendensi di balik pahlawan pemberi bantuan, menjadi isu faktual yang mengkhawatirkan. Tanpa pertimbangan yang bijaksana dari pemberi bantuan, masyarakat korban bencana, alih-alih terbantu, bisa-bisa justru terancam akan tercerabut dari akar kulturnya semula. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hal ini menjadi kekhawatiran sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta, pascabencana yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei lalu. Menurut mereka, rupa-rupa bantuan yang diterima korban, jika tak dimaknai secara benar, berpotensi membelokkan masyarakat korban dari kultur semula. Kesadaran akan hal ini, bagi kalangan kebudayaan, mestinya tak hanya disadari oleh masyarakat korban alias penerima bantuan, tetapi pun oleh lembaga-lembaga penyalur bantuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kekhawatiran akan bergesernya kultur masyarakat korban akibat bencana disampaikan Whani Dharmawan, yang dengan beberapa budayawan lain seperti Bondan Nusantara dan Miroto, membentuk Gerakan Jogja Bangkit. Sebuah gerakan pemulihan pascabencana melalui pendekatan kultural. Membanjirnya bantuan, menurut Whani, jika tidak dikelola dengan baik oleh lembaga-lembaga distribusi, dapat menimbulkan, semisal, budaya ‘kridha lumahing asta’ atau budaya meminta-minta. Adalah kewajiban lembaga penyalur untuk mengorganisir bantuan yang masuk dan melibatkan masyarakat korban secara sedemikian rupa sehingga terhindar dari mentalitas peminta-minta. Hal senada diungkapkan pula oleh Landung Simatupang, “Jangan sampai bantuan berdus-dus mi instan membuat ibu-ibu lupa cara memasak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jangan brongkos&lt;/span&gt;.” Pada tataran hidup bermasyarakat, Landung menggarisbawahi kultur bergotong-royong, toleransi, dan saling pengertian, yang terancam pupus jika bantuan tidak disikapi secara proporsional. Terlebih, ketika masyarakat korban bencana berada dalam kondisi mental yang labil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Karena itu, proses pemulihan kejiwaan korban bencana menjadi urgensi yang mesti pula diperhatikan, di samping pembangunan dan pemulihan fisik. Dengan landasan mental yang kuat, masyarakat akan memaknai bencana sebagai sebuah momentum. Untuk bergerak, membangun kembali, untuk beranjak kepada pemahaman yang lebih. Dengan mental yang sehat, masyarakat korban gempa akan memaknai bencana secara positif, tanpa tercerabut dari akar kulturnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pulih dari trauma melalui gerakan kebudayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Gerakan kebudayaan adalah jalur yang dipilih oleh sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta untuk memulihkan kondisi kejiwaan masyarakat korban gempa. Jogja Bangkit—sebuah lembaga yang berdiri atas kerja sama beberapa penerbit dan dikelola oleh Julius dan Penerbit Galang Press—misalnya, menjalankan trauma healing dengan mengelilingkan hiburan Badut Sponge Bob dan Ketoprak Den Baguse Ngarso ke daerah-daerah bencana di Yogyakarta. Pada tataran lanjut, Romo Banar mengatakan media hiburan semacam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk terjadinya dialog antarwarga. Dialog untuk saling berbagi dalam kelompok-kelompok kecil, dengan didampingi fasilitator, adalah salah satu proses pemulihan trauma yang dapat diterapkan untuk orang-orang tua. Sebab, seperti disampaikan Landung Simatupang, trauma yang dialami anak-anak, selain sebagai dampak bencana sendiri, kerap kali merupakan tularan dari orangtua. Sementara pemulihan trauma untuk orang tua, dalam implementasi bantuan, cenderung dinomorduakan dari proses pemulihan trauma untuk anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pendampingan terhadap orang tua dalam proses berbagi dilakukan pula oleh relawan-relawan dari Bulungan, Jakarta, di posko Kepuhan (Imogiri, Bantul) yang dikelola oleh Ihsan ‘Dobleh’ Zulkarnain dan Wendy Shan Wong dari Institut Seni Indonesia. Wendy, pada pengalaman di lapangan, menemukan kenyataan bahwa korban pada usia produktif dan lanjut ternyata membutuhkan muara untuk mencurahkan isi hati. Kebutuhan itulah yang kemudian difasilitasi sebagai salah satu implementasi pemulihan trauma bagi masyarakat korban. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selain melalui proses berbagi, pemulihan trauma untuk korban usia produktif dapat pula dilakukan melalui bangkit dan hidupnya kembali rutinitas masyarakat sebelum bencana terjadi. Keyakinan akan hal inilah yang melandasi program Gerakan Jogja Bangkit untuk masyarakat korban bencana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pascagempa 27 Mei lalu, perhatian warga korban usia produktif terserap pada rehabilitasi hunian-hunian yang rusak, sehingga mereka tak sempat menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi rutinitas sebelum bencana terjadi. Aktivitas inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Gerakan Jogja Bangkit. Dengan memberi bantuan riil sesuai bidang pencaharian masyarakat korban gempa, Whani berharap trauma yang dialami oleh masyarakat korban pada usia produktif akan teratasi. Dua minggu pascagempa, misalnya, Gerakan Jogja Bangkit memberi bantuan dua puluh unit sepeda untuk korban yang sebelum gempa bermata pencaharian sebagai tukang sol sepatu keliling. Gerakan Jogja Bangkit juga mendirikan sekolah dan pondok baca untuk anak di Kasongan, Bergan, dan Payak, Bantul, DIY. Meski dikemas sebagai bantuan untuk anak, Whani berharap pondok-pondok baca ini kemudian menjadi media berkumpulnya orang-orang tua, dan selanjutnya dapat menjadi rangsangan untuk menjalankan aktivitas bermasyarakat seperti semula, sebelum terjadi bencana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Masih dalam kerangka tujuan dan upaya yang sama, seniman tari Miroto menghidupkan kembali kelompok-kelompok kesenian ketoprak di pedesaan, dan berharap proses tersebut dapat dipentaskan di luar Yogya. Dengan melibatkan mereka dalam proses berkesenian, mengajak korban bencana untuk beraktivitas rutin, dan mengepulkan kembali tungku-tungku dapur mereka, Miroto berharap proses ini memijarkan semangat baru dalam diri korban. Sekali lagi, tanpa menjerumuskan mereka menjadi kaum yang ‘kridha lumahing asta’. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ekspresi Anak, Sembuhnya Luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Merujuk pada deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Peringatan Tahun Anak Sedunia (1979), anak-anak termasuk salah satu kelompok yang harus diutamakan sebagai penerima bantuan di saat terjadi bencana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika perhatian orangtua dan pengampunya terserap pada proses membangun kembali hidup pascabencana, anak menjadi objek yang rentan mengalami gangguan kejiwaan. Anak kerap terlalaikan, dan secara tanpa sadar terus tergerus oleh trauma orangtua dan pengampunya terhadap bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Anak kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri dan mengekspresikan keinginannya untuk dipahami, dalam konteks kehidupan pascabencana. Berbeda dengan korban berusia dewasa yang mampu berbagi beban dan ganjalan yang ditanggungnya kepada orang lain, proses pemulihan trauma untuk anak memiliki kompleksitas dan bentuk penanganan tersendiri.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Piaget, seorang ahli psikologi anak, menyatakan bahwa permainan menjembatani ruang kosong antara pengalaman-pengalaman yang nyata dengan pikiran dan perasaan yang bergolak dalam diri anak. Demikian pula kesenian. Permainan dan kesenian, oleh ahli terapi anak, sejak lama diyakini sebagai bentuk terapi yang tepat bagi anak-anak korban bencana. Melalui bermain dan berkesenian, anak mengekspresikan dirinya dan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan media tersebut, anak menyampaikan kebutuhannya. Dus, kondisi kejiwaannya menjadi lebih mudah dipahami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Berpijak pada pemahaman tersebut, beberapa lembaga seperti Laboratorium Pembelajaran Cakrawala dan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) memusatkan perhatian dan melakukan pendampingan terhadap anak-anak, melalui proses bermain dan berkesenian bersama. Seperti diungkapkan oleh Detty Aryanti, ahli psikologi anak yang berpengalaman menangani korban trauma Badai Katrina di Amerika Serikat, tahun 2005 lalu, jika orang dewasa mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata, pada anak-anak, mainan dan benda adalah “kata-kata”, dan permainan adalah “bahasa”. Menyediakan media bagi anak untuk berkomunikasi adalah bantuan yang tepat guna memulihkan anak dari trauma. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hari Santosa, pemilik Sanggar Menggambar Melati Suci yang selama bertahun-tahun berpengalaman bergulat dengan anak-anak, meyakini bahwa menggambar merupakan salah satu media yang tepat untuk mengekspresikan kegelisahan yang tersimpan di alam bawah sadar anak. Bersama PSI, Hari Santosa melakukan pendampingan terhadap anak-anak di beberapa titik bencana, di antaranya Kasongan, Bawuran, Pelemsewu, dan Pengkol. Melalui menggambar, Hari mengajak anak melangkah, mengambil jarak dari penyebab trauma, yang pada tingkat lanjut membuat anak secara mandiri mampu mengatasi trauma yang dialaminya. Selain menggambar, PSI mendekatkan anak dengan tradisi tulis, dan mendorong anak untuk menceritakan pengalaman batinnya dengan membuat cerita. Untuk mendukung keberlangsungan proses kreatif anak, PSI membangun pula perpustakaan sederhana untuk mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pustaka merupakan infrastruktur kreativitas yang cukup penting. Dalam perjalanan program bersama PSI, Landung Simatupang menemui kenyataan yang menyedihkan; betapa anak di pedesaan masih begitu jauh dari tradisi menulis. Jangankan membuat sebuah karangan utuh, sebagian besar dari mereka belum bisa menulis dengan ejaan yang benar, terlebih menggunakan tanda baca. Gejala ini menunjukkan rendahnya mutu pendidikan anak di pedesaan. Sesuatu yang mestinya dicermati oleh lembaga-lembaga yang peduli. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Serupa dengan PSI, Laboratorium Pembelajaran Cakrawala bekerja sama dengan masyarakat lokal membangun Pusat Kegiatan Anak (Children Center) sebagai upaya memulihkan trauma anak-anak korban bencana. Cakrawala memfokuskan program pada satu desa binaan dengan menyediakan fasilitator, sarana yang diperlukan, serta materi atau “kurikulum” yang terstruktur. Rangkaian kegiatan yang ditawarkan kepada anak terdiri dari tiga tahap. Berawal dari penanganan kebutuhan dasar yang meliputi pemulihan daya kerja indera peraba (bermain-main dengan pasir, air, tanah liat, dan lilin). Pada tahap kedua, anak diajak untuk menggambar, menulis, membuat boneka atau wayang, bermain musik, dan mendongeng. Kesemua keasyikan tersebut bermuara pada tahap ketiga, di mana anak akan membuat pertunjukan; menyusun cerita drama, dan bermain teater. Dengan cara tersendiri, terapi anak melalui teater diterapkan pula oleh Sheep of Peace, bekerja sama dengan Anak Wayang Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bagaimanapun bentuknya, rangkaian upaya pemulihan trauma terhadap korban bencana tak boleh dilepaskan dari akar kultur masyarakat. Seperti diungkapkan Landung Simatupang, lembaga-lembaga penyalur bantuan mesti mempertimbangkan aspek ini secara bijaksana sebelum menjalankan program trauma-healing. Sedapat mungkin, pendampingan yang dilakukan oleh fasilitator di lapangan tak membuat masyarakat korban tercerabut dari akar kulturnya. Terlebih, menimbulkan ketergantungan masyarakat korban terhadap fasilitator dan lembaga bantuan. Proses pemulihan dari trauma tak akan berjalan efektif jika tidak didukung oleh kemandirian korban untuk lepas dari trauma. Adalah tugas kita semua, lembaga fasilitator &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trauma-healing&lt;/span&gt;, untuk mengingatnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-115632199992713704?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115632199992713704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115632199992713704&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115632199992713704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115632199992713704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/08/bencana-trauma-dan-akar-kultur.html' title='Bencana, Trauma, dan Akar Kultur'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115261997609615700</id><published>2006-07-11T05:00:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T05:12:56.380-07:00</updated><title type='text'>Maridjan: The Man Behind Merapi</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Lewat tengah hari menjelang senja, kami memasuki halaman sebuah rumah sederhana yang tampak tenang, meski tak terlalu lengang. Orang tua itu sedang berdiri di pekarangan rumah, bersama beberapa orang yang mengerumun di dekatnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar langkah pelannya mendekati kami. Orang tua itu tersenyum hangat, sembari bersalam. “&lt;i&gt;Sinten&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; niki&lt;/i&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; sapanya karib. Dalam sekejap, rasa waswas yang sesekali bersambang selama berada di kawasan Kinahrejo-Kaliadem, lenyap tersapu sorot mata yang arif sekaligus menentramkan hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Kedatangan kami disambut langsung oleh Mbah Maridjan, &lt;i&gt;the man behind&lt;/i&gt; Merapi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Kebersahajaan, seperti dikatakan semua orang, nyata lekat pada sosok R. Ng. Suraksohargo, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan itu. Tak sedikit pun tersirat keangkuhan dalam diri sang juru kunci Merapi, meski belakangan ia dikabarkan bersikap &lt;i&gt;mbalela&lt;/i&gt; karena menolak perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Jusuf Kalla untuk turun gunung ketika aktivitas Merapi meningkat sampai status Awas. Alih-alih mengungsi, orang tua yang &lt;i&gt;linuwih&lt;/i&gt; (dianggap memiliki kelebihan) ini memilih tetap bertahan di Kinahrejo, ketika 14 Juni lalu Merapi kembali mengeluarkan awan panas yang mencapai pemukiman penduduk. Saat itu, warga dukuh Kinahrejo yang terkenal enggan mengungsi berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal mereka menuju Balai Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, termasuk isteri dan anak-anaknya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Bagi Mbah Maridjan, sikap bertahan adalah salah satu wujud baktinya sebagai juru kunci Merapi, selayaknya nama Suraksohargo, yang secara harfiah berarti ‘menjaga gunung’. Dengan bertahan, Mbah Maridjan menjalankan laku prihatin dan berdoa, memanjatkan permohonan keselamatan. Tak hanya untuk warga yang bermukim di sekitar Gunung Merapi, tetapi juga untuk seluruh warga Daerah Istimewa Yogyakarta. Entah adakah kaitan antara sikap bertahannya dengan mistik dan klenik, seperti kerap dimitoskan. Bagi Mbah Maridjan, ketika Gunung Merapi sedang giat beraktivitas seperti saat-saat ini, hanya berdoa yang bisa ia lakukan. “&lt;i&gt;Saged-e kulo nggih namung nyuwun kawilujengan dumateng Ingkang Maha Kuwaos. Liya-liyane kulo mboten saged, saestu&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Persepsi yang mengaitkan Mbah Maridjan dengan dunia klenik mungkin muncul karena ritual-ritual yang dilakukannya sebagai penjaga; &lt;i&gt;juru reresik&lt;/i&gt;, juru kunci Gunung Merapi. Caranya memanjatkan permohonan kepada Yang Maha Kuasa memang sarat nilai-nilai tradisional, hal-hal yang belum sanggup dijelaskan dengan nalar pengetahuan dan akal sehat. Hal-hal yang kemudian oleh persepsi umum disepakati sebagai klenik. Tengok sejenak kebiasaannya. Sejak status Merapi ditingkatkan menjadi Awas, sehari-hari Mbah Maridjan menjalankan puasa &lt;i&gt;mutih&lt;/i&gt; sebagai laku prihatin. Hanya makan sekepal nasi dan minum air putih, selain mengisap rokok putih kegemarannya. Secara rutin dijalankannya laku tirakat. Bersemadi di kediamannya, di Paseban Sri Manganti (terletak di pos I Gunung Merapi), atau Paseban Labuhan Dalem (pos II). Setiap tanggal 30 Rejeb Tahun Saka ia melakukan ritual Labuhan di Paseban Labuhan Dalem, bersama para &lt;i&gt;abdi dalem&lt;/i&gt; Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ritual ini biasanya disertai pula oleh rombongan pecinta alam dan masyarakat. Doa untuk Eyang Empu Romo, Eyang Empu Permadi, Eyang Panembahan Sapu Jagat (dikenal juga dengan nama Kyai Sapu Jagat), dan semua yang &lt;i&gt;lenggah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"&gt;3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; di Gunung Merapi tak pernah ditinggalkan ketika menjalankan ritual. Selain itu, setiap sudut ruang tamu rumahnya dipenuhi pusaka, foto Sri Sultan Hamengkubuwono X, penanggalan Jawa-Islam, dan foto Gunung Merapi. Tetapi di antara kesehariannya, kerabat Keraton ini tak pernah meninggalkan salat lima waktu di masjid yang dibangunnya di ujung pekarangan rumah. Klenikkah ia? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Wallahu’alam&lt;/i&gt;. Seperti dinyatakan sendiri olehnya, sebagian orang menganggap Mbah Maridjan sebagai puncak kearifan lokal, yang karena kedekatan dengan Gunung Merapi dan kejernihan hatinya, sanggup mengenali setiap tanda-tanda yang dikeluarkan sang gunung. Barangkali bahkan tak ada hubungannya dengan mistik dan klenik. “Psikologi Merapi itu ya Maridjan,” ujar Ong Hari Wahyu, seorang perupa, menggambarkan betapa menunggalnya sosok Mbah Maridjan dengan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia ini. “Karena dia sejak kecil di situ. Hidup, makan, minum air Merapi, jadi dia sudah bisa membaca gejala alam.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Perjalanan Mbah Maridjan mengenal Gunung Merapi tentulah sudah sangat panjang. Maridjan lahir tahun 1927 dan dibesarkan di Merapi. Dari almarhum ayahnya, Mas Penewu Suraksohargo, ia mewarisi jabatan sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tahun 1974, ia diangkat menjadi Wakil Juru Kunci. Pada masa-masa itu ia kerap mewakili ayahnya dalam laku Labuhan, pada peringatan &lt;i&gt;jumenengan&lt;/i&gt; (naik tahta) Sultan. Tahun 1982, sepeninggal ayahnya, Mbah Maridjan diangkat menjadi Mantri Juru Kunci. Tiga belas tahun kemudian, Sri Sultan Hamengkubuwono X, lewat Serat Kekancingan Dalem Ngarsa Dalem Sultan Hamengkubuwono X tertanggal 3 Maret 1995, menaikkan pangkat Mbah Maridjan menjadi Mas Penewu Juru Kunci, jabatan yang dipangkunya hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"&gt;4&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Selama lebih dua puluh tahun Mbah Maridjan telah mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengabdikan diri sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tetapi pergulatannya dengan Merapi menempuh jarak berlipat lebih panjang. Sejak kecil, ia yang tinggal di lereng selatan Merapi telah mencerap kearifan sang ayah (yang konon juga dimiliki ibunya) dalam menghadapi tindak-tanduk Merapi. Selama perjalanan panjang hampir seumur hidup, ia tak hanya belajar mengenali gejala-gejala alam berkaitan dengan aktivitas Merapi. Tetapi juga belajar memahami “keinginan” sang gunung yang tak pernah berhenti “memberi” pada warga di sekitarnya tersebut, melalui laku tirakat dan kebersahajaan yang tak pernah lepas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Bagi Mbah Maridjan, Merapi adalah makhluk gaib yang bernafas, berpikir, dan berperasaan. Jangan mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, demikian selalu pesan Mbah Maridjan. “Mbledhos, njeblug, wedhus gembel,” kepada kami ia merinci istilah-istilah yang umum digunakan oleh masyarakat mengenai aktivitas Merapi, tetapi membuat Sang Makhluk terluka perasaannya. Istilah-istilah itu, menurut Mbah Maridjan, memang umum digunakan, tetapi baginya tetaplah “kurang umum” alias tidak sopan. “&lt;i&gt;Kanggo wong pinter mbok menawi kedah ngaten niku, nanging kanggo wong bodho kados kulo niki nggih mboten makaten.&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"&gt;5&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Bagi “orang-orang bodoh”, lanjutnya, saat ini Merapi sedang “membangun”. Suara gelegar yang beberapa kali terdengar diibaratkannya sebagai “orang tua yang sedang memecah batu di puncak Gunung Merapi”. Jikapun aktivitas Merapi kini meningkat, itu berarti Sang Gaib yang &lt;i&gt;lenggah&lt;/i&gt; di sana sedang punya hajat. Dan menurut Mbah Marijan, selayaknya orang punya hajat, sampahnya tidak akan dibuang ke depan, tetapi ke samping dan belakang rumah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Sifat Jawa yang sarat simbol tersirat dari cara Mbah Maridjan menjelaskan apa yang tengah terjadi pada Merapi. Gunung Merapi yang terhubung dengan Laut Selatan dan menjadi salah satu poros imajiner sebagai kekuatan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memang diibaratkannya menghadap Keraton Yogya. Sedang bagian “depan rumah” yang dimaksudkannya adalah bagian selatan gunung, yakni kota Yogyakarta. Tak hanya sarat simbol, selayaknya apa yang telah dipercayai selama bertahun-tahun, Mbah Maridjan bersikap sangat halus terhadap Merapi. Ritual dan tatacara yang ia lakukan adalah bentuk penghormatan pada makhluk yang dijaganya. Agar Sang Gunung senantiasa bersabar, tak memasukkan dalam hati perilaku orang-orang kota yang terkesan mengecilkan artinya. Dalam kebijakan pikirnya, Mbah Maridjan menyadari bagaimana sikap “orang-orang pandai” telah melukai Gunung Merapi. Membawa dampak buruk bagi masyarakat yang bermukim di sekitar gunung. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Tak hanya perilakunya yang sarat nilai tradisi. Tutur kata Mbah Maridjan pun selalu bernilai simbolik. Di balik kerendahan hati dan kebersahajaan, lelaki tua yang membuka diri pada dunia dan suka bicara dengan siapa pun ini menyimpan kebijaksanaan. Suatu kali, seperti dituturkan oleh budayawan Landung Simatupang, pada suatu acara hajatan, Mbah Maridjan bercerita. Tentang rombongan pendaki Gunung Merapi yang diantarnya. Mereka, orang-orang kota dengan pakaian modern dan atribut lengkap termasuk sepatu gunung, merasa heran pada Mbah Maridjan yang menyertai perjalanan mereka tanpa alas kaki. Di tengah perjalanan yang sulit, salah satu dari mereka bertanya, kenapa ia tak menggunakan alas kaki. “Kan panas?” Mbah Maridjan diam sejenak. Mengembuskan nafas, memandang tajam si penanya, dan dengan sebersit senyum justru balik bertanya: kenapa mereka tak menggunakan penutup kepala. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Pertanyaannya tentu saja membuat si penanya bingung. Menangkap selisih paham antara mereka, Mbah Maridjan melanjutkan kalimatnya dengan enteng: saya tidak mengenakan alas kaki, tetapi menutup kepala (dengan kopiah). Karena bagi saya, kepala lebih utama daripada kaki. Karena kepalalah yang berpikir dan memberi perintah pada kaki untuk berjalan. Sementara kaki hanya saya gunakan untuk melangkah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Bagi Landung, cerita di atas menunjukkan bagaimana sikap bijak Mbah Maridjan menempatkan keutamaan dan mengesampingkan logika praktis orang kota, alias “orang-orang pandai”. Sebuah kalimat bermakna ganda, berkonotasi demikian filosofis, yang mungkin hampir tak pernah terpikirkan oleh kita semua. Ceritera ini tersurat pula dalam buku &lt;i&gt;The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih&lt;/i&gt;, bersama sebuah kalimat bersayapnya yang lain: “Buah yang kamu pungut di bawah pohon terasa manis dan masak, sebaliknya yang kamu petik dari pohon dengan menyogoknya pakai tongkat bambu akan selalu terasa pahit.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"&gt;6&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Monggo&lt;/i&gt; lho, silakan dimakan. Ini bukan fantasi,” paksa Mbah Maridjan pada kami, menjelang senja di rumahnya. Dengan cekatan dibukanya setoples kue kering yang &lt;i&gt;manggrok&lt;/i&gt; di hadapan kami, ditemani gelas-gelas berisi teh hangat yang kental dan manis yang terasa legit di tengah hawa dingin menusuk tulang. Sekali lagi, ia mengatakan kalimat yang sama: supaya kami segera menikmatinya. “&lt;i&gt;Niki sanes fantasi&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;niki tenanan,&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"&gt;7&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; ujarnya lucu. Dari pengalaman kami yang pendek bersamanya, sosok sederhana itu memang memancarkan kebaikan hati yang tak dibuat-buat. Tetapi sosok Mbah Maridjan tak sekadar sosok yang baik hati dan bersahaja. Di dalamnya tersimpan kebijaksanaan dan pemahaman tentang esensi hidup. Lewat kesempatan itu, mungkin ia sedang berusaha mengingatkan kami akan hakikat hidup modern, yang kini dipenuhi oleh fantasi belaka. Dan jalan untuk mengetahui yang sebenar-benarnya adalah tidak dengan mengamatinya. Membedahnya dengan pisau analisis. Tetapi menjalaninya. Mencicipinya. Menikmatinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Saya ini cuma orang bodoh...”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Dalam beberapa perbincangan dengan narasumber yang berbeda, kami hampir selalu menemukan kalimat yang lantas seolah menjadi &lt;i&gt;trademark&lt;/i&gt; Mbah Maridjan. Kalimat yang mengesankan kerendahan hati dan kebersahajaannya, dan menjauhkannya dari kesan hendak menonjolkan diri. Kalimat itu adalah kalimat yang kerap kali meluncur dari bibirnya, bersama seutas senyum hangat. “Saya ini cuma orang bodoh.”  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Bagi sebagian orang yang kami temui, Mbah Maridjan memang hanyalah seorang jujur. Tanpa embel-embel kekuatan supranatural. Juru-juru kunci yang lain dapat membuktikan kesaktian dan kelebihan mereka, diiringi pengakuan orang-orang di sekitarnya, yang tidak dilakukan oleh Mbah Maridjan. Tetapi mungkin justru kalimat itulah yang menancapkan kesan kuat akan sosoknya pada diri orang-orang lain. Kesan itu pula yang ditangkap oleh Elisabeth D. Suprapto, penulis buku &lt;i&gt;The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih&lt;/i&gt;. Ketika Elisabeth meminta penjelasan, cermatilah tuturan Mbah Maridjan: “Kalau orang pinter diberi satu, akan minta dua. Tapi kalau orang bodoh diberi satu, akan disyukuri.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"&gt;8&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Ungkapan yang selalu diucapkan Mbah Maridjan dengan cara yang jenaka itu tentu memiliki makna yang, selain begitu relijius, juga sangat dalam. Senantiasa bersyukur sesungguhnya membuat manusia menjadi manusia. Membuat manusia menemukan hakikat kesetiaan. Menemukan dirinya yang utuh. Dengan bersyukur, manusia kembali pada kejernihan hati. Dan lewat hati yang jernih, ia melihat hal-hal yang tak terlihat dan tertutupi oleh rasionalitas pikir. Sebaliknya, makna bodoh dalam falsafah Jawa pun mengandung makna tersembunyi. “Yang tak tahu, tetapi sesungguhnya mengetahui.” Dengan menempatkan diri sebagai orang bodoh, manusia akan terus mengisi. Mencoba memahami dengan menjalani. Sebab yang berusaha dipahami pada hakikatnya bukan sesuatu yang berhenti. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Mengungkapkan diri sebagai orang bodoh sesungguhnya adalah cerminan laku &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;. Budaya Jawa mengenal &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;kawruh&lt;/i&gt;, jelas Landung Simatupang pada kami di satu perbincangan minum teh sore hari. Yang disebut dengan &lt;i&gt;kawruh&lt;/i&gt; adalah ilmu pengetahuan, &lt;i&gt;knowledge&lt;/i&gt;. Sedangkan &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt; adalah mengetahui dengan cara menjalani, &lt;i&gt;nglakoni&lt;/i&gt;. Keduanya memiliki tujuan sama: memahami suatu objek. Perbedaannya terletak pada cara yang ditempuh untuk mendapatkan pemahaman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Kawruh&lt;/i&gt; atau ilmu pengetahuan memandang objek sebagai sesuatu yang berjarak dari si pembelajar, di mana objek dibekukan, dimatikan, dihentikan daya hidupnya untuk diamati, dibedah, dipelajari strukturnya, dan selanjutnya dianalisis. Dari situ didapatkan pemahaman terhadap objek. Tidak demikian halnya dengan &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;. Dalam &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;, dikenal adanya daya hidup objek. &lt;i&gt;Ngelmu&lt;/i&gt; memahami objek sebagai sesuatu yang terus bergerak, hidup, berubah. Maka jalan satu-satunya untuk memahami objek yang berdaya hidup tersebut adalah dengan menyatu, menunggal, menjadi sang objek. Memahami pola hidup, pikir, dan perasaan objek. Memahami sesuatu, tidak dengan mengambil jarak, melainkan dengan menyatu. Itulah yang dilakukan oleh Mbah Maridjan. Menyatukan jiwa dengan Merapi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Penjelasan ini kemudian membawa sedikit penerang, mengapa Mbah Maridjan menolak pergi dari Kinahrejo, dukuh terakhir di lereng Gunung Merapi yang jaraknya hanya kurang lebih 3 km dari puncak tersebut. Sebab jika ia memilih untuk pergi dan mengungsi, maka ia menempatkan dirinya berjarak dengan Merapi. Dan dengan mengambil jarak, ia membekukan Gunung Merapi, sang makhluk berdaya hidup yang senantiasa dipersonifikasikannya sebagai orang tua. Memutus benang pemahamannya. Tak hanya itu; sebagai orang yang senantiasa &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;, Mbah Maridjan sangat konsisten. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Sikap konsistennyalah yang membuat masyarakat Kinahrejo menaruh hormat, di samping ia yang lucu dan gemar bicara pada siapa saja. “Dengan siapa saja, dengan anak kecil pun ia tetap hormat. Artinya tidak memandang usianya berapa,” ujar Bademan, salah seorang penduduk setempat. “Yang jelas, masyarakat sini hormat terhadap Mbah Maridjan dengan sikap yang sederhananya itu,” tandasnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Hal senada juga diungkapkan Mbah Pujowijono, warga Kinahrejo yang rumahnya hanya berjarak seratusan meter dari rumah Mbah Maridjan. “Bapak itu takut sama uang banyak,” komentarnya. Lalu kisah tentang Mbah Maridjan pun meluncur dari bibirnya. Mbah Maridjan yang disebutnya Bapak tak pernah mempertanyakan uang gaji yang pada suatu waktu ketika sampai di tangan berkurang jumlahnya. “Misalnya, mestinya terima lima belas ribu, kalo yang sampe cuma sepuluh ribu, Bapak nggak pernah tanya. Kalo orang lain kan tanya, &lt;i&gt;iki diutang sapa&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;po piye&lt;/i&gt;, gitu kan? Bapak nggak.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Gaji Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi memang sebulan hanya Rp 5.600,00. Jumlah yang kerap kali diguyonkannya sebagai “lima juta enam ratus ribu rupiah”. Karena itu, Mbah Maridjan biasa mengambil gaji di Keraton tiga bulan sekali, agar jumlah yang ia dapat tak &lt;i&gt;tombok&lt;/i&gt; dengan ongkos naik bus ke kota. Mbah Pudjo juga berkisah bahwa Mbah Maridjan, yang dipanggilnya Bapak, takut menerima bantuan banyak-banyak. “Biar Pak Dukuh yang membagi adil. Diberi lebih pun dia tidak mau, maunya sama dengan yang lain,” jelas Mbah Pudjo. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Pribadi Mbah Maridjan memang unik. Itulah yang tak ada pada pribadi-pribadi lain. Ia tak pernah mementingkan diri sendiri. Alasan itu yang dilontarkannya ketika diminta turun dari Kinahrejo, saat status Merapi meningkat menjadi Awas. “Di sini, saya bisa berdoa untuk keselamatan banyak orang. Tapi kalau saya ikut mengungsi, itu berarti saya mengejar kepentingan pribadi.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"&gt;9&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; Karakter ini diungkapkan pula oleh warga di sekitarnya, yang sempat bicara pada kami. “Orangnya begitu bersahaja, tidak mementingkan pribadi tetapi mementingkan orang lain, orangnya ramah, dan lucu,” papar Bademan, ketika ditanyai kesannya tentang Mbah Maridjan. Tampaknya, atas alasan ini pulalah Mbah Maridjan menolak undangan pemerintah Jerman untuk menonton langsung pembukaan Piala Dunia 2006. "Aku &lt;i&gt;emoh ora gelem&lt;/i&gt;, aku ini orang kecil, tidak tahu apa-apa, ya &lt;i&gt;emoh&lt;/i&gt;. Sandalku saja sandal jepit, &lt;i&gt;yo hilang keselempit&lt;/i&gt;,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"&gt;10&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; jawabnya lugu ketika undangan itu disampaikan kepadanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Undangan menonton Pesta Pembukaan Piala Dunia 2006, 9 Juni lalu di Jerman, disampaikan oleh seorang wartawan Jerman yang datang untuk menemuinya. Sang wartawan mendapat mandat langsung dari Walikota Munich untuk menitipkan undangan kepada Mbah Maridjan. Undangan itu bukan basa-basi, tentu, sebab pemerintah Jerman bersedia menanggung seluruh biaya akomodasi Mbah Maridjan, bahkan juga pengurusan paspornya, jika sang juru kunci Merapi tersebut bersedia datang. Sayangnya, sang wartawan yang ketitipan mandat tak bisa bertemu langsung dengannya saat itu, karena yang dicari malah sedang ke puncak Merapi berbekal cangkul di pundak. Tetapi bertemu atau tak bertemu toh hasilnya tak akan jauh berbeda: Mbah Maridjan bergeming. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Reaksi yang lugu pulalah yang muncul dari Mbah Maridjan, ketika mantan presiden RI Megawati Sukarnoputri secara khusus memberinya polis asuransi, dalam kesempatan kunjungannya ke Yogyakarta, awal Juni lalu. Barangkali sang mantan presiden berniat baik, berusaha memahami keteguhan tekad Mbah Maridjan untuk bertahan di Kinahrejo. Padahal ingar-bingar situasi di Merapi mulai meresahkan banyak orang. Boleh jadi pula pemberian asuransi itu sesungguhnya bermakna sebagai sebuah sentilan, bahwa Mbah Maridjan tetaplah manusia biasa. Tetapi Mbah Maridjan memang tak pernah mementingkan diri sendiri. Ia tak perlu polis asuransi. Ia hanya orang lugu yang sedang berusaha memahami kehendak Sang Kuasa, dan kehendak Merapi. “Apa itu, polis, &lt;i&gt;kulo mboten ngertos&lt;/i&gt;,” jawabnya lugu ketika berita itu disampaikan kepadanya. Baginya, ada lebih banyak orang yang perlu dibantu, yaitu masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, ketimbang dirinya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Tetapi hakikatnya, Mbah Maridjan memang hanya seorang manusia biasa. Ketika awan panas menyerang Kaliadem dan sekitarnya, 14 Juni lalu, ia turut mengungsi. Tidak turun ke barak-barak pengungsian bersama warga Kinahrejo yang lain, tetapi ke masjid berarsitektur Jawa yang dibangunnya di ujung pelataran, berjarak sepelontaran batu dari rumahnya. Di sana, ia merapal doa, memohon keselamatan jiwa kepada Yang Maha Kuasa. Ia tak pernah mengingkari kodratnya sebagai manusia biasa. Seperti juga yang kerap diakunya kepada media, dan diungkapkannya pada kami di rumahnya yang sederhana. &lt;i&gt;Saya ini tidak bisa apa-apa&lt;/i&gt;, tuturnya dalam bahasa Jawa, masih dengan senyum arifnya yang menyejukkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Pak Ponimin dan Pak Sawidjan, &lt;i&gt;abdi dalem&lt;/i&gt; Keraton yang menjaga daerah Kaliadem dan menjalankan tugas yang sama dengan Mbah Maridjan, sebagai &lt;i&gt;juru&lt;/i&gt; &lt;i&gt;reresik&lt;/i&gt; Gunung Merapi, menandaskan hal sama. “Mbah Maridjan itu orang sejujur-jujurnya orang,” tukas Pak Sawidjan, seusai cerita panjang dengan Pak Ponimin mengenai peristiwa awan panas di teras rumahnya, suatu siang. Hal itu diamini Pak Ponimin, sang juru reresik yang &lt;i&gt;linuwih&lt;/i&gt; dan dijadikan panutan oleh warga Kaliadem. Dalam obrolannya dengan kami, Pak Ponimin yang enggan bercerita banyak mengenai Mbah Maridjan mengisahkan hal-hal gaib yang dilihatnya, beberapa saat sebelum dan setelah gempa tektonik 5,9 skala Richter mengguncang kota Yogya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Pak Ponimin memang salah satu &lt;i&gt;abdi dalem&lt;/i&gt; yang turut menjaga Gunung Merapi dan dikaruniai kelebihan. Ia dekat dengan para gaib yang &lt;i&gt;nglenggahi&lt;/i&gt; Gunung Merapi. Secara implisit, dalam kisahnya Pak Ponimin menegaskan hubungan baik dan saling menghormati yang terjalin antara ia dengan “Keraton Merapi”. Ihwal mitos mengenai adanya “pemerintahan” di Gunung Merapi, seperti juga di Laut Selatan, memang diakui oleh sekalangan orang, terutama mereka yang menganut paham Kejawen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Mbah Maridjan, boleh jadi memang hanya manusia biasa. Ia tak bisa melihat hal-hal gaib. Tak memiliki kelebihan seperti yang dimiliki Pak Ponimin, kecuali lewat mimpi-mimpi, yang dituainya dalam raga yang tidur ketika bersemadi. Mata lahirnya yang tajam dan cerdas tak sanggup menangkap peristiwa-peristiwa tak kasat mata. Tetapi mata batinnya telah menyampaikan banyak hal kepadanya. Mata batin yang terasah karena laku prihatin, karena kesetiaannya pada Merapi, karena kesederhanaan dan kebersahajaannya sebagai manusia. Mata batinnya menangkap keresahan warga yang timbul karena tindak pragmatisme ilmu pengetahuan modern yang berlebihan dan semata-mata mengeksploitasi gunung yang dijaganya, yang dicintainya dengan pengabdian sepenuh hati. Ketika Mbah Maridjan berkata Merapi sedang murka, berarunglah lebih dalam untuk mencapai makna yang ingin disampaikannya. Boleh jadi jauh di dalam kalimatnya, ia sedang berkata, bukan Merapi &lt;i&gt;an sich&lt;/i&gt; yang sedang murka, tetapi warga di sekitar Merapi yang tersia-sia karena tindak kapitalistik dan komersialisasi Gunung Merapi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Seperti diungkapkan Landung Simatupang, arti penting Mbah Maridjan sesungguhnya adalah karakternya yang tak pernah mementingkan diri sendiri. Mbah Maridjan setia menyuarakan warga yang bertahun-tahun diayomi oleh Merapi. Suara Mbah Maridjan dalam beberapa kasus seperti &lt;i&gt;back hoe&lt;/i&gt; (begu) yang menambang pasir di jalur tradisional Merapi dan kasus padang golf Merapi (Merapi Golf) yang dibangun di Cangkringan-lah bentuk pengayomannya yang paling nyata terhadap warga yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi. Bukan perkara anjuran untuk mengungsi atau tidak mengungsi, seperti yang kerap diributkan dan diwacanakan di media massa. Mbah Maridjan tak pernah tidak mengindahkan keselamatan warga lereng Gunung Merapi, meski ia bersikukuh untuk bertahan di tempatnya. Tidak. Tengoklah penggalan indah antara hubungannya dengan Sultan yang tersurat dalam &lt;i&gt;The White Banyan&lt;/i&gt; berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Saya mohon kebijaksanaan, supaya Kinahrejo aman-tenteram, tidak diusik oleh pemerintah, untuk pindah.&lt;/i&gt; Juga mohon pada Tuhan di Kinahrejo diberi keselamatan.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Sinuwun setuju, dan dhawuh: “&lt;i&gt;Kalau tidak saya yang menyuruh pergi ... jangan pergi&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="post-create.g?blogID=10410331#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Siapa, ini?&lt;/span&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: georgia;" lang="en-US"&gt;Saya hanya bisa memohon keselamatan kepada Yang  Maha Kuasa. Yang lain-lain saya tidak bisa, sungguh. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote2"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"&gt;3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Istilah “yang &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;lenggah&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;” ditafsirkan sebagai makhluk gaib  yang menguasai Gunung Merapi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote3"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"&gt;4&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;, “Perusak Merapi Harus  Tobat”, Mei 2006&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote4"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"&gt;5&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="en-US"&gt;Untuk orang pandai mungkin harus begitu, tapi  untuk orang-orang bodoh seperti saya tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote5"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"&gt;6&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" &gt;&lt;i&gt;The  White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih,&lt;/i&gt; Elisabeth D.  Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta,  1998&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote6"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"&gt;7&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; “Ini bukan fantasi, ini sungguhan.”&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote7"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"&gt;8&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt; &lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" &gt;The  White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" &gt; Elisabeth D.  Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta,  1998&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote8"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc"&gt;9 &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;  Kompas Cyber Media&lt;/i&gt;, “Di Rumah Mbah Maridjan Suatu Pagi”,  Mei, 2006&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote9"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"&gt;10&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; “mBah Maridjan ‘Emoh’ ke Piala Dunia”, Juni, 2006 (diambil  dari mailing list madiunClub)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote10"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="post-create.g?blogID=10410331#sdfootnote9anc"&gt;11&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" &gt;&lt;i&gt;The  White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih,&lt;/i&gt; Elisabeth D.  Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta,  1998&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-115261997609615700?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115261997609615700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115261997609615700&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115261997609615700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115261997609615700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/07/maridjan-man-behind-merapi.html' title='Maridjan: The Man Behind Merapi'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115244061805969395</id><published>2006-07-09T02:58:00.000-07:00</published><updated>2006-07-09T03:28:27.856-07:00</updated><title type='text'>Resensi Identitas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;[&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt;, Minggu, 4 Juni 2006]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Identitas &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;adalah label yang konstan, yang setia, dan dengan seluruh perekatnya mengingatkan kita terus menerus akan hidup yang nyata, yang hakikat; yang bukan mimpi belaka. Dalam mimpi, identitas dan entitas berbaur dan mengabur. Kekaburan inilah yang membuat jarak antara yang mimpi dan yang nyata. Tetapi, di manakah letak dan makna identitas ketika yang mimpi dan yang nyata berkelindan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Pemikiran tentang relasi antara entitas, identitas, yang mimpi, dan yang nyata tak berhenti sampai di situ. Dalam Identity (versi bahasa Indonesia berjudul Identitas, diterjemahkan oleh Landung Simatupang), Milan Kundera, dengan cerdas, reflektif, di beberapa bagian cenderung satir, mempertanyakan makna yang mimpi, yang imaji, terhadap identitas; terhadap perihal yang mendasari munculnya gagasan eksistensialisme. Dan yang terpenting, membungkusnya dalam peristiwa sederhana, yang sehari-hari, tanpa menyisihkan keunikan setiap perihal sehari-hari. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(["mb","p.27-28) Chantal tersipu,\ndan percakapan antara dua pribadi ini pun terhenti. Tetapi beberapa\nhari kemudian, Chantal mulai mendapati surat-surat tak bernama dalam\nsampul tak berperangko tak beralamat yang tertuju untuknya, terselip di\ndalam kotak posnya. "Aku menguntitmu ke mana-mana seperti mata-mata.\nKau cantik, cantik sekali." \n \nImaji akan seorang pengagum rahasia memantik kembali gairah hidup\nChantal yang memadam; ia merasa berada dalam kerumunan dan mulai\nterbakar hingga melenyap jadi sosok tak kasat mata karena menua. Imaji\nitu mengembalikan kepadanya gagasan tentang promiskuitas, hasrat\nmenjadi "aroma mawar yang merebak, menembus semua laki-laki dan,\nmenembus melalui laki-laki, merangkul seluruh dunia" (p.43). Lewat\nsurat-surat itu, Chantal merasa identitasnya mengutuh, yang sebelumnya\ntereduksi oleh keberadaan Jean-Marc. Surat-surat itu membuatnya kembali\ntersipu seperti remaja belasan tahun. Ia dengan asyik menerka-nerka\nsiapa laki-laki yang tahu persis detail kesehariannya, dan menghidupkan\nkarakter si pengagum rahasia dalam percintaan-penuh-gairahnya dengan\nJean-Marc. Alih-alih bercerita kepada Jean-Marc, ia memilih untuk\nmenyimpan surat-surat itu di balik tumpukan behanya; menghindari\nkonsekuensi diolok-olok oleh pasangannya sebagai pembual dan menikmati\nkesenangan akan dikagumi itu, sendirian. Hingga sebuah peristiwa\nmembangkitkan kecurigaan dan perasaan telah dikhianati yang rumit\nantara mereka berdua. \n \nSeperti dalam tulisannya yang sudah-sudah, yang analitik, eksploratif\ndan dengan elaborasi yang sabar, Kundera mengungkapkan kegalauan\nmanusia terhadap identitas, terhadap arti keberadaan. Kegalauan demi\nkegalauan itu tercecer dalam sudut-sudut kehidupan Chantal dan\nJean-Marc; cinta, persahabatan, kematian dan setelah-kematian, bahkan\nhidup sebelum kelahiran. "Ketahuilah, bahkan dalam perut ibumu pun,\nyang konon sakral, kamu masih tetap bisa dijangkau. Mereka memfilmkan\nkamu, mereka memata-matai kamu, mereka memperhatikanmu bermasturbasi.\nKamu tidak pernah bisa menghindar dari mereka selagi kau masih hidup,\nitu semua orang tahu. Tapi ternyata kamu juga tidak bisa menghindar\ndari mereka, bahkan sebelum kamu lahir pun. Begitu juga kamu tidak bisa\nmenghindari mereka sesudah kamu mati." (",1] );  &lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Identitas adalah tentang sepasang kekasih yang hidup bersama; Chantal, si perempuan yang bergulat di antara khayalan tentang promiskuitas dan konformisme yang membuatnya baur dalam setiap kehidupan dengan wajah berbeda, dan Jean-Marc, si laki-laki berumur empat tahun lebih muda darinya, yang mencintai Chantal dengan mendalam dan dengan pemikiran romantisnya yang berujung pada katarsis. Pada suatu hari dalam liburan mereka, Chantal berkata kepada Jean-Marc, "Laki-laki tak lagi menoleh kepadaku". Jean-Marc menatapnya tak mengerti. "Lelaki tidak lagi menoleh memandangmu. Memang itu yang bikin kamu sedih?" Bagaimana kau bisa berpikir lelaki tidak lagi menolehmu, padahal aku tidak pernah berhenti mengubermu di mana pun juga kamu? (p.27-28) Chantal tersipu, dan percakapan antara dua pribadi ini pun terhenti. Tetapi beberapa hari kemudian, Chantal mulai mendapati surat-surat tak bernama dalam sampul tak berperangko tak beralamat yang tertuju untuknya, terselip di dalam kotak posnya. "Aku menguntitmu ke mana-mana seperti mata-mata. Kau cantik, cantik sekali."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Imaji akan seorang pengagum rahasia memantik kembali gairah hidup Chantal yang memadam; ia merasa berada dalam kerumunan dan mulai terbakar hingga melenyap jadi sosok tak kasat mata karena menua. Imaji itu mengembalikan kepadanya gagasan tentang promiskuitas, hasrat menjadi "aroma mawar yang merebak, menembus semua laki-laki dan, menembus melalui laki-laki, merangkul seluruh dunia" (p.43). Lewat surat-surat itu, Chantal merasa identitasnya mengutuh, yang sebelumnya tereduksi oleh keberadaan Jean-Marc. Surat-surat itu membuatnya kembali tersipu seperti remaja belasan tahun. Ia dengan asyik menerka-nerka siapa laki-laki yang tahu persis detail kesehariannya, dan menghidupkan karakter si pengagum rahasia dalam percintaan-penuh-gairahnya dengan Jean-Marc. Alih-alih bercerita kepada Jean-Marc, ia memilih untuk menyimpan surat-surat itu di balik tumpukan behanya; menghindari konsekuensi diolok-olok oleh pasangannya sebagai pembual dan menikmati kesenangan akan dikagumi itu, sendirian. Hingga sebuah peristiwa membangkitkan kecurigaan dan perasaan telah dikhianati yang rumit antara mereka berdua. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(["mb","p.61) Di satu bagian, Kundera\nmenyindir televisi dengan serangkaian program representasi kitsch yang\nmenenggelamkan manusia dalam kerumunan komunal dan melenyapkan\nidentitas, justru dengan mengangkatnya ke permukaan. Seperti\ndiungkapkannya dalam The Art of Novel, bagi Kundera novel adalah ajang\neksplorasi eksistensi manusia, tanpa menanggalkan kejenakaan yang satir\nsebagai spirit tulisan-tulisannya. \n \nNovel setebal 175 halaman ini terdiri dari 51 bab pendek-pendek,\nditerjemahkan oleh Landung dengan irama tutur memikat dan kosakata yang\nkaya. Perspektif penutur melompat-lompat dari Chantal ke Jean-Marc ke\npribadi sang penulis; di banyak bagian, pemikiran yang tecermin melalui\nkarakter di dalamnya membuat pembaca berhenti untuk merenung dan\nberefleksi. Surat-surat yang diterima Chantal hampir setiap hari\nmungkin mengingatkan kita pada Dunia Sophie (Jostein Gaarder); bedanya,\nTuhan dalam konteks Dunia Sophie adalah sang pencipta, dan tuhan dalam\nkonteks surat-surat untuk Chantal adalah wujud berhala baru manusia\nmodern: citra diri. Identitas, karenanya adalah sebuah novel posmo yang\nmempertanyakan kembali keberadaan manusia, ketika ia dipandang tak lagi\nsebagai manusia tetapi sebagai semata simulakrum. Pertanyaan itu\nbertahan hingga akhir cerita, di mana Chantal mengalami kebalauan\nidentitas di tengah imaji akan pesta orgy; sebuah kerumitan yang seolah\ntanpa ujung. Identitas meninggalkan gaung panjang selepas membaca. Ia\nmemantik pemikiran dan refleksi mendasar seorang manusia melalui sebuah\nskenario sederhana yang tidak bertele-tele. Akan tetapi, Identitas\nbukanlah sebuah jawaban. Sebab akhirnya justru permulaan pencarian itu\nsendiri. [] \n&lt;br /&gt;*penulis, tinggal di Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;",1] );  &lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Seperti dalam tulisannya yang sudah-sudah, yang analitik, eksploratif dan dengan elaborasi yang sabar, Kundera mengungkapkan kegalauan manusia terhadap identitas, terhadap arti keberadaan. Kegalauan demi kegalauan itu tercecer dalam sudut-sudut kehidupan Chantal dan Jean-Marc; cinta, persahabatan, kematian dan setelah-kematian, bahkan hidup sebelum kelahiran. "Ketahuilah, bahkan dalam perut ibumu pun, yang konon sakral, kamu masih tetap bisa dijangkau. Mereka memfilmkan kamu, mereka memata-matai kamu, mereka memperhatikanmu bermasturbasi. Kamu tidak pernah bisa menghindar dari mereka selagi kau masih hidup, itu semua orang tahu. Tapi ternyata kamu juga tidak bisa menghindar dari mereka, bahkan sebelum kamu lahir pun. Begitu juga kamu tidak bisa menghindari mereka sesudah kamu mati." (p.61) Di satu bagian, Kundera menyindir televisi dengan serangkaian program representasi kitsch yang menenggelamkan manusia dalam kerumunan komunal dan melenyapkan identitas, justru dengan mengangkatnya ke permukaan. Seperti diungkapkannya dalam The Art of Novel, bagi Kundera novel adalah ajang eksplorasi eksistensi manusia, tanpa menanggalkan kejenakaan yang satir sebagai spirit tulisan-tulisannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Novel setebal 175 halaman ini terdiri dari 51 bab pendek-pendek, diterjemahkan oleh Landung dengan irama tutur memikat dan kosakata yang kaya. Perspektif penutur melompat-lompat dari Chantal ke Jean-Marc ke pribadi sang penulis; di banyak bagian, pemikiran yang tecermin melalui karakter di dalamnya membuat pembaca berhenti untuk merenung dan berefleksi. Surat-surat yang diterima Chantal hampir setiap hari mungkin mengingatkan kita pada Dunia Sophie (Jostein Gaarder); bedanya, Tuhan dalam konteks Dunia Sophie adalah sang pencipta, dan tuhan dalam konteks surat-surat untuk Chantal adalah wujud berhala baru manusia modern: citra diri. Identitas, karenanya adalah sebuah novel posmo yang mempertanyakan kembali keberadaan manusia, ketika ia dipandang tak lagi sebagai manusia tetapi sebagai semata simulakrum. Pertanyaan itu bertahan hingga akhir cerita, di mana Chantal mengalami kebalauan identitas di tengah imaji akan pesta orgy; sebuah kerumitan yang seolah tanpa ujung. Identitas meninggalkan gaung panjang selepas membaca. Ia memantik pemikiran dan refleksi mendasar seorang manusia melalui sebuah skenario sederhana yang tidak bertele-tele. Akan tetapi, Identitas bukanlah sebuah jawaban. Sebab akhirnya justru permulaan pencarian itu sendiri. []&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;*penulis, tinggal di Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-115244061805969395?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115244061805969395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115244061805969395&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115244061805969395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115244061805969395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/07/resensi-identitas.html' title='Resensi Identitas'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114943788652309234</id><published>2006-06-04T08:17:00.000-07:00</published><updated>2006-06-04T09:18:07.366-07:00</updated><title type='text'>Wisata Bencana di Akhir Minggu</title><content type='html'>&lt;i style="font-family: verdana;"&gt;Transporter&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b style="font-family: verdana;"&gt;gaiacorps&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; melaporkan, Jalan Imogiri Timur, Jalan Imogiri Barat, dan Jalan Parangtritis sepanjang pagi hingga menjelang malam ini mengalami kemacetan hingga sepanjang 3 kilometer.&lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: verdana; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kemacetan diperkirakan terjadi karena meningkatnya jumlah wisatawan bencana pada akhir minggu ini, hari kedelapan pascabencana. Kebanyakan mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah bencana dan kamp-kamp pengungsian untuk memotret, atau sekadar melihat aktivitas pengungsi. Tetapi ada pula sejumlah keluarga yang berkeliling dengan mobil. Tidak sekadar untuk ‘berwisata’, tetapi juga membawa bantuan untuk disalurkan ke kamp-kamp pengungsian di sepanjang perjalanan. “Mereka datang sekeluarga, ngobrol-ngobrol, lalu membuka bagasi dan mengeluarkan sedikit bantuan yang mereka bawa,” ujar salah seorang relawan &lt;b&gt;gaiacorps&lt;/b&gt;. Menurut Aan, salah satu &lt;i&gt;transporter&lt;/i&gt; yang menjadi saksi mata, jenis-jenis bantuan yang mereka bawa di antaranya adalah sembako, &lt;i&gt;hygiene kit&lt;/i&gt;, nasi bungkus, atau &lt;i&gt;snack&lt;/i&gt;. Semuanya dalam kemasan-kemasan kecil.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: verdana; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Bencana gempa yang menimpa Jogjakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei yang lalu memang tak hanya mengundang keprihatinan massal, tetapi juga perhatian dan decak dari masyarakat, baik penduduk lokal Jogja maupun orang-orang dari luar daerah. Sejak hari kedua pascabencana, kepadatan jalan menuju daerah Bantul dan sekitarnya salah satunya disebabkan oleh mereka yang berdiri di tepi-tepi jalan, memadati situs-situs korban bencana, entah untuk sekadar menonton atau mengambil gambar. Beberapa situs yang mengundang perhatian media dan kalangan luas di antaranya adalah gedung STIE Kerjasama dan gedung BPKP di Jalan Parangtritis.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: verdana; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Maraknya wisata bencana juga ditandai dengan ‘lenyapnya’ kamera dari peredaran. Beberapa teman yang memiliki akses ke media rekam tersebut menyatakan sulitnya mendapatkan kamera Single Lens Reflect (SLR), dari jenis manual hingga digital, terutama pada akhir minggu ini. Demikian pula yang dialami oleh salah seorang teman fotografer amatir yang datang dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sejak Sabtu hingga Senin mendatang, kedatangan fotografer-fotografer, baik profesional maupun amatir, dari luar daerah ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jogjakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, mencapai puncaknya. Mereka datang untuk merekam sisa-sisa bencana di tempat kejadian.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: verdana; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Wisata di kala pascabencana memang ekses yang, kendati ironis, tak dapat terhindarkan. Mobilisasi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ke daerah bencana terjadi tak hanya karena padatnya arus bantuan, tetapi juga karena besarnya rasa ingin tahu. Masyarakat berlomba-lomba menjadi saksi mata peristiwa; berlomba-lomba mengabadikan situs yang terimbas bencana. Gambar dan rekaman peristiwa seolah barang langka layak koleksi yang mengundang decak kagum dan pantas dibanggakan. Barangkali pula, kelak sebagian dari mereka akan menghuni galeri dalam pameran-pameran foto tematis, menjadi mitos yang hidup dari mulut ke mulut. Menjadi bagian dari kenangan yang, meski menyakitkan, tetap saja mengundang decak kagum. Menjadi wacana yang dipolemikkan, lalu berhenti. Terlupakan. Beberapa dari mereka bisa jadi tak berhenti sampai di situ; gambar dan informasi yang mereka miliki mungkin turut mendatangkan sesuatu untuk mereka yang menjadi korban, yang hidupnya tak berhenti sampai di kamp pengungsian saja. Begitulah seharusnya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: verdana; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dalam perjalanan menuju Blali, Seloharjo, saya sempat bergumam dengan seorang teman saat melewati mereka: “Kalau saja mereka yang berdiri di tepi-tepi jalan nggak cuma nonton, tapi ikut melakukan sesuatu untuk para korban bencana.” Teman saya menimpali, “Apalagi jumlah mereka banyak sekali. Kalau sekian banyak orang dikerahkan untuk jadi relawan yang mendampingi korban, bayangin.”&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: verdana; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Akhir minggu ini menjadi akhir minggu yang riuh-ramai di daerah Bantul dan sekitarnya. Sejumlah artis pun turut datang, entah apa pun maksud kedatangan mereka. Pengungsi dan korban bencana tentu ikut senang, karena kedatangan mereka membawa buah tangan. Tetapi jangan lupa berempati. Jangan hanya jadi penonton. Mereka tak suka ditonton. Tengoklah salah satu tulisan di tepi jalan:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: verdana; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Tolong, desa xxx, 100 m (tanda panah) rusak parah. Kami butuh bantuan, bukan jadi tontonan!!!”&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114943788652309234?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114943788652309234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114943788652309234&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114943788652309234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114943788652309234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/06/wisata-bencana-di-akhir-minggu.html' title='Wisata Bencana di Akhir Minggu'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114913399960466982</id><published>2006-05-31T20:52:00.000-07:00</published><updated>2006-05-31T20:53:19.736-07:00</updated><title type='text'>Yang Tertinggal dan Yang Hilang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Apa yang bisa kamu lakukan ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan tempat tinggal, kenangan, sarana penunjang hidup, bahkan orang-orang yang dicintai? Apa yang tertinggal untuk mereka? Apa yang bisa kita kembalikan kepada mereka, selain harapan akan hidup yang lebih baik? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ribuan rumah mungkin dibangun, jutaan satuan bantuan boleh jadi berdatangan tak henti-henti, tim medis barangkali bersiaga 24 jam di kamp pengungsi korban, tetapi tak ada yang bisa mengembalikan hidup mereka seperti semula. Yang tertinggal jadi pepuing, di balik jerit terbekam reruntuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sesedikit apa pun yang dapat dilakukan untuk mereka, kami, Anda; kita gaiacorps, melakukan apa yang mungkin. Mengumpulkan tim medis, merangkul &lt;i&gt;volunteer&lt;/i&gt; yang bersedia &lt;i&gt;stay&lt;/i&gt; di lapangan, menghubungi &lt;i&gt;base-base&lt;/i&gt; bantuan, sampai bersibuk dengan sms dan Yahoo Messenger untuk tujuan kurang lebih serupa. Sedari pagi, kehidupan di kantor Gaia sudah menyala; telepon keluar dan masuk hampir tak berjeda, sebagian orang mondar-mandir, dari telepon ke PC ke benam kertas ke tumpukan bantuan ke kafe di luar ke faksimili ke halaman, sampai kembali ke muka PC. Lalu lintas padat, meski tak sampai memacetkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sela-sela kesibukan itu, mitos tentang peristiwa-peristiwa aneh bin ironis pun beredar. Kemarin kami menerima sekotak besar bantuan obat-obatan yang ternyata kadaluarsa 4 tahun yang lalu. Masygul dan absurd. Di titik lain, satu atau beberapa pihak mengedrop tenda yang lantas, dengan penuh rasa syukur, didirikan dan dimanfaatkan oleh kampung korban di muka Jogja Expo Center. Belum habis rasa syukur mereka, seseorang tiba-tiba menagih iuran, 200 ribu rupiah per tenda yang berdiri! Alhasil, tenda pun rubuh. Harapan yang sempat mengembang kembali ciut. Belum lagi sikap pengusaha persewaan tenda yang adem-ayem titi tentrem karto raharjo selagi kampungnya turut menjadi korban, dan dengan asyiknya menggelar stok karpet mereka; bukan untuk dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh korban, tetapi untuk ditikam hangat cahaya matahari: dijemur. Betapa tak habis pikir. Pula tak habis pikir ketika isu tsunami di hari pertama gempa disiarkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab hingga membuat panik sekian ribu warga Jogja, demi secuil barang jarahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagaimanapun, bencana tidak lagi cukup peristiwa yang mengundang keprihatinan massal. Bencana tiba-tiba pun telah menjadi produk; komoditas yang laku dijual ke bendera-bendera pengusung kepentingan. Termasuk dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab di atas. Konflik kepentingan, termasuk klaim-mengklaim daerah, terjadi di sana-sini. Di tengah suasana genting, kepentingan birokrasi terus bertahan tak tergoyahkan, tak bisa diputus. Membuat orang-orang terus mengutuk. Sementara korban terdiam tak terurus. Terbengkalai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;To be, or not to be&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. &lt;i&gt;That is the question&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Adakah tanda tanya itu di kepala Anda?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114913399960466982?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114913399960466982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114913399960466982&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114913399960466982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114913399960466982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/05/yang-tertinggal-dan-yang-hilang_31.html' title='Yang Tertinggal dan Yang Hilang'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114913368311780050</id><published>2006-05-31T20:46:00.000-07:00</published><updated>2006-05-31T20:49:56.950-07:00</updated><title type='text'>Yang Tertinggal dan Yang Hilang</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Apa yang bisa kamu lakukan ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan tempat tinggal, kenangan, sarana penunjang hidup, bahkan orang-orang yang dicintai? Apa yang tertinggal untuk mereka? Apa yang bisa kita kembalikan kepada mereka, selain harapan akan hidup yang lebih baik?&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Ribuan rumah mungkin dibangun, jutaan satuan bantuan boleh jadi berdatangan tak henti-henti, tim medis barangkali bersiaga 24 jam di kamp pengungsi korban, tetapi tak ada yang bisa mengembalikan hidup mereka seperti semula. Yang tertinggal jadi pepuing, di balik jerit terbekam reruntuhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Sesedikit apa pun yang dapat dilakukan untuk mereka, kami, Anda; kita gaiacorps, melakukan apa yang mungkin. Mengumpulkan tim medis, merangkul &lt;i style=""&gt;volunteer&lt;/i&gt; yang bersedia &lt;i style=""&gt;stay&lt;/i&gt; di lapangan, menghubungi &lt;i style=""&gt;base-base&lt;/i&gt; bantuan, sampai bersibuk dengan sms dan Yahoo Messenger untuk tujuan kurang lebih serupa. Sedari pagi, kehidupan di kantor Gaia sudah menyala; telepon keluar dan masuk hampir tak berjeda, sebagian orang mondar-mandir, dari telepon ke PC ke benam kertas ke tumpukan bantuan ke kafe di luar ke faksimili ke halaman, sampai kembali ke muka PC. Lalu lintas padat, meski tak sampai memacetkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Di sela-sela kesibukan itu, mitos tentang peristiwa-peristiwa aneh bin ironis pun beredar. Kemarin kami menerima sekotak besar bantuan obat-obatan yang ternyata kadaluarsa 4 tahun yang lalu. Masygul dan absurd. Di titik lain, satu atau beberapa pihak mengedrop tenda yang lantas, dengan penuh rasa syukur, didirikan dan dimanfaatkan oleh kampung korban di muka Jogja Expo Center. Belum habis rasa syukur mereka, seseorang tiba-tiba menagih iuran, 200 ribu rupiah per tenda yang berdiri! Alhasil, tenda pun rubuh. Harapan yang sempat mengembang kembali ciut. Belum lagi sikap pengusaha persewaan tenda yang adem-ayem titi tentrem karto raharjo selagi kampungnya turut menjadi korban, dan dengan asyiknya menggelar stok karpet mereka; bukan untuk dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh korban, tetapi untuk ditikam hangat cahaya matahari: dijemur. Betapa tak habis pikir. Pula tak habis pikir ketika isu tsunami di hari pertama gempa disiarkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab hingga membuat panik sekian ribu warga Jogja, demi secuil barang jarahan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Bagaimanapun, bencana tidak lagi cukup peristiwa yang mengundang keprihatinan massal. Bencana tiba-tiba pun telah menjadi produk; komoditas yang laku dijual ke bendera-bendera pengusung kepentingan. Termasuk dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab di atas. Konflik kepentingan, termasuk klaim-mengklaim daerah, terjadi di sana-sini. Di tengah suasana genting, kepentingan birokrasi terus bertahan tak tergoyahkan, tak bisa diputus. Membuat orang-orang terus mengutuk. Sementara korban terdiam tak terurus. Terbengkalai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;To be, or not to be&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. &lt;i style=""&gt;That is the question&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Adakah tanda tanya itu di kepala Anda?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114913368311780050?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114913368311780050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114913368311780050&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114913368311780050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114913368311780050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/05/yang-tertinggal-dan-yang-hilang.html' title='Yang Tertinggal dan Yang Hilang'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114898980082908848</id><published>2006-05-30T04:47:00.000-07:00</published><updated>2006-05-30T04:50:01.106-07:00</updated><title type='text'>Urgent: bantuan gempa Seloharjo, Bantul, DIY</title><content type='html'>Halo, ini Miranda, on behalf of Yayasan GAIA, Jln Jembatan Merah 84 B&lt;br /&gt;(Timur LIA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon dibantu.&lt;br /&gt;Yayasan GAIA sedang mencoba membantu para pengungsi di daerah Pundong&lt;br /&gt;desa Seloharjo Lapangan Mblale Bantul karena daerah ini dianggap nggak&lt;br /&gt;papa padahal apa2. Yayasan GAIA telah keliling dr desa ke desa dan&lt;br /&gt;menyurvey berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan:&lt;br /&gt;Tenda&lt;br /&gt;Selimut&lt;br /&gt;Kompor dan bahan bakarnya&lt;br /&gt;Alat masak&lt;br /&gt;Makanan kering maupun basah (biskuit, roti, dan semacamnya)&lt;br /&gt;Jarum suntik&lt;br /&gt;Cairan infus&lt;br /&gt;Jarum jahit&lt;br /&gt;Benang jahit&lt;br /&gt;Sofratule&lt;br /&gt;Kassa steril&lt;br /&gt;Alkohol&lt;br /&gt;Rivanol&lt;br /&gt;Betadine&lt;br /&gt;Hipofix&lt;br /&gt;Povidon&lt;br /&gt;OBH syrup&lt;br /&gt;Perban besar&lt;br /&gt;Perban elastis&lt;br /&gt;Bidai&lt;br /&gt;Spalk&lt;br /&gt;Kapas&lt;br /&gt;Furosemide&lt;br /&gt;Pehacaine&lt;br /&gt;Transamin&lt;br /&gt;Adona&lt;br /&gt;Cotrimoxazole syrup&lt;br /&gt;Amoxycillin syrup&lt;br /&gt;Hansaplast&lt;br /&gt;Metocopamide&lt;br /&gt;Sakaneuron&lt;br /&gt;Ibuprofen&lt;br /&gt;Ciprofloxacin&lt;br /&gt;Voltadex&lt;br /&gt;Neurodex&lt;br /&gt;Hufavicee&lt;br /&gt;Daneuron&lt;br /&gt;Amoxicillin&lt;br /&gt;Asam Mefenamat&lt;br /&gt;Terra F&lt;br /&gt;Neuromex&lt;br /&gt;Captopril&lt;br /&gt;Bedak salicyl&lt;br /&gt;Ketokonazole tablet&lt;br /&gt;Multivitamin anak&lt;br /&gt;Mertigo&lt;br /&gt;GG&lt;br /&gt;CTM&lt;br /&gt;Serum ATS&lt;br /&gt;Vaksin TT&lt;br /&gt;Cairan antiseptik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang akan menyumbang uang bisa lewat :&lt;br /&gt;No rek gempa Bantul&lt;br /&gt;BCA 0940648114 a/n yudhi hermanu&lt;br /&gt;kancab Rawamangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang punya kenalan NGO/Funding lokal/international yang dapat&lt;br /&gt;membantu, tolong forward kontak ke GAIA atau memforward pengumuman&lt;br /&gt;ini. Untuk yang berminat bisa datang ke GAIA jadi relawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thks sebelumnya.&lt;br /&gt;Miranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan GAIA&lt;br /&gt;Jl. Jembatan Merah 84B Gejayan Yogyakarta&lt;br /&gt;(0274) 524117&lt;br /&gt;0816685871 (Difla)&lt;br /&gt;www.yayasan-gaia.org&lt;br /&gt;&lt;a target="_blank" href="http://gaiacorps.blogspot.com/2006/05/kilas-balik-slog-27-mei-2006-sd-29-mei.html"&gt;http://gaiacorps.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114898980082908848?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114898980082908848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114898980082908848&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114898980082908848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114898980082908848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/05/urgent-bantuan-gempa-seloharjo-bantul.html' title='Urgent: bantuan gempa Seloharjo, Bantul, DIY'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114639043335814240</id><published>2006-04-30T02:42:00.000-07:00</published><updated>2006-04-30T02:47:27.450-07:00</updated><title type='text'>Pagi Terakhir Bersama Pak Pram</title><content type='html'>Di antara kelabu-kelabu yang masih&lt;br /&gt;(tak tahu malu) bernafas, tiba-tiba&lt;br /&gt;dering mesin di pagi hari mengesahkan&lt;br /&gt;hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita&lt;br /&gt;tak&lt;br /&gt;tahu&lt;br /&gt;berapa tetes lagi tinta hitam&lt;br /&gt;diam-diam&lt;br /&gt;menunggu jatuh&lt;br /&gt;(kelabu menghitam) #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah pagi bening, lewat empat tahun yang lalu, saya menulis sepenggalan sajak itu. Pada sebuah pagi menjelang siang, ketika seorang kawan di Gelanggang mengabarkan kematian Pak Kayam (Umar Kayam) yang, entah kenapa, membuat hati saya tergetar. Sajak itu tak pernah termuat di mana-mana, kecuali pada secarik kertas dalam Buku Bebas, media curhat non-cetak kami, para Gelanggang-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ers &lt;/span&gt;(warga gelanggang mahasiswa UGM). Juga hanya termuat dalam kepala saya. Tak pernah tersimpan lebih dari sebuah puisi tak terkabar. Yang pagi ini tiba-tiba menyata begitu saja.&lt;br /&gt;Pagi ini, pagi mendung di kota saya, pesan singkat dari beberapa sahabat membuat saya tercenung. Pak Pram, seorang sastrawan besar, pejuang kemanusiaan, salah satu putra terbaik bangsa, telah berpulang. Beliau kembali ke pangkuan sang Pencipta pada 30 April 2006, pukul 9.15 WIB di rumah Jl. Multikarya, Utan Kayu, setelah semalam dipulangkan dari Rumah Sakit St. Carolus, sekira pukul 19.00 WIB. Sebelumnya, sejak Kamis (27/4) lalu, seperti dikabarkan oleh media dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mailing list&lt;/span&gt;, beliau dirawat di Intensive Care Unit RS St. Carolus, dalam kondisi tak stabil.&lt;br /&gt;Setelah simpang-siur berita yang sempat saya terima malam sebelumnya, pesan-pesan singkat yang berdering di pagi ini mengesahkan kabar hitam. Mengesahkan duka yang dalam di hati siapa saja.&lt;br /&gt;Jika saja saya sempat mengenal beliau lebih dalam. Sebagai seorang pengagum, saya belum lagi cukup lama mengenal Pak Pram. Masih segar dalam ingatan saya, buku beliau yang pertama kali saya baca adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Larasati &lt;/span&gt;(terbitan Hasta Mitra), pinjaman dari seorang teman penggemar fanatik yang berhasil memiliki bukunya (kala itu masih dilarang peredarannya). Keberpihakan terhadap perempuan dalam menentukan nasibnya pada karya-karya fiksi beliau membuat kekaguman saya melencir, di samping paparan sejarah yang lugas dan “tidak berpihak kepada yang menang”. Belakangan baru saya tahu, karya-karya Pak Pram terinspirasi oleh ibunya, yang meninggal dunia di usia 34 tahun, ketika beliau masih berumur 17 tahun. Ia bahkan melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan-ibunya”.&lt;br /&gt;Saya tak pernah benar-benar mengenalnya. Sosok itu; yang begitu saya kagumi dan hormati. Yang entah kenapa, tiba-tiba terasa dekat di hati saya, ketika saya menghadiri perayaan ulang tahun ke-79 di TIM. Sosok yang menancap dalam, ketika dengan suara serak ia bercerita perihal perlakuan kejam di masa penahanan, yang membuat susut pendengarannya. Yang selalu ingin saya kenal lebih dekat, sejak saat itu. Kesempatan yang kini tak mungkin lagi saya dapatkan.&lt;br /&gt;Pada sebuah pagi cerah di bulan Juli 2004, saya dan Aishah Basar, seorang sahabat, berkunjung ke rumah Jl. Multikarya, Utan Kayu, untuk merundingkan kerja sama Penerbit Lentera Dipantara dengan Teater Utan Kayu dalam Festival Filsafat. Di teras rumah tenang itu, kedatangan kami disambut oleh Pak Pram, yang duduk tenang, asyik membaca sebuah harian pagi; yang lalu mendongak dan tersenyum pada kami. Kami tercekat. Sampai mas Yudi (Yudistira Ananta Toer) keluar rumah dan mengajak kami masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, Pak Pram melintas, masuk ke ruang dalam. Lagi-lagi, kami hanya mampu tercekat. Mas Yudi, barangkali memahami apa yang berpusar dalam kepala kami, hanya tersenyum. “Mau mengobrol dengan Bapak?” Sebuah tawaran yang tak pernah bisa kami jawab, sebab entah kenapa tiba-tiba kami merasa kerdil dan gagu. Bahkan melenyap. Tawaran itu kemudian berganti dengan janji segurat tanda tangan Pak Pram di buku-buku beliau yang kami miliki. Yang juga tak sempat terlaksana, sebab pada kedatangan kami berikutnya, Pak Pram tak sedang berada di rumah tenang itu. Saya tak pernah menyangka, itulah kesempatan terakhir saya bertemu Pak Pram. Se-tak menyangka saya, pagi ini adalah pagi terakhir kita bersama Pak Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, Pak Pram. Cinta dan ingatan kami tak pernah habis. Juga akan pesanmu untuk jangan mudah memaafkan rezim yang berlaku tak adil. Tak pernah habis; semoga pula perjuangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114639043335814240?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114639043335814240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114639043335814240&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114639043335814240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114639043335814240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/04/pagi-terakhir-bersama-pak-pram.html' title='Pagi Terakhir Bersama Pak Pram'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114563414931147415</id><published>2006-04-21T08:39:00.000-07:00</published><updated>2006-04-21T08:58:46.530-07:00</updated><title type='text'>Paradoks Indonesia</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Indonesia adalah negeri yang padat &lt;span style="font-size:180%;"&gt;paradoks&lt;/span&gt;. Tengoklah dari yang paling asasi. Negara ini mengaku &lt;i style=""&gt;bhineka tunggal ika&lt;/i&gt;. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sebuah semboyan ideal, untuk sebuah negara yang terdiri dari beragam bangsa, seperti Indonesia. Betapa harmonis. Praktiknya? Jauh panggang dari api. Ingin contoh lain? Indonesia memperingati dua hari besar sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan: Hari Ibu dan Hari Kartini. Nyatanya, isu kesetaraan gender yang telah dirintis oleh Kartini sejak tahun 1890-an masih terus diperjuangkan hingga sekarang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau saja Mahapatih Gadjahmada tidak pernah mengikrarkan Sumpah Palapa untuk mempersatukan seluruh nusantara. Sebab dari sanalah sesungguhnya gerusan terhadap kebhinekaan bermula: keinginan untuk menguasai bangsa lain. Ketika negara kesatuan ini lahir, kedaulatan bangsa-bangsa di dalamnya diciutkan menjadi suku bangsa. Penghargaan terhadap bangsa tentu saja turut menciut. Lalu muncul yang kuat, menguasai yang lebih tertinggal. Mengisap, sampai bangsa yang diisap kehabisan semuanya, termasuk kesabaran. Mengimpit dan menginjak, sampai yang diimpit mencapai titik balik dan melenting. Jika hukum rimba memang masih berlaku, siapa yang mesti disalahkan jika kemudian muncul perlawanan dan perpecahan? Poso, Sampit, Aceh, Papua....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang satu, yang tunggal, memang tidak bisa disamakan dengan yang seragam. Penunggalan dari keberbagaian tidak bisa dicapai dengan memaksakan &lt;i style=""&gt;conformity&lt;/i&gt;. Tampaknya, pengertian itulah yang kerap tumpang tindih di negeri ini. Setidaknya, yang dipahami oleh orang-orang yang berkuasa. Bahwa persatuan sama dengan penyeragaman. Perbedaan digerus dan dipaksa lebur ke dalam nilai-nilai yang diakui ‘bersama’. Dianggap baku. Nilai mana yang kemudian menjadi acuan dan terfasilitasi, sepenuhnya tunduk kepada selera yang-lebih-kuat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di negeri yang bhineka ini, praktik &lt;i style=""&gt;conformity&lt;/i&gt; tak pernah usai. Barangkali itu pula yang membuat rakyat berlaku serupa; sebab begitulah contoh yang diberikan oleh pemimpinnya. Perbedaan terus diredusir, atau bahkan dihapuskan. Betapa sulit dan panjang jalan yang mesti ditempuh untuk mendapat pengakuan sebagai warga negara dengan hak-hak yang sama, ketika ia adalah warga keturunan Tionghoa, atau salah satu anggota keluarganya diasumsikan pernah terlibat sebagai komunis, misalnya. Tak ada ruang untuk menyatakan sikap sendiri, dan mendapatkan penghargaan atasnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pun dalam wacana pornografi yang tengah terus diperdebatkan. Ada pemaksaan nilai-nilai tertentu di dalamnya. Ada kecenderungan untuk menyeragamkan yang bhineka ini—bangsa, agama, kepercayaan—ke dalam nilai satu kelompok. Ada yang dengan keras (dan dengan cara kekerasan) menentang pihak yang berbeda paham dengan kelompoknya, seperti yang dilakukan Front Pembela Islam. Ada pengakuan terhadap kebhinekaan (keberbedaan), tetapi miskin penghargaan dan justru melakukan penindasan terhadapnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inilah paradoksnya Indonesia. Seperti juga ketika dua hari dalam setahun diperingati sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan, tetapi kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan terus terjadi. Dari mulai yang paling ekstrim seperti kasus Lisa (termasuk juga Lisa-Lisa yang lain, yang tak cukup beruntung untuk diekspos di media massa dan mendapat pembelaan orang banyak), sampai yang paling halus semacam pemampatan keberdayaan perempuan hingga hanya dianggap sebagai ‘pencetak anak’. Pun, wajah paradoks Indonesia pula yang terlihat, ketika 78 tahun yang lalu Sumpah Pemuda menyatakan berbahasa satu: bahasa Indonesia, tetapi sebagian besar generasi muda kini lebih bangga menggunakan bahasa Inggris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Agaknya, melalui yang serba paradoks inilah kedewasaan kita sebagai negeri berbangsa-bangsa (bukan suku-suku bangsa) diuji. Agaknya, RUU Pornografi adalah sebuah momentum untuk mengaca: benarkah kita adalah bangsa yang paradoks? Atau ... benarkah negeri ini bhineka tunggal ika? [21 April 2006]&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;PS (&lt;i style=""&gt;post-script&lt;/i&gt;): Selamat Hari Kartini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;PS (pesan sponsor): Terima kasih atas dukungan terhadap iklan masyarakat Tolak RUU Porno. Aliansi Mawar Putih akan dukung Pawai Bhinekka Sabtu 22 April di Bundaran HI. Kenakan kostum etnik/daerah yang santai asik, kumpul di kafe-kafe lantai 1 Plaza Indonesia jam 10.30-an. Ada panitia yang membawa bunga untuk info acara. Atau, kalau mau seru, gabung dengan Pawai mulai di Monas jam 9. Saatnya tunjukkan cinta pada Indonesia damai &amp;amp; bhineka!&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114563414931147415?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114563414931147415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114563414931147415&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114563414931147415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114563414931147415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/04/paradoks-indonesia.html' title='Paradoks Indonesia'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114455612081290884</id><published>2006-04-08T20:39:00.000-07:00</published><updated>2006-04-08T21:15:20.836-07:00</updated><title type='text'>Seribu Buku untuk Tunanetra</title><content type='html'>Kamis sore (6/4), di Library@Senayan, Ismail melangkah ke muka penonton tanpa keraguan. Keterbatasan yang dimilikinya membuat ia tak bisa melihat panggung, tapi lampu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spot&lt;/span&gt;, derap emosi penonton yang larut bersama langkahnya, karakter tokoh yang lekat dalam diri, dan seluruh aspek panggung telah begitu hidup dalam imajinya. Sore itu, ialah si empunya panggung dan seluruh pementasan. Meski sesekali pergerakannya mesti dibantu oleh orang awas (istilah orang-orang tunanetra untuk menyebut mereka yang bisa melihat), tak sedikit pun keraguan terpancar dari dirinya. Penampilannya begitu mantap. Seperti kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari bibirnya. “Saya baru pulang dari &lt;i style=""&gt;airport&lt;/i&gt;, dan saya kesal sekali! Barusan saya bertengkar dengan istri saya.”    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ismail adalah seorang tunanetra yang menutur apresiasi tujuh buku braille GagasMedia melalui sebuah monolog. Ia menajuki penampilannya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Monolog Tujuh Nukil&lt;/span&gt;. Sebuah mozaik dari tujuh apresiasi terhadap tujuh buku Braille yang dilalapnya dalam tujuh hari. Dalam euforia, sebab kerinduannya akan bacaan telah terakumulasi sekian tahun lamanya. Ismail bukan satu-satunya tunanetra yang mengalami euforia membaca. “Saya pusing, istri saya mau pergi ke Singapura. Dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngambek &lt;/span&gt;karena kami tidak bisa punya anak,” seruannya segera menuai tawa. Pementasan monolog itu adalah bagian dari program “Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Kita Bergandengan Tangan”, sebuah program kerja sama antara Yayasan Mitra Netra, Penerbit GagasMedia, Forum Indonesia Membaca, dan perpustakaan pendidikan nasional. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam pentas itu, ia bukan lagi Ismail. Ia adalah Rahmat Natadiningrat, seorang tokoh dalam novel &lt;i style=""&gt;Testpack&lt;/i&gt; karya Ninit Yunita. Ismail memainkan perannya dengan wajar, dan mozaik tujuh karya yang dibacanya direkat dengan halus. Tujuh karya itu adalah &lt;i style=""&gt;Testpack&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll&lt;/i&gt; (F.X Rudy Gunawan), &lt;i style=""&gt;Filosofi Kopi&lt;/i&gt; (Dewi Lestari), &lt;i style=""&gt;Brownies&lt;/i&gt; (Fira Basuki), &lt;i style=""&gt;Ungu Violet&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;Cintapuccino&lt;/i&gt; (Icha Rahmanti) dan &lt;i style=""&gt;Si&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Parasit Lajang&lt;/i&gt; (Ayu Utami). Selama &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; belas menit, ruang pun rehat dari suasana haru bercampur ruah kebahagiaan yang membuka acara di Library@Senayan, sore itu. Sesekali, ledak tawa meningkahi permainan. Penampilannya segar dan hidup. Seluruh diri Ismail memancarkan keyakinan yang kuat, membuat penonton hampir tak terpikir bahwa ia seorang difabel. Ia adalah seorang pemuda yang mengalami kebutaan di usia 17 tahun, mula-mula karena mata kirinya terkena tembak senapan angin, dan menyusul beberapa saat kemudian, mata kanannya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Keyakinan yang kuat akan berwarnanya sebuah dunia baru memang memenuhi atmosfer ruang perpustakaan pendidikan nasional tersebut. Sebuah kebahagiaan yang telah ditunggu oleh teman-teman tunanetra selama tak kurang dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; belas tahun. Dewi Lestari menyebut momen ini sebagai sebuah "pelangi imajiner" yang menjembatani dua dunia. Dewi menjelaskan bahwa ide untuk membantu teman-teman tunanetra dengan mem-braille-kan buku-bukunya sebenarnya sudah lama ada di kepala. Pada saat yang sama, telah sekian lama juga Yayasan Mitra Netra berjuang untuk mengadakan bacaan bagi para tunanetra. “Setelah 15 tahun, kami baru memiliki 302 judul buku Braille, yang sebagian besar merupakan buku-buku pelajaran."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sebuah pergerakan yang sangat lamban, jika dibandingkan dengan kurang lebih 10.000 judul buku yang terbit di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; setiap tahunnya. "Selama ini kami hanya bisa mendengar munculnya buku-buku populer tanpa bisa membacanya, yang membuat kami merasa berada di sebuah dunia lain. Karena itu, kerja sama dengan penerbit GagasMedia saat ini merupakan perwujudan mimpi,” tutur Irwan Dwi Kustanto, Wakil Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, yang sore itu menjadi juru bicara. Wajar jika pada momentum Kamis sore itu, setelah penantian yang demikian panjang, ia merasa seperti sedang bermimpi. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; banyak kegelisahan tentang tunanetra yang mesti terus dicari jawabannya, yang kadang-kadang membuat Irwan (dan teman-teman tunanetra yang lain) merasa sunyi di tengah keramaian. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; mata rantai yang hilang dalam masyarakat kita, yang membuat mereka merasa terkucil di sebuah dunia berpagar tinggi. Tidak hanya rasa malu sebagai seorang difabel yang membatasi kehidupan sosial mereka, ketidaktahuan akan akses menuju pengetahuan dan fasilitas membuat sebagian besar kaum tunanetra makin terpuruk dalam ketakberdayaan. Baru sedikit dari mereka yang berkeras maju mengatasi hambatan dan keterbatasan diri mereka. Selain itu, terbatasnya dukungan dari lingkungan sekitar merupakan faktor penghambat yang cukup besar. Drs. Bambang Basuki, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, pada suatu kesempatan menyebut sempitnya pemahaman pemerintah terhadap kebutuhan kaum tunanetra. Hal ini, pada muaranya malah memunculkan mafia-mafia yang melulu berkutat memperebutkan lahan yang sama, sementara di luar itu masih begitu luas hutan yang bisa dibabat. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ketiadaan sumber bacaan bagi mereka yang daya penglihatannya terbatas hanyalah salah satu dari sekian banyak masalah. Selain persoalan semacam jaminan perlindungan kesamaan hak dan kesempatan dalam dunia kerja yang tidak diatur pada undang-undang penyandang cacat, Irwan menyebut juga keprihatinannya terhadap angka tunanetra bersekolah, yang jumlahnya sampai saat ini baru mencapai sekitar 2.000 orang, dari kurang lebih 3.000.000 penduduk tunanetra di Indonesia. Karena itu, kerja sama Yayasan Mitra Netra dengan Penerbit GagasMedia adalah gayung bersambut yang diharapkan dapat menjadi gong pembuka kerja sama Yayasan Mitra Netra dengan pihak-pihak lain, apa pun bentuknya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Acara itu bukan hanya milik teman-teman tunanetra. Ia juga sebuah ruang yang prestisius untuk para penulis. Sore itu, sebanyak delapan penulis antara lain: F.X Rudy Gunawan, Ayu Utami, Dewi Lestari, Fira Basuki, Yennie Hardiwijaya, Ninit Yunita, Icha Rahmanti, dan saya, hadir dan menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi sebagai relawan program “1000 Buku Untuk Tunanetra”. &lt;i&gt;Soft copy&lt;/i&gt; naskah kesemua penulis tersebut dikontribusikan kepada Yayasan Mitra Netra secara cuma-cuma. Program “1000 Buku Untuk Tunanetra” sendiri sebenarnya telah dicanangkan Yayasan Mitra Netra sejak tahun 2005. Tetapi, bahkan ketika IKAPI menyatakan dukungannya terhadap program tersebut dan mengimbau penerbit untuk bergandengan tangan dengan Yayasan Mitra Netra, kerja sama baik antara mereka dengan penerbit baru terealisasi kini. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kesediaan penulis memberikan &lt;i style=""&gt;soft copy&lt;/i&gt; karyanya untuk Yayasan Mitra Netra secara seremonial ditandai dengan penandatanganan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; pernyataan disaksikan audiens yang hadir, di awal acara. Beberapa penulis, yang karyanya terbit tidak hanya di bawah bendera GagasMedia, seperti Ayu Utami, Fira Basuki, dan Dewi Lestari, menyatakan kesediaannya untuk memberikan pula &lt;i style=""&gt;soft copy&lt;/i&gt; karya mereka yang dipublikasikan oleh penerbit lain. Selanjutnya, lewat relasi yang terjalin antara penulis, penerbit, dan teman-teman tunanetra ini, semua pihak berharap akan muncul karya-karya dari mereka yang tidak awas, yang, seperti diyakini oleh Ayu Utami, memiliki dimensi kedalamannya sendiri karena kekayaan imajinasi yang tidak dimiliki orang awas. Menanggapi hal ini, F.X Rudy Gunawan, Direktur Penerbit GagasMedia menyatakan kesediaannya untuk mendukung pemublikasian karya-karya para tunanetra nantinya. Salah satu bentuk yang diusulkan oleh Ayu Utami, misalnya, adalah penerbitan buku humor tunanetra. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ayu Utami juga menyatakan pentingnya program pelatihan penulisan untuk mengakomodasi kreativitas para tunanetra, dan ini seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh penulis, penerbit, organisasi seperti IKAPI, dan forum-forum publik yang terkait dengan buku, selain, tentunya, pemerintah. Dukungan semacam ini merupakan kewajiban moral siapa saja, karena seperti berulang kali dikatakan oleh Irwan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang memberi kesempatan menang pada kelompok-kelompok yang tertindas atau termarjinalkan”. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Obrolan interaktif yang diselai penampilan musik oleh Endah—juga Dewi Lestari yang sempat membawakan lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eternal Flame&lt;/span&gt;—sore itu diakhiri dengan demo pencetakan &lt;i style=""&gt;soft copy&lt;/i&gt; ke dalam format Braille oleh Irwan Dwi Kustanto. Beliau yang menyandang &lt;i style=""&gt;low vision&lt;/i&gt; mengoperasikan komputer dengan bantuan program &lt;i style=""&gt;Job Access With Speech&lt;/i&gt; dan peranti lunak bernama Mitra Netra Braille Converter, yang dibuat oleh Yayasan Mitra Netra untuk mempermudah proses pencetakan buku-buku braille. Dan ketika hari bergulir senja, meski kaki terasa berat dan hati begitu penuh, acara tetap mesti diusai. Tetapi keintiman hubungan antara penulis, penerbit, relawan, dan teman-teman tunanetra terus membekas tak terlupakan. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; begitu banyak kerja bersama yang menanti untuk terus dilakukan. Sore kemarin, sebuah jendela lagi terbuka untuk mereka. Siapa bilang dengan jari tunanetra tak bisa mengubah dunia?  &lt;/p&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;(tulisan ini dimuat pula di Koran Tempo edisi Minggu, 9 April 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114455612081290884?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114455612081290884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114455612081290884&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114455612081290884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114455612081290884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/04/seribu-buku-untuk-tunanetra.html' title='Seribu Buku untuk Tunanetra'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114406049229022192</id><published>2006-04-03T03:04:00.000-07:00</published><updated>2006-04-03T04:02:39.800-07:00</updated><title type='text'>Lengkap dalam Ketaklengkapan</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Freud, suhu psikoanalisis, pernah berkata: anak yang tidak diinginkan/’haram’&lt;a href="http://us.f602.mail.yahoo.com/ym/ShowLetter?box=Inbox&amp;MsgId=2806_11120792_3738548_1947_10834_0_35999_37981_403370375&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;bodyPart=2&amp;tnef=&amp;amp;YY=22387&amp;order=down&amp;amp;sort=date&amp;pos=0&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;view=a&amp;head=b&amp;amp;ViewAttach=1&amp;Idx=0#02000001"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt; cenderung memiliki kondisi fisik yang lebih lemah daripada anak pada umumnya. Kecenderungan tersebut muncul sebagai manifes perdebatan antara &lt;i&gt;ego&lt;/i&gt; (pikiran sadar) dengan &lt;i&gt;id&lt;/i&gt; (kumpulan naluri bawah sadar) dan &lt;i&gt;super-ego&lt;/i&gt; (sistem nilai) dalam diri seseorang. Dari premis di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi kejiwaan berhubungan erat dengan kondisi fisik; entah apa bermanifes ke mana (kekurangan/ketakstabilan fisik berpengaruh pada kondisi psikis, atau sebaliknya; sebab perdebatan yang tak teratasi antara &lt;i&gt;ego&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;id&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;super-ego&lt;/i&gt; berpotensi menyebabkan kecemasan, penyakit-penyakit neurotik, dan psikosomatik). Untuk mengatasi perdebatan tak henti-henti ini, &lt;i&gt;ego&lt;/i&gt; tak berhenti bergerak. Menggali, mencari jawaban. Mencerap dan mencerna pengalaman. Mengerahkan seluruh indera untuk memperoleh keutuhan diri. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Lalu bagaimana dengan manusia yang dikaruniai indera tak lengkap? Apakah ketaklengkapan indera mesti membatasi mereka mencari jawaban demi keutuhan diri? Tidakkah mereka mesti berjuang lebih keras daripada kita yang panca-inderanya bekerja dengan baik? Perjuangan itu bahkan mesti menjadi lebih sulit, dengan minimnya dukungan dari orang-orang di sekitar mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kompleksitas kejiwaan teman-teman dengan indera tak lengkap sering kali luput dari perenungan. Padahal kita tak berhak menghakimi bahwa dunia orang-orang tunanetra, misalnya, lebih sederhana daripada dunia kita—yang seluruh inderanya berfungsi dengan baik—hanya karena daya penglihatan mereka terbatas. Kita sering kali menyederhanakan persoalan berdasar kacamata subjektif, tanpa mau tahu lebih dalam tentang duduk sebenarnya. Sebuah contoh sederhana yang saya alami, misalnya. Ketika berkunjung ke Yayasan Mitra Netra dan duduk mengobrol dengan Pak Irwan dan Pak Bambang Basuki yang memiliki &lt;i&gt;low vision&lt;/i&gt;, kami sempat mengobrolkan keinginan teman-teman tunanetra untuk menonton film, dan bagaimana membuat sebuah film bisa diapresiasi oleh para tunanetra. Lalu muncul sebuah istilah dalam kepala saya yang terceletuk begitu saja: “mendengar film”. Sebuah istilah yang kemudian disanggah oleh Pak Bambang. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Bukan mendengar film, Mbak. Kami menonton film. Menonton dengan telinga, penciuman, dan jari-jari kami.” &lt;i&gt;Menonton dengan seluruh indera selain penglihatan yang masih berfungsi dengan baik.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Sanggahan itu membuat saya tersadar. Betapa selama ini kita kerap dengan enteng menyederhanakan persoalan; menyederhanakan fenomena di sekitar kita. Sebuah kebiasaan yang membuat ceruk kepedulian dalam &lt;i&gt;super-ego&lt;/i&gt; kita terkikis. Yang menumpulkan sensitivitas dan empati terhadap kompleksitas manusia lain dengan segala kekurangan dan kelebihan yang lekat pada dirinya. Penyederhanaan itu pula yang barangkali membuat kita selama ini seolah-olah tak menyadari keberadaan tunanetra, dan secara tanpa sadar mengucilkan mereka dalam menara tinggi dengan semesta kehidupan mereka sendiri. Penyederhanaan itu pula yang mungkin membuat maskapai penerbangan Air Asia keberatan mengizinkan salah seorang tunanetra menjadi penumpang perjalanan mereka tanpa disertai pendamping. Padahal, penumpang tunanetra bisa berlaku sama baik dengan penumpang berindera lengkap, dengan fasilitas-fasilitas bantu yang selalu tersedia di bandara. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Saya merasa tertohok. Lebih tertohok lagi ketika menyadari, berbagai tembok atas nama keterbatasan yang diciptakan masyarakat kita bahkan mencapai hak-hak pribadi seseorang; untuk membaca, misalnya. Hitung berapa banyak perpustakaan yang memuat bacaan braille, &lt;i&gt;audio-book&lt;/i&gt; dan komputer-bicara, untuk memperkaya wawasan tunanetra, mengasup dan membantu &lt;i&gt;ego&lt;/i&gt; mereka menemukan jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan besar kehidupan dan mengatasi perdebatan dengan sang &lt;i&gt;id&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;super-ego&lt;/i&gt;. Hitung berapa banyak organisasi yang menegaskan kepeduliannya terhadap tunanetra, dan memperjuangkan kelayakan yang sama dengan orang lain. Jangan bertanya ‘mana tanggung jawab negara terhadap mereka’, jika tak ingin mendengar jawaban yang menyedihkan. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Saya kemudian merasa beruntung mengenal Yayasan Mitra Netra (YMN). Karena lewat yayasan inilah kepedulian kita menemu muara. YMN membuat kita setidaknya tahu apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung tunanetra. Program &lt;i&gt;1000 buku untuk tunanetra&lt;/i&gt; berbicara pada kita, bahwa tunanetra tak butuh dibantu berdiri ketika terjatuh, tak butuh pendamping ketika hendak beperjalanan jauh, tetapi butuh lautan baca di mana pengalaman batin bisa disauh. Saya, Anda, siapa saja, dapat mendukung mereka dengan cara yang sederhana, tanpa mesti menyederhanakan persoalan.&lt;br /&gt;Program mendatang, peluncuran tujuh novel braille kerja sama penerbit GagasMedia dan Yayasan Mitra Netra, mudah-mudahan membuka mata kita (yang masih bisa melihat dengan baik) semua. Membuka cakrawala kesadaran kita, bahwa siapa pun tanpa kecuali, berhak memiliki diri yang utuh, yang lengkap. Dalam ketaklengkapannya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p&gt;&lt;a target="_blank" name="02000001"&gt;&lt;/a&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; saya menggunakan tanda kutip karena ‘haram’ atau ‘tidak haram’ adalah label sosial, bukan hal yang sifatnya kodrati&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;baca juga:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.gagasmedia.net/kabar_gagas/gagasmedia_luncurkan_7_buku_pengarangnya_dalam_format_braille.html"&gt;GagasMedia Luncurkan Tujuh Buku Pengarangnya dalam Format Braille&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://mitranetra.or.id/news/index.asp?lg=2&amp;id=23206316&amp;amp;mrub=5"&gt;Yayasan Mitra Netra&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://mitranetra.or.id/news/index.asp?lg=2&amp;id=23206316&amp;amp;mrub=5"&gt;Dan Si "Ungu Violet" Pun Menjadi Relawan&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114406049229022192?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114406049229022192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114406049229022192&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114406049229022192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114406049229022192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/04/lengkap-dalam-ketaklengkapan.html' title='Lengkap dalam Ketaklengkapan'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114182914432229694</id><published>2006-03-08T06:07:00.000-08:00</published><updated>2006-03-08T10:23:08.370-08:00</updated><title type='text'>from prejudice to hypocrisy</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Jakarta, 8 Maret 2006&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tulisan saya minggu lalu, sebenarnya. Kesempatan belum mengizinkan saya untuk segera meng-&lt;em&gt;upload&lt;/em&gt;-nya. Tapi juga belum basi, bahkan kini menjadi isu yang semakin krusial, karena dalam perkembangannya malam ini saya dengar RUU APP selangkah makin dekat menuju pengesahan; GOLKAR sudah setuju dan yang menolak hanya PDI-P.&lt;br /&gt;Tapi saya belum menyerah. Semoga pula teman-teman yang tidak setuju terhadap RUU APP. Indikasi ini menguatkan niat saya bahwa kita memang sudah semestinya berbuat sesuatu; menyusun kekuatan untuk menolak atau sekurang-kurangnya meminta DPR untuk mempertimbangkan kembali diberlakukannya UU APP. Jangan patah semangat.&lt;br /&gt;Teman-teman pekerja seni dan budayawan Yogyakarta telah membuat pernyataan sikap. Gadis Arivia mengajak perempuan-perempuan Indonesia untuk dengan tegas menolak kriminalisasi terhadap kaum perempuan (yang merupakan implementasi turunan dari disahkannya RUU APP). Apa yang harus kita lakukan?&lt;br /&gt;Mari bersikap.&lt;br /&gt;Tabe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sore tadi, saya menghadiri forum diskusi mengenai RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang difasilitasi oleh Teater Garasi dan Taman Budaya Yogyakarta. Mula-mula saya merasa beruntung berada di sana. Selanjutnya, saya merasa ngeri. Bahkan, teramat ngeri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kengerian yang sama juga dihadapi seluruh seniman dan pekerja seni yang hadir dalam forum tersebut. Betapa tidak, RUU yang kabarnya akan disahkan antara akhir Maret sampai Juni tahun ini (kini sedang dalam proses penjajakan ke daerah-daerah melalui DPRD) adalah bentuk represi terhadap hak asasi manusia. Sebagian besar orang yang tak menyadari imbas pascapengesahan RUU tersebut barangkali tak sudi ambil peduli. Toh, ini tampak semacam persoalan remeh-temeh. Tapi ketika saya mencerap isi draft RUU APP, saya tahu, seperti juga dikatakan orang-orang lain, kelak jika disahkan, dampak dari legal-formal ini bukan lagi hal yang remeh-temeh; sebaliknya berpotensi memusnahkan akar kebudayaan nasional dan merebut hak mendasar di negara demokrasi: kebebasan untuk berekspresi, demi tujuan yang entah bakal tercapai entah tidak: perbaikan akhlak warga negara.&lt;br /&gt;Potensi ketidakadilan muncul dari kenisbian hukum yang disebut Ugo Ran Prasad (penulis; musisi) ‘berangkat dari prasangka’ ini. Tak hanya nisbi, RUU APP bahkan ironis, sebab tak satu pun pasalnya secara &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;memberi batasan mengenai pornografi dan pornoaksi. Pasal 25 ayat 1, misalnya, berbunyi: “Setiap orang dewasa dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual”. Silakan cerna sendiri, dan temukan betapa lucunya jika kita kelak bahkan mesti memplester bibir sendiri sebab diasumsikan merupakan bagian tubuh yang sensual.&lt;br /&gt;Lantas, mari tengok imbas pengesahan RUU APP yang bisa sangat luas dan tak terduga. Mestikah kebudayaan tradisional, yang dengan adanya UU APP diasumsikan sebagai pornoaksi, disimpan ke dalam museum dan dibiarkan mati pelan-pelan? Atau akan terjadi serangkaian kekecualian terhadap kasus-kasus tertentu? Jika begitu, kita mesti mempertanyakan di mana letak keadilan dan kekuatan hukum yang berlaku di Indonesia. Berapa banyak lagi buku dan media cetak yang mesti dibredel hanya karena memuat adegan cium bibir (berarti termasuk juga novel saya), jika UU ini (dan saya berasumsi akan) berlaku surut? Saya bahkan menemui kelakar yang menyedihkan: jangan-jangan kelak Yesus pada lambang salib pun mesti ‘disarungi’ sebab dianggap erotis.&lt;br /&gt;Kelihatannya sepele. Tetapi RUU APP sesungguhnya berkaitan dengan begitu banyak aspek mendasar kehidupan manusia. Mulai dari afeksi, tradisi, apresiasi, sampai ekspresi. Wajar jika ada pihak-pihak yang kemudian merasa terancam dan ngeri. Kengerian itu mengiris dalam, sampai-sampai saya merasa pengesahan RUU APP tak jauh beda dengan menempelkan cap ‘komunis’ pada setiap yang berbau seni dan budaya rakyat, di zaman Orde Baru. Yang berbeda hanya cap-nya. Dulu komunisme, kini pornografi dan atau pornoaksi. Ada pula yang menyebut RUU APP sebagai produk 'talibanisme'. Dengan disahkannya RUU APP, barangkali pentas-pentas &lt;em&gt;kethoprak &lt;/em&gt;mesti gulung tikar. Tak ada lagi gelaran kebudayaan tradisi di ruang publik, sebab kesenian mesti dilakukan di tempat khusus pertunjukan seni, yang &lt;u&gt;diizinkan oleh negara&lt;/u&gt;. Segala bentuk kesenian akan kehilangan nafasnya: ilham penciptaan yang bebas tanpa batas. Setelah keran kebebasan pers dan media dibuka lebar-lebar, kini kita kembali ‘dikandangi’ oleh keterbatasan-keterbatasan yang tidak masuk akal, yang mencampuradukkan hal privat dengan hal publik.&lt;br /&gt;Kenisbian hukum akan memunculkan anomali-anomali yang berbuntut pada ketidakadilan (yang boleh jadi bermuara pula pada perpecahan). Maka, apalah jadinya kita, selain sebagai kelinci percobaan yang ‘dikorbankan’ demi mengalihkan perhatian publik dari masalah-masalah krusial negara ini? &lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.lbh-apik.or.id/ruu-pornografi.htm"&gt;draft RUU Anti Pornografi &amp;amp; Pornoaksi&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114182914432229694?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114182914432229694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114182914432229694&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114182914432229694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114182914432229694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/03/from-prejudice-to-hypocrisy.html' title='from prejudice to hypocrisy'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114024213670113979</id><published>2006-02-17T21:53:00.000-08:00</published><updated>2006-02-17T22:04:26.660-08:00</updated><title type='text'>Bandung berjuang untuk kemanusiaan!</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sudah lebih setahun pascakematian Munir Said Thalib, dan kasus kematian aktivis hak asasi manusia ini belum juga menampakkan tanda-tanda kejelasan. Kasusnya bahkan menyayup setelah vonis dijatuhkan pengadilan kepada Pollycarpus Budihari Priyanto, yang diyakini banyak orang, hanyalah &lt;i&gt;scapegoat&lt;/i&gt; sekaligus bukti bahwa praktek impunitas dalam kasus kekerasan politik di negara ini masih terjadi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mematahkan impunitas negara dalam kekerasan dan pembunuhan politik adalah kewajiban kita seluruhnya. Maka, PSI bekerja sama dengan Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM), Toko Buku Ultimus Bandung dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia menggelar pementasan monolog “Matinya Seorang Pejuang”, pemutaran film “Bunga Dibakar” – jalan panjang kehidupan Munir – dan diskusi kasus Munir bersama Raharja Waluya Jati (VHR) dan Andi Yuwono (Praxis). Sebelumnya, kegiatan ini telah diselenggarakan di sembilan kota di Indonesia (Yogyakarta, Malang, Surabaya, Denpasar, Mataram, Jakarta, Medan, Bengkulu, Batu) sejak Januari 2005. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Perjuangan melawan penindasan hak asasi manusia dimulai dari diri sendiri. Apakah Anda bersama kami?&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;Tabe,&lt;br /&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;PSI • KASUM • ISAI • TB Ultimus • STSI Bandung&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian Kegiatan&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Senin, 27 Februari 2006&lt;/b&gt; (TB Ultimus, Jl Lengkong Besar 127, Bandung)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;18.30 s.d 20.00 – diskusi kasus Munir&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;20.00 s.d 20.46 – pemutaran film “Bunga Dibakar”&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Selasa, 28 Februari 2006&lt;/b&gt; (Gedung Dewi Asri, STSI Bandung)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;19.14 s.d 20.00 – pemutaran film “Bunga Dibakar”&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;20.00 s.d 21.00 – pentas monolog “Matinya Seorang Pejuang”&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;b&gt;Matinya Seorang Pejuang”&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Pelakon Tunggal : Wendy H.S&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Naskah : F.X Rudy Gunawan&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Sutradara : Landung Simatupang&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Artistik : Hendro Suseno&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Setting : Kuncoro D.P&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Lighting : Johan D.H&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Sound&amp;Multimedia : Prasetyo “Sinyo” B.M&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Produksi : Miranda&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Supervisi : Raharja Waluya Jati&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Keuangan : Dhiah Hartini&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Dokumentasi : Ratrikala Bhre  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Koordinator Lokal : Yunis Kartika&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;“&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Bunga Dibakar”&lt;/b&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Durasi  : 46 menit&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;Produser : Institut Studi Arus Informasi, Imparsial, Kontras,&lt;br /&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;bekerja sama dengan Cinema Society, Cangkir Kopi Mediavisual, Off Stream, dan Lembaga Pembebasan, Media dan Ilmu Sosial&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Sutradara : Ratrikala Bhre Aditya&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Produser Eksekutif : M. Abduh Azis&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; Bulan September 2004, Indonesia dikejutkan oleh meninggalnya Munir, tokoh gerakan hak asasi manusia yang konsisten dengan perjuangannya.  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Film ini mencoba merekonstruksi perjalanan hidup dan perkembangan kejiwaan serta pergolakan batinnya. Dari seorang Munir, aktivis muslim yang sangat ekstrim, menjadi seorang Cak Munir yang menjunjung tinggi toleransi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, anti kekerasan dan  berjuang tanpa kenal lelah melawan praktek-praktek otoritarian serta militeristik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Si pemberani ini ternyata juga manusia biasa yang menurutnya, juga mengenal rasa takut. Namun yang justru menginspirasi adalah kata-katanya: “...kita harus lebih takut kepada takut itu sendiri, karena rasa takut itu menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita.” Ia sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai isteri dan kedua anaknya.&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Ia dibunuh justru pada era di mana demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai tumbuh. Bunga indah itu kini telah dibakar.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;*”Bunga Dibakar” adalah judul seri enam lukisan Yayak Yatmaka yang didedikasikan kepada para aktifis yang telah hilang. Lukisan di judul pembuka film adalah lukisan Yayak dengan judul “Bunga Dibakar” yang ketujuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-114024213670113979?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114024213670113979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114024213670113979&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114024213670113979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114024213670113979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/02/bandung-berjuang-untuk-kemanusiaan.html' title='Bandung berjuang untuk kemanusiaan!'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113973298597884904</id><published>2006-02-11T23:25:00.000-08:00</published><updated>2006-02-12T01:03:53.193-08:00</updated><title type='text'>U Can See My Puser=Pornografi?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;Apa batasan pornografi menurutmu?&lt;br /&gt;Ada beragam definisi pornografi dalam sekian kepala kita. Membuatnya seragam tentu saja perkara bukan mudah. Ini soal sensitif yang dalam prakteknya, seperti diungkapkan dalam perdebatan-perdebatan di media massa, membawa imbas ke mana-mana. Bisa berimbas ke wilayah kebebasan ekspresi dalam berbagai bidang dan tingkatan – termasuk ekspresi kasih sayang dan ekspresi diri sendiri – sampai ke wilayah wacana perempuan sebagai korban patriarki. Jika tidak hati-hati, penerapan hukum sebagai tafsiran terhadap (nantinya) UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (UU-APP) bisa membawa korban-korban yang tak seharusnya jadi sasaran.&lt;br /&gt;Wajar jika Ayu Utami, dalam &lt;em&gt;Today’s Dialogue &lt;/em&gt;Metro TV satu hari sebelum rapat pembahasan RUU-APP di DPR, menyatakan mesti ada batasan yang &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;mengenai pornografi dan pornoaksi. Apa lagi, Ketua MUI sendiri mengamini betapa tipis batas antara pornografi dan kebebasan berekspresi ("Jangan Kekang Ekspresi"; &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;, 21 Jan '06). Seperti apa batasan &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;yang mesti ditetapkan untuk “menggawangi” praktek-praktek “amoral” di negara ini? Sebenarnya bukan soal rumit, yang entah kenapa, membuat DPR mesti berlama-lama membahasnya. Atau UU-APP memang sengaja dibuat untuk menyebabkan tafsir yang luas bin luwes?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak tiga bab pertama RUU-APP 2006 (&lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;, 20 Januari ’06) berikut:&lt;br /&gt;Bab I&lt;br /&gt;Pengertian:&lt;br /&gt;• Pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan atau erotika.&lt;br /&gt;• Pornoaksi: adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan atau erotika di muka umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab II&lt;br /&gt;Larangan:&lt;br /&gt;• Larangan tentang pembuatan, penjualan, penyiaran tulisan, rekaman suara, film dan/lukisan yang mengeksploitasi tubuh atau aktivitas seksual baik diri sendiri maupun orang lain sebagai model.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab III&lt;br /&gt;Pengecualian dan Perizinan&lt;br /&gt;• Pengecualian ditujukan untuk pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, adat istiadat, kegiatan seni, olahraga, atau pengobatan gangguan kesehatan dalam batas yang diperlukan (rekomendasi dokter/rumah sakit) serta mendapat izin dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari temukan batasan yang &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;dalam pasal-pasal tersebut.&lt;br /&gt;Ada?&lt;br /&gt;Beruntunglah kamu yang menemukannya, karena saya tidak.&lt;br /&gt;Tiga kata kunci pada bab kunci (Bab I RUU-APP) masih mengandung arti luas. Seksual = berkenaan dengan jenis kelamin, atau berkenaan dengan perkara persetubuhan. Cabul berarti tidak senonoh, melanggar kesopanan. Erotika, menurut kamus bahasa berarti karya yang tema atau sifatnya berkenaan dengan nafsu kelamin atau kebirahian. Menurut Jim Supangkat, definisi umum tentang erotisisme ("Pornoaksi tidak mungkin diatur dgn UU"; &lt;em&gt;Kompas &lt;/em&gt;27 Jan '06) adalah komunikasi yang menyangkut keingintahuan tentang seksualitas lawan jenis. Sedang seksualitas sama sekali bukan pornografi dan merupakan bagian dalam kehidupan manusia dan tidak bisa disebutkan dalam pengertian yang negatif. Keseluruhan hidup manusia bahkan tak lepas dari identitas seksual dan dimensi seksualitasnya (&lt;em&gt;Filsafat Seks&lt;/em&gt;, F.X Rudy Gunawan). Tafsiran terhadap tiga kata kunci tersebut, tak pelak lagi, bisa menjadi sangat &lt;em&gt;debatable&lt;/em&gt;. Seperti apa gagasan yang mengeksploitasi seksual(itas)? Standar kesopanan yang mana yang digunakan untuk menentukan perbuatan cabul? Jika erotika adalah karya (seni), berarti ada disharmonisasi antara Bab I dengan pengecualian dalam Bab III, yaitu yang menyangkut kegiatan seni. Mungkin maksudnya erotis (bersifat merangsang nafsu birahi) atau erotisisme? Tapi apa ada standar perilaku erotis yang sama di kepala tiap orang? Kembali ke esensi masalah: apakah tiga kata kunci itu cukup &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;memberi batasan pornografi? Kenapa tidak menggunakan batasan yang lebih jelas, misalnya: "Substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi (maaf) payudara, pantat dan alat kelamin"?&lt;br /&gt;Belum lagi perempuan yang akan sangat rentan jadi korban dan “dikriminalkan” berdasarkan RUU-APP. Betapa dilematisnya posisi perempuan dalam wacana pornografi dan pornoaksi. Apa (nantinya) UU-APP berpihak pada perempuan ("RUU APP tdk mengakomodasi perempuan"; &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;4 Feb ’06)? Apa imbas diberlakukannya UU-APP terhadap pelaku prostitusi? Apa (nantinya) UU-APP mengakomodasi hak perempuan-perempuan yang disudutkan oleh kepentingan ekonomi dan kerap kali terpaksa “melayani” fantasi laki-laki lewat iklan, media massa, tempat hiburan malam, sampai lokalisasi??&lt;br /&gt;Blrrrggghhh...!!! Lupakan itu, tak usah berumit ria. Bayangkan jika suatu saat berciuman di tempat umum untuk mengekspresikan kasih sayang atau memakai kaus pendek yang (sedikit) potensial pamer pusar (&lt;em&gt;u can see my &lt;/em&gt;puser) dianggap sebagai pornoaksi yang membuat kita menanggung sanksi denda berjuta-juta (betapa kaya dan kurang kerjaannya aparat penegak hukum kita nantinya; apa lagi kalau praktek “sidang di tempat” alias bayar di jalan masih nge-trend!). Apakah baju yang tertutup menjamin moralitas bangsa? Apa membeli majalah &lt;em&gt;Playboy &lt;/em&gt;untuk memenuhi rasa ingin tahu bisa dicap bejat? Apa berjualan majalah dan tabloid “porno” di pinggir jalan berarti pelaku kriminal?&lt;br /&gt;Jadi, perlu nggak sih, UU Anti Pornografi dan Pornoaksi? Jangan-jangan UU ini cuma “produk” kemunafikan bangsa yang takut akan perubahan dan tak percaya pada filter, &lt;em&gt;self defence mechanism &lt;/em&gt;dan kecerdasan masing-masing warga negaranya dalam memilih mana pornografi mana bukan. Seperti diungkapkan mas Bimo Nugroho (ISAI) dalam sebuah liputan khusus mengenai UU-APP, saya lebih setuju jika dibuat regulasi mengenai di mana saja media-media tersebut boleh diakses, siapa saja yang boleh mengaksesnya, dan sanksi apabila terjadi pelanggaran. Silahkan membuat UU-APP, tapi setidaknya buatlah batasan yang jelas mengenai pornografi dan pornoaksi, karena bangsa kita sungguh sangat suka menafsir. Lebih-lebih, secara gegabah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baca juga: &lt;a href="http://kompas.com/gayahidup/news/0601/07/121930.htm"&gt;Sejumlah Seniman Menolak RUU-APP&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113973298597884904?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113973298597884904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113973298597884904&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113973298597884904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113973298597884904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/02/u-can-see-my-puserpornografi.html' title='U Can See My Puser=Pornografi?'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113772856256230154</id><published>2006-01-19T18:41:00.000-08:00</published><updated>2006-01-19T19:45:52.646-08:00</updated><title type='text'>Boston Marriage</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/boston1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/boston1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jenis perkawinan seperti apa yang Anda inginkan? Perkawinan sakinah, mawaddah warahmah? Atau perkawinan dengan seorang pekerja keras dengan karir yang baik tanpa mengesampingkan keluarganya? Atau perkawinan yang menghargai hak privat pasangannya untuk mengaktualisasikan diri dalam konteks seluas-luasnya, mungkin? Saya melakukan jelajah rimba maya hari ini, dan menemukan jenis perkawinan yang, tanpa sadar, sering kali saya idam-idamkan. Ia disebut &lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Boston Marriage&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: verdana;" align="justify"&gt;Istilah Boston Marriage dipercaya muncul dari novel Henry James, &lt;i&gt;The Bostonians&lt;/i&gt; (1886 – tentang dua perempuan berkepribadian kontras yang kemudian terikat dalam jalinan konflik seksual antara mereka); atau mungkin juga dari pasangan-pasangan perempuan yang "membina rumah tangga" di Boston; di antaranya Sarah Orne Jewett, seorang novelis, dengan "istrinya", Annie Adams Field, juga penulis. Boston Marriage adalah sebuah ungkapan yang digunakan untuk mendefinisikan sepasang perempuan yang membina kehidupan mereka bersama-sama (biasanya dalam satu rumah). Apakah Boston Marriage adalah sebuah pernikahan lesbian? Lilian Faderman, seorang sejarawan, mengatakan kesimpulannya tak semudah itu ditentukan. Orang mungkin berkata Anda –atau teman Anda– adalah seorang lesbian ketika mereka melihat Anda –atau ia– tinggal bersama perempuan lain dan membina rumah tangga. Orang mungkin akan berkata "Maaf – pernikahan.... apa?" sambil mendelik ketika Anda menyebut&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-size:180%;" &gt; &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Boston Marriage&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, terlebih mereka yang memahaminya sebagai bentuk kontrak pasangan lesbian. Tapi segolongan perempuan –termasuk saya diantaranya– bisa jadi memandang Boston Marriage sebagai bentuk perkawinan yang relatif paling aman. Dan percayalah; yang sebenarnya terjadi pada Boston Marriage tak semata-mata sesederhana kesimpulan "rumah tangga lesbian". &lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: verdana;" align="justify"&gt;Lepas dari relasi seksual antaranggota "rumah tangga" ini, Boston Marriage menurut saya adalah bentuk kontemplatif relasi antarperempuan. Sebuah rumah tangga di mana kamu merasa aman untuk berbagi visi, opini, kasih sayang, hingga cerita sehari-hari dengan pasanganmu. Tak jauh beda dengan lazimnya perkawinan; hanya saja yang ini relatif lebih aman dari tekanan-tekanan patriarki dalam rumah tangga. Dua orang perempuan yang "straight" (istilah ini saya gunakan hanya untuk membedakannya dengan kaum lesbian) tapi memutuskan untuk tidak menikah bisa membina sebuah rumah tangga, merumuskan cita-cita bersama, berbagi rekening bank, bahkan membesarkan anak bersama-sama. Boston Marriage tak membatasi anggota rumah tangganya untuk menjalin relasi dengan orang lain – termasuk memiliki kekasih. Boston Marriage bisa menjadi solusi untuk kekhawatiran yang muncul dari trauma terhadap sistem patriarkal atau perkawinan konvensional yang gagal. Boston Marriage adalah bentuk ikatan persahabatan ideal sepasang perempuan, yang tak akan memaksa anggotanya untuk terus berada di rumah yang sama dan siapa pun di antara keduanya bisa "terbang" keluar rumah untuk sesuatu (atau seseorang) yang dicintai. Bukankah ide itu sangat menyenangkan?&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/boston2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/boston2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setelah mengamati keadaan di sekeliling saya selama ini, saya kerap berandai-andai jika saya tinggal dengan seorang (atau beberapa orang) sahabat perempuan dan menjalani sisa hidup saya bersama mereka. Beberapa diantaranya mungkin orangtua tunggal, dan saya merasa tak sedikit pun keberatan untuk membesarkan anaknya bersama-sama. Ini membuat saya paham bahwa (sekali lagi), salah satu dampak positif perkawinan adalah rasa aman, dan rasa aman hakikatnya tidak berasal dari jenis kelamin atau status dengan pasangan, tapi dari kesetiaan dan komitmennya untuk menemani dan ditemani. Hari ini saya menemukan formulasi yang saya idam-idamkan itu, dan menemukan bahwa banyak perempuan di luar sana ternyata memiliki mimpi yang sama dengan saya. Sungguh menyenangkan. [miranda]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: verdana;" align="justify"&gt;Baca juga:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.msmagazine.com/june01/marriage.html"&gt;So, Are You Too Together?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.celebratefriendship.org/boston.htm"&gt;What's Boston Marriage?&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113772856256230154?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113772856256230154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113772856256230154&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113772856256230154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113772856256230154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/01/boston-marriage.html' title='Boston Marriage'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113646862189955076</id><published>2006-01-05T05:32:00.000-08:00</published><updated>2006-01-05T07:51:56.110-08:00</updated><title type='text'>Kawin Kompleks</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Apa yang membuat Anda memutuskan untuk kawin? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/marriage.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="The marriage of Tristram and Isoude" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/marriage.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Entah ada hubungannya atau tidak dengan usia &lt;em&gt;quarter-life &lt;/em&gt;yang sudah saya jalani, saya tertarik pada “&lt;span style="font-size:180%;color:#990000;"&gt;kawin&lt;/span&gt;” (bedakan dengan "untuk kawin", ya. ^_^). Ini bukan ketiba-tibaan. Saya pernah beberapa kali membahasnya dari berbagai perspektif. Tapi setelah sekian lama merenungkan secara sambil lalu, saya terpaksa mengakui bahwa "kawin" memang membuat saya tertarik. Dan mungkin perlu direnungkan tidak secara sambil lalu.&lt;br /&gt;Tentu bukan prosesi tribal atau aspek biologis dari “kawin” yang membuat saya tertarik (hmmm... katakanlah, dalam beberapa celah, ya. Tapi secara keseluruhan? Rasanya bukan.). Sekarang, mari mengetuk kepala masing-masing dan bertanya: Kenapa kamu memutuskan untuk kawin atau setidaknya merasa membutuhkan pernikahan dan melembagakan diri, atau bahkan untuk tidak kawin?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Atas nama keingintahuan di atas keisengan belaka, saya pernah mendiskusikannya dengan seorang teman peskenario film, Agustinus Sudarsa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Kenapa orang-orang pada kawin, ya, Gus?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dia tersenyum. Dia bilang (ini agak mengejutkan sekaligus menyenangkan, karena ternyata saya menemukan seorang teman dengan ketertarikan yang sama), &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Aku yo lagi meh gawe skenario soal kawin, jhe.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=10410331#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Karena itu kami lantas berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jadi, kenapa orang memutuskan untuk kawin? Diskusi simpang-siur itu tentu tak berkesimpulan. Ada banyak sekali alasan untuk kawin. Seberagam latar belakang manusia. Kawin adalah tradisi yang sama tuanya dengan sejarah manusia. Manusia bisa saja memutuskan menikah karena alasan (selain cinta, tentunya) tradisi, &lt;span style="font-size:130%;color:#666600;"&gt;religiositas&lt;/span&gt;, pengabdian, sekuriti, &lt;span style="font-size:130%;color:#6666cc;"&gt;prokreasi&lt;/span&gt;, sosiokultural, sampai keseluruhannya. Seorang teman dari suku Batak bilang, kawin dalam perspektif masyarakat tradisional Batak adalah demi alasan prokreasional; meneruskan keturunan. Selain alasan prokreasi, yang kebanyakan terjadi pada generasi di atas kita barangkali adalah perkawinan sebagai bentuk &lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;pengabdian&lt;/span&gt; perempuan terhadap laki-laki. Golongan ini bisa saja beririsan dengan golongan lain yang beralasan bahwa kawin dianjurkan oleh agama. Sebagian golongan rural barangkali kawin demi alasan &lt;span style="font-size:130%;color:#990000;"&gt;sosiokultural&lt;/span&gt;. “Kalo kamu kawin, alasannya apa, Mar?” Kami semua menoleh pada seorang teman dalam diskusi itu. “Rasa aman,” jawabnya pendek.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Diskusi antara kami berakhir dengan hipotesis; kini trend seputar kawin adalah alasan sekuriti. &lt;span style="font-size:180%;color:#666666;"&gt;Rasa aman&lt;/span&gt;, pembebasan dari kekhawatiran. Karena mitosnya, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang terbelah, barangkali. Atau yang lebih logis, karena manusia adalah makhluk sosial sekaligus individual sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;Lalu, ketika sifat manusia kian androginal; ketika seorang perempuan atau laki-laki merasa cukup dan aman dengan dirinya sendiri,&lt;br /&gt;apa &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;masih ada &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;alasan untuk kawin?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;....................................................&lt;br /&gt;(miranda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=10410331#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Terjemahan bebas-nya kira-kira begini: “Aku juga lagi mo bikin skenario soal kawin, neh…”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113646862189955076?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113646862189955076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113646862189955076&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113646862189955076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113646862189955076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/01/kawin-kompleks.html' title='Kawin Kompleks'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113524415135193657</id><published>2005-12-22T00:27:00.000-08:00</published><updated>2005-12-22T01:44:51.476-08:00</updated><title type='text'>catatan akhir tahun</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;Barangkali ini adalah sebuah catatan akhir tahun. Bukan berarti berisi ulasan peristiwa selama satu tahun yang sebentar lagi akan berlalu. Tapi barangkali lebih pada jejaring pemikiran yang melintas-lantur dalam kepala saya, menjelang akhir tahun ini.&lt;br /&gt;Tadi malam, sambil terkantuk saya menonton &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Stepford Wives&lt;/span&gt;. Sebuah film yang disutradarai Scott Rudin dan dibintangi oleh Nicole Kidman. Lalu saya menemukan sesuatu yang pada paruh akhir tahun ini kerap bersinggungan dengan diri saya. "Apa yang akan dilakukan 'sang superior' laki-laki ketika terimpit inferioritas terhadap pasangannya?"&lt;br /&gt;Saya membuat analisis yang tertuang dalam sebuah cerita pendek. Laki-laki, sang superior yang 'terjangkit' inferioritas berkepanjangan itu bisa kena schizoprenia, mengalami delusi dan halusinasi, dan dalam jangka panjang punya potensi untuk membunuh pasangannya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nonsense&lt;/span&gt;? Belum tentu. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Stepford Wives&lt;/span&gt;, 'barisan sakit hati', para laki-laki yang bergabung dalam Stepford Men Association, melampiaskan dendam dengan menjerumuskan pasangannya ke dalam 'kematian sementara' dan mengubah mereka jadi robot. Tak cukup, wujud robot bentukan mereka adalah perempuan-perempuan 'idaman' yang terobsesi pada dapur, rumah cantik dan tubuh molek. Sebuah perubahan yang, menurut film itu, nyaris tak mungkin terjadi pada barisan wanita karir plus plus yang sukses, cerdas, kaya, kemampuan diplomasi di atas rata-rata dan punya segala (sebab wanita demikian identik dengan penampilan seadanya, dan kecantikan serta tubuh terawat menjadi semacam ikon ketidakcerdasan di kalangan mereka). Perempuan idaman? Tinggal di rumah seharian, menekuni trend buku masak dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;housing&lt;/span&gt;, 'mengawini' alat-alat kecantikan, merawat diri dengan berbagai produk dan alat kebugaran demi terjaganya hubungan seks yang ideal, dan cuma bisa bilang 'ya' tanpa pertimbangan asertif kepada pasangan? Mereka, para laki-laki sakit hati itu, pasti telah mengalami sisip-pikir. Schizoprenic.&lt;br /&gt;Di dunia nyata? Jangan tanya. Belum dua minggu yang lalu, seorang laki-laki pengangguran hampir membunuh isterinya karena sebuah alasan sepele. Penolakan sang istri melayani birahinya, karena hendak berjualan di pasar. Seorang bapak tiri (yang juga berstatus pengangguran) tega memperkosa dua anak gadisnya, bahkan berkali-kali, ketika sang istri mencari nafkah di luar rumah. Seorang lelaki penganggur yang lain bisa mengancam akan membunuh istri, keluarga dan teman-temannya, ketika sang istri (yang juga jadi penopang ekonomi keluarga) akhirnya menggugat cerai. Mengeluarkan rentetan ayat sebagai pembenaran, dan merasa diri Ratu Adil. Oh.&lt;br /&gt;Inilah wajah lain budaya patriarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang melintas-lantur dalam kepala saya menjelang akhir tahun ini adalah kuping tipis para pejabat, perdebatan mengenai kerja editor di milis pasarbuku, kelaparan di Yahukimo, dan vonis 14 tahun penjara yang dijatuhkan untuk terdakwa Pollycarpus Budihari Priyanto. Tidak ada benang merah yang menghubungkan kelima topik di atas, memang. Kecuali bahwa kelima-limanya kadangkala memancing kesedihan saya. Terlebih dua topik terakhir. Seharusnya pemerintah kita digugat untuk meninggalkan warga Papua dalam kubangan keprimitifan dan menjadikan mereka warga negara kelas dua. Hell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well,&lt;br /&gt;selamat Hari Ibu. Sebentar lagi, selamat Natal dan Tahun Baru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113524415135193657?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113524415135193657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113524415135193657&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113524415135193657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113524415135193657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/12/catatan-akhir-tahun.html' title='catatan akhir tahun'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113447181509816719</id><published>2005-12-13T02:07:00.000-08:00</published><updated>2005-12-13T03:03:35.133-08:00</updated><title type='text'>"Itu benar-benar panjang dan melelahkan."</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Birokrasi. Hari ini, genap tiga kali angin birokrasi menyepoi kepala saya. Sekali sebelum jatuh tertidur akibat kelelahan tertahan, sekali sesudah terbangun dengan perasaan absurd, dan sekali setelah benar-benar sadar - kali ini bahkan bersentuhan langsung dengannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pagi tadi, di koran saya baca pengakuan seorang pengusaha Taiwan yang mengeluh soal birokrasi panjang berinvestasi di Indonesia, dan perlakuan aparat lokal yang jauh berbeda dibandingkan dengan perlakuan aparat di Cina. Juga ketika para investor yang notabene adalah pendatang itu mesti 'membayar biaya tambahan' di bagian imigrasi bandara, karena mereka selalu minta duit. Siang tadi, dalam sebuah momen makan siang dengan seorang sahabat, ia mengeluhkan soal para pejabat di tingkat pemerintahan terendah yang tak segan-segan minta uang sebagai 'imbalan' tanda tangan dokumen-dokumen tanah dan bangunan. Dan betapa proses itu sudah menjadi sangat lazim bagi mereka, yang bahkan berani 'memasang harga'. Tapi, seberapa keras pun sahabat saya mengeluh, birokrasi panjang dan melelahkan itu tetap mesti ditempuh. Dan seberapa tak setuju pun hati nuraninya (dan hati nurani saya, juga Anda, tentu), ritual suap-menyuap itu pun mesti berlaku, supaya proses bisa berjalan terus tanpa hambatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pembicaraan kami terseling perdebatan keras, karena di satu sisi menurut saya para pejabat pemerintahan tingkat rendah itu tidak sepenuhnya salah, dan jika memang mesti ada kambing hitam, yang mesti disalahkan adalah sistem. Di sisi lain, fenomena birokrat tingkat rendah di negara kita yang, konon, kaya ini, memang menjengkelkan. Karena para PNS itu kebanyakan hanya mengutak-atik &lt;em&gt;solitaire&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;freecell&lt;/em&gt; di PC-nya, ongkang-ongkang di posisi menunggu momen-momen dibutuhkan (seperti yang sahabat saya alami), di mana dengan sendirinya uang datang, hanya dengan segurat tanda tangan. Hanya berembel-embelkan jabatan tertentu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sore ini, lagi-lagi proses yang saya tempuh di kampus terganjal birokrasi. Lagi-lagi saya dibuat kesal dan setengah putus asa. Tanpa disuruh, kepala saya tak henti merutuk dan bertanya; apa yang ada di kepala para pemimpin dan aparatur ketika dulu menciptakan sistem dan jenjang birokrasi yang melelahkan, yang pada muaranya membudayakan korupsi, kolusi dan nepotisme di negara ini? Tidak semua birokrat berelasi dengan uang dan tidak semua birokrasi UUD (ujung-ujungnya duit), memang (meski sebagian besar ya). Tapi pemikiran saya sesederhana banyak orang lain: kalau memang bisa dibuat mudah, kenapa &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; mesti dibuat-buat sulit? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kini, ketika kita semua terlalu terbiasa menyuap dan jenjang birokrasi yang dipanjang-panjangkan terus dipertahankan, sehingga kemalasan menghadapi birokrasi yang hinggap menjadi sebuah kewajaran yang membenarkan budaya suap terus terjadi, masih patutkah kita bertanya: &lt;span style="font-size:180%;"&gt;kapan&lt;/span&gt; kita keluar dari budaya dan lingkaran setan ini?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113447181509816719?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113447181509816719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113447181509816719&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113447181509816719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113447181509816719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/12/itu-benar-benar-panjang-dan-melelahkan.html' title='&quot;Itu benar-benar panjang dan melelahkan.&quot;'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113384807068630059</id><published>2005-12-05T20:29:00.000-08:00</published><updated>2005-12-05T21:47:50.726-08:00</updated><title type='text'>warna-warni dunia paralel</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Malam tadi, dalam sebuah latihan yang berakhir dengan perbincangan, Wendy [sang monolog'er] melontarkan isu tentang salah satu karya seni rupa kontemporer dalam Biennale Jogja VIII (Biennale Jogja VIII adalah sebuah program yang melibatkan dua kajian budaya sekaligus; seni rupa dan pusaka/heritage. Tajuk program dua tahunan itu tahun ini adalah "Di Sini dan Kini" - &lt;em&gt;Consciousness of The Here and Now&lt;/em&gt;). Karya yang disebut-sebut itu (saya terus terang lupa judul persisnya) berkaitan dengan 'berdarmawisata di kota sendiri'. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Biennale Jogja tahun ini memang mengangkat wacana-wacana yang berkaitan dengan kebijakan tata kota; pengelolaan wilayah yang tidak tersiasati dengan baik, polusi iklan dengan menjamurnya giant-board di sembarang tempat, munculnya sekian mal di tempat-tempat yang 'tidak semestinya' [seperti persis di seberang sebuah SMU, atau malah di dalam kompleks universitas], yang kerap kali mengusik keberadaan pusaka peninggalan sejarah. Disebut-sebut juga pengaruh kapitalisme global yang memengaruhi perangai warga kota Jogja (dalam interpretasi saya, ini berkaitan dengan Mc Donald'isme, salah satunya). Tak heran, jika salah satu karya seni rupa kontemporer yang lolos kuratorial Biennale Jogja tahun ini adalah karya bertajuk 'berdarmawisata di kota sendiri' itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Back then, wujud karya itu adalah 'piknik' ke berbagai situs bersejarah (sosial-budaya) di Jogja. Konon, karya itu ditanggapi antusias oleh masyarakat. Indikasinya jelas: banyak orang mendaftar untuk 'berdarmawisata di kota sendiri'. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Lontaran itu kemudian ramai ditanggapi oleh kami: aku, mas Landung, Sinyo the multimediaman dan Kuncoro setting'er. Mas Landung menceletuk: &lt;em&gt;dia, sang seniman itu, pasti sudah mempersiapkan programnya dengan baik. Mulai dari survey ke bantaran kali code, ngobrol dengan ketua RT-nya, lalu membeberkan riwayat keluarga itu pada para 'turis'....&lt;/em&gt; [meski ramai canda, kami sadar betul kalau kebanyakan dari kami memang sudah lama 'lupa' pada kota sendiri]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Konon, bantaran kali Code memang termasuk salah satu situs yang akan dikunjungi dalam 'karya' itu. Entah benar, entah tidak. Lalu, dalam perjalanan pulang, tepat di jembatan Gondolayu, sesuatu tiba-tiba meletik dalam pikiran saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Beberapa waktu lalu pernah terjadi, jembatan itu jadi salah satu situs nongkrong; tempat di mana para pengendara motor berhenti untuk sekedar memandang lelampu di bawah jembatan; lelampu yang berasal dari kawasan permukiman di bantaran kali Code. Tiba-tiba, otak melankolik saya merasa betapa ide itu pathetic. Apa yang sedang mereka lihat dari atas jembatan, orang-orang itu? Kemiskinan? Kehidupan di bantaran kali Code yang terepresentasi kulit-kulitnya saja lewat ratusan kerlip lampu, yang sama sekali tak pernah bercerita tentang apa yang sesungguhnya mereka hadapi di sana? Sejak kapan kelas marjinal jadi tontonan yang keren, bahkan romantis bagi kelas yang lebih tinggi? Is that what really happened? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Dan di balik ratusan kerlip lampu di bawah sana, ratusan manusia sedang terpana, memelototi televisi mereka, menonton sinetron dan tontonan sampah yang terus membuat mereka bermimpi (meski kata salah seorang teman yang saya hormati, bermimpi baik untuk membuat mereka 'survive') dan berkubang dalam kebodohan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sungguh, sebuah dunia paralel yang warna-warni.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113384807068630059?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113384807068630059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113384807068630059&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113384807068630059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113384807068630059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/12/warna-warni-dunia-paralel.html' title='warna-warni dunia paralel'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113316721782905893</id><published>2005-11-27T23:41:00.000-08:00</published><updated>2005-11-29T22:04:22.910-08:00</updated><title type='text'>anakanak bengkulu</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/child.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/child.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;"Ambo dah sampe di Bengkulu. Di siko ndak ado k bulet (maksudnya circle k, pen.), ndak ado bioskop, ndak ado supermarket. cuma ado minimarket."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(102,102,102);font-family:verdana;" &gt;???????&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(102,102,102);font-family:verdana;" &gt;Itu adalah isi sms dari salah seorang teman yang sudah lebih dulu sampai di Bengkulu (Bengkulu adalah kota kedelapan pentas monolog &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,102,0)font-size:85%;" &gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Matinya Seorang Pejuang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, sebuah monolog yang didedikasikan untuk alm. Munir; tempat darimana aku baru saja pulang). Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, sms itu sebentar sempat bikin hati setengah deg-degan dan kepala dipenuhi bayangan buruk tentang Bengkulu. Apalagi, informasi lanjutan mengabarkan bahwa di sana setiap hari hujan. Barusan mendengar kabar ada gempa bumi di Bengkulu, dan kabarburung dari manamana kalau kota ini rawan banjir bikin bayangan-bayangan buruk menggelembung makin gede. Bagaimanapun, komitmen membuat bayangan buruk di kepala kami cuma jadi 'angin numpang lewat' dan segera lenyap larut di udara, tanpa sempat bikin merasa 'angin-anginan' ketika berangkat. Untunglah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah. Mulanya, berbagai kabarburung yang tidak jelas asal-muasalnya itu bikin aku tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi terhadap Bengkulu. Tapi empat malam di sana benar-benar mengubah pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya aku (tepatnya kami) berpikir tingkat apresiasi mereka terhadap kesenian tidak bisa terlalu diharapkan, karena Bengkulu bukan kota besar. Tapi ternyata aku (tepatnya kami) salah besar. Mereka punya daya apresiasi cukup besar, bahkan kalau dibandingkan dengan Yogya yang konon, katanya kota budaya (meski mungkin juga karena di Yogya alternatif tontonan memang sudah lebih beragam ketimbang di sana). Bayangkan, dua sesi pemutaran film yang kami buat selalu penuh. Yang ajaib, ruangan dipenuhi oleh &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,102,0)font-size:85%;" &gt;anak-anak&lt;/span&gt; SMP &amp; SMA! Ajaib buatku, karena film yang diputar jelas-jelas bukan film populer, tapi film dokumenter. Pun, pentas monolognya. 50% penonton adalah anak sekolah. Dulu, waktu aku masih SMA, minat nonton pertunjukan teater cuma dimiliki kalangan terbatas. Lagipula kebanyakan orangtua (pada waktu itu) belum terlalu 'setuju' dengan hal-hal berbau 'komunis' semacam pertunjukan teater macam begitu. Beda sekali dengan mereka.&lt;span style="COLOR: rgb(204,102,0)"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,102,0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;A thing to be underlined&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, mereka tidak datang karena paksaan atau keliatan merasa terpaksa. Nggak. Mereka datang dengan wajah ingin tahu dan semangat yang jelas-jelas terpancar dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,102,0)font-size:85%;" &gt;anak-anak&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;perempatan-perempatan jalan Bengkulu (yang sangat bersih, dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;landscape&lt;/span&gt;-nya asyik banget) bersih dari anak-anak kecil bawa &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,102,0)"&gt;kecrekan&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dan minta duit. Sama sekali nggak ada. Dan waktu kami semua singgah di teluk Sepang, sebuah kampung nelayan di sana, yang penuh sekali dengan anak-anak kecil, aku menemukan anak-anak yang 'aura'-nya jauh beda dengan aura anak-anak kota jaman sekarang. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Like a journey to the past&lt;/span&gt;, mereka masih polos (meski juga kenal istilah 'so what gitu loh') dan mainannya sama dengan mainanku jaman kecil. Bukan uang yang bikin mereka senang, tapi 'mainan' dan 'bermain'. Lagi-lagi rasanya miris kalau aku membandingkan dengan anak-anak umur segitu yang sudah pegang kecrekan dan ngamen di perempatan jalan. Yang sorot matanya jauh lebih dewasa dari fisiknya dan &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,102,0)"&gt;cemar&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;oleh polusi kehidupan kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak tau, ya.&lt;br /&gt;Hal-hal kecil kaya' gitu bikin aku salut pada Bengkulu. Mungkin kita perlu mengaca pada mereka. Lihat apa yang bisa dilakukan oleh generasi muda kita, kalau punya semangat sebesar mereka. Semangat untuk tahu, bahkan mengapresiasi sesuatu yang tidak dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, dan bersetia bertahan! Buat aku, itu sebuah prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari Bengkulu, selain terkesan, aku sedikit merasa tertampar. Bagaimanapun, seharusnya kita semua mengaca dari semangat murni mereka. Tapi sepertinya, ini pikiran &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,102,0)font-size:85%;" &gt;utopis&lt;/span&gt;. Yeah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(102,102,102);font-family:verdana;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113316721782905893?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113316721782905893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113316721782905893&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113316721782905893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113316721782905893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/anakanak-bengkulu.html' title='anakanak bengkulu'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113212202437908128</id><published>2005-11-15T21:55:00.000-08:00</published><updated>2005-11-15T22:20:24.400-08:00</updated><title type='text'>favorit + mati lampu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Favorit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Sekali waktu, aku pernah berdebat dengan seseorang tentang 'favorit'. Bukan sekedar term-nya, tapi juga bagaimana aku menggolongkan sesuatu sebagai 'favorit' atau 'suka', atau biasa-biasa. Kami berdebat keras, karena terusterang entah kenapa aku kurang terbiasa dengan -isme favorit. Agak sulit menyebut beberapa things sebagai favorit. Entah karena aku memang susah (atau terlalu sombong) untuk memfavoritkan sesuatu, atau karena sejak kecil tak terbiasa dengan ide favorit. Yang aku ingat sekali, waktu kebiasaan mengedarkan diary bergambar warnawarni (dan kerap berbau wangi) untuk bertukar biografi jadi trend semasa SD, aku selalu sulit menuliskan 'makanan favorit', 'bintang film favorit', etc etc etc. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Memang begitu. Teman yang mendebatku, atau siapapun mungkin heran, karena 'favorit' bukan sesuatu yang sangat berjarak dalam kehidupan sehari-hari; barangkali justru kerapkali sangat dekat. Tapi begitulah aku....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);font-size:85%;" &gt;Mati lampu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;tadi malam, ruas jalan kaliurang dengan radius kurang lebih satu kilometer, mati lampu. seluruh ugm dirundung kegelapan (kecuali beberapa gedung seperti fak. hukum, fak. teknologi pertanian dan gedung pusat ugm) selama kuranglebih tiga perempat jam. Latihan monolog Matinya Seorang Pejuang yang sedianya dilaksanakan di plasa sospol praktis gagal total. Akhirnya kami pun beramai-ramai hijrah ke daerah selatan yang diperkirakan tidak mengalami gangguan listrik. Setelah menempuh rute Terban-Jl Mangkubumi *yang pasar maling-nya lagi rame2nya*-Bumijo-Kuncen-dan berlabuh di Wirobrajan selama setengah jam, kami sampai di tujuan. Ironisnya, salah satu teman yang berangkatnya menyusul setengah jam kemudian ke selatan mengabarkan kalau listrik di ruas jalan kaliurang sudah menyala tak berapa lama setelah kami berangkat ke selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hubungan favorit dan mati lampu??&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Sebenarnya begini: aku punya seorang pengemis favorit di perempatan Mirota Kampus. Pengemis itu, seorang bapak tua yang sepanjang hari nongkrong sambil ngerokok linthingan atau terkantuk-kantuk di depan pelataran KFC, adalah pengemis yang selalu berhasil menarik perhatian (dan recehanku) setiap kali berhenti di lampu merah KFC. Meski ia mungkin tak pernah mengenalku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Tapi malam kemarin, mati lampu membuatku tak sempat menengoknya seperti biasa. Karena listrik mati membuat lampumerah perempatan itu tidak beroperasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Aku melintasinya. Ia masih terkantuk-kantuk. Tiba-tiba aku merasa ingin mengelus dada. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;div style="text-align: center; font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Berapa rupiah rejekinya, bapak tua pengemis itu, yang melayang akibat mati lampu, ya..?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113212202437908128?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113212202437908128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113212202437908128&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113212202437908128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113212202437908128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/favorit-mati-lampu.html' title='favorit + mati lampu'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113203495693569775</id><published>2005-11-14T21:38:00.000-08:00</published><updated>2005-11-14T22:09:16.950-08:00</updated><title type='text'>Azahari dan conspirative thinking</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Waktu dengar berita bom di Villa Nova, Batu, Malang yang dikabarkan menewaskan Azahari the demolition man dan Arman, ada yang absurd. Yang terlintas pertama kali di pikiran bukan perasaan puas, bersyukur atau gembira karena the demolition man sudah men-demolish dirinya sendiri. Bukan juga harapan bahwa kekejaman terorisme di indonesia akan segera berakhir.&lt;br /&gt;Yang terlintas justru keraguan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;bener nggak sih Azahari sudah mati?&lt;br /&gt;for a guy like him, yang bertahun-tahun terakhir keberadaannya sulit terlacak, yang aksinya (was) selicin belut, kan bukan persoalan sulit membuat skenario kematian untuk melenyapkan diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pikiran seperti ini bukan cuma punya kepalaku. Aku hampir yakin, keraguan yang sama berbiak dalam kepala banyak orang di negeri ini. Kebobrokan sistem mungkin sudah membuat kita kehilangan kepercayaan, selalu negative thinking dan berpikir konspiratif. Karena itu, berita bahwa SBY begitu gembira karena dua pencapaian besar dalam waktu hampir berbarengan dengan 'meledaknya' Azahari dan digerebeknya pabrik ekstasi gede di Banten yang terbaca di koran terasa tak lebih sebagai angin lalu yang tidak juga menimbulkan perasaan bangga, lega, berterimakasih atau apapun lah, terhadap pemerintah. Buatku aneh, karena kematian (kalau benar Azahari) yang seharusnya bikin lega itu ternyata cuma meninggalkan perasaan hambar. Lagi-lagi apatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin-kemarin, aku kerap bertanya, kenapa rasanya aku begitu apatis terhadap perkembangan peristiwa sosial-politik di Indonesia. Apatis yang tak mau tahu sama sekali. Is it because of me, faktor yang murni berasal dari dalam diriku, atau karena sistem membentukku jadi manusia apatis? Atau malah kombinasi keduanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak tahu. Tapi at least, sekarang kalaupun aku apatis,&lt;br /&gt;aku tahu alasannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113203495693569775?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113203495693569775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113203495693569775&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113203495693569775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113203495693569775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/azahari-dan-conspirative-thinking.html' title='Azahari dan conspirative thinking'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113203177594678719</id><published>2005-11-14T19:55:00.000-08:00</published><updated>2005-11-14T21:16:16.096-08:00</updated><title type='text'>Lauch Missing the novel</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: center;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;^^ sila hadir ^^&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153); font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;Soda Lounge&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt; Laksda Adisucipto, Kamis &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153); font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;17 Nov&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt; 05, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;19.00&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;pm&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;Launch &amp; Talkshow&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 102, 204);font-family:georgia;font-size:180%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Missing the novel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 204);"&gt;Ruwi Meita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 153, 153);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;presented by GagasMedia Publisher&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 153, 153);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 204);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;about &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Missing the novel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;Maya adalah seorang wanita berumur 25 tahun. Kemampuan istimewa mata &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;ketiga membuat tubuhnya bisa dijadikan medium  untuk berkomunikasi dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;roh, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;hanya dengan memegang benda yang punya kaitan psikologis dengan roh itu semasa hidup. Masa lalu Maya yang kelam membuatnya tak bisa mengontrol kemampuan, sehingga yang ada hanyalah ketakutan-ketakutan yang tak teratasi. Sedang Steven, suami Maya yang bekerja sebagai fotografer di sebuah majalah budaya dan seni, tak mampu memahami Maya sehingga pernikahan mereka menjadi hambar.&lt;br /&gt;Adalah Dini, sahabat Maya yang kemudian menawarkan pekerjaan di cafe dengan maksud mengalihkan perhatian Maya dari segala beban hidupnya. Konflik dimulai saat secara tidak sengaja Steven mengunci seorang bocah bernama Vega dalam bagasi mobilnya, ketika gadis cilik itu sedang bermain petak umpet dengan teman-temannya. Permasalahan semakin pelik saat Maya secara tidak sengaja melihat Vega berada di bagasi mobil Steven lewat &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;vision-nya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;. Pertengkaran pun terjadi antara pasangan itu. Mereka saling mencurigai. Mereka tak bisa berpikir jernih. Lalu bagaimana nasib Vega? Apakah dia masih hidup? Apa yang dilakukan Maya dan Steven selanjutnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;Novel yang ditulis berdasarkan skenario Ery Sofid ini punya &lt;/span&gt;&lt;em style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;soul &lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;dan nuansa berbeda dengan film-nya, bahkan dengan novel-novel adaptasi horor lainnya setelah mengalami banyak pengembangan di sana-sini. Penulisnya menampilkan sesuatu yang mengerikan tanpa harus terjebak dalam stereotip novel horor. Juga indah. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 204);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;about &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Missing the movie&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;Film ini diproduksi oleh Starvision Plus dengan bintang-bintang film horor seperti Marcella Zalianty, Endhita, dan Inong. Film yang disutradarai Chiska Dopert ini mengambil gambar-gambar suram sejak awal untuk lebih menekankan karakter Maya (Endhita). Launching film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Missing&lt;/span&gt; sudah digelar di Jakarta pada 20 Oktober kemarin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 204);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;about Ruwi Meita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;Ibu satu anak kelahiran Yogya ini masih terdaftar sebagai mahasiswa sastra Perancis UGM. Karya-karya terdahulunya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dara Manisku the end of story&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kumpulan Cerpen Mari Mengutuk Laki-laki&lt;/span&gt;. Kini, selain menulis ia aktif di sebuah komunitas baca tulis yang didirikannya, Komunitas Buta Huruf.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 153, 153);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113203177594678719?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113203177594678719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113203177594678719&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113203177594678719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113203177594678719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/lauch-missing-novel.html' title='Lauch Missing the novel'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113178692765315827</id><published>2005-11-12T00:53:00.000-08:00</published><updated>2005-11-12T01:15:27.670-08:00</updated><title type='text'>masa' ini kodrati??</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;apakah perempuan selalu dependen terhadap laki-laki untuk bertahan hidup? couldn't we find other-better way to survive?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah teman lama, sepiring sayur-mayur, atau tengah-siang bolong yang membuat kami terjebak dalam percakapan intens soal 'survival' alias bertahan hidup, di sebuah warung gedheg dengan jendela kotak-kotak. It's all a matter of surviving life. Tepatnya, a matter of living a better life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapapun pasti setuju bahwa seseorang akan memilih untuk menjalani hidup lebih baik. bahwa secara naluriah, manusia terus berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup, dan berusaha untuk jadi lebih baik ketimbang sebelumnya. jalannya bisa beda-beda, tergantung pada prinsip dan pandangan hidup orang tersebut. nggak bisa dipungkiri, upaya-upaya itu tidak bisa lepas dari keberadaan orang-orang di sekitar. termasuk laki-laki. sebagian orang, aku misalnya, percaya bahwa laki-laki bisa dijadikan bukan sebagai tempat bergantung untuk membuat hidup jadi lebih baik, tapi seorang teman yang bisa memberi motivasi lebih untuk menjalani hidup. sebagian lain, temanku misalnya, memilih untuk menggantungkan diri pada laki-laki untuk mencapai hidup yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin kelihatannya sama saja. bedanya hanya pada intensitas. menggantungkan diri secara harfiah, atau 'menggantungkan diri' dengan makna dalam tanda kutip. yang satu berharap seorang (atau beberapa) laki-laki akan menunjang hidup dan membuatnya merasa aman, yang lain merasa hidup akan jadi lebih berarti dengan keberadaan laki-laki. yang satu mengharap dukungan material sekaligus moral dari laki-laki, yang lain mengharap dukungan moral. Kalo gitu sama aja dong?? Sama-sama menggantungkan diri pada laki-laki??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah perempuan harus selalu dependen terhadap laki-laki?&lt;br /&gt;couldn't we find other-better way to survive?&lt;br /&gt;[atau ini kodrati?]&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113178692765315827?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113178692765315827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113178692765315827&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113178692765315827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113178692765315827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/masa-ini-kodrati.html' title='masa&apos; ini kodrati??'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113117436903349110</id><published>2005-11-04T22:37:00.000-08:00</published><updated>2005-11-04T23:06:09.056-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dell: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“I’m obsessed of stars.” &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kamu suka bintang? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejak kecil, aku suka melihat bintang. Aku sering menyelinap keluar kamar malam-malam, melarikan diri dari kewajiban bikin pe-er dan duduk di balkon cuma untuk menikmati langit malam. Kelas dua SMA aku menemukan planisphere alias peta langit malam untuk pertama kalinya, di sebuah perpustakaan Jepang, di waktu bolosku ketika sekolah jadi terlalu membosankan. &lt;i style=""&gt;Langit malam punya peta?&lt;/i&gt; Sejak saat itu aku paham kenapa orang begitu takjub kepada bintang; sejak untuk pertama kalinya aku melihat gambar berisi noktah-noktah bernama yang dihubungkan dengan garis-garis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau langit punya peta, berarti noktah-noktah itu rumah dan garis-garis adalah jalan. Berarti masing-masing gambar itu adalah kota. Dan makhluk planet bisa bertandang ke bintang tetangga dengan meniti garis-garis maya....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Imajinasi soal alien dan jalan maya yang menghubungkan bintang satu dengan lainnya membuatku berhasrat mencintai bintang; benda langit berkelip yang malam-malam menemaniku melamun ketika romo-biyung sudah terlelap dalam mimpi konservatif mereka. &lt;i style=""&gt;Cuma itu? Imajinasi tentang alien? &lt;/i&gt;Sebenarnya, ada hal lain yang membuatku mencintai bintang. Sesuatu yang kutemukan pada peta langit malam. Tapi tak ada yang perlu tahu tentang itu. Seperti setiap orang, aku berhak punya satu rahasia besar dalam hidup. Sudah kuputuskan, tidak ada yang perlu tahu. Dan rahasia itu akan terkubur jadi harta karun yang lenyap bersama debu tubuhku, kelak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IN"&gt;Aku bergidik mendapati pikiranku sendiri. Diam-diam, kuselipkan lembar planisphere itu ke dalam ransel hijauku. Lalu aku melenggang keluar perpustakaan seolah tak terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Naud &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Bintang? Gue mengagumi Dell.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gue emang suka ngeliat bintang. Gue mulai suka ngeliat bintang waktu SMA, waktu gue minggat dari rumah buat pertama kalinya. Malam itu, gue nggak tau mau ke mana. Gue nggak punya banyak temen, dan beberapa yang gue punya malam itu nggak berhasil gue kontak. Karena nggak tau mau pergi ke mana, gue pergi ke TIM, satu-satunya tempat yang menurut gue cukup aman untuk tidur. Ya, gue nggak tau tempat lain lagi. Malam itu, akhirnya gue tidur di emperan planetarium. Dan untuk pertama kalinya, gue leluasa melihat langit malam dan bintang-bintang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tapi tiga tahun kemudian baru gue tahu, ada orang yang bisa begitu cintanya sama bintang. Namanya Dell. Anak Geografi yang gue kenal waktu jaman ploncoan. Pertemuan kedua gue sama dia terjadi di depan planetarium, ketika gue tiba-tiba aja kangen sama tempat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gue pikir anak itu nggak inget gue. Karena pertemuan pertama di kampus menurut gue nggak penting banget untuk cewek cuek kaya’ dia. Tapi ternyata dia inget gue.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Anak Dewantara, kan?” tembaknya dengan tatapan dingin. Gue surprise dia tahu. Lantas, dia menggelosor di lantai emper planetarium. Entah kenapa, gue ikut-ikutan duduk di sebelahnya. Anak itu seperti punya magnet. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Namaku Dell. Geografi.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Oh. Gue Naud.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu tiba-tiba dia tanya apa gue suka bintang. Ketika gue nggak menjawab tapi mengangguk, tiba-tiba anak itu cerita banyak soal bintang-bintang. Bahwa dia suka banget ngeliat bintang dan menebak-nebak apa warnanya biru, kuning atau merah. Bahwa bintang yang sekarang memancarkan sinar berwarna kuning, lama-lama bakal jadi merah setelah bahan bakar hidrogen-nya abis. Bahwa suatu saat ntar, mungkin lima milyar tahun dari sekarang, matahari yang kehabisan hidrogen dan bengkak jadi raksasa merah bakal menelan Merkurius, Venus, dan bumi, lalu menyusut jadi cahaya kerdil warna putih dan melenyapkan segala materi di dalamnya. Pas dia selesai cerita, gue nggak bisa komentar apa-apa kecuali nyeletuk; &lt;i style=""&gt;mungkin itu yang namanya kiamat, ya?&lt;/i&gt; Ya, gue emang nggak paham apa yang dia omongin, tapi gue suka bintang. Dan gue kagum karena ada orang yang tahu banyak soal bintang. Belakangan gue tahu, Dell ternyata mengetahui jauh lebih banyak dari apa yang dia ceritain di emperan planetarium TIM sore itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gue suka Dell, karena dia makhluk yang nggak ketebak, seperti alam. Gue mencintai alam, seperti Dell terobsesi pada bintang. Dell? Gue pernah tanya apa dia suka alam. Dia bilang dia nggak tahu, tapi dia pikir dia dilahirkan untuk jadi anak alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IN"&gt;Dell punya banyak sisi yang bikin gue suka sobatan sama dia. Banyak lah. Selain bahwa gue dan dia sama-sama suka ngeliat bintang....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Trix (nama aslinya Trisnadi, tapi ini &lt;i style=""&gt;off-the-record): "&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dell? Bintang yang muram."&lt;i style=""&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wah. Aku nggak tau apa-apa soal bintang. Aku lebih tahu soal perempuan yang konek banget kalo diajak ngomong soal bintang. Namanya Adellja bla bla bla. Panjang, lah. Maklum, ningrat. Pertama kali ketemu sama dia dan liat namanya di daftar absen aku pengen ketawa. Nama kok Adellja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maksudnya Adell-aja ‘kali, nih!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;i style=""&gt;Yang mana yang namanya Adell-aja, haa?&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Waktu perempuan itu mengangkat tangannya dengan raut ketus yang memperlihatkan ketidaksukaannya sama guyonanku, aku baru sadar kalau yang barusan aku omongin keras-keras di depan kelas itu jayuz. Dan aku sudah mengetuk pintu dengan cara yang salah. Adell-aja, anak itu, sumpah mati manis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Itu dibacanya A-del-lya!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Tegasnya tidak main-main. Buset, anak itu nggak cuma manis, tapi juga galak. Sesuai dengan bibirnya yang tipis tapi indah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ooh, jadi orangtuamu penganut ejaan lama, ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rengutannya makin jadi. Aku jadi serba salah dan tambah kebat-kebit. Tapi perempuan hitam-manis bermata sipit yang duduk di sebelahnya tertawa terbahak-bahak. Nggak peduli sama Adell, si cantik itu, yang mendelik ke arahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Panggilannya Dell, ‘Kak, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;seru perempuan sipit itu setelah selesai tertawa. Penyelamatannya membuatku bisa bernafas lega. Meski bibir Adell cantik itu masih saja manyun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ooo, Dell. Kalo kamu? Nama kamu siapa, Sipit?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sumpah mati. Aku nggak punya ketertarikan khusus sama si Sipit yang ternyata bernama Naud itu. Aku cuma memanfaatkan dia jadi topeng untuk menyelamatkan mukaku di depan den ayu Dell-aja itu. Trik-ku berhasil. Dia kelihatan jengah karena barusan sempat merasa kegeeran menanggapi sikapku. &lt;i style=""&gt;Rasain kamu. Nggak usah terlalu belagu deh, mentang-mentang cakep!&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tapi sumpah mati, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sejak saat itu aku jadi pengen bersumpah kalau suatu saat aku bakal menaklukkan makhluk galak berbibir indah itu. Jangankan cuma seorang Adell, gunung apa yang belum aku taklukkan di antero Jawa ini? Cuma kesempatan yang belum membawaku ke pulau lain. Dan cuma waktu yang pelit dan belum memberikan Adell untukku sekarang. Suatu saat nanti akan aku buktikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nggak akan sia-sia aku dipanggil Trix (baca: &lt;i style=""&gt;treez&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IN"&gt;Dan nggak akan sia-sia aku jadi ketua Paladewa, klub pecinta alam Dewantara selama dua periode berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Miranda:  "Belum kenal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IN"&gt;Hh... Aku belum kenal Dell. Pernah sih, liat dari jauh aja.&lt;br /&gt;Kamu?  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113117436903349110?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113117436903349110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113117436903349110&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113117436903349110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113117436903349110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/dell-im-obsessed-of-stars.html' title=''/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113020837554876237</id><published>2005-10-24T19:28:00.000-07:00</published><updated>2005-10-24T19:46:15.556-07:00</updated><title type='text'>dedicated to gossipers</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;gosip baru:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;atm condoms&lt;/span&gt; bakal masuk kampus-kampus. Hmm... Hmmm. Well, uhm... Yeah, I guess... yaah. Siapa tau kehadiran atm condoms ini malah menciptakan kesadaran seksual baru di kalangan mahasiswa, like... safe sex??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;gosip lama tapi baru:&lt;/span&gt; ada ketua jurusan yang &lt;span style="font-size:130%;"&gt;memecat&lt;/span&gt; salah satu dosen senior + qualified dengan alasan yang kurang masuk akal, seperti karena dosen yang bersangkutan lebih sering berada di jakarta daripada duduk tenang dan memprioritaskan kehidupan pendidikan di jogja, dan sering menulis di surat kabar dengan mencantumkan keterangan "dosen Universitas Gadjah Mada", padahal ketika usulan untuk memecat dosen yang bersangkutan (yang notabene datangnya dari diri sang kajur sendiri) dirapatkan bersama warga jurusan, lebih dari separuh dosen protes dan walk out. Bahkan salah satu dosen muda mengancam akan turut keluar jika dosen yang bersangkutan benar-benar dipecat. (Eh, menurut kamu masuk akal nggak sih, alasan-alasan kaya' gitu?)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;gosip lama tapi baru lainnya:&lt;/span&gt; ada ketua jurusan yang kalo ngajar di kelas kelihatannya ramah dan berwibawa, tapi ternyata &lt;span style="font-size:130%;"&gt;kehilangan jati diri&lt;/span&gt;nya di jurusan, nggak punya bala dan dimusuhin dosen lain, bahkan bikin ruang jurusan sepi karena para dosen yang sebel sama dia memilih untuk singgah di kantor D3. Agak bikin heran, karena mekanisme pemilihan ketua jurusan seharusnya menghasilkan pihak yang jadi penengah semua pihak dan bisa mengakomodir kepentingan warga jurusan. Tapi yang ini kok malah sebaliknya??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;gosip lama:&lt;/span&gt; Woah! Ketua Jurusan itu ternyata pernah masuk dalam novel &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sihir Cinta&lt;/span&gt;!!! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-113020837554876237?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113020837554876237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113020837554876237&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113020837554876237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113020837554876237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/10/dedicated-to-gossipers.html' title='dedicated to gossipers'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112927541554417691</id><published>2005-10-14T00:23:00.000-07:00</published><updated>2005-10-14T00:36:55.553-07:00</updated><title type='text'>many many things in a night</title><content type='html'>Beberapa hari ini, aku ‘terkurung’ di negeri antah-berantah; dimana satu-satunya hiburan di rumah adalah sederet track mp3 yang kusimpan di memori ponsel. Well, okay. Pada kunjungan kali ini, sudah ada kemajuan (baca: warnet) di kota kecil ini; yang paling nggak bisa bikin aku lebih betah (sedikit) ketimbang biasanya. Tapi toh aku nggak bisa terus-terusan menghamburkan waktu di warnet, karena selain biaya aksesnya masih relatif mahal dibandingkan jogja dan fasilitas comot-comot data masih agak susah (no kidding, salah satu temenku ngeledek ketika aku bilang lagi nge-net di kota kecilku dengan: “Wah, di sana ada listrik tho?” shut up!), mama bisa ngamuk-ngamuk kalau aku – seperti kebiasaan lamaku kalo di Jogja – lupa pulang gara-gara keasyikan nge-net. Dan ketika sudah berada di rumah, yang notabene bagian antah-berantah dari kota kecil antah-berantah ini, rasanya malas sekali beranjak keluar lagi. Maka, dengan ketiadaan segala device bersifat hiburan yang sudah diangkuti karena statusnya ‘bakal pindah’, sederet track mp3 yang disimpan di memori ponsel tadi jadi sarana hiburan yang sangat berarti. Terutama ketika aku mesti menjalani aktivitas-aktivitas domestik bertajuk ‘berbakti pada mama’ semacam bersih2 rumah, cuci-setrika dsb. &lt;br /&gt;Walhasil, sederet mp3 yang jumlahnya juga tak terlalu banyak itu – dengan penuh keengganan – jadi soundtrack hidupku sehari-hari. Sampe hapal banget urutan lagu-lagunya. Sampai tiba-tiba, pada hari ketiga, aku merasa ada yang janggal. &lt;br /&gt;Tadinya aku berpikir ada yang nggak beres pada file-file mp3ku. Soalnya tiba-tiba mereka terdengar aneh di kuping! Kadang-kadang aku merasa temponya lebih cepat atau lebih lambat – yang setelah dicermati ternyata nggak, tuh – di saat lain file-nya serasa seperti ‘pita kaset yang memuai’ dan menghasilkan suara ‘memuai’ juga, atau kadang semacam ketambahan instrumen baru. Pokoknya janggal lah! &lt;br /&gt;Kept thinking of it, sampai malam ini, malam keempat, aku baru sadar kalau semua itu terjadi karena sepertinya kupingku bertambah peka. &lt;br /&gt;Hmm, ini sih cuma hipotesa; tapi bagiku cukup masuk akal bahwa ketika telinga terus-menerus mendengar sesuatu yang sama secara intens selama beberapa hari berturut-turut, penginderaannya jadi lebih peka, alias mampu menangkap unsur-unsur yang tadinya tak tertangkap. Semacam, waktu kecil aku sering mengucapkan kata ‘ember’ berulang-ulang sampe lama-kelamaan berpikir: kok kata ‘ember’ kedengaran aneh sekali di telinga dan tak masuk akal ya? Hum.... ini sebuah kesadaran yang terlambat ya? Well, okay… kalo bukan menemukan teori, anggaplah aku sedang membuktikannya. ;) &lt;br /&gt;Back then, salah satu lagu yang aku simpan itu punya makna khusus berkaitan dengan peristiwa tertentu – yaa, u know the song… – yang bikin dada bergetar tiap kali mendengarnya dan berkaitan dengan (ehm) seseorang. Nah, – ini pembuktian yang lain lagi – satu waktu, aku berusaha membuktikan kebenaran kata-kata sahabatku, Ruwi Meita, tentang sugesti. Dia, once told me:&lt;br /&gt;“Aku semalam menulis di buku harian: xx akan sms aku jam 12.40 a.m sampai satu halaman penuh. &lt;br /&gt;….dan dia meng-sms-ku jam 12.30 – hanya selisih sepuluh menit dari waktu yang kutulis!”&lt;br /&gt;Aku nggak terlalu terkagum-kagum waktu itu, karena hidupku penuh sugesti dan aku sudah mendengar teori itu sejak lama sekali. Tapi sekali waktu, gara-gara lagu itu, aku tergerak untuk mencoba metode yang diterapkan Ruwi. Nah nah, maka aku memulai pekerjaan (setengah) bodoh itu, menulis dua halaman penuh di buku harian: xx akan sms aku jam 11.30 malam ini.&lt;br /&gt;Percobaan pertama:&lt;br /&gt;Berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi pada Ruwi, orang itu mengirim sms sepuluh menit lebih awal dari waktu yang kutetapkan. Aku kontan kegirangan. Heay, I can make it! Aku juga bisa, lho… *siul-siul* Tentu saja, keberhasilan ini kupendam sendiri. Cukup aku sendiri yang tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, pembuktian itu bikin aku percaya dan ketagihan. Di saat lain, ketika perasaanku jadi sukar dikendalikan, aku mulai menulis pada, seperti percobaan pertama, dua halaman buku.&lt;br /&gt;Percobaan kedua. &lt;br /&gt;Nananana…. Dududu… Bagian menulis sudah kuselesaikan, kini tinggal menunggu bukti. Tik tok tik tok… the clock is ticking, dan aku menunggu dengan penuh kesabaran.&lt;br /&gt;(kurang 10 menit) “Hmm, mana yaa…? Harusnya sebentar lagi dia sms nih.”&lt;br /&gt;Didn’t work.&lt;br /&gt;(pas pada waktu yang ditentukan) “Mm….mungkin sebentar lagi. Kalo kemaren waktunya kurang presisi, mungkin sekarang pas.”&lt;br /&gt;Didn’t work. &lt;br /&gt;(lebih 10 menit) “Ohh, mungkin toleransinya kuranglebih sepuluh sampe limabelas menit sebelum atau sesudah waktu yang ditentukan, ‘kali yaa….”&lt;br /&gt;Still didn’t work.&lt;br /&gt;(lebih setengah jam) *keluh* “Hey… where r uu...? U’re half-an-hour-late!”&lt;br /&gt;Still didn’t work.&lt;br /&gt; (lebih satu jam) *utakatik huruf di buku harian* “Ya sudahlah…”&lt;br /&gt;Still didn’t work!&lt;br /&gt; (lebih dua jam) *kebangun pascatengah malam, tergesa meraih ponsel, meneliti dan menemukan lcd tanpa sms notification* “Damn!!! U idiot!”&lt;br /&gt;Case closed. Kesimpulan: percobaan kedua, &lt;br /&gt;Gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang, keledai nggak akan kecemplung di lubang yang sama. Tapi ada kalanya, aku jadi orang yang benar-benar bebal. Gagalnya percobaan kedua nggak bikin aku jadi nggak percaya teori itu. Aku masih sempat beberapa kali mencoba, dengan berbagai pre-asumsi – yang terakhir malam ini, barusan – tapi dengan hasil seragam: Gagal.&lt;br /&gt;Now I decide, keyakinanku itu bodoh. Dan no more percobaan. It’s enough!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dua pembuktian itu, kepalaku saat ini benar-benar penuh berbagai macam hal yang sudah berusaha kupilah dan kumasukkan dalam kabinet sendiri-sendiri, tapi mereka secara impulsif menghamburkan diri dan bercampur kembali dengan suksesnya. Hard to tell. Anehnya, entah bagaimana, aku merasa bahagia di tengah situasi depresif ini. Bahkan di tengah kesadaran bahwa BBM naik 180%, enam buah bom baru saja meledak di salah satu tempat yang aku cintai, dan flu burung masih merebak. Kadang-kadang, manusia mesti menempuh jalan yang aneh for something called ‘kebahagiaan’, ya? (jam satu, lewat tengah malam kamis di kotakecilku)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112927541554417691?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112927541554417691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112927541554417691&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112927541554417691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112927541554417691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/10/many-many-things-in-night.html' title='many many things in a night'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112902080299319158</id><published>2005-10-11T01:32:00.000-07:00</published><updated>2005-10-11T01:53:23.283-07:00</updated><title type='text'>she will be loved</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Maroon 5&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beauty queen of only eighteen&lt;br /&gt;She had some trouble with herself&lt;br /&gt;He was always there to help her&lt;br /&gt;She always belonged to someone else&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I drove for miles and miles&lt;br /&gt;And wound up at your door&lt;br /&gt;I've had you so many times but somehow&lt;br /&gt;I want more&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don't mind spending everyday&lt;br /&gt;Out on your corner in the pouring rain&lt;br /&gt;Look for the girl with the broken smile&lt;br /&gt;Ask her if she wants to stay awhile, and&lt;br /&gt;She will be loved&lt;br /&gt;She will be loved&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tap on my window, knock on my door&lt;br /&gt;I want to make you feel beautiful yeahh&lt;br /&gt;I know I tend to get so insecure&lt;br /&gt;It doesn't matter anymore&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's not always rainbows and butterflies&lt;br /&gt;It's compromise that moves us along yeahh&lt;br /&gt;My heart is full and my door's always open&lt;br /&gt;You can come anytime you want yeah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don't mind spending everyday&lt;br /&gt;Out on your corner in the pouring rain,&lt;br /&gt;Look for the girl with the broken smile&lt;br /&gt;Ask her if she wants to stay awhile, and&lt;br /&gt;She will be loved She will be loved&lt;br /&gt;She will be loved She will be loved&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I know where you hide&lt;br /&gt;Alone in your car&lt;br /&gt;Know all of the things that make you who you are&lt;br /&gt;I know that goodbye means nothing at all&lt;br /&gt;Comes back and begs me to catch her every time she falls yeah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tap on my window, knock on my door&lt;br /&gt;I want to make you feel beautiful&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don't mind spending every day&lt;br /&gt;Out on your corner in the pouring rain oh&lt;br /&gt;Look for the girl with the broken smile&lt;br /&gt;Ask her if she wants to stay awhile, and&lt;br /&gt;She will be loved She will be loved&lt;br /&gt;She will be loved She will be loved&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please don't try so hard to say goodbye&lt;br /&gt;Please don't try so hard to say goodbye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don't mind spending everyday&lt;br /&gt;Out on your corner in the pouring rain&lt;br /&gt;Please don't try to hard to say goodbye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*lagi suka banget*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112902080299319158?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112902080299319158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112902080299319158&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112902080299319158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112902080299319158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/10/she-will-be-loved.html' title='she will be loved'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112901860215916557</id><published>2005-10-11T01:09:00.000-07:00</published><updated>2005-10-11T01:16:42.166-07:00</updated><title type='text'>negeri sepi</title><content type='html'>di tengah jalan yang menikung itu tibatiba&lt;br /&gt;kautawarkan perjamuan sore. tempat&lt;br /&gt;dimana lelah menyimpan singgah, dan matahari yang condong&lt;br /&gt;membuatmu leluasa&lt;br /&gt;mengerkah rusuk memburai sejarah&lt;br /&gt;sepanjang perjalanan. jam&lt;br /&gt;kaubiarkan berhenti; sementara kita mengupas&lt;br /&gt;keringat. sementara matamu&lt;br /&gt;menuturkan kisah kelananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali ini kembara berujung ke negeri&lt;br /&gt;sepi, katamu berulang. tapi toh tiada&lt;br /&gt;yang menghentikan gerak engsel tumit&lt;br /&gt;dan selangkang kita. dan kenangan tibatiba&lt;br /&gt;telah terentang jauh ke belakang. barangkali&lt;br /&gt;takada yang mendengar kalimatmu; selain telinga&lt;br /&gt;yang tersimpan di negeri sepi.&lt;br /&gt;(kita tak pernah &lt;s&gt;tahu&lt;/s&gt; bisa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi segala lantas menjadi sunyi. bahkan detik. mungkin&lt;br /&gt;kau benar. mungkin jam berhenti. dan mungkin&lt;br /&gt;ini kembara&lt;br /&gt;berujung&lt;br /&gt;di negeri sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a lonely day @ indramayu)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112901860215916557?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112901860215916557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112901860215916557&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112901860215916557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112901860215916557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/10/negeri-sepi.html' title='negeri sepi'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112884630453963290</id><published>2005-10-08T22:55:00.000-07:00</published><updated>2005-10-09T01:25:04.573-07:00</updated><title type='text'>would u marry me, stranger?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;gimana kalau suatu hari, seseorang yang tidak kita kenal, yang cuma nongol nama dan fotonya di board friends-nya friendster, yang cuma satu-dua kali kirim messages dan pernah ninggalin testimonial, yang bahkan belum pernah kita jumpai di kehidupan nyata selain beberapa kali online 'n chatting bareng tiba-tiba bilang:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:180%;color:#339999;"&gt;would u marry me?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;...dan kita hanya dikasih satu kesempatan untuk menjawab, cuma punya kesempatan untuk lebih mengenalnya lewat friendster dan jaringan maya, sementara &lt;em&gt;the clock is ticking&lt;/em&gt; dan kita berpikir kesempatan itu mungkin tak akan datang lagi...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:180%;color:#999999;"&gt;apa yang akan kamu katakan kalau kamu jadi aku?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112884630453963290?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112884630453963290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112884630453963290&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112884630453963290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112884630453963290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/10/would-u-marry-me-stranger.html' title='would u marry me, stranger?'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112849278655059788</id><published>2005-10-04T22:37:00.000-07:00</published><updated>2005-10-04T23:13:06.560-07:00</updated><title type='text'>ramadhan tahun ini...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;s&gt;hari pertama puasa&lt;/s&gt;  hari pertama ramadhan...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;lebaran tak hanya merekam momen bahagia. tapi juga miris dan duka. selalu ada orang-orang yang merasa dirinya terlupakan atau terpinggirkan. kehilangan kehangatan itu: berkumpul bersama keluarga besar, mencium bau tanah air, dikelilingi anakcucu yang meraih tepian baju merengeki salam tempel; bagaimana dengan mereka yang eksil; jauh dari kampung halaman tak bisa pulang karena dianggap punya keterkaitan dengan organisasi (yang dianggap) terlarang dan (dianggap) mengancam integrasi? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;yes, i know that such of  pain.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;tapi toh Ada yang tak pernah melupakan dan meminggirkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;puasa ini,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;mari jadi keluarga bagi banyak orang di luar sana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;selamat beribadah; maafkan segala salah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;selamat mencoret yang lama dan menoreh yang baru. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;(kosong-kosong, yak! ^_^)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112849278655059788?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112849278655059788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112849278655059788&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112849278655059788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112849278655059788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/10/ramadhan-tahun-ini.html' title='ramadhan tahun ini...'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112849046309499209</id><published>2005-10-04T22:31:00.000-07:00</published><updated>2005-10-04T22:34:23.100-07:00</updated><title type='text'>lelaki gurun dan kesunyian</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#993399;"&gt;lelaki dari gurun; kesunyian dalam kepalanya&lt;br /&gt;adalah tuhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#993399;"&gt;lelaki dari gurun; telanjang berkata lantang&lt;br /&gt;kemanusiaan sudah wafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#993399;"&gt;Tuhan, tolong ampuni ia!&lt;br /&gt;sebab hanya kutuklaknat di mulut kami &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#993399;"&gt;(tapi kemana Kaubawa&lt;br /&gt;ia, yang mengaku merangkak mencariMu; yang terasing&lt;br /&gt;dalam kesunyian&lt;br /&gt;itu?)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#993399;"&gt;::pascabom bali; harihari hilang katakata&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112849046309499209?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112849046309499209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112849046309499209&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112849046309499209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112849046309499209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/10/lelaki-gurun-dan-kesunyian.html' title='lelaki gurun dan kesunyian'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112805571330649936</id><published>2005-09-29T20:54:00.000-07:00</published><updated>2005-09-29T21:48:33.313-07:00</updated><title type='text'>...kok cepet banget yaa?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sebentar lagi puasa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hmm. pindah rumah; ketaketik; jalan sana jalan sini; baca sampe ketiduran; ngumpulin daftar tempat makan yang asik buat buka; ngubek warnet sampe cso-nya bosen;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hhh.... kok cepet banget yah? perasaan lebaran baru taun lalu, deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[baru slese baca &lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;em&gt;veronica memutuskan mati&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.paulocoelho.com.br/engl/"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;(paulo coelho)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; - akhirnya, sekarang mo baca genesis ato dreamworks. Eh, nggak ding. yang tepat, mo baca &lt;s&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;missing&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/s&gt;, bakal novel adaptasi terbarunya &lt;/span&gt;&lt;a href="http://sersoltera.blogspot.com"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#993399;"&gt;ruwi meita&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;. hmm, books...books...books...]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;hhh.... kok cepet banget yah...?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112805571330649936?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112805571330649936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112805571330649936&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112805571330649936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112805571330649936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/kok-cepet-banget-yaa.html' title='...kok cepet banget yaa?'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112745194283221457</id><published>2005-09-22T21:24:00.000-07:00</published><updated>2005-09-22T22:50:49.776-07:00</updated><title type='text'>Virus Type A: H5N1</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Duhh...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sedih bertubi-tubi rasanya tiap kali nonton berita di TV atau baca koran. Korban-korban yang dicurigai meninggal akibat virus flu burung terus berjatuhan. Yang dicurigai terjangkit dan masuk RSPNPI Sulianti Saroso juga terus nambah. Enam korban (lima di Jakarta, satu di Samarinda), tiga diantaranya masih berstatus dicurigai terkena flu burung, meninggal dunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Meski sudah ditetapkan sebagai KLB oleh pemerintah, nggak bisa dipungkiri masyarakat masih dilanda rasa waswas. Lebih-lebih karena nggak semua Rumah Sakit dirujuk untuk menangani pasien2 suspeksi flu burung. Biar nggak terlalu waswas, berikut ada informasi-informasi pencegahan dari milis PSTC 'n Pasarbuku.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;Semoga bermanfaat....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;kenali gejala-gejalanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;for safety sake&lt;/span&gt;...&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di bawah ini adalah beberapa tindakan pencegahan Flu Burung yang dapat kita lakukan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 1. Hindari bepergian ke daerah peternakan unggas dan babi atau kebun binatang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 2. Hindari membeli hewan hidup untuk dikonsumsi. Anda/anggota keluarga yang membersihkan hewan tersebut akan melakukan kontak langsung dengan kotoran yang masih melekat pada bulu-bulu atau kulit (yang membahayakan jika ternyata unggas tersebut terserang virus flu burung). Lebih aman jika anda membeli hewan potong yang telah dibersihkan dan direndam air panas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 3. Tingkatkan sistem imunitas tubuh dengan pola hidup sehat. Makan dan istirahat teratur. Jika perlu, konsumsilah multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 4. Jagalah kebersihan, diantaranya dengan sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan/atau desinfektan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Jika Anda / Anggota Keluarga mengalami: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 1. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Demam/Panas tinggi di atas 38 derajat Celcius&lt;/span&gt;, DAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 2. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salah satu&lt;/span&gt; gejala di bawah ini, DAN: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batuk &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;    Nyeri Tenggorokan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;    Sesak Napas &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 3. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memiliki riwayat mengunjung peternakan unggas/babi dan/atau kebun binatang dalam jangka waktu 21 hari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Segera hubungi RS terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Saat ini, rumah sakit yang menjadi rujukan dalam penangana flu burung ini adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi -- Prof. Dr. Sulianti Saroso ( R S P N P I - S S )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Jl. Baru Sunter Permai Raya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; No. Telp. 021 - 650 6559&lt;/span&gt; &lt;a style="font-family: verdana;" href="http://www.infeksi.com/hiv/" target="_blank" onclick="return top.js.OpenExtLink(window,event,this)"&gt;http://www.infeksi.com/hiv/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Informasi mengenai lebih terperinci mengenai Flu Burung -- penyebab, pencegahan dan pengobatannya -- terdapat dalam notes di bawah ini.&lt;/span&gt; &lt;!-- D(["mb"," \r\n \r\nTerima kasih dan mari kita menjaga kesehatan keluarga bersama! \r\n \r\nRekan - rekan IBMers, \r\nSaat ini di Indonesia sedang marak berjangkit virus burung. \r\nBerikut ini adalah artikel mengenai Flu Burung yang dapat menjadi acuan dalam menjaga kesehatan keluarga kita:  Apa itu flu burung ? \r\n \r\n   Infeksi yang disebabkan oleh virus influensa, serta dapat menyerang unggas, babi dan manusia. \r\n   Bila menyerang manusia, maka akan terdapat gejala flu yang tidak kunjung sembuh bahkan terus memberat dan disertai gejala sesak nafas dalam 2-3 hari. Hal ini merupakan indikasi terjadinya serangan flu burung yang dapat merenggut nyawa penderita dengan cepat (dalam hitungan 1minggu) . Penyebab \r\n   Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A. \r\n   Virus influensa tipe A adalah virus influensa yang dapat berubah-ubah bentuk dan dapat menyebabkan epidemi dan pandemi. Turunan virus yang sangat ganas dan dapat menyebabkan flu burung adalah subtipe A H5N1. \r\n   Virus ini dapat bertahan hidup di air bersuhu 22 derajat selama 4 hari dan selama lebih dari 30 hari pada suhu 0 derajat. \r\n   Virus akan mati pada pemanasan 60 derajat selama 30 menit dan dengan deterjen, atau desinfektan. \r\n \r\n \r\nGejala flu burung dibedakan atas gejala pada manusia dan pada unggas \r\n \r\nGejala pada manusia : \r\n1.        Demam ( suhu badan diatas 38 derajat celcius) \r\n2.        Batuk dan nyeri tenggorokan \r\n3.        Radang saluran pernapasan atas \r\n4.        Pneumonia ( radang paru) \r\n5.        Infeksi mata \r\n6.        Nyeri otot \r\nJika anda atau keluarga mengalami gejala di atas, segeralah menghubungi dokter atau Rumah Sakit terdekat. \r\n \r\nGejala pada unggas : \r\n1.        Jengger berwarna biru \r\n2.        Borok dikaki \r\n3.        Mati mendadak ara penularan \r\n \r\n   Flu burung menular : \r\n \r\n      Dari unggas ke unggas \r\n      Dari unggas ke babi \r\n      Dari unggas ke manusia \r\n      Penularan melalui udara yang tercemar virus influensa H5N1 yang berasal dari air liur, lendir, dan kotoran unggas yang sudah mengering dan terbawa udara. ",1] );  //--&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt; Apa itu flu burung?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;    &gt;&gt; Infeksi yang disebabkan oleh virus influensa, serta dapat menyerang unggas, babi dan manusia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Bila menyerang manusia, maka akan terdapat gejala flu yang tidak kunjung sembuh bahkan terus memberat dan disertai gejala sesak nafas dalam 2-3 hari. Hal ini merupakan indikasi terjadinya serangan flu burung yang dapat merenggut nyawa penderita dengan cepat (dalam hitungan 1 minggu). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;    Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Virus influensa tipe A adalah virus influensa yang dapat berubah-ubah bentuk dan dapat menyebabkan epidemi dan pandemi. Turunan virus yang sangat ganas dan dapat menyebabkan flu burung adalah subtipe A H5N1. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Virus ini dapat bertahan hidup di air bersuhu 22 derajat selama 4 hari dan selama lebih dari 30 hari pada suhu 0 derajat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Virus akan mati pada pemanasan 60 derajat selama 30 menit dan dengan deterjen, atau desinfektan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Gejala flu burung dibedakan atas gejala pada manusia dan pada unggas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt; Gejala pada manusia : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt; 1. Demam ( suhu badan diatas 38 derajat celcius) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt; 2. Batuk dan nyeri tenggorokan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt; 3. Radang saluran pernapasan atas &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt; 4. Pneumonia ( radang paru) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt; 5. Infeksi mata &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt; 6. Nyeri otot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Jika anda atau keluarga mengalami gejala di atas, segeralah menghubungi dokter atau Rumah Sakit terdekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Gejala pada unggas : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 1. Jengger berwarna biru &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 2. Borok di kaki &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 3. Mati mendadak ara penularan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;    Flu burung menular &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;dari unggas ke unggas,  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;dari unggas ke babi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, dan dari unggas ke manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penularan melalui udara yang tercemar virus influensa H5N1, yang berasal dari air liur, lendir, dan kotoran unggas yang sudah mengering dan terbawa udara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!-- D(["mb"," \r\n      Penularan juga dapat terjadi jika bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung. Untuk itu, jangan membeli ayam yang hidup karena kita/pembantu dapat berhubungan dengan kotoran ayam secara langsung apabila ayam tersebut terserang virus. \r\n      Sampai saat ini belum dapat dibuktikan adanya penularan dari manusia ke manusia, juga dari makanan berbahan dasar unggas ke manusia. \r\n      Masa inkubasi: \r\n \r\n \r\n         Pada unggas : 1 minggu \r\n         Pada manusia : 1-3 hari \r\n         Pada anak : bisa sampai 21 hari Pencegahan \r\n         Pada unggas : \r\n \r\n \r\n \r\n1.        Vaksinasi pada unggas yang sehat untuk mencegah tertular virus influensa H5 N1. 2.        Pemusnahan unggas atau burung yang terinfeksi flu burung \r\n \r\n         Pada manusia -- Masyarakat umum : \r\n \r\n \r\n \r\n1.        Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi dan beristirahat yang cukup. \r\n \r\n         Multivitamin dapat membantu kita untuk meningkatkan daya tahan tubuh \r\n \r\n \r\n \r\n2.        Mengolah unggas dengan cara yang benar yaitu dengan cara : \r\n \r\n         Memilih unggas yang sehat ( tidak terdapat gejala-gejala penyakit) \r\n         Memasak daging ayam sampai suhu 100 derajat celcius selama lebih kurang 10 menit \r\n         Memasak telur sampai 100 derajat celcius selama lebih kurang 6.5 menit \r\n \r\n \r\n \r\n3.        Jangan pergi kepeternakan ayam, unggas, dan lain-2 4.        Jangan membeli unggas hidup, karena anda/anggota keluarga yang membersihkan unggas akan melakukan kontak langsung dengan kotoran yang masih melekat pada unggas tersebut (yang membahayakan jika ternyata unggas tersebut terserang virus flu burung) \r\n \r\n         Pada manusia -- Kelompok berisiko tinggi (warga yang memelihara unggas, pekerja peternakan dan pedagang) \r\n \r\n \r\n \r\n1.        Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja. 2.        Menghindari kontak langsung dengan unggas atau burung 3.        Menggunakan alat pelindung diri (misalnya masker dan pakaian kerja) 4.        Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja 5.        Membersihkan kotoran unggas setiap hari ",1] );  //--&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penularan juga dapat terjadi jika bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung.&lt;/span&gt; Untuk itu, jangan membeli ayam yang hidup karena kita/pembantu dapat berhubungan dengan kotoran ayam secara langsung apabila ayam tersebut terserang virus. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Sampai saat ini belum dapat dibuktikan adanya penularan dari manusia ke manusia, juga dari makanan berbahan dasar unggas ke manusia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masa inkubasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada unggas : 1 minggu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          Pada manusia : 1-3 hari &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          Pada anak : bisa sampai 21 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pencegahan&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada unggas : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 1. Vaksinasi pada unggas yang sehat untuk mencegah tertular virus influensa H5 N1.&lt;br /&gt;2. Pemusnahan unggas atau burung yang terinfeksi flu burung &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada manusia -- masyarakat umum : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 1. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi dan beristirahat yang cukup. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;        Multivitamin dapat membantu kita untuk meningkatkan daya tahan tubuh &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 2. Mengolah unggas dengan cara yang benar yaitu dengan cara :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;         Memilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;         Memasak daging ayam sampai suhu 100 derajat celcius selama lebih kurang 10 menit &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          Memasak telur sampai 100 derajat celcius selama lebih kurang 6.5 menit &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 3. Jangan pergi ke peternakan ayam, unggas, dan lain2&lt;br /&gt;4. Jangan membeli unggas hidup, karena anda/anggota keluarga yang membersihkan unggas akan melakukan kontak langsung dengan kotoran yang masih melekat pada unggas tersebut (yang membahayakan jika ternyata unggas tersebut terserang virus flu burung) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada manusia -- kelompok berisiko tinggi&lt;/span&gt; (warga yang memelihara unggas, pekerja peternakan dan pedagang) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;1. Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja&lt;br /&gt;2. Menghindari kontak langsung dengan unggas atau burung&lt;br /&gt;3. Menggunakan alat pelindung diri (misalnya masker dan pakaian kerja)&lt;br /&gt;4. Meninggalkan pakaian kerja di tempat kerja&lt;br /&gt;5. Membersihkan kotoran unggas setiap hari &lt;/span&gt; &lt;!-- D(["mb"," \r\n \r\nBila flu tampak berat dan disertai sesak nafas penderita harus dirawat di rumah sakit karena membutuhkan : \r\n \r\n         Oksigen untuk membantu pernafasan \r\n         Pemberian cairan infus \r\n         Pemberian obat anti virus \r\n         Pemberian obat anti infeksi \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\nsumber: Dr. Fiastuti \r\n \r\nLet\'s keep our family healthy..... \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n            \r\n------------------------------&lt;wbr&gt;---&lt;br /&gt;\r\nYahoo! for Good&lt;br\&gt;\r\n Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.&lt;br /&gt;\r\n&lt;br /&gt;\r\n[Non-text portions of this message have been removed]&lt;br /&gt;\r\n&lt;br /&gt;\r\n&lt;/tt&gt;\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;\r\n&lt;tt&gt;\r\nSilahkan mengisi data Anda di Database Anggota Milis Komunitas PasarBuku Indonesia di: &lt;a href="\" target="\" onclick="\"&gt;http://groups.yahoo.com/group&lt;wbr&gt;/pasarbuku/database&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;\r\n&lt;br /&gt;\r\nMilis ini terbuka. daftar milis ini dapat dilakukan sendiri oleh calon anggota. Jika posting tulisan, sila mengirim e-mail ke: &lt;a href="\" target="\" onclick="\"&gt;pasarbuku@yahoogroups.com&lt;/a&gt;  Untuk jadi anggota kirim email kosong ke &lt;a href="\" target="\" onclick="\"&gt;pasarbuku-subscribe@yahoogroups&lt;wbr&gt;.com&lt;/a&gt;  Untuk berhenti berlangganan, kirim email kosong ke: &lt;a href="\" target="\" onclick="\"&gt;pasarbuku-unsubscribe@yahoogrou&lt;wbr&gt;ps.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;\r\n&lt;br /&gt;\r\nNETIKET DAPAT DILIHAT DI --&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/%5C" target="\" onclick="\"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Bila flu tampak berat dan disertai sesak nafas penderita harus dirawat di rumah sakit karena membutuhkan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          Oksigen untuk membantu pernafasan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          Pemberian cairan infus &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          Pemberian obat anti virus &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;          Pemberian obat anti infeksi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;(sumber: Dr. Fiastuti)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Antisipasi flu Burung Versi Hembing&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh Prof Hembing Wijayakusuma&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akhir-akhir ini masyarakat was-was dengan munculnya penyakit flu  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;burung (avian influenza) yang mengantarkan penderitanya pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kematian. Flu burung pada awalnya merupakan penyakit yang disebabkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;virus yang menyerang bangsa unggas, seperti ayam, itik, bebek, kalkun, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;merpati, unggas air, burung-burung piaraan, maupun burung liar. Namun, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;perkembangannya, virus  flu burung mengalami mutasi sehingga virus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tersebut dapat tersebar dan menular pada hewan lain seperti babi, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kuda bahkan manusia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti halnya virus influenza, virus  flu burung mempunyai kemampuan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;melakukan perubahan genetik atau mutasi sehingga berkembang menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;beberapa varian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gejala umum unggas yang terinfeksi virus flu burung biasanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bervariasi,dan hampir sama dengan unggas yang terinfeksi virus tetelo. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Antara lain,bersin-bersin, kesulitan bernafas, pembengkakan pada kepala, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;jengger &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;berwarna biru, bercak merah pada sayap, kaki membengkak sehingga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tidak dapat berjalan, kepala dan leher berputar-putar, mencret-mencret, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;nafsu &lt;/span&gt;makan berkurang, dan penurunan produksi. Tinggi-rendahnya kematian &lt;span style="font-size:100%;"&gt;unggas tergantung pada tipe dan galur virusnya.&lt;/span&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan gejala  flu burung  yang menyerang manusia, hampir sama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;seperti flu biasa namun tingkat kematiannya lebih tinggi. Gejala itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;antara lain, penderita mengalami demam tinggi sekitar 40 derajat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;celsius, sakit kepala, pusing, batuk dan sesak nafas, gatal dan sakit &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tenggorokan, tubuh terasa lemas dan pegal-pegal, hidung beringus, mata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;memerah karena peradangan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada anak kecil sering disertai mencret dan muntah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cara alamiah pencegahan dan antisipasi virus  flu burung  dapat  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ditempuh dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan stamina, yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;diperoleh melalui tumbuhan obat. Tumbuhan obat yang dapat digunakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;untuk masalah ini adalah: ambil &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jahe dan lobak secukupnya, lalu dijus.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Campuran itu kemudian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;disiram ke ayam&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Masak daging ayam dengan api pada suhu 100 derajat celsius hingga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;matang, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;lalu masak lagi selama setengah jam. Masukkan bahan makanan dan bumbu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;seperti cuka beras putih, lobak, jamur kuping, bawang putih dan lada. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Masak sematang-matangnya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Atau cara lain dengan menggunakan ramuan berkhasiat yang diminum &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;langsung, ambil 1&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5 gram sambiloto, 4 siung bawang putih, 15 gram jahe, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;25 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;gram &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;kencur,direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring airnya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;diminum dengan menambahkan 1 sendok makan madu.&lt;/span&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cara lainnya adalah menggunakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;60 gram krokot hijau segar, 30 gram &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;pegagan segar, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;airnya lalu diminum. Atau gunakan 5 butir kiamboi/sunboi diblender &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;200 cc air kelapa hujau. Tambahkan madu lalu diminum.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bisa juga mengkonsumsi ramuan yang terbuat dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;30 gram buah jali &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;ang direndam terlebih dahulu hingga lunak, tambahkan 30 gram kacang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;hijau, jahe, gula merah secukupnya, direbus dengan air sehingga menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;bubur lalu dimakan selagi hangat.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; Catatan: Bila penyakit berlanjut, hubungi dokter.&lt;br /&gt;{Prof HM Hembing Wijayakusuma, Ketua Umum Himpunan Pengobat &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tradisional dan Akupunktur Se-Indonesia-HIPTRI)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112745194283221457?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112745194283221457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112745194283221457&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112745194283221457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112745194283221457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/virus-type-h5n1.html' title='Virus Type A: H5N1'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112702699632240763</id><published>2005-09-18T00:01:00.000-07:00</published><updated>2005-09-18T00:03:16.323-07:00</updated><title type='text'>Aku Ingin Menciummu Sekali Saja!!!</title><content type='html'>Aku Ingin Menciummu Sekali Saja&lt;br /&gt;Rudy Gunawan, F.X&lt;br /&gt;GagasMedia, September 2005&lt;br /&gt;“Sketsa Kehidupan Remaja Papua; Mengenang Theys Hiyo Eluay”&lt;br /&gt;vi + 140 hal HVS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hasrat untuk berciuman atau gara-gara terlalu banyak ngobrolin novel adaptasi belakangan ini yang mendorongku untuk baca novel ini (Aku Ingin Menciummu Sekali Saja-AIMSS di-adapt dari sebuah film produksi Yayasan SET-nya mas Garin Nugroho). Hal pertama yang memicuku untuk baca adalah filmnya. Dibandingkan dengan film-film lain yang dinovelkan (alih wacana, kalo pake bahasanya pak Sapardi Djoko Damono) alias diadaptasi oleh GagasMedia, film ini jelas bergerak di jalur yang berbeda. Menurutku, ini film fiksi-politik; dokudrama atau apapun lah (sebelumnya aku minta maaf dulu ke mas Garin kalo ternyata anggapanku ini salah), satu jenis dengan Puisi Tak Terkuburkan, kali ya. Hal kedua yang nggak kalah penting di antara unsur-unsur yang membuat novel ini jadi utuh adalah penulisnya, mas Rudy Gunawan, yang meski (setahuku) nggak pernah benar-benar terjun dalam politik praktis, selalu punya kepedulian lebih terhadap masalah-masalah sosial-politik di Indonesia dan punya wawasan yang kaya dalam bidang itu; didukung oleh background beliau yang pernah sepuluh tahun jadi wartawan di Kelompok Kompas Gramedia.&lt;br /&gt;Dua hal itu yang membuat aku tergerak untuk baca AIMSS; dan begitu menutup buku alias khatam, aku tahu indera pengendusku tidak salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang suka novel berbau sejarah, atau in some other ways willing to reveal the truth behind history, mungkin macam Saman (Ayu Utami), Jazz, Parfum dan Insiden (Seno Gumira Ajidarma) atau Lingkar Tanah Lingkar Air (Ahmad Tohari), atau suka film Hotel Rwanda yang menceritakan gerakan separatis dan konflik suku Hutu-Tutsi di Rwanda, sebaiknya – lebih tepatnya: wajib – baca novel AIMSS-nya mas Rudy Gunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, peristiwa yang mengiringi gejolak Papua merdeka yang terjadi di Papua tahun 2000 lalu digambarkan dengan cara yang sederhana, faktual, tapi keren. Peristiwa-peristiwa itu disisipkan dalam catatan-catatan Kasih, seorang tokoh perempuan berkulit putih yang dimainkan oleh Lulu Tobing, di bab 1, 3 dan 6; siaran radio di bab 4 – mengingatkan  aku pada film G30S-PKI ‘n Hotel Rwanda, dimana radio jadi media komunikasi politik yang penting – dan ramuan narasi yang sederhana dan rendah hati, dari kacamata remaja puber: Arnold, Sonia, Minus dan Dominggus. Sejarah seperti hadir dan bermain untuk membawa kita pada satu titik pemahaman tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagaimanapun ini sejarah yang dibalut dengan drama. Dengan hasrat lugu Arnold, remaja Papua yang tiba-tiba begitu ingin mencium seorang gadis berkulit putih bernama Kasih. Dengan kecemburuan Sonia pada ras kulit putih dan primordialisme-nya yang kuat. Kita tak bisa mengharapkan penjelasan yang terlalu utuh dan verbal soal bahasan pokok alias benang merah cerita ini: gejolak gerakan Papua Merdeka. Karena kalau itu yang terjadi AIMSS akan jadi semacam ‘buku sejarah’. Tapi justru di situlah kekuatan novel ini. Selayaknya karakter mas Rudy Gunawan pada tulisan2nya yang lain, AIMSS bukan sang guru yang mahatahu dan tak terbantah, tapi pengajar yang pintar dan kritis, yang terus memacu muridnya untuk bertanya dan berupaya jadi makhluk yang lebih kritis lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well,&lt;br /&gt;Menurutku, jangan ngaku gaul dan book-worm kalo nggak baca buku ini, deh! Terutama yang selalu berharap dapat ‘sesuatu’ dari buku yang dibaca. Dalam hal itu, percayalah: buku ini WAJIB dibaca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112702699632240763?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112702699632240763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112702699632240763&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112702699632240763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112702699632240763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/aku-ingin-menciummu-sekali-saja.html' title='Aku Ingin Menciummu Sekali Saja!!!'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112702666307226067</id><published>2005-09-17T23:53:00.000-07:00</published><updated>2005-09-18T00:10:19.236-07:00</updated><title type='text'>Catatan dari launching Test Pack, Teh Ninit Yunita</title><content type='html'>Potluck café, Teuku Umar 9 Bandung, 17 September 15°° to 18°° pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Pack&lt;br /&gt;Yunita, Ninit&lt;br /&gt;GagasMedia, September 2005 &lt;br /&gt;xiv + 230 hal HVS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...akhirnya aku ke Bandung lagi... &lt;br /&gt;Yup, setelah acara ngobrol bareng di Grand Opening Toko buku QB Bandung waktu itu, baru kemarin aku ke Bandung lagi. Kebetulan banget, pas di hari teh Ninit Yunita meluncurkan novel keduanya: Test Pack. Sore itu aku senang sekali. Bisa ketemu teh Nits ‘n mas Adhit – juga banyak penulis dan calon penulis GagasMedia lainnya macam mb’Fira Basuki, Andy Eriawan, Danni Junus dsb, bisa singgah di Potluck yang asyik abis tempatnya, dan bisa beli Test Pack harga diskon dong.... J&lt;br /&gt;Laporan pandangan mata: acaranya rame banget, Potluck penuh, dan teh Nits signing bukunya sampe kuranglebih 45min lamanya. Bukan kurang kerjaan ngemenitin, tapi soalnya aku berdiri di dekat teh Nits, menunggu antrian abis ‘n sengaja pengen di-sign belakangan supaya bisa ngobrol dengan teh Nits, tapi – sialnya – antrian gak abis-abis, sampai di satu titik aku memutuskan untuk menghentikan penantian yang agak-agak bodoh itu dan ‘menyela’. J Sounds penuh perjuangan gak sih? &lt;br /&gt;Aku nggak terlalu sering datang ke launching buku, tapi jujur aja, baru kali itu aku ngeliat orang segitu  banyak beli buku di acara launching. Konon, di acara launching buku orang jarang beli – itu kata temen-temen GagasMedia Jogja, dan itu pula yang terjadi di launching Sihir Cinta. Logikanya, kalau di acara launching aja bukunya laku, gimana di toko buku?? Hmm... Mungkin teh Nits ‘n mas Adhit memang ditakdirkan untuk jadi penulis best-seller. Dan aku harus belajar banyak pada mereka.&lt;br /&gt;Anyway, acaranya sendiri boleh dibilang seru, karena moderatornya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang oke dan melibatkan audiens selain pembicara: mb’Fira Basuki, Salman Aristo ‘n mas Rudy Gunawan. Di samping itu, banyak temen-temen blogger, multiply ‘n milis PSTC yang dateng juga. Pokoknya, launching Test Pack tob banged dah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... &lt;br /&gt;Sekarang aku lagi mau baca Test Pack, selain Student Hijo, novel mas Marco Kartodikromo – tempo doeloe banget tapi lutju loh! – dan Ihh...Rata! – draft novelnya Ririn (hehe, boleh dong bocor2in, Rin...). Can’t wait to add my personal notes ‘bout these novels! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proficiat, teh Ninit... proficiat jg mas Adhit yang lagi sibuk syut Jomblo...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112702666307226067?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112702666307226067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112702666307226067&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112702666307226067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112702666307226067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/catatan-dari-launching-test-pack-teh.html' title='Catatan dari launching Test Pack, Teh Ninit Yunita'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112687257999197684</id><published>2005-09-16T05:09:00.000-07:00</published><updated>2005-09-16T05:09:40.043-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://www.haloscan.com/" title="HaloScan Commenting and Trackback"&gt;Haloscan&lt;/a&gt; commenting and trackback have been added to this blog.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112687257999197684?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112687257999197684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112687257999197684&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112687257999197684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112687257999197684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/haloscan-commenting-and-trackback-have_16.html' title=''/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112683059899881674</id><published>2005-09-15T17:28:00.000-07:00</published><updated>2005-09-15T17:29:59.000-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Jenuh! Pengen ganti layout, euy...&lt;br /&gt;Gimana kalo rumah Rhein ditata ulang? Kaya'nya lucu yah... Ada masukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112683059899881674?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112683059899881674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112683059899881674&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112683059899881674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112683059899881674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/jenuh-pengen-ganti-layout-euy.html' title=''/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112674865655492594</id><published>2005-09-14T18:04:00.000-07:00</published><updated>2005-09-14T18:44:16.570-07:00</updated><title type='text'>novel adaptasi; keterkotakan dalam layar?</title><content type='html'>catatan diskusi 'novel adaptasi sebagai bagian dari sastra populer', Auditorium Gedung IX FIB UI, Rabu 14 September '05.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya baca beberapa novel adaptasi. Menurut saya, mas Seno sudah melakukan kebaruan dalam BTB. Tapi novel2 adaptasi terbitan GagasMedia terasa terlalu bersetia pada film, tidak ada pemberontakan-pemberontakan. Bagaimana dengan nilai sastra novel adaptasi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya membaca UV. Ada beberapa bagian dalam buku itu yang menurut saya menggigit. Tapi saya tidak menemukannya pada CS, yang menurut saya njelimet."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut saya, sah-sah saja novel adaptasi tidak berbahasa sastra. Novel adaptasi kan hadir untuk mendukung filmnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas adalah beberapa tanggapan yang muncul ketika forum novel adaptasi dibuka. Kita bisa bicara berbagai macam hal, menyoal novel adaptasi. Layaknya beberapa forum serupa, diskusi 'film dalam kata' melahirkan pertanyaan dan tanggapan tak jauh beda. Yang kritis akan selalu bertanya: di mana sebenarnya kedudukan novel adaptasi dalam sastra Indonesia? Mana bentuk pertanggungjawaban para penulis terhadap pembaca sastra di tanah air? Adakah jaminan bahwa penulis akan melakukan kebaruan-kebaruan dalam novel adaptasi yang ditulisnya, untuk memperkaya wawasan pembaca? Yang so-so akan melenggang dan sekadar membubuhkan persetujuan, kalau bukan pujian atau pendapat, yang hampir tak pernah negatif tentang novel adaptasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika forum bergulir dan menghangat, Seno Gumira dengan senyum adem menanggapi: Tak perlu menyoal perkara kesusastraan novel adaptasi. Lihatlah ke depan, fakultas sastra sudah nggak ada lagi. *Gerr...* Sekarang sastra sudah nggak ada. Novel adalah novel. Kemunculan novel adaptasi secara bisnis dan pasar buku menguntungkan, karena mendukung kemunculan filmnya. &lt;br /&gt;Di lain pihak, Rudy Gunawan yang 'duduk di muka' menggantikan A.S Laksana yang berhalangan hadir di forum sebelumnya berkata, ia sengaja 'memaksa' penulis-penulis senior seperti A.S Laksana, Puthut E.A, dsb untuk menulis novel adaptasi dalam rangka meluaskan pasar buku produksi mereka, yang selama ini hanya dikonsumsi kalangan terbatas. Menulis novel adaptasi, boleh jadi merupakan satu cara untuk memperkenalkan para penulis yang karyanya bermutu tapi tak pernah berhasil dinikmati terlalu banyak orang itu kepada khalayak baca yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sependapat dengan Mas Seno Gumira dan Mas Rudy, bahwa menulis novel adaptasi bukanlah perkara yang sepele seperti selalu diduga orang selama ini. Dalam novel adaptasi, penulis ditantang untuk melakukan pemberontakan terhadap teks skenario; menciptakan sesuatu yang ruhnya tak lepas dari film sekaligus menghadirkan kebaruan yang mengikat pembaca pada novel sebagai dirinya sendiri. Bukan menciptakan keterikatan dalam bentuk lain kepada film yang dinovelkan. &lt;br /&gt;Ini sebuah catatan penting ke depan bagi para penulis adaptasi yang ingin mengklaim dirinya tidak terkotak dalam layar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112674865655492594?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112674865655492594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112674865655492594&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112674865655492594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112674865655492594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/novel-adaptasi-keterkotakan-dalam.html' title='novel adaptasi; keterkotakan dalam layar?'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112661616250514025</id><published>2005-09-13T05:53:00.000-07:00</published><updated>2005-09-13T05:56:02.506-07:00</updated><title type='text'>&gt;&gt;perjalananku tersangkut lagi di jakarta &lt;&lt;</title><content type='html'>huaahh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hallo, &lt;br /&gt;akhirnya aku nyampe di sini lagi. well, sebuah ceruk, yang tak terlalu kusukai, tapi selalu bisa membuatku betah untuk sebuah alasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;btw,&lt;br /&gt;see u guys besok dari jam 10 sampe sore di FIB UI, yah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112661616250514025?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112661616250514025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112661616250514025&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112661616250514025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112661616250514025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/perjalananku-tersangkut-lagi-di.html' title='&gt;&gt;perjalananku tersangkut lagi di jakarta &lt;&lt;'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112625432389079738</id><published>2005-09-09T00:20:00.000-07:00</published><updated>2005-09-09T01:25:23.896-07:00</updated><title type='text'>back to campus! &gt;&gt; classic</title><content type='html'>back to campus.&lt;br /&gt;sounds cliche, huh? ya sih, buat sebagian besar orang, terutama yang masih rajin kuliah, kalimat itu kedengaran klise 'n nggak ngaruh banget. tapi buat aku yang beberapa hari ini jadi rajin ke kampus karena ngurusin pemutaran film dalam rangka setahun meninggalnya Munir, yang berarti harus bergaul dengan muka-muka imut angkatan 2003-an - gila, gap-nya aja lima tahun! - kalimat itu terasa 'lebih dalem' dibanding biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;back to campus. *keluh* tiba-tiba aku merasa tenggelam dalam laut perasaan purba. keriuhan plasa sospol, anakanak nongkrong di bawah pohon kepel - tempat mangkal anakanak jurusan komunikasi yang bahkan dipakai untuk diskusi sama dosen - malamalam berdenging di gedung besar BPA sospol...&lt;br /&gt;tibatiba, ketika pada suatu jam aku keluar dari riungan kegiatan dan meluncur di jalanan ramai, rasa klasik yang ntah itu ada begitu saja. rasanya benarbenar ntah. aneh, tapi nyaman dan hangat. kombinasi yang juga jadi terasa aneh untukku, karena aku terbiasa tak punya perasaan nyaman-damai-terkendali di kampusku sendiri - dulu aku merasa lebih nyaman berada di gelanggang mahasiswa ketimbang di fakultas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;back then,&lt;br /&gt;tanpa sadar aku mengeja angka; sudah berapa lama aku pergi dan melupakan kampus? dua, tiga... empat tahun? yup. empat tahun. [terakhir kuliah beneran tuh tahun 2001]&lt;br /&gt;mungkin memang ini saatnya. mungkin kegiatan ini is meant to me, untuk bikin aku go back to campus. mungkin ini waktunya memanjakan perasaan ntah yang aneh tadi; bergaul dengan anak2 angkatan 2003, sometimes ngecengin bronis, bcanda-bcanda a la remaja umur 20 tahun dan nongkrongningkring di bawah pohon kepel...yup. mungkin ini saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;well, anyway... sebuah berita gembira merambat lewat kabel telepon pagi ini. proposal skripsiku bisa dikonsultasikan ke mas Wawan - salah satu dosen cybermedia. itu berarti 80% menuju cap 'disetujui', dan satu langkah lagi menuju keberhasilan.&lt;br /&gt;at least, larilari dan sport jantung dan nangis-darah lantaran stress dan nggak-tidur sampe jam tiga pagi dan nggak-bisa-bobo-tenang-karena-beban-psikologis kemarin membuahkan hasil. just...give me a chance to shout the world: I CAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- doanya, yah. thx a bunch.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112625432389079738?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112625432389079738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112625432389079738&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112625432389079738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112625432389079738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/back-to-campus-classic.html' title='back to campus! &gt;&gt; classic'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112589285527878720</id><published>2005-09-04T20:43:00.000-07:00</published><updated>2005-09-04T21:00:55.286-07:00</updated><title type='text'>novel adaptasi: sastra-anak-bawang?</title><content type='html'>mendiskusikan novel adaptasi barangkali bisa tak ada habisnya. beberapa bulan lalu, komunitas butahuruf, sebuah komunitas membaca-menulis yang baru terbentuk di Jogja, sempat menggelar diskusi mengenai kedudukan novel-novel adaptasi dalam sastra.&lt;br /&gt;ada semacam wacana di kalangan pembaca kritis yang mengatakan novel adaptasi tak lebih sebagai produk budaya populer yang tak ada kontribusinya sama sekali terhadap perkembangan dunia sastra di Indonesia. padahal, sebelum GagasMedia gencar menerbitkan novel2 adaptasi, sudah ada Seno Gumira Ajidarma yang mengadaptasi film Biola Tak Berdawai. padahal lagi, tidak semua novel adaptasi bisa disamaratakan sebagai sastra-anak-bawang, yang notabene tak menarik untuk dikritisi. ketika penulis-penulis 'sastra' [saya sebenarnya tidak suka pengkotakan sastra tinggi - sastra rendah; ini kan sudah zaman posmo] seperti A.S Laksana, Veven S.P Wardhana dan Puthut E.A menulis novel adaptasi, beberapa kalangan kritis mungkin mencibir sebelum sempat membaca karya mereka. kalaupun tidak mencibir, mereka akan menyayangkan.&lt;br /&gt;padahal, apa yang salah dengan novel adaptasi?&lt;br /&gt;menulis novel adaptasi adalah tantangan tersendiri. ia tak seremeh kelihatannya. beberapa penulis yang saya sebut di atas bahkan menciptakan teknik penulisan dan gaya berceritanya sendiri, untuk menghindar dari keterjebakan dalam kungkungan skenario film. apa itu tidak mengkontribusikan sesuatu bagi perkembangan sastra di Indonesia? beberapa waktu lalu, ketika saya melempar wacana soal novel adaptasi di milis pasarbuku, tak ada yang tertarik menanggapi atau mengulasnya. ini membuat saya sedikit curiga: jangan-jangan novel adaptasi memang tak akan pernah punya tempat di dalam sastra Indonesia? menurut Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112589285527878720?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112589285527878720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112589285527878720&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112589285527878720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112589285527878720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/novel-adaptasi-sastra-anak-bawang.html' title='novel adaptasi: sastra-anak-bawang?'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112589178681287740</id><published>2005-09-04T20:30:00.000-07:00</published><updated>2005-09-13T05:52:11.076-07:00</updated><title type='text'>Film dalAm kata</title><content type='html'>&lt;style&gt;  &lt;!--   @page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt;  &lt;div face="verdana" style="text-align: right; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: right; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: right; font-family: verdana;"&gt;   &lt;/div&gt;       &lt;div style="text-align: right; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;Film Dalam Kata&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;Novel Adaptasi Sebagai Bagian Dari Sastra Populer&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;14-15 September 2005&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Auditorium Gedung IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas        Indonesia&lt;br /&gt;Kerjasama GagasMedia dan Departemen Sastra Fakultas Ilmu Pengetahuan    Budaya Universitas Indonesia&lt;div&gt;   &lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p  style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;font-family:verdana;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;September 14&lt;/span&gt;&lt;sup style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;th&lt;/sup&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;, 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;10.00-11.30 :&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Diskusi “Menerjemahkan Skenario ke dalam Novel”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Speaker  : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;A. S Laksana (Penulis Novel Adaptasi "Cinta Silver")&lt;br /&gt;Seno Gumira Ajidarma (Penulis)&lt;/span&gt;&lt;div&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;font-family:verdana;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;11.30-12.00 :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Talk Show dan Book Signing Novel Adaptasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Ungu Violet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Speaker  :  - Miranda (Penulis Novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ungu Violet&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;               - Rako Prijanto (Sutradara Film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ungu Violet&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;font-family:verdana;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;13.30 – selesai : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Pemutaran dan Diskusi Film &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Aku Ingin Menciummu Sekali Saja&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-left: 1.1in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;font-family:verdana;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:100%;" &gt;September 15&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;, 2005 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;10.00-11.30 :&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Diskusi “Novel Adaptasi Sebagai Bagian dari Sastra Populer” &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Speaker :                               &lt;/span&gt;&lt;!-- More information about AbiWord is available at http://www.abisource.com                --&gt;&lt;!-- ================================================================================  &lt;!-- @media print {  body {   padding-top: 1in;   padding-bottom: 1in;   padding-left: 1in;   padding-right: 1in;  } } body {  text-indent: 0in;  text-align: left;  lang: en-US;  text-decoration: none;  font-weight: normal;  font-variant: normal;  color: #000000;  font-size: 12pt;  font-style: normal;  widows: 2;  font-family: 'Times New Roman'; } table {  width: 100%; } td {  border-collapse: collapse;  text-align: left;  vertical-align: top; } p, h1, h2, h3, li {  color: #000000;  font-family: 'Times New Roman';  font-size: 12pt;  lang: en-US;  text-align: left;  vertical-align: normal; }      --&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;-Fira Basuki (Penulis Novel Adaptasi Brownies dan Cinta Dalam Sepotong    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Roti)   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;-Sapardi Djoko Damono (Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univ.    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-left: 1.1in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;font-family:verdana;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;11.30-12.00: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Talkshow dan Book Signing Novel Adaptasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Cinta Silver&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Speaker : - A.S Laksana (Penulis Novel Adaptasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinta Silver&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;               - Luna Maya* (Pemain dalam Film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinta Silver&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.30 – selesai :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Pemutaran dan Diskusi Film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinta dalam Sepotong Roti&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Speaker :     - Fira Basuki (Penulis Novel Adaptasi Cinta Dalam Sepotong Roti)   &lt;br /&gt;- Ibnu Wahyudi (Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univ. Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;!-- &lt;br /&gt;&lt;!-- @media print {  body {   padding-top: 1in;   padding-bottom: 1in;   padding-left: 1in;   padding-right: 1in;  } } body {  text-indent: 0in;  text-align: left;  lang: en-US;  text-decoration: none;  font-weight: normal;  font-variant: normal;  color: #000000;  font-size: 12pt;  font-style: normal;  widows: 2;  font-family: 'Times New Roman'; } table {  width: 100%; } td {  border-collapse: collapse;  text-align: left;  vertical-align: top; } p, h1, h2, h3, li {  color: #000000;  font-family: 'Times New Roman';  font-size: 12pt;  lang: en-US;  text-align: left;  vertical-align: normal; }      --&gt;&lt;div&gt;    &lt;p style="text-align: left;" dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: left;" dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; *)dalam konfirmasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112589178681287740?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112589178681287740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112589178681287740&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112589178681287740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112589178681287740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/film-dalam-kata.html' title='Film dalAm kata'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112565779696804004</id><published>2005-09-02T03:25:00.000-07:00</published><updated>2005-09-02T04:26:34.923-07:00</updated><title type='text'>&gt;&gt; sebuah hari yang tak tenang &lt;&lt;</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/senja.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/senja.jpeg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;...lutcu kalo inget kalimat itu. "Sebuah hari yang tak tenang." Kalimat yang dulu sekali, hampir setahun yang lalu, pernah secara rutin selama kuranglebih seminggu menghias inbox sebagai subject surat elektronik dari seseorang yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yup. dan betapa tak tenangnya hari-hari belakangan ini.&lt;br /&gt;tujuh september, lima hari lagi, ada peringatan setahun meninggalnya Cak Munir. begitu banyak yang mesti dipersiapkan dan semua serba tergesa. padahal besok seharian aku harus 'mengeram' di Sanata Dharma lantaran didaulat ngobrol masalah seksualitas, barengbareng Rm. Setiawan dan Nurul Arifin. ini juga rada bikin nggak tenang, karena meskipun sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, aku tetaplah bukan orang yang paham betul fenomena seks dan cinta remaja. pake 'ajian' kira-kira? duh, kupikir aku nggak pengen jadi kaya' salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sex-spoke-person&lt;/span&gt; di Jogja, yang ngakunya penelitian, tapi setelah bukunya dibaca ternyata banyak pake &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ajian&lt;/span&gt; kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;anyway&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;buku yang tadinya sempat mau kujadikan acuan itu [PANC] emang bikin sedih. menurutku, tidak benar jika seorang penulis melontarkan pernyataan-pernyataan yang 'asal' tanpa didahului riset yang benar, yang jika dipercayai publik akan membawa pada paham yang menyesatkan. untunglah, buku itu tidak membuatku tersesat, karena bagaimanapun aku (dan aku yakin, banyak orang lain juga) cukup cerdas untuk menyaring mana informasi yang 'genah' dan bisa kupercaya, mana yang mesti dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;anyway,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ceritaku mulai melantur tak karuan.&lt;br /&gt;yah...hari memang sudah menjelang senja. dan anganku melantur-lantur entah kemana. ada yang mau menyumbang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;space&lt;/span&gt; di kepalanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak tenang.&lt;br /&gt;ada baiknya mengakhiri hari tak tenang ini dengan secangkir kopi krim, sebatang rokok, dan pemandangan sore dari beranda kos-kosan. ups! aku lupa, aku sudah berhenti berasap.&lt;br /&gt;...dan kini, senja sudah hampir lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-rhein-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112565779696804004?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112565779696804004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112565779696804004&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112565779696804004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112565779696804004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/sebuah-hari-yang-tak-tenang.html' title='&gt;&gt; sebuah hari yang tak tenang &lt;&lt;'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112565668800227210</id><published>2005-09-02T03:20:00.000-07:00</published><updated>2005-09-02T04:22:44.523-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;style&gt;  &lt;!--   @page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:7;"&gt;Munir!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;|&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Inspirasi Solidaritas dan&lt;br /&gt;Perjuangan Kemanusiaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;|&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia Ref,serif;font-size:130%;"  &gt;Mengundang Anda untuk hadir pada acara peringatan setahun meninggalnya aktivis HAM Munir Said Thalib,&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-left: 3.25in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;raBu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;7&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:180%;"&gt;sePtember&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; 2005 &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;10&lt;/span&gt;.00&lt;/span&gt; s.d &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;21&lt;/span&gt;.00&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;                               &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; BPA Sospol&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;UGM, Sekip&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;10.00 – 12.00 : Putar film &lt;i&gt;Batas Panggung &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Bunga Dibakar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;13.00 – 13.50 : Putar film &lt;i&gt;Garuda’s Deadly Upgrade&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;14.00 – 16.00 : Diskusi “Membongkar Pembunuhan Munir Demi Perjuangan HAM dan Demokrasi Indonesia, Kini dan Ke Depan”, bersama Ari Sujito [Sospol UGM], Usman Hamid [KONTRAS], Abdul Mukti [ICM], Hanta Yudha [BEM-KM UGM]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;17.00 – 17.50 : Putar film &lt;i&gt;Bunga Dibakar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia Ref,serif;"&gt;19.00 – 21.00 : Putar film &lt;i&gt;Batas Panggung &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Garuda’s Deadly Upgrade&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; text-indent: -1.25in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia Ref,serif;font-size:130%;"  &gt;kehadiran Anda berarti partisipasi terhadap penegakan hukum dan HAM di tanah air. Terimakasih. Salam!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112565668800227210?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112565668800227210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112565668800227210&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112565668800227210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112565668800227210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/09/munir-inspirasi-solidaritas-dan.html' title=''/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112546658369303786</id><published>2005-08-30T21:13:00.000-07:00</published><updated>2005-08-31T20:42:09.573-07:00</updated><title type='text'>sebuah skandal di malam minggu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/movie.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/movie.jpeg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:verdana;" &gt;aku tau kalian bisa dapat film-fil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:verdana;" &gt;m untuk sepekan sexedu di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:verdana;" &gt; kampus dari temen2 kine.tp kalian tetep kudu minta ijin ke moira.nanti kupertimbangkan.sbg ketua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:verdana;" &gt; moviacz aku yg berhak mutusin.thx.lorca.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sender:&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;+62818324412&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Naud mengernyit membaca sms yang tiba-tiba masuk ke ponselnya tanpa dinyana itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lorca? Laki-laki itu memang pentolan Moviacz, seperti &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang barusan dia bilang. Tapi dari mana dia tau nomer hape-ku?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Lagipula, aku kan udah minta ijin ke Nair? &lt;/span&gt;Ia menggeleng bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seminggu lagi, ia dan teman-teman KineClub membuat acara bertajuk seksualitas di kampus. Salah satu program yang diajukan dan akhirnya diampu oleh Naud adalah pemutaran film-film bertema seks. Bukan blue film, loh. Tapi beberapa filmbuatan lokal yang membahas seks pra-nikah dan punya muatan pesan moral. Semacam film Korea &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sex is Zero&lt;/span&gt; itu, lah. Tapi tentu tak se-vulgar itu (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sex is Zero&lt;/span&gt; sudah mirip BF-nya sendiri di beberapa bagian).&lt;br /&gt;Salah satu rumah produksi lokal yang punya komitmen pada pendidikan seks dan secara konsisten memproduksi film-film bertema 'lendir' tapi mendidik tanpa jadi guru itu adalah Movieacz. Tentu saja, untuk acara ini mereka, tak bisa tidak, harus bekerja sama dengan Movieacz, yang dipentoli oleh Lorca. Kebetulan, film-film produksi Movieacz memang bermutu dan beberapa kali masuk nominasi dalam festival film di luar negeri semacam Singapore Film Festival. Dan Lorca sendiri bukan cuma pentolan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;. Laki-laki itu adalah produser, penggagas ide sekaligus sutradara hampir semua film-film Movieacz. Pendeknya, dia adalah sang motor di Movieacz. Tak hanya itu. Banyak orang bilang, Lorca ganteng. Kurang apa lagi?&lt;br /&gt;Hampir tak ada (Lorca manusia, dan semua manusia pasti punya kekurangan, kan? Yang ini sih nggak usah dibahas-red.). Tapi Naud tak suka padanya. Bagi Naud, laki-laki itu terlampau arogan. Ia tahu, Lorca sadar betul dirinya berbakat, punya kesempatan, sekaligus punya modal untuk membuat para perempuan menggelepar di tangannya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tapi aku nggak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; termasuk salah satu dari mereka&lt;/span&gt;. Naud menggertakkan rahang.&lt;br /&gt;Nah. Kalau akhirnya Naud yang dipasrahi teman-temannya untuk mengurus pelaksanaan pemutaran film, dan ia memilih untuk tidak berurusan dengan Lorca ketika menghubungi Movieacz, itu pun bukan karena ia tak suka pada Lorca. Tidak. Sebenarnya, ia berurusan dengan orang yang jauh lebih senior dari Lorca, pentolan salah satu LSM pendidikan seks yang nota bene adalah teman dekat Naud. Orang yang melindunginya sejak ia masih remaja. Dan - mengimbangi arogansi Lorca - dengan sombong, Naud bisa bilang ia tak butuh Lorca. Vir, orang itu, jauh lebih dihormati di kalangan aktivis. Juga, tentu saja, oleh anak buah Lorca. Atas b&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;antuan Vir, Naud berhasil mendapatkan film-film yang dia butuhkan. Dan untuk itu, Vir cukup menjentikkan jari.&lt;br /&gt;Naud mengerutkan kening, sebal. Mungkin Lorca belum tahu soal ini. Karena tiga hari terakhir ini laki-laki itu sedang tak 'mengeram' di Movieacz. Ia sibuk 'berwisata' ke daerah-daerah, mengurus berbagai workshop film di kampus-kampus. Kemarin, Naud berurusan dengan Nair, divisi humas Movieacz. Tentu saja, tanpa lampu hijau dari Nair, Naud dan teman-teman tak akan mungkin berani bergerak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Memangnya aku nggak paham prosedur, apa? &lt;/span&gt;Rasa sebalnya kini bertumpuk-tumpuk makin tebal. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan-jangan bukan Lorca yang ngirim sms ini. Jangan-jangan orang sirik. Lagian, mana mungkin sih Lorca bisa dapet no.hpku?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Cemberut campur tak percaya, Naud mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya. Sebuah sms untuk seorang teman, yang diketahuinya pernah dekat dengan Lorca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;kamu tau no.hp lorca? butuh. thx ya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;option-send-search-Zeela-send.&lt;br /&gt;message sent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghempaskan ponselnya kesal ke atas ranjang. Lalu kembali pada baris-baris kalimat di layar pc-nya. Naud harus menyelesaikan press release untuk acara itu, tapi kini kepalanya terasa penuh. Kalo bukan Lorca, lantas siapa lagi pengirim sms yang mengaku bernama Lorca itu? Apa ada yang tak suka deng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;an kepengurusannya di salah satu program Sexedu? Tapi, kalau dia betul-betul Lorca, darimana laki-laki arogan itu tahu nomor ponselnya? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atau aku memang terkenal?&lt;/span&gt; Naud tersipu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tentu saja, siapa yang tak kenal Naudiva anak Hukum? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lamunan Naud terputus oleh getar sms masuk di ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Zeela.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;Sori, gw g punya.tnya aja ke kantr movieacz, 567342.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lagi-lagi Naud mengernyitkan kening. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mana mungkin Zeela nggak punya no.nya Lorca? Bukannya dua bulan kemarin kaya'nya mereka pacaran? Itu sih, seantero dunia juga tahu. Ah, dasar pelit!&lt;/span&gt; Naud mencibir tajam. Lalu kembali mengirim sms berisi pertanyaan yang tadi dikirimnya ke Zeela, kali ini pada Vir. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kak Vir pasti tau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; &gt;&gt; Beberapa menit kemudian....&lt;br /&gt;ponselnya bergetar lagi. Sms. Naud buru-buru membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Beluvd Vir&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;0818324412. ada apa,naud?masalah film?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Naud menggigit bibir.&lt;br /&gt;Belum sempat ia mengetik balasan, tiba-tiba ponselnya bergetar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Zeela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Naud,gw mohon lu ga'usah hubungi Lorca.Dia cowok yg gw cintai skrg.Lu tau kan?Just be happy 4 me,thx.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;????????????&lt;br /&gt;........$%#^#%@&amp;!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dodol! Kamu pikir aku mo ngerebut Lorca dari kamu??? Get out of here! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat lamanya, Naud merasa sangat bodoh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam waktu setengah jam, seorang laki-laki arogan tanpa juntrungan telah mengirim pesan yang menurutnya sangat konyol, dan seorang perempuan yang merasa memiliki laki-laki itu, yang nota bene (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Helloooow...?&lt;/span&gt;) adalah teman baiknya sejak kecil 'mengaum' marah kepadanya karena berpikir ia bermaksud mendekati Lorca? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;For God's sake, skandal macam apa ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/movielife1.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/movielife1.jpeg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;option-reply to Beluvd Vir&lt;br /&gt;ga'da,kak.Dunia emang aneh.Miss u!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;option-send-OK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;message sent.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112546658369303786?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112546658369303786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112546658369303786&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112546658369303786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112546658369303786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/sebuah-skandal-di-malam-minggu.html' title='sebuah skandal di malam minggu'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112477459276724733</id><published>2005-08-22T22:06:00.000-07:00</published><updated>2005-08-22T22:23:12.773-07:00</updated><title type='text'>*sigh* t-e-r-r-i-b-l-e</title><content type='html'>today i feel terrible.&lt;br /&gt;last night i've just finished one work.&lt;br /&gt;like most of my works, i dedicate it to my beloved one.&lt;br /&gt;ok, it's a different kind of work, but all i wanna tell is&lt;br /&gt;that i could do it, like some other person could.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;but what do I got for now? a misunderstood.&lt;br /&gt;only a misunderstood.&lt;br /&gt;misunderstood-of-the-day!!!! Horraaayy...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[God, thank's a lot. Don't push me to quit.]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112477459276724733?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112477459276724733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112477459276724733&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112477459276724733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112477459276724733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/sigh-t-e-r-r-i-b-l-e.html' title='*sigh* t-e-r-r-i-b-l-e'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112477350192421030</id><published>2005-08-22T21:28:00.000-07:00</published><updated>2005-08-22T22:05:01.940-07:00</updated><title type='text'>FTW: ++ Outline, Perlukah? ++</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kalau ada penulis buku yang menulis tanpa menggunakan &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt;, kemungkinan besar dia adalah penulis fiksi. Berkali-kali saya cerita bahwa Tom Clancy mengatakan ia menulis novel seperti Anda membacanya. Artinya, Tom Clancy sebenarnya tidak pernah tahu bagaimana alur novelnya hingga selesai. Nah, memang kebanyakan penulis fiksi (novel, cerpen) tidak pernah membangun kerangka (&lt;em&gt;outline&lt;/em&gt;) nyata ketika menulis, yaitu yang tersurat. Umumnya, kerangka atau alur penulisan fiksi secara abstrak sudah ter-&lt;em&gt;setting &lt;/em&gt;di benak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebenarnya, perlukah kita membuat &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt; sebelum menulis buku? Kalau  yang dimaksud buku nonfiksi, seperti buku resep, buku kiat, buku teks, buku panduan, ataupun buku referensi, tampaknya &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt; memang perlu untuk memudahkan pemetaan pikiran. Nah, &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt; itu ibarat gambaran daftar isi buku yang kita mulai dari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;judul bab&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;sub judul&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;sub-sub judul&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Demi menciptakan diferensiasi dan keunggulan buku maka isi buku pun dilengkapi dengan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;pengayaan (&lt;em&gt;enrichment&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;visualisasi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;quotation&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pengayaan lagi tren dalam penulisan buku nonfiksi, terutama buku-buku &lt;em&gt;how to&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;self-improvement&lt;/em&gt;. Misalnya, pengayaan ditampilkan dalam boks-boks yang berisi materi khusus dan materi-materi ringan. Penulis yang mampu menggunakan pengayaan ini adalah penulis yang banyak membaca dan menggunakan referensi paling tidak lebih dari 10 buku atau juga  yang berasal dari internet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Visualisasi juga membuat buku semakin berisi dan menarik. Beberapa penulis yang menciptakan ide-ide baru kerap membuat visualisasi peta konsep, misalnya peta konsep &lt;em&gt;cashflow quadrant&lt;/em&gt; oleh Robert Kiyosaki, peta konsep PDB oleh Hermawan Kartajaya, atau peta konsep ESQ oleh Ary Ginanjar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Quotation&lt;/em&gt; adalah kutipan ungkapan, ayat suci, atau kata-kata bijak yang banyak terdapat pada buku-buku &lt;em&gt;self-improvement&lt;/em&gt;. Terkadang &lt;em&gt;quotation&lt;/em&gt; ditampilkan besar-besar atau dengan huruf-huruf dinamis yang mengikat perhatian. Dengan &lt;em&gt;quotation&lt;/em&gt; juga naskah buku menjadi lebih kaya dan sarat perenungan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari bahan-bahan tersebut maka Anda bisa meramu sebuah &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt; yang punya daya pikat. Jika &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt; sudah tersusun, Anda pun bebas menulis dari mana saja. Misalnya, mau menulis atau lagi &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt; menulis bab 3 atau bab 7, ya silakan. &lt;em&gt;Outline&lt;/em&gt; juga nanti bisa membuat kita berpikir soal struktur tulisan. Misalnya, bab 6 seharusnya jadi bab 5 sesuai dengan urutan, sah-sah saja kita ubah sebelum dikirim ke Penerbit. Apakah penerbit bisa mengubah &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt;? Mungkin saja. Perubahan &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt; dalam konteks &lt;em&gt;editing&lt;/em&gt; naskah termasuk perubahan besar atau sering disebut &lt;em&gt;editing&lt;/em&gt; berat. Perubahan ini bisa dalam bentuk perubahan struktur atau urutan bab dan subbab, bisa juga bentuknya berupa penghilangan atau pemampatan bab. Semua itu bergantung kacamata editor yang juga akan beradu argumen dengan Anda sebagai penulis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Begitulah…. &lt;em&gt;outline&lt;/em&gt; penting untuk naskah nonfiksi, tetapi tidak untuk naskah fiksi. Jika Anda mengajar anak menulis, umumnya kecenderungan mereka adalah fiksi. Karena itu, jangan paksa mereka membuat kerangka terlebih dahulu. Itulah pengalaman menulis waktu SD dulu. Menulis kerangka terkadang lebih lama daripada menulis cerita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Bambang Trim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;[dari milis &lt;a href="mailto:pasarbuku@yahoogroups.com"&gt;pasarbuku@yahoogroups.com&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112477350192421030?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112477350192421030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112477350192421030&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112477350192421030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112477350192421030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/ftw-outline-perlukah.html' title='FTW: ++ Outline, Perlukah? ++'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112426042145998730</id><published>2005-08-16T23:24:00.000-07:00</published><updated>2005-08-16T23:33:41.463-07:00</updated><title type='text'>60 tahun indonesia merdeka # 1</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;...satu bukti kesewenang-wenangan politik di zaman orde baru... pathetic!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#006600;"&gt;Pemecatan Seorang Puteranya Dari Fakultas Sosial-Politik UI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Kolom Ibrahim Isa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada suatu hari (sekitar tahun 1981-an) senat fakultas sosial-politikUniversitas Indonesia mengadakan rapat di kantor senat yang dihadiri olehseluruh pengurus senat. Dalam rapat tersebut Alex Irwan berinisiatif menghadirkan Pramoedya Ananta Toer di kampus UI, sampai kemudian disepakati dan diputuskan bahwa segenap pengurus senat fakultas sospol akan menyelenggarakan acara kampus dengan mengundang Pram selaku pembicara tunggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebagai salah seorang pengurus senat, Ferdi (salah satu putera Joesoef Isak) ikut juga menghadiri rapat tersebut, dan serta-merta membaca adanya gelagat yang kurang baik mengenai hasil keputusan rapat. Betapa tidak (pikir Ferdi), suatu universitas negeri terbesar dan terkenal berani-beraninya menyelenggarakan acara kampus dengan mengundang seorang tapol yang baru pulang dari Pulau Buru. Ya, meskipun Pramoedya seorang sastrawanterbesar dan termasyhur, dan karya-karyanya diakui oleh dunia internasional, bagaimanapun ia adalah seorang mantan tapol, seperti juga ayahnya sendiri. Apakah tidak kepikiran oleh anak-anak muda seangkatannya itu mengenai hal-halyang bakal terjadi? Baru saja ayahnya terbebas dari interogasi berturut-turutyang melelahkan di Kejaksaan Agung, dan hal itu disebabkan tiada lain karena penerbitan buku-buku Pramoedya itu sendiri. Dan sekarang? Kawan-kawannya itu mau mengundang sastrawan besar itu selaku pembicara utama? Waduh, waduh…. Sebagai anak tapol Ferdi betul-betul sadar akan risiko yang tidak kecil yang bakal menimpa kawan-kawannya, juga menyadari dampaknya terhadap dirinya sendiri selaku bagian dari kepengurusan senat. Namun demikian ia pun memilih untuk diam, karena bagaimanapun ia harus berusaha bersikap demokratis kepada hasil keputusan rapat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maka tibalah waktunya ketika suatu pagi ia bertanya kepada ayahnya mengenai rencana kehadirannya di kampus UI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Hadir untuk apa?" tanya sang ayah singkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho? Apakah Ayah belum menerima undangan?" Ferdi balik bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Undangan dari mana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya dari UI."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Memangnya ada acara apa di UI?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bukankah nanti siang Pak Pramoedya mau berceramah di sana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa?!" Serta-merta Joesoef tersentak kaget. Ia menatap Ferdi dengan seksama, seakan-akan tidak mempercayai pendengarannya. Akhirnya Ferdi pun berusaha mengendalikan suasana dengan menceritakan semua yang terjadi mengenai inisiatif kawan-kawan yang berambisi menghadirkan Pramoedya selaku penceramah. Ferdi mengakui bahwa dirinya tak dapat berbuat banyak karena semua itu adalah hak kawan-kawan yang telah diputuskan secara demokratis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dan siang itu juga, penyelenggaraan acara berlangsung dengan sangat meriah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pramoedya berbicara dengan tegas dan lantang seperti biasa, menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan yang dikemukakan secara antusias oleh para mahasiswa. Ketika itu-boleh dibilang-acara dapat terselenggara dengan sukses dan gemilang. Sambutan-sambutan segenap mahasiswa begitu semarak dan ramainya. Namun kemudian apa yang terjadi…?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keesokan harinya datanglah keputusan dari pihak rektorat bahwa empat mahasiswa dikenakan pemecatan dari kampus UI, termasuk Ferdi adalah salah satunya. Surat pemecatan segera disampaikan kepada pihak orang tua, dan konon keputusan itu atas perintah langsung dari Menteri Pendidikan Daud Yusuf.                        &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;(dari milis &lt;a href="mailto:membacapramoedya@yahoogroups.com"&gt;membacapramoedya@yahoogroups.com&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112426042145998730?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112426042145998730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112426042145998730&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112426042145998730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112426042145998730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/60-tahun-indonesia-merdeka-1.html' title='60 tahun indonesia merdeka # 1'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112425978165227074</id><published>2005-08-16T21:32:00.000-07:00</published><updated>2005-08-16T23:23:01.670-07:00</updated><title type='text'>&lt;^_ 17an di rumah rhein _^&gt;</title><content type='html'>karanggayam-djokdja, tujuhbelas agustus '05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....lalu tivi dan jam dinding dan arloji dan matahari dan pucukdaunan teterpa angin dan sobekan suratkabar kemarin dan lembarlembar catatan harian dan pesansingkat yang berdering tak henti di ponsel dan suaramu yang merangkak lewat kabel telpon-gelombang radio-kawat televisi dan airbah katakata yang meledak di setiap ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meneriakkan hari ini; enampuluh tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....lalu pertanyaan itu menghantamku, lagilagi:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;merdeka? merdekakah ini? yang membelenggu-melipatremukkan kita dalam ketidaktahuan menerus? sudah merdekakah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ini?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayupsayup,&lt;br /&gt;ia bersuara lagi. lirih menghembus telingaku: &lt;em&gt;ah, bodoh.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tentu kau tahu jawabnya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;bisiknya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terlampau lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++++++++++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;heay, seberapa 'indonesia'-kah kita?&lt;br /&gt;pernah datang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;ke sini?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;itung-itung merayakan hari kemerdekaan, ga'da salahnya ditilik lagi. itung-itung membangkitkan 'sesuatu yang sudah lama hilang' itu. Kalo lagi senggang, liatliat  ini juga seru: &lt;a href="http://www.tokohindonesia.com/"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tokoh Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; 'n &lt;a href="http://istana.ri.go.id/"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istana Merdeka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Biar nasionalisme kita nggak terus tergerus zaman, 'kali ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;::MERDEKA! MERDEKA! Bebaskan diri dari segala bentuk penjajahan, yang nyata dan yang terselubung! ::&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112425978165227074?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112425978165227074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112425978165227074&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112425978165227074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112425978165227074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/karanggayam-djokdja-tujuhbelas-agustus.html' title='&lt;^_ 17an di rumah rhein _^&gt;'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112416979503055516</id><published>2005-08-15T22:09:00.000-07:00</published><updated>2005-08-15T22:37:08.043-07:00</updated><title type='text'>++ FTW#1: Naskah uniK ++</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Satu kriteria yang membuat naskah punya kans besar diterbitkan oleh penerbit adalah &lt;span style="font-family:arial;color:#333399;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#000000;"&gt;ke&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;color:#333399;"&gt;&lt;strong&gt;unik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#000000;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;nya. Ada empat hal yang merupakan basis keunikan sebuah naskah, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;color:#663366;"&gt;&lt;strong&gt;topik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; yang diangkat oleh naskah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;gaya penulisan naskah (&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;color:#663366;"&gt;&lt;strong&gt;style&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;); &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;format &lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;color:#663366;"&gt;&lt;strong&gt;pengemasan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; naskah; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;color:#663366;"&gt;&lt;strong&gt;judul&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; naskah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Karena itu, salah satu teknik memunculkan keunikan ini adalah dengan dua cara: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;membandingkan buku yang berasal dari naskah sejenis sehingga dibuatlah diferensiasi dari naskah yang sedang digarap &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;memikirkan cara-cara baru mengemas dan memformat naskah, misalnya menggabungkan gaya penulisan popular dan visualisasi untuk membuat naskah lebih hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para penulis pemula tentu harus banyak berlatih untuk menyiapkan naskah &lt;em&gt;first time goal &lt;/em&gt;yang bisa langsung menjebol gawang editorial buku. Karena itu, diperlukan sekali kegiatan membaca, terutama karya buku &lt;em&gt;best-seller&lt;/em&gt; (yang memang belum tentu ditulis oleh seorang penulis buku terkenal) sebagai bahan pelatihan. Buku-buku &lt;em&gt;best-seller&lt;/em&gt; bisa menjadi cermin efektif untuk mengukurnya dengan naskah yang sedang digarap. Jadi, jangan terlalu subjektif menilai naskah Anda layak jual atau unik sekali sebelum Anda memahami bagaimana buku-buku &lt;em&gt;best-seller&lt;/em&gt; bisa diterbitkan dan digandrungi oleh banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada beberapa faktor lain yang mungkin juga berpengaruh terhadap diterbitkannya naskah Anda sebagai naskah potensial. Faktor lain ini bisa juga mendukung keunikan yang ada. Beberapa faktor tersebut: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;color:#339999;"&gt;&lt;strong&gt;Tren&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;. Naskah yang mengikuti tren yang lagi hangat cenderung dapat diterima oleh pembaca dan banyak disukai penerbit yang mengedepankan tren naskah. Misalnya, naskah teenlit ataupun chiklit yang menggejala di satu memang disenangi beberapa penerbit yang berhaluan fiksi remaja. Dan tentu yang dicari adalah yang paling unik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;color:#339999;"&gt;&lt;strong&gt;Momentum&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;. Naskah unik yang muncul sebelum momentum dan justru berkaitan dengan momentum sangat punya peluang diterbitkan. Misalnya, Anda menggarap naskah unik tentang ibadah puasa sebelum bulan Ramadhan dan sangat berbeda dengan buku-buku lainnya, tentu sangat diperhitungkan oleh penerbit. Misalnya, seorang anak kecil menulis buku “Shaum di Mata Anak” tentu bisa berpeluang menjadi bacaan anak &lt;em&gt;best-seller&lt;/em&gt; saat bulan Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;color:#339999;"&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;. Latar belakang penulis yang punya reputasi di bidang yang dia tulis bisa menjadi satu faktor penguat keunikan naskah. Apalagi kalau penulisnya unik dari sisi umur, sisi pengalaman, maupun sisi ketenaran. Anda lihat bagaimana buku anak ciptaan Madonna (&lt;em&gt;English Rose&lt;/em&gt;) menjadi &lt;em&gt;best seller&lt;/em&gt; karena memang ada faktor penulis sebagai seorang selebriti penyanyi, tetapi menulis cerita anak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Apakah berarti kalau naskah Anda ditolak salah satu alasannya karena tidak unik? Bisa jadi memang demikian karena naskah Anda terlihat biasa-biasa saja, ditulis dengan gaya penulis kebanyakan, atau ada kecenderungan meniru-niru gaya yang sudah ada. Karena itu, banyaklah bereksperimen jika Anda ingin menulis naskah buku yang unik. Menulis buku merupakan lompatan, sedangkan menulis artikel atau cerpen ibarat langkah kecil yang tidak memerlukan nafas panjang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selamat menulis dengan segala keunikan Anda!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bambang Trim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;(sumber: milis &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:pasarbuku@yahoogroups.com"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;pasarbuku@yahoogroups.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112416979503055516?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112416979503055516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112416979503055516&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112416979503055516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112416979503055516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/ftw1-naskah-unik.html' title='++ FTW#1: Naskah uniK ++'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112416876368361688</id><published>2005-08-15T21:27:00.000-07:00</published><updated>2005-08-15T22:47:22.380-07:00</updated><title type='text'>First Time Writing Series</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#666600;"&gt;Aku menemukan tulisan-tulisan berikut di milis. Menurutku bagus. Buat mas Bambang Trim, mohon ijin yaa, aku upload di blog-ku... Buat temen-temen, mudah-mudahan berguna yaa...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#666666;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#666666;"&gt;&lt;strong&gt;Marii....menulis!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#666600;"&gt;p.s: ditunggu juga komen-komennya dari yang dah pernah nulis 'n menelurkan buku... Yok bagi2 pengalaman ma temen2!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112416876368361688?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112416876368361688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112416876368361688&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112416876368361688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112416876368361688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/first-time-writing-series.html' title='First Time Writing Series'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112382343939632447</id><published>2005-08-11T21:34:00.000-07:00</published><updated>2005-08-11T22:52:24.356-07:00</updated><title type='text'>ancaman kematian</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff99ff;"&gt;salah satu cobaan yang cukup dilematis, antara mau diketawain atau dianggap perlu diwaspadai, jatuh dari langit hari rabu kemarin. kronologisnya begini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;6.00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;bangun, ucek-ucek, ngulet dikit, tersenyum (kata bijak dari seseorang yang dicintai: mulailah hari ini dengan tersenyum), ambil air wudlu (telat banget tapi cuek) trus sholat shubuh. Lalu hari rabu, 10 Agustus itu diawali dengan sempurna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;6.24&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;mencuci baju-baju yang sudah direndam sejak tengah malam tadi. &lt;em&gt;Emang bener kata si doi, ya... Memulai hari dengan tersenyum bikin semua terasa penuh semangat.&lt;/em&gt; Penuh semangat, sambil berharap mudah-mudahan mencuci adalah sebentuk olahraga tangan, meski belum jelas benar manfaatnya selain sebagai hiburan supaya tetap semangat mencuci.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;7.36&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;ngecek ponsel-ponsel yang bergeletakan di dalam kamar, razia sms. mungkinkah ada sms penting, atau sms 'penting'....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;7.40&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;bengong melototin ponsel dengan wajah mengerut tak percaya. &lt;em&gt;Gile beneeerr, hari gini ada yang ngancam dengan berbuat seolah-olah tahu masa depan?? Apa maksudnya, nih??&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;color:#ff99ff;"&gt;"sesungguhnya Allah telah mendekatkan malaikat Izrail kepadamu. blah blah blah... yadaa yadaa yadaa... aku mengasihimu."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;??????????&lt;/span&gt; Huahuahuahahahaheuheuhiahaohoahahahahahaaaa......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;Selanjutnya, setelah mengalami beberapa saat masa-masa dilematis, aku memutuskan untuk menertawakannya. Tentu saja sambil terheran-heran, kok ada ya orang kurang kerjaan macam itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;maksudnya, bukan takabbur ato apa, tapi masalah 'mati' kan masalah Yang Di Atas. Kalaupun detik setelah ini, aku atau siapa pun ditakdirkan untuk 'dibebastugaskan' dari dunia, toh bukan urusan dia banget. Apa dia lantas merasa mulia karena telah 'mengasihiku' dan memberi 'peringatan' terlebih dulu kepadaku, supaya aku bisa bersiap-siap? Uhm....agak absurd memang, ketika berusaha menerka tujuan si pengirim sms itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;absurd!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;-yeah, like the sender, like the sent. sama &lt;span style="font-size:180%;"&gt;absurd&lt;/span&gt;nya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;ps: tapi at least aku bisa ngebayangin kurang-lebih gimana perasaan Ayu Utami dan Dewi Lestari pas dapet surat dari INSTUPA, xixixixi...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112382343939632447?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112382343939632447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112382343939632447&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112382343939632447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112382343939632447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/ancaman-kematian.html' title='ancaman kematian'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112338678372006909</id><published>2005-08-06T20:12:00.000-07:00</published><updated>2005-08-06T20:57:53.943-07:00</updated><title type='text'>[k-o-m-a]</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Udah baca postingan di bawah? Pasti penasaran, &lt;a style="FONT-SIZE: 130%; COLOR: #006600; FONT-FAMILY: courier new" href="http://frg.blogs.friendster.com/my_blog/12_duabelastandatanya/index.html"&gt;&lt;strong&gt;12 tanda tanya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;itu apa, punya siapa, 'n other blah blah blah. Hehe, well...&lt;br /&gt;&lt;a style="FONT-SIZE: 130%; COLOR: #006600; FONT-FAMILY: courier new" href="http://frg.blogs.friendster.com/my_blog/12_duabelastandatanya/index.html"&gt;&lt;strong&gt;12 tanda tanya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;itu kumpulan cerita pendek-nya mas &lt;span style="font-family:courier new;color:#000099;"&gt;F.X Rudy Gunawan&lt;/span&gt;, kalo nggak salah kumcer yang kedua setelah &lt;em&gt;Zarima, kumpulan cerpen &lt;u&gt;bukan&lt;/u&gt; pilihan KOMPAS&lt;/em&gt;. Nggak ada dong, yang belum tahu mas Rudy Gunawan itu siapa... Beliau kondang karena buku-buku 'catatan zamannya' semacam &lt;em&gt;Budiman Sujatmiko: Menolak Tunduk&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Mendobrak Tabu&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Mengebor Kemunafikan: Inul, Seks dan Kekuasaan&lt;/em&gt;, dan yang paling aku suka: &lt;em&gt;Refleksi Atas Kelamin&lt;/em&gt;. Mas Rudy Gunawan juga menulis novel-novel adaptasi yang keren abis macam &lt;em&gt;Tusuk Jelangkung &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Bangsal 13&lt;/em&gt; yang bakal diterbitkan versi bahasa Inggris-nya oleh &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Monsoon Book&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, S'pore....!! Kueren yah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selain TJ dan B13, mas Rudy juga menulis dua novel: Mata Yang Malas dan Radio Negeri Biru -- this one, kalo nggak salah adalah novel favoritnya &lt;a href="http://istribawel.com"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;teh Ninit Yunita&lt;/span&gt;.&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nhaa, back to the topic, mas Rudy Gunawan baru saja menyelesaikan novel terbarunya: &lt;a href="http://frg.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;[k-o-m-a]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Teaser, pengantar dari pak Budi Darma, dan karya-karya lain bisa dilihat di &lt;a href="http://frg.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;[k-o-m-a]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Pokoknya kueren abiisss deh...!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anyway,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;gila ya. Selain &lt;a href="http://frg.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;[k-o-m-a]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, beliau sedang menyelesaikan novel adaptasi film &lt;em&gt;Aku Ingin Menciummu Sekali Saja&lt;/em&gt;-nya Garin Nugroho. Kadang-kadang, aku terbengong-bengong dan wondering... kok bisa ada yang se-produktif beliau dengan kualitas tetap terjaga, yah... *mupeng, sedikit ngiler*&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112338678372006909?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112338678372006909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112338678372006909&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112338678372006909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112338678372006909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/k-o-m.html' title='[k-o-m-a]'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112322179734118813</id><published>2005-08-04T21:55:00.000-07:00</published><updated>2005-08-04T23:03:17.356-07:00</updated><title type='text'>skenario untuk Munir: sebuah ajakan menulis</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;fade in:&lt;br /&gt;Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir, KASUM, mempersembahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INT. KORIDOR, PAPAN PENGUMUMAN - anytime is possible&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#663300;"&gt;POSTER LUSUH&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;Sejauh mana kita mengenal Munir? Tidak, maaf. Sejauh mana kita mengenal HAM, bergelut, bersetubuh dan mencintainya? Apakah negara kita menghormati HAM, sebesar penghargaan kita kepadanya? Jika ya, dimana bentuk apresiasi kita? Jika tidak, masih pantaskah kita tinggal diam?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Prosa. Sketsa kata. Puisi. Gumaman. Keluh-kesah. Caci-maki. Gugatan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#663300;"&gt;Ekspresikan kepedulian kita terhadap Hak Asasi Manusia. Fokus tema:&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Mengapa Munir Harus Dibunuh?&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#663300;"&gt;Jangan lebih dari&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#6633ff;"&gt;dua halaman A4 spasi satu&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:#663300;"&gt;kirim ke &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onclick="return top.js.OpenExtLink(window,event,this)" href="mailto:pojok_psi@yahoo.com" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#6600cc;"&gt;pojok_psi@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt; selambatnya 14 Agustus 2005&lt;/span&gt;. &lt;span style="color:#663300;"&gt;Sekumpulan naskah terseleksi akan dibukukan dalam kumpulan tulisan "Mengapa Munir Harus Dibunuh?" dan diterbitkan oleh GagasMedia. Tersedia penghargaan sepantasnya untuk naskah-naskah terpilih. Hasil penjualan buku akan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kampanye Penegakan Hak Asasi Manusia dan didedikasikan kepada Munir (alm.) dan seluruh perjuangannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#663300;"&gt;Buku kumpulan tulisan "Mengapa Munir Harus Dibunuh?", diluncurkan bersama buku kumpulan cerpen F.X Rudy Gunawan "12 Tanda Tanya: kumpulan cerpen Matinya Seorang Pejuang" pada acara: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#cc0000;"&gt;Malam Apresiasi HAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Selasa,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;6 September 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Goethe Institut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;19.00 s.d 22.00 WIB&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;Monolog Rieke Dyah Pitaloka tentang Kekerasan Negara&lt;br /&gt;Mimbar Bebas&lt;br /&gt;Peluncuran buku "Mengapa Munir Harus Dibunuh?"&lt;br /&gt;Peluncuran Buku kumpulan cerpen "12 Tanda Tanya"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;Terbuka untuk umum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;cut to&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INT. RUANG GELAP, SPOTLIGHT KE BUKU DI PERMUKAAN MEJA - malam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;12 TANDA TANYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;"Hati itu menggelepar sesaat di tangan perempuan cantik yang belepotan oleh darah segar kekasihnya. Angin pantai laut selatan kembali menghempaskan ombak besar seperti sebuah pelontar gas airmata yang ditembakkan tentara pada para demonstran yang pantang mundur. Yang tidak mengenal lagi apa itu takut, yang hatinya hanya berisi nyali. Hati semacam itu bisa dipastikan adalah hati yang belum terinfeksi oleh penyakit kepentingan apapun. Murni, utuh, belum tergerogoti wabah kehilangan hati.&lt;br /&gt;Ya. Sepertinya, kehilangan hati telah menjadi wabah yang secara diam-diam dan perlahan menggerogoti siapa saja tanpa membedakan suku, golongan, agama, ideologi, atau kategori-kategori perbedaan lainnya. saat ini, manusia-manusia tanpa hati berkeliaran di mana-mana: di panggung politik, di belantara bisnis, di tanah kebudayaan, di terminal-terminal bis, di jalanan, dan bahkan di rumah-rumah keluarga yang sepertinya penuh kebahagiaan." (&lt;em&gt;Tunjukkan Hatimu Padaku&lt;/em&gt;, "12 Tanda Tanya", Juli 2005)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#663300;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#663300;"&gt;"Bom apa, itu nggak terlalu sulit untuk dijawab. Intelijen kita, intelijen asing, tentara kita, tentara asing, pasti bisa menemukan dan menjawabnya."&lt;br /&gt;"Setuju."&lt;br /&gt;"Kenapa bom? Ini mulai sulit."&lt;br /&gt;"Sulitnya?"&lt;br /&gt;"Ya sulit. Kenapa bom? Kenapa harus bom? Ini sebuah pertanyaan sulit. Bom meledak, tubuh-tubuh hangus tak berbentuk, kenapa? Kenapa bom? Bom memang pemusnah yang dasyat, tapi kenapa? Bom…, kenapa bom? Kenapa orang lagi asyik menenggak bir harus dibom?"&lt;br /&gt;"Ya kan emang gitu, namanya juga teror!"&lt;br /&gt;"Teror lain soal. Gua nggak lagi ngomongin atau mikirin teror, gua lagi mikirin bom. Hanya bom, tanpa embel-embel terorisme di belakangnya. Bom. Itu saja. Dan pertanyaannya tetap sama: kenapa bom?" (&lt;em&gt;Bom&lt;/em&gt;, "12 Tanda Tanya", Juli 2005)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#663300;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#663300;"&gt;"Orang Pertama: "Hal ini tak bisa dibiarkan terus. Harus dicari jalan keluarnya, karena kalau benar Dulhasim mengalami metamorfosa dan menjadi perempuan, ini akan menjadi aib besar yang mencoreng citra dunia perpolitikan kita dalam forum internasional. Memangnya politik kita politik banci?!"&lt;br /&gt;Orang keempat: "Sepertinya kita harus menggagalkan proses metamorfosa ini. Betul begitu Pak Ketua?"&lt;br /&gt;Orang pertama: "Sepertinya harus begitu. Bejo, coba kamu urus proyek ini. Kamu jadi PO-nya. Caranya terserah kamu. Yang penting aman, bersih, dan tidak kampungan. Ingat, kamu tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun!"&lt;br /&gt;Bejo: "Siap Pak! Bejo segera laksanakan tugas!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA HARI YANG KETUJUH BELAS, DULHASIM MENINGGAL DUNIA."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;(&lt;em&gt;Metamorfosa&lt;/em&gt;, "12 Tanda Tanya", Juli 2005)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#663300;"&gt;fade out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(iklan layanan masyarakat ini dipersembahkan oleh Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir.)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112322179734118813?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112322179734118813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112322179734118813&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112322179734118813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112322179734118813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/skenario-untuk-munir-sebuah-ajakan.html' title='skenario untuk Munir: sebuah ajakan menulis'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112295684735888033</id><published>2005-08-01T19:41:00.000-07:00</published><updated>2005-08-01T21:27:27.363-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>welcome back to jogja! *sigh*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;well,&lt;br /&gt;ternyata masih begitu-begitu saja. sebuah pagi sunyi yang terlewat tanpa kopi, barangkali cuma sigaret yang singgah menghitamkan sudut bibir. lalu, lagi-lagi...kegelisahan ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112295684735888033?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112295684735888033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112295684735888033&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112295684735888033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112295684735888033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/08/welcome-back-to-jogja-sigh-well.html' title=''/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112167797289084452</id><published>2005-07-18T01:37:00.000-07:00</published><updated>2005-07-18T02:12:52.896-07:00</updated><title type='text'>Gie oh Gie, benci aku!!!!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dududuuuh....! Benci banget deh ama bioskop jogja! FYI, di Jogja yang notabene kerajaan mahasiswa ini cuma ada satu bioskop yang... nggak representatif, nggak nyaman, nggak banget lah, tapi kita nggak punya pilihan lain: Mataram Theatre. Dah gitu, mulanya Mataram - jaman-jaman aku masih SMP-an gitu, means kira-kira 11 taunan lalu (gila, dah tua, ya?!) - punya 4 theatre dan sekelas lah ama 21. Tapi sekarang, kaya'nya cuma ada satu gedung yang berfungsi, secara dari sekian banyak baliho kain promoting movies, cuma satu yang labelnya: hari ini. Yang lain masih dengan malu-maluin bernaung di bawah label: segera!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kenapa aku marah-marah?? Jadi gini ceritanya: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suatu pagi, temen baikku, Marianka, tiba-tiba telpon dan minta jemput di dekat terminal Jombor. Maka, dengan heroik, pagi-pagi aku jemput dia ke sana. Kami pun melaju ke kos-kosanku setelah sebelumnya mampir di swalayan serba ada 'n beli bermacam camilan gitu. Haha, pagi ini rencananya adalah nonton &lt;em&gt;The Phantom of The Opera&lt;/em&gt; (kedua kalinya untukku). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Eh, nggak taunya niat nonton film akhirnya keterusan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Yuk yuk, nonton &lt;em&gt;Gie&lt;/em&gt;!" kataku. Marianka mengerutkan kening.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Emang udah main, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Nggak tau sih, tapi kan sebenernya &lt;em&gt;Gie&lt;/em&gt; main serentak dari tanggal 14 kemaren." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Marianka diam sebentar. Lalu dia jadi sangat bersemangat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Eh, iya iya iya, yuk! Nonton. Ntar jam 3 ya, ketemuan di warnet, ya?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maka dengan penuh semangat, kami pun berpisah dan menjalani aktivitas masing-masing, untuk bertemu lagi di warnet Garage, meeting point sebelum nonton.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jam setengah tiga kurang, aku sampe di Garage. Secara Marianka belum dateng, aku ngenet dulu bentar. Trus trus, limabelas menit kemudian dia muncul. Eh, ketemu temennya pula, Cello. Yang lantas dengan bersemangat langsung menyatakan diri ikutan di acara 'menonton &lt;em&gt;Gie&lt;/em&gt; bersama' ini. Maka, melajulah kami dengan gagah, di atas kuda-kuda besi kami (motor, maksudnya... hehe) menuju the one and only, bioskop tercinta di Jogja: Mataram Theatre. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pas mo masuk, liat baliho kain &lt;em&gt;Gie&lt;/em&gt; yang melambai-lambai. &lt;em&gt;Oh, selamat..&lt;/em&gt; pikirku. Paling udah main. Dengan pede kami pun masuk. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di parkiran, Cello dah masuk duluan. Kami bersibuk nyari duit receh untuk bayar parkir, ketika tiba-tiba mataku tertumbuk di sebuah karton bertulisan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Film Gie, mulai diputar 21 Juli.&lt;/strong&gt; Main: 10.00-15.00-17.00-19.00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku mencolek Marianka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Eh, Mar, itu... Itu..." Aku sampe nggak bisa ngomong apa-apa saking keselnya. Marianka menoleh dan memandang ke arah yang aku tunjukin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Eh... Lho, kok??" Nggak kalah bingungnya, Marianka malah tanya sama Abang Tukang Parkir (bukan sodaranya Abang Tukang Bakso). "Mas Mas, itu kapan ya??" tanyanya sambil nunjuk-nunjuk ke papan karton yang berkibar-kibar penuh kemenangan dan tertawa mengejek kami itu. Sial. Tak kalah mengejeknya, si Abang Tukang Parkir juga tertawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lha itu udah jelas kapan tho, Mbak? Dibaca dulu yang bener...!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;....................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;gubrakk. SIAAAALLLLL....!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dan guess what: Film yang lagi maen di Mataram sekarang masih &lt;em&gt;Ungu Violet&lt;/em&gt;, yang udah aku tonton sejak sekitar sepuluh harian yang lalu. Oh, aku benci bioskop Jogjaaaa....!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Hiks, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;sedih banget deh, orang dah rame2 ngobrolin Gie, aku belum nonton!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112167797289084452?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112167797289084452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112167797289084452&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112167797289084452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112167797289084452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/07/gie-oh-gie-benci-aku.html' title='Gie oh Gie, benci aku!!!!'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112114994759293804</id><published>2005-07-11T23:29:00.000-07:00</published><updated>2005-07-11T23:32:27.596-07:00</updated><title type='text'>Siaran Pers Ungu Violet waktu launching</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tak berjeda panjang dengan pemutaran perdana filmnya, novel adaptasi &lt;em&gt;Ungu Violet&lt;/em&gt; karya Miranda diluncurkan di Panggung Utama Jakarta Book Fair, Jumat 1 Juli 2005, pukul 14.00 s.d 15.30. Novel adaptasi &lt;em&gt;Ungu Violet&lt;/em&gt; diterbitkan oleh penerbit buku-buku populer GagasMedia. Peluncuran novel ini merupakan satu dari rangkaian promo film Ungu Violet produksi SinemArt, yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Rizky Hanggono. Sebelumnya SinemArt dan GagasMedia juga menerbitkan buku &lt;em&gt;The Making of Ungu Violet&lt;/em&gt;, sebuah buku &lt;em&gt;collage&lt;/em&gt; foto dan komentar selama proses pembuatan film. Akan hadir pada acara peluncuran buku, penulis beserta aktor-aktris film Ungu Violet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ungu Violet&lt;/em&gt; berkisah tentang seorang fotografer, Lando (Rizky Hanggono) yang ‘menemukan’ Kalindamarita (Dian Sastrowardoyo), seorang gadis penjaga loket busway. Pertemuan aneh antara mereka membuat keduanya saling jatuh cinta. Adalah Lando pula yang mengubah seluruh perjalanan hidup Kalin hingga akhirnya ia menjadi seorang bintang.&lt;br /&gt;Tetapi buku dan film ini tak melulu berkisah tentang cinta. Karena kemudian, Lando dan Kalin terpisah untuk alasan yang tak pernah benar-benar mereka pahami dan sepakati. Kalin dan Lando menempuh hidup mereka masing-masing selanjutnya, setelah sebuah malam ‘panas’ yang membuat Lando teringat pada trauma dan lukanya. Pada kesia-siaan hubungan mereka. Kalin menyangka Lando mempermainkannya. Kalin tak pernah tahu, Lando menderita sebuah penyakit stadium tiga. Kalin tak pernah tahu, usia Lando tak lama lagi.&lt;br /&gt;Kalin bahkan tak pernah tahu untuk alasan itulah Lando meninggalkannya. Kalin tak pernah tahu Lando mencintainya. Mereka kemudian menemukan jawabannya, ketika pada saat yang sama Kalin mesti kehilangan kedua penglihatannya. Dan pada saat yang sama, Lando menempuh saat-saat terakhir dalam hidup pendeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kalindamarita,&lt;br /&gt;Tak sepasti musim dan waktu, rencana manusia kadang tak berjalan seperti harapan. Kita hanya bisa berkehendak dan berdoa. Selebihnya, Ia berkuasa di luar kita.&lt;br /&gt;Tapi kamu tahu, sepasti musim dan waktu, aku mencintaimu. Selalu. Seperti matahari yang terus terbit mengawali hari dan terbenam demi malam, aku terus menemanimu. Sampai nanti, ketika ragaku tak lagi di dekatmu. Perasaanku padamu tak pernah berujung.&lt;br /&gt;Jika aku boleh berharap,&lt;br /&gt;Aku ingin terus berada di dekatmu, Kalin. Begitu banyak yang ingin kubagi denganmu. Terlalu banyak yang ingin kutunjukkan padamu.&lt;br /&gt;Tapi kematian bukan pilihan.&lt;br /&gt;Juga cinta.&lt;br /&gt;Bagiku, keduanya adalah hidup.&lt;br /&gt;Keduanya bukan pilihan.&lt;br /&gt;Aku akan menjalaninya dengan ikhlas.&lt;br /&gt;Kalaupun waktu tidak lagi bicara banyak, seluruh diriku akan terus mengatakannya kepadamu;&lt;br /&gt;Bahwa aku&lt;br /&gt;Selalu mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lando.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel adaptasi &lt;em&gt;Ungu Violet&lt;/em&gt; adalah karya ketiga Miranda, setelah sebelumnya menulis adaptasi sinetron &lt;em&gt;Dara Manisku&lt;/em&gt; dan novel yang juga akan segera di-layar lebar-kan, &lt;em&gt;Sihir Cinta&lt;/em&gt;. Karya ketiganya ini lebih matang dan dibuat secara lebih berhati-hati ketimbang karya adaptasi pertamanya. Miranda menemukan dengan tepat soul film dan menuangkannya ke dalam novel dalam bahasanya.&lt;br /&gt;Karir kepenulisannya dimulai setahun lalu, ketika Ayu Utami merekomendasikannya kepada FX Rudy Gunawan dan GagasMedia. Selain menulis novel, ia masih menulis cerpen dan puisi. Kini, sembari mempertanggungjawabkan potensi dirinya, Miranda berdomisili di Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112114994759293804?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112114994759293804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112114994759293804&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112114994759293804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112114994759293804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/07/siaran-pers-ungu-violet-waktu.html' title='Siaran Pers Ungu Violet waktu launching'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112089052716572342</id><published>2005-07-08T22:36:00.000-07:00</published><updated>2005-07-08T23:28:47.170-07:00</updated><title type='text'>bt: boros tatakata</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;sabtu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;saturday.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;hari ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;cuma hari membosankan - mengapungkanku tanpa tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;cuma hari terkutuk where ev'thing seems wrong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;cuma tiga hari lagi menuju deadline skenario film Luv's Magick&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;cuma hari, yang menyudutkanku ke sebuah tepian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;tanpa matahari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;tanpa matahari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;tanpa matahari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;(ya iya, goblog! hari-mataharinya besok, tauk! hari ini kapten masih di saturnus!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;(yeah, dan aku makhluk Pluto yang terasing di bumi, mengerut, mengeriput, hampir busuk. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;yang jelas, sendirian.)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112089052716572342?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112089052716572342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112089052716572342&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112089052716572342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112089052716572342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/07/bt-boros-tatakata.html' title='bt: boros tatakata'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112053065988789172</id><published>2005-07-04T18:54:00.000-07:00</published><updated>2005-07-04T19:30:59.893-07:00</updated><title type='text'>Catatan Launching</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jumat, 1 Juli. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Berjalan buru-buru menuju panggung utama. Debur jantung nggak karuan dan kepala mau meledak. Dalam sepuluh detik, mata berputar, scanning manusia-manusia di tempat itu. Di sudut kiri depan ada Rako, the sutradara man, reading Ungu Violet. Di tengah, sosok berbalut topi sibuk diwawancara - I guess, he's the star, 'n tebakanku nggak salah. Di dekat panggung, ada Angel-GagasMedia 'n mas EmKa yang bakal memoderatori acara ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Setelah mengumbar 'hai-hai' di sana-sini, aku duduk manis di deret kursi penonton. Masih dengan jantung berdebur nggak karuan dan kepala mau meledak. Sudah 'anak' ketiga, tapi namanya mau 'bersalin', kontraksinya tetep sama. Bedanya cuma di cara mengatasinya aja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;then, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;tiba-tiba waktu bergerak cepat. Wheew, nggak menduga arena panggung utama saat itu penuh. I know, aku gak akan ge-er, mereka pasti sebenarnya pengen ketemu Dian Sastro 'n Rizky Hanggono, kok. Tapi rasa senang itu nggak bisa diusir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Ada sekitar duabelasan penanya di forum itu; dengan pertanyaan macem-macem. Tapi satu yang bikin aku tercenung adalah: Apa yang membuatku takut ketika menulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Wow.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Apa yang membuatku takut ketika menulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gelap...? hantu...? kebutaan...? ketidakpekaan...? lenyapnya imajinasi...? kering ide? writer's block? komputer ngadat?? nggak ada waktu? terlalu banyak ide berpusar di kepala sampaisampai nggak bisa dituliskan jadi katakata?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;No. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Setelah beberapa saat tercenung, aku menemukan jawabannya. Yang paling bikin aku takut waktu menulis adalah perasaan nggak jujur. Nggak bisa jadi diri sendiri. Setiap anak punya karakter unik, pasti. Tapi ia selalu membawa sifat ibunya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;That's what I afraid for. Nggak menitiskan gen-ku di bukuku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;sumpah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;[sebuah catatan mengingat acara peluncuran dan book signing Ungu Violet, the novel, Panggung Utama Jakarta Book Fair, 1 Juli '05.]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112053065988789172?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112053065988789172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112053065988789172&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112053065988789172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112053065988789172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/07/catatan-launching.html' title='Catatan Launching'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112052814502093939</id><published>2005-07-04T17:53:00.000-07:00</published><updated>2005-07-04T18:49:05.023-07:00</updated><title type='text'>Ungu Violet, the novel</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;A new novel, based on a screenplay of &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Jujur Prananto's Ungu Violet - directed by Rako Prijanto. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;    &lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/Pict0012.jpg" /&gt;   &lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/Pict0013.jpg" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Cast: Dian Sastrowardoyo (Kalin), Rizky Hanggono (Lando). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Written by Miranda, author of Dara Manisku, Sihir Cinta. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Published by GagasMedia, penerbit buku populer.&lt;br /&gt;Available on bookstores, now. Rp 30.000,-&lt;br /&gt;CATCH THE DIFFERENCE! U BET.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112052814502093939?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112052814502093939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112052814502093939&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112052814502093939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112052814502093939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/07/ungu-violet-novel.html' title='Ungu Violet, the novel'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-112015691853432624</id><published>2005-06-30T11:34:00.000-07:00</published><updated>2005-07-03T10:08:27.646-07:00</updated><title type='text'>launching Ungu Violet, loh!</title><content type='html'>Haluu....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rada deg2an, secara ntar siang launching novel ketiga di Pasar Buku Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat yang sempat, ga' da kerjaan, lagi nunggu cucian kering, pengen liat-liat buku, baru bernafas lega abis nidurin anak, dsb dsb dsb, dateng yah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung Utama Pasar Buku Jakarta&lt;br /&gt;Jumat, 1 Juli 2005, 14.00 s.d 15.30 WIS ['S' stands for Senayan, tauk kan? ;)]&lt;br /&gt;Ada Rako Prijanto, Rizky Hanggono, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dateng yah!&lt;br /&gt;muah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-112015691853432624?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/112015691853432624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=112015691853432624&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112015691853432624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/112015691853432624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/06/launching-ungu-violet-loh.html' title='launching Ungu Violet, loh!'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111993917492634255</id><published>2005-06-27T22:10:00.000-07:00</published><updated>2005-06-27T23:18:24.613-07:00</updated><title type='text'>Legenda Komodo di pulau Komodo</title><content type='html'>&lt;img style="WIDTH: 240px; HEIGHT: 119px" height="122" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/komodo7.jpg" width="257" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari &lt;em&gt;Good Morning &lt;/em&gt;hari ini: Konon, orang-orang pulau Komodo di Timur Indonesia percaya, kalau dulu Komodo adalah bagian dari nenek moyang mereka (mudah-mudahan, aku nggak salah berpersepsi, yah..). Mereka percaya kalo asal-usul komodo tuh dari manusia. Jadi, dulu banget, ada manusia yang melahirkan anak kembar. Tapi pasangan kembar itu berbeda spesies. Satu manusia, satu komodo. Sayangnya, orangtua mereka kemudian membedakan perlakuan terhadap dua anak kembar itu, alias lebih sayang dan perhatian sama anak yang wujudnya manusia. Akhirnya, karena sedih, sang komodo pergi dari rumah, masuk hutan, dan menetap di sana sampai beranak pinak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Lihat &lt;a href="http://www.heptune.com/komodo.html"&gt;All 'bout Komodo&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/komodo4.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Warga pulau Komodo biasa hidup berdampingan dengan Komodo. Dan kini, sebagai wujud penghargaan mereka kepada komodo, yang notabene masih sodaraan dengan nenek moyang mereka, warga pulau komodo membuat patung-patung komodo mini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;well&lt;/em&gt;,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;mungkin nggak ya, suatu saat legenda itu berbalik? Tiba-tiba, ada manusia yang ditakdirkan untuk kawin dengan komodo, untuk mengubah takdir hewan yang dianggap masih keturunan dinosaurus alias kadal ter-guede itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;......&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111993917492634255?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111993917492634255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111993917492634255&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111993917492634255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111993917492634255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/06/legenda-komodo-di-pulau-komodo.html' title='Legenda Komodo di pulau Komodo'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111993528183589779</id><published>2005-06-27T21:02:00.000-07:00</published><updated>2005-06-27T22:08:01.840-07:00</updated><title type='text'>Dari Pengamen Jalanan Sampe Supernova</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara badan masih lemes sisa-sisa ambruk seminggu kemarin, pagi hari dibuka dengan sarapan semangkuk bubur (yikes...!) 'n &lt;em&gt;Good Morning + Dorce Show &lt;/em&gt;di trans tv. Program-program favoritku di kala libur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nggak ada yang menarik selain legenda komodo di pulau komodo di &lt;em&gt;Good Morning&lt;/em&gt; (lihat postingan berikutnya). Tapi di &lt;em&gt;Dorce Show&lt;/em&gt;, aku melihat pemandangan menyedihkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tamu Dorce kali ini adalah beberapa orang yang kurang beruntung nasibnya + mbak Kristina Dangdut. Dua yang kurang beruntung nasibnya itu adalah ibu-ibu dan bapak pemulung. si Ibu itu punya dua anak, yang (kalo nggak salah) dua-duanya disuruh jadi pengamen di jalanan. Dan dia ngawasin di deket-deket situ. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebenarnya fenomena ini sih nggak baru lagi, dan kita kerap melihatnya di sudut jalanan mana pun, apalagi di Jakarta. Tapi &lt;em&gt;I can't believe it&lt;/em&gt;: si Ibu tuh keliatan tenang-tenang banget dan &lt;em&gt;just&lt;/em&gt; senyum-senyum menanggapi pertanyaan-pertanyaan Dorce. Maksudnya: Sama sekali nggak ada perasaan 'bersalah' atau 'berdosa', atau apa lah, yang tersirat di mukanya, sedikiiii..it aja. Dia kelihatan ikhlas banget anaknya kerja begituan di jalan, sementara dia sendiri nggak jelas kerjaannya apa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari sebelumnya, aku sempet ngeliat sekilasan di program lain tentang hal yang sama. Ibu yang membiarkan anaknya yang cacat jadi pengamen. Di &lt;em&gt;Good Morning&lt;/em&gt; sebelumnya juga sempat diangkat soal remaja yang terpaksa kerja jadi 'teman nongkrong' di warung remang-remang di Puncak, dan tanggapan ibunya. Tapi dari tiga program berbeda yang aku liat itu, nggak ada yang ekspresi ibunya se-cuek yang aku liat di &lt;em&gt;Dorce Show&lt;/em&gt; pagi tadi. Gila! Aku jadi mikir, sebenernya dia sayang nggak sih, sama anak-anaknya? Jangan-jangan dia juga pernah nyewain anak-anaknya ke pengemis yang lain, kaya' yang biasa kita tau, yang terjadi di sekitar kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jadi inget &lt;em&gt;Supernova Petir&lt;/em&gt;-nya Dee. Ada kalimat yang aku suka banget: kalimatnya Ibu Sati ke Elektra (yang saking senengnya sampe aku kutip di skenario film SC &lt;em&gt;draft&lt;/em&gt; kedua) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setiap orang sudah memilih peran uniknya masing-masing sebelum mereka terlahirkan ke dunia. Tapi, semua orang juga dibuat lupa terlebih dahulu. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;just wondering&lt;/em&gt;, jalan yang sekarang mereka - ibu dan anak" itu tempuh - adalah peran unik yang mereka pilih itu kah, atau mereka hanya 'masih lupa'? Trus, kalo jawabannya yang kedua, mau sampe berapa lama mereka lupa? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;......&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111993528183589779?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111993528183589779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111993528183589779&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111993528183589779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111993528183589779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/06/dari-pengamen-jalanan-sampe-supernova.html' title='Dari Pengamen Jalanan Sampe Supernova'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111894063196369169</id><published>2005-06-16T09:47:00.000-07:00</published><updated>2005-06-20T01:07:24.906-07:00</updated><title type='text'>Catatan Kaki di ujung malam jum'at</title><content type='html'>1…2, 3… &lt;em&gt;Well, I’ve been here for five days&lt;/em&gt;: Jakarta. Besok waktunya pulang ke tanah air dengan setumpuk tugas di tangan. Membenahi sebuah tulisan non-fiksi, dan mengelaborasi skenario cerita &lt;em&gt;Sihir Cinta&lt;/em&gt;, yang draft keduanya sudah harus kelar akhir Juni nanti. Judulnya: &lt;em&gt;mumet&lt;/em&gt;! Musnahlah impian soal liburan, setelah berkutat dengan naskah novel &lt;em&gt;Ungu Violet&lt;/em&gt; yang, sumpah mati, dikerjakan dengan sangat serius dan hati-hati itu. ^_^) Anyway, pekerjaan ini kerasa nggak berat karena dia-yang-tak-boleh-disebut-namanya suka sekali menulis, dan pekerjaan ini sebagian bakal dirampungkan di rumah bersama mamah tercinta: Indramayu. Huuhuyy…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info penting: senja tadi sebuah pertemuan rahasia dan bawah tanah telah terjadi; antara dua penulis muda perempuan: Icha Rahmantie dan Miranda, dengan seorang penulis top senior: Bp. F.X Rudy Gunawan. Satu orang &lt;em&gt;media relation&lt;/em&gt; turut menyusup bersama Icha: kawan Benny La Luna. Persis ketika matahari tinggal segaris dan hanya menyisakan gurat merah di langit muram Jakarta yang penuh polusi, keempat orang itu bertemu muka di sebuah markas yang, demi alasan keamanan, terpaksa disamarkan posisinya. Sebut saja, JT.&lt;br /&gt;Oh tidak, pertemuan rahasia itu tentu saja bukan untuk sebuah kolaborasi penulisan yang akan mengungkap misteri fantastis terjualnya kolor Madonna seharga tujuhbelas juta. Bukan juga untuk merencanakan investigasi terhadap kasus Reza dan Ary Suta yang ‘konon, anu tapi selalu di-anu oleh si anu’ itu. Tidak. Pertemuan rahasia itu berlangsung demi sebuah misi mulia: meningkatkan partisipasi pembaca dalam aktivitas konsumsi dan apresiasi buku-buku populer Indonesia. Nah.&lt;br /&gt;Terciumnya pertemuan rahasia itu oleh beberapa pihak yang diperkirakan bakal mengancam kelangsungan rapat dan mengganggu misi membuat keempat pejuang berhati mulia itu melakukan mobilisasi. Setelah empatpuluh lima menit menanggung debar jantung akibat macet (mengutip peringatan pemerintah: macet dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin), keempat-empatnya kemudian terpuruk di sebuah sudut café di Plaza Semanggi. Di sanalah, mereka melanjutkan pertemuan rahasia itu; limabelas menit pertama bersama seorang pejuang simpatisan: Mr. Richard Oh. Malangnya, setelah menikmati sepiring nasi goreng fuyunghay dan ayam-tanpa-tulang-bumbu-bawang-pedas, pertemuan yang sedianya direncanakan untuk mengusut tuntas perkara ‘konsumsi dan apresiasi’ itu bergeser menjadi sebuah obrolan &lt;em&gt;ngalor-ngidul&lt;/em&gt; sekaligus reuni antara keempatnya. Wheew, Indonesia, kau tak bisa melewatkan satu hari saja tanpa ngobrol &lt;em&gt;ngalor-ngidul&lt;/em&gt;, tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^_^)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun, pertemuan tadi sore membawa inspirasi dan pencerahan, terutama bagi kami yang muda-muda: Icha ‘n aku, secara Richard Oh menceritakan tentang sebuah novel luar (lupa judulnya, mesti dikonfirm lagi) yang mewarnai seluruh cerita dengan ironi kata dan ungkapan, tidak dengan insiden dan alur, seperti yang masih dilakukan oleh sebagian besar penulis baru Indonesia. Paling tidak, memancing untuk membaca novel yang direkomendasikannya, syukur-syukur belajar menerapkan. Meski pasca-perundingan kami menyimpulkan bahwa kultur Indonesia, juga karakter pembaca yang berbeda, belum memungkinkan lahirnya novel serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan juga sempat berputar di soal &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt; film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Icha – menurutku juga sih, lagu Padi, “Menanti Sebuah Jawaban” yang dipakai jadi &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt; film Ungu Violet nggak cocok alias &lt;em&gt;soul&lt;/em&gt;-nya nggak masuk ke dalam film. Lagu-lagu indie yang jadi &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt; film Janji Joni masuk kategori lumayan cocok. Kata Richard Oh, para penata musik film Indonesia belum bisa bikin &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt; yang bener-bener ‘merasuk’ dan nyatu dengan filmnya. Oh, jadi terpikir… &lt;em&gt;Soundtrack&lt;/em&gt; macam apa yang cocok buat film Luv is Magick, yah? Melly Goeslaw? Hmmm…. Peter Pan? Hmmm. (angkat-angkat bahu) Masa’ sih Katon Bagaskara? Yogyakarta?? &lt;em&gt;Get out of here&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hum. Tapi memang belum waktunya berpikir tentang &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt;. Skenario menunggu. Ada yang mau urun saran tentang &lt;em&gt;opening&lt;/em&gt; film? Kata Icha, Nimbus asyik dipakai sebagai &lt;em&gt;opening shot&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Any other suggestion&lt;/em&gt;? (rada bingung nih…)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111894063196369169?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111894063196369169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111894063196369169&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111894063196369169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111894063196369169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/06/catatan-kaki-di-ujung-malam-jumat.html' title='Catatan Kaki di ujung malam jum&apos;at'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111868048929285774</id><published>2005-06-13T09:33:00.000-07:00</published><updated>2005-06-13T09:34:49.296-07:00</updated><title type='text'>:: Love is Magick script; yummie...! ::</title><content type='html'>Trivia quiz for today:&lt;br /&gt;1. Kenapa Ary Suta bisa suka banget ama Rhein Prabasnaya yang ‘phreak’ itu?&lt;br /&gt;2. Bapak Syahreza Sudarsa yang cool, calm ‘n confident itu sebenernya [sorry] ‘ngehe’ gak sih?&lt;br /&gt;3. Malam itu, ketika Rhein akhirnya bersedia menemani Reza di hotel Bibis, benarkah semalaman mereka tak melakukan apa-apa, kaya’ pengakuan Rhein ke Mita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe, &lt;br /&gt;Itu tadi sederet pertanyaan yang terlontar pas diskusi soal film Sihir Cinta. Dasarnya adalah draft pertama skenario Love is Magick by John de Rantau. &lt;br /&gt;John de Rantau adalah sutradara berbakat yang lebih dikenal sebagai sutradara sinetron dan FTV. Bulan April kemarin filmnya, Looking for Madonna, diputar di ajang Singapore International Film Festival (SIFF). Looking for Madonna berkisah seputar kasus HIV AIDS di Papua. Selain itu, tahun 2001 John mengangkat cerpennya Seno Gumira Ajidarma alias ‘mas mira’, Taxi Blues, ke layar lebar. Wheeew, cool…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, &lt;br /&gt;Nde next trivia quiz is…. Siapa yang bakalan ke-casting jadi Reza Sudarsa? Ada yang berminat daftar? Ato mau ikut casting jadi Nimbus? &lt;br /&gt;[btw, kenapa ya aku suka sekali mengakhiri postinganku dengan ‘menyerahkan’ situasi pada Nimbus? Hmmm…. Menarik loh, untuk diteliti. Apakah ada sepercik gen kucing yang menitis dalam diriku? Atawa jangan2 aku reinkarnasi dari dewi Bahst alias Ubastet?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111868048929285774?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111868048929285774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111868048929285774&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111868048929285774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111868048929285774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/06/love-is-magick-script-yummie.html' title=':: Love is Magick script; yummie...! ::'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111837551065559004</id><published>2005-06-09T20:23:00.000-07:00</published><updated>2005-06-09T20:51:50.660-07:00</updated><title type='text'>"Cerai = sampah masyarakat?"</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pagi-pagi, seorang teman baik tiba-tiba kirim sms yang bikin hati miris. Bunyinya: &lt;em&gt;kenapa sih orang cerai dianggap kaya' sampah masyarakat?&lt;/em&gt; Oh Tuhan, Oh Mama, Oh Papa....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bagi warga metropolitan sono, bercerai bukan hal baru. Tidak ada 'kengerian sosial' yang mesti mereka hadapi; &lt;em&gt;judgement&lt;/em&gt;, bisik-bisik tetangga, gosip miring, pandangan meremehkan etc, etc, etc. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapi keadaannya tidak begitu di banyak tempat, rural terutama. Di Jogja, kengerian sosial macam di atas masih jadi momok yang mesti dihadapi, bila seseorang memutuskan untuk bercerai. Buatku, kengerian sosial itu sungguh mengerikan. Ini sih klise tapi bener banget: Siapa sih yang lebih paham yang terbaik untuk diri sendiri selain diri sendiri? Lantas kalau ya, kenapa orang-orang masih saja mengorbankan diri sendiri demi kepuasan mata dan batin masyarakat? Sinting. Kenapa orang-orang sekitar yang mestinya saling mendukung satu sama lain malah jadi bikin parno satu sama lain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pagi itu, jawabanku via sms cuma satu kalimat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mana yang lebih sakit otak, sebenarnya?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sebenarnya, yang begini-begini ini salah satu yang bikin orang takut menikah. Gimana mau nikah, kalo belum-belum udah takut cerai? Karena ketika cerai, bakal ada cap yang lengket di badan dan nggak hilang meski dicuci tujuhratus tujuhpuluh tujuh kali pake bunga tujuh puluh rupa pada tujuh tengah malam! =&gt; berlaku pada pengidap cap berjenis kelamin perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Lantas paranoia ini bikin 'wabah' yang lain: &lt;em&gt;kalo takut nikah, samen leven aja 'kali ya...? Lebih aman, gitu loh. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nah lho??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Jadi, &lt;em&gt;back to my former question&lt;/em&gt;: Mana yang lebih sakit otak, sebenarnya?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;Or... should I ask&lt;/em&gt; Nimbus? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111837551065559004?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111837551065559004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111837551065559004&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111837551065559004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111837551065559004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/06/cerai-sampah-masyarakat.html' title='&quot;Cerai = sampah masyarakat?&quot;'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111819837064657728</id><published>2005-06-07T19:19:00.000-07:00</published><updated>2005-06-07T19:44:20.830-07:00</updated><title type='text'>Orgasme ala Waria</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Gimana sih, memenuhi kebutuhan biologis kamu?”&lt;br /&gt;“Kalo itu sebenarnya cuma perkara teknis, ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk bengong di depan TV. Minggu pagi. Seperti biasa, hari ini waktunya bangun siang. Semalam aku bertahan baca buku baru, yang kemarin dihadiahkan Ary Suta buatku.&lt;br /&gt;“Nih, buat iseng-iseng,” Si doi menyodorkan buku bersampul hijau bergambar gokil itu. Hmm, kaya’nya lucu juga nih. Dan ternyata memang lucu. Maka semalaman aku bertahan membaca habis buku 230-an halaman itu – 237, tepatnya. Setelah beberapa kali jatuh tertidur, tapi bolak-balik terbangun lagi dan dengan keras kepala berusaha meneruskan membaca, akhirnya jam 3 kurang seperempat buku ringan nan lucu itu khatam juga dibaca. Walhasil, minggu pagi ini aku baru melek dan ucek-ucek mata jam setengah sembilan pagi.&lt;br /&gt;Secara bangun siang, kegiatan rutin tetap mesti berjalan: mencari-cari Nimbus untuk dijadikan korban dikerjain, malas-malasan beranjak ke dapur untuk bikin secangkir kopi krim, ribut sebentar kehilangan &lt;em&gt;my breakfast compliment&lt;/em&gt;: sigaret, dan klik! menyalakan TV dan duduk manis di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pertanyaan itu yang pertama kali menyerbu kesadaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gimana sih, memenuhi kebutuhan biologis kamu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan, aku sadar: yang sedang kutonton adalah acara &lt;em&gt;Good Morning on the weekend&lt;/em&gt;-nya Farhan ‘n Indy Barends, dan yang lagi diundang sebagai tamu di acara itu adalah Merlyn dan Sunia. Jeng jeng jeng, siapakah mereka berdua??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kebetulan tahu siapa mereka gara-gara minggu lalu ikutan nonton acara perayaan ulang tahun sebuah penerbit di Jogja. Yang aku tonton adalah acara wayang kondom-nya Slamet Gundono, ki dalang dari Tegal yang tubuhnya... aduhay terlalu berisi itu. Fyi, Slamet Gundono yang sekarang berdomisili di Solo itu adalah dia-yang-mempopulerkan-wayang suket, dan tiga tahun silam keliling-keliling mementaskan Serat Cebolek. Dan Serat Cebolek adalah..... Yah, pokoknya itu lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Back to the topic&lt;/em&gt;, waktu itu niatnya nonton &lt;em&gt;wayang kondom&lt;/em&gt; yang ceritanya dicukil dari Serat Centhini. Serat Centhini itu disusun oleh tiga pujangga keraton atas perintah Pangeran Anom Mangkunegara III tahun 1814. yang kemudian ‘dilenyapkan’ dari keraton karena dianggap ‘nakal’. Aduh, beloknya kejauhan, nggak jadi-jadi cerita! Pokoknya, gara-gara niat mau nonton wayang kondom itulah aku ketemu Merlyn dan Sunia, &lt;em&gt;the &lt;/em&gt;tokohs yang diundang Trans TV di acara &lt;em&gt;Good Morning on the weekend &lt;/em&gt;itu.&lt;br /&gt;Mereka berdua adalah pengarang yang bukunya sudah terbit. Mereka berdua notabene manusia-manusia cerdas, karena Sunia itu mahasiswa FISIP UGM – adik angkatan, neh (secara tidak langsung &lt;em&gt;trying to say myself &lt;/em&gt;‘cerdas’, huahuahuahua... Ketauan nggak mutunya) – dan Merlyn, konon sedang menyelesaikan S2-nya. Tapi.... Bukan cuma itu. Mereka berdua adalah manusia-manusia yang ‘terperangkap’ tubuh sendiri. Alias perempuan yang terpenjara dalam tubuh laki-laki. Alias waria. Kesamaan mereka berdua adalah buku yang mereka keluarkan, yang sama-sama mengulik persoalan kewariaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Secara filosofis, manusia terdiri dari tiga unsur. Tubuh, jiwa, dan ruh. Jiwa dan ruh saya adalah perempuan. Jiwa dan ruh adalah bagian yang menentukan ‘siapa’ seorang manusia. Sedang tubuh – maksudnya kelamin – hanya alat mengidentifikasi yang membentuk wacana ‘siapa’ secara sosial. Ketika saya merasa jiwa dan ruh saya adalah perempuan, maka tubuh harus mengikuti jiwa.”&lt;br /&gt;Kalimat Sunia tentu &lt;em&gt;not exactly like that&lt;/em&gt;, secara aku bukan &lt;em&gt;digital tape recorder&lt;/em&gt;, tapi kira-kira itu yang dia katakan pada Farhan berikutnya.&lt;br /&gt;Tentu aku seratus persen percaya dan setuju. Tapi ada yang menggelembung dan membesar di kepalaku, ketika aku ingat &lt;em&gt;statement&lt;/em&gt;-nya di awal tadi: &lt;em&gt;Semua sebenarnya cuma perkara teknis&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Statement &lt;/em&gt;itu konteksnya seksualitas. Farhan sedang bertanya bagaimana mereka memenuhi hasrat seksual yang timbul; kebutuhan biologis setiap manusia. Karena dua-dua dari mereka belum melakukan operasi kelamin, beda dengan Dorce yang sudah melakukan operasi sejak umurnya masih 22 tahun, alias setelah 12 tahun menyadari bahwa tubuhnya ‘salah’. Dorce tentu tak punya masalah dengan seks, terutama setelah dia melakukan operasi kelamin. Itu membuatnya sama dengan perempuan pada umumnya. &lt;em&gt;But what about them&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih punya sesuatu yang – minjem istilah Raditya Dika – ‘kalo jongkok nunjuk’ (beribu maaf buat yang merasa tersindir atau tertohok, karena sumpah postingan ini tujuannya buat didiskusikan bareng, bukan untuk tujuan negatif apapun). Jika jiwa dan ruh mereka adalah perempuan, &lt;em&gt;I just wonder&lt;/em&gt;... apa itu juga yang mereka rasakan ketika melakukan sesuatu untuk memuaskan hasrat seksual? Apa mereka juga merasa sebagai perempuan ketika bercinta dengan pasangan, misalnya? Karena menurut logikaku, perasaan yang timbul ketika beraktivitas seksual berkaitan sangat erat dengan genitalia, alias organ, alias identitas fisik yang melekat pada diri mereka. Aku bisa menerima bahwa dalam sebuah hubungan, juga homoseksualitas, ada peran yang lekat pada masing-masing pelaku: aku lelakinya, dan kamu perempuannya. Tapi apakah perasaan itu &lt;em&gt;does really exist &lt;/em&gt;lebih dari sekedar pemeranan dalam hubungan seksual? Maksudnya, di luar persoalan ‘yang penting orgasme, tak penting dengan metode apapun’, apakah &lt;em&gt;deep down inside&lt;/em&gt;, dengan metode yang digunakan untuk orgasme mereka benar-benar merasa sebagai perempuan? Aku benar-benar pengen tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bisa membantu menjelaskannya padaku? (&lt;em&gt;sigh&lt;/em&gt;) Secara aku malu kalo nanya ‘ma Ary... ö&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111819837064657728?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111819837064657728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111819837064657728&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111819837064657728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111819837064657728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/06/orgasme-ala-waria.html' title='Orgasme ala Waria'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111502468388594189</id><published>2005-05-02T01:49:00.000-07:00</published><updated>2005-05-02T02:04:43.886-07:00</updated><title type='text'>Sihir Cinta - sebuah resensi</title><content type='html'>dari blog-nya &lt;a href="http://jalankenangan.net/celoteh/index.php?p=28"&gt;Yanti&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bagaimana rasanya menjadi orang yang mampu “melihat” kejadian di masa depan? Setelah membaca novel karya asli perdana Miranda ini (novel pertamanya merupakan karya adaptasi bertajuk &lt;em&gt;Dara Manisku&lt;/em&gt;), mungkin kita akan menemukan jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Sihir Cinta&lt;/em&gt; berkisah tentang Rhein Prabasnaya, seorang mahasiswi yatim piatu yang memiliki keistimewaan tadi. Tetapi keistimewaan itu, ditambah sifatnya yang cenderung &lt;em&gt;introvert&lt;/em&gt;, membuat dirinya justru sulit memiliki teman karena dianggap &lt;em&gt;freak&lt;/em&gt;. Beberapa kejadian membuat Rhein malah membuat Rhein menyesali kemampuannya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Lebih baik nggak tau apa-apa,daripada mengetahui sesuatu,tapi nggak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya.”(halaman 71) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam &lt;em&gt;Sihir Cinta&lt;/em&gt;, Miranda menceritakan bagaimana Rhein menemukan seorang sahabat, Mita, jatuh cinta pada Ary Suta, “lelaki senja"-nya, lalu (berusaha) melupakan Ary lewat sosok Reza. Juga persahabatannya yang unik dengan seekor kucing hitam bernama Nimbus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Alur cerita cinta yang terbilang ringan, nyaris standar, dikemas secara menarik dengan penuturan yang lancar, membuat pembaca mudah merasa “masuk” ke dalam cerita, bahkan dimainkan emosinya. Tentu saja, ini cerita fiksi, di mana khayal bisa berpadu dengan nyata dan logika kadang menempati urutan kedua. Toh, bagi Anda pemuja logika, anggap saja percakapan Rhein dengan Nimbus sebagai bentuk lain dari sebuah monolog.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi fisik Ary Suta yang minimal bisa dianggap sebagai titik lemah novel ini, namun ini membiarkan pembaca berimajinasi lebih liar tentang sosok lelaki bermata tajam itu. Bagaimana Rhein sampai bisa jatuh cinta pada Ary, dan sebaliknya, tidak dikisahkan secara detil. Tapi cinta memang tidak perlu alasan. Cinta bisa menyihir manusia kapanpun, di manapun, dan karena apapun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara keseluruhan, &lt;em&gt;Sihir Cinta&lt;/em&gt; dan Rhein Prabasnaya dengan kesederhanaannya yang khas Jogja mampu menjadi menjadi alternatif di tengah maraknya cerita tentang perempuan lajang kota besar yang bahagia menjadi &lt;em&gt;single&lt;/em&gt;, bergaya hidup glamor, bahkan hedonis. Walaupun tidak dilabeli “Chicklit Asli Indonesia", &lt;em&gt;Sihir Cinta &lt;/em&gt;adalah sebuah &lt;em&gt;chicklit&lt;/em&gt; dengan rasa baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selamat, Miranda. Dan terima kasih untuk tidak mengaborsi embrio ceritamu ini, serta membiarkannya tumbuh menjadi anak sulung yang berhasil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111502468388594189?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111502468388594189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111502468388594189&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111502468388594189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111502468388594189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/05/sihir-cinta-sebuah-resensi.html' title='Sihir Cinta - sebuah resensi'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111384272391077396</id><published>2005-04-18T09:42:00.000-07:00</published><updated>2005-04-18T09:45:23.910-07:00</updated><title type='text'>Surat pendek dari Jakarta; kepada Jakarta.</title><content type='html'>Djakarta, day 3. &lt;br /&gt;Beberapa hal memang tidak bisa dihapus dari ingatan, seperti juga air bah kenangan (huaa…!) yang menyerbu ketika lagi-lagi, gadis kecil ini terdampar di metropolitan, kota yang tak pernah disukainya, tetapi juga sulit ditanggalkan dari kepala.&lt;br /&gt;Untuk berbagai alasan, ia menyambang Jakarta. Menemukan serpih-serpih pazel dari masa lalu, yang menyusun sebuah fragmen dalam hidup; sebuah fragmen yang tak kunjung usai. Tetapi teka-teki itu terlanjur menyenangkannya, membuatnya betah berkubang dan berlama-lama di dalamnya. &lt;br /&gt;Untuk satu hal, ia datang ke Jakarta. Menemui seorang produser dari SinemArt, seorang sutradara dan seorang penulis naskah. Di suatu siang yang panas, dalam sebuah ruangan yang (kontras) begitu dingin, dengan kepala mendidih-meletup oleh berbagai rencana. Sihir Cinta the movie: demi alasan itulah ia terdampar di sana. &lt;br /&gt;Untuk satu hal lain: ia datang ke Jakarta. Mempersiapkan sebuah pementasan monolog. Yang terakhir. Yang akan terusaikan. Barangkali kali yang membuatnya menangis beberapa hari untuk kembali menjadi dirinya, kepada hari-harinya. (Tetapi, hei! Apa yang tidak usai di dunia, Hun?)&lt;br /&gt;Untuk rasa satu: kepentingan mendesak yang mesti diletupkan, supaya mengecil dan kembali tumbuh, untuk kembali meletup di waktu nanti. Kepentingan yang tak pernah usai – karena diciptakan tidak untuk diusaikan. Sekadar bertemu dan bilang: “I love you, hunni…”, barangkali kecupan kecil di ujung senja dan suara manja yang merambat lewat kabel telepon dan gelombang selular. &lt;br /&gt;Untuk rasa dua: kerinduan pada ibunda, sekadar sebait obrolan pendek di tengah malam buta sebelum mimpi merebutnya dari kenyataan; sebait obrolan tentang kisah-kisah yang telah begitu lama ingin diceritakannya tapi tak pernah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, &lt;br /&gt;Untuk begitu banyak kisah yang tertimbun di balik lipatan siang-malammu yang liat. Sebuah surat pendek dituliskannya: kepadamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111384272391077396?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111384272391077396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111384272391077396&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111384272391077396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111384272391077396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/04/surat-pendek-dari-jakarta-kepada.html' title='Surat pendek dari Jakarta; kepada Jakarta.'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111269892649909480</id><published>2005-04-05T03:48:00.000-07:00</published><updated>2005-04-05T04:02:06.500-07:00</updated><title type='text'>Finally, 'n a bunch of thanks</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;color:#3366ff;"&gt;Fiuhhh...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#3366ff;"&gt;Finally, setelah absen satu bulan lebih, sayah bisa "back to blog", meski cuma sebentar. Maaf buat temang-temang yang suka buka blog SC tapi tidak menemukan 'pembaharuan' sebulan terakhir ini, Mia lagi pontang-panting ngurusin pentas teater, Rhein lagi kuliah 'n sibuk dengan mid semester, sementara Nimbus - emang gak buta huruf sih, tapi kakinya terlalu gede 'n kalo ngetik di komputer hasilnya adalah bahasa planet yang 'mengharukan' (karena nggak mungkin dipahami), : p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#3366ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#3366ff;"&gt;Tapi mudah-mudahan setelah tanggal 21 April, kita bisa ngobrol-ngobrol lebih intens via blog. Jadi, jangan kapok mampir, yaaaahhh...! Thx Golda (jgn lupa kasih komen kalo dah baca SC ya...), Leo(sampe Makasar? akhirnya...), Zain (wah, kalo nunggu sampe perpusda nggak kuat 'In, bersaing ma Marah Rusli dkk, hehe), Nickn (, Dementor(masih ngantuk? xixi), Andian (Ho'oh Mbak, aku eNPe '98), Cut (kan dah dibilang gak buka jasa ngramal....xixi), Hero (gimana cara aku kirim ke tempatmu?), Upi, Keke (nongkrong di sospol pernah, 'Ke?), mas Amril (haduu, makasih Mas... kiatnya sayah mah cuma nulis buku harian ajah... hehe), Yanti (nangisnya gara2 bagian mana, 'Ti?), Sitta (masih ditunggu review-nya loh...), 'n temen2 yang udah kasih review: Teh Nits, MK, Tria, 'n Syukur (empat2nya aku attach di sini loh...). Pokoknya, thanks banget buat temen2 yang dah support SC sampe masuk cetakan kedua deh! Cita2nya sih pengen ngikutin KPG-nya 'teh Nits, cetak ulang terus, hehe, mudah2an... Amien... &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111269892649909480?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111269892649909480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111269892649909480&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269892649909480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269892649909480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/04/finally-n-bunch-of-thanks.html' title='Finally, &apos;n a bunch of thanks'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111269797013478027</id><published>2005-04-05T03:42:00.000-07:00</published><updated>2005-04-05T03:46:10.136-07:00</updated><title type='text'>SIHIR CINTA: a novel by Miranda (Teh Nits)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;color:#666600;"&gt;Who is Miranda?&lt;br /&gt;Dia adalah editor novel “Kok Putusin Gue?” dan editor banyak novel lainnya yang diterbitkan GagasMedia.&lt;br /&gt;Karya pertama Miranda adalah sebuah novel adaptasi “Dara Manisku”.&lt;br /&gt;Novel keduanya… ya ini dia… SIHIR CINTA!&lt;br /&gt;Membaca semua komentar yang ada di cover belakangnya… Hmmm, setuju banget!&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu, gua ngobrol dengan Mas FX Rudy Gunawan dan beliau bercerita tentang Miranda… Mbak Ayu Utami itu merekomendasikan Miranda banget! Yang mana, jarang-jarang banget orang sekelas Mbak Ayu merekomendasikan seseorang. Bener aja! Emang ‘ajaib’ nih orang… begitu gua baca SIHIR CINTA… Cuma satu kata yang keluar DAHSYAT!&lt;br /&gt;Waktu Adit baca draft-nya… sumpah, dia nggak pernah berhenti muji-muji Miranda… yang mana, jarang-jarang loh Adit kayak gitu. Trust me, I know him well =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, menurut gua sendiri:&lt;br /&gt;SIHIR CINTA itu dahsyat banget… Miranda ahli banget menulis… alurnya lancar dan sangat enak diikutin. Jadinya susah deh ninggalin buku ini. Enaknya, sekali pegang langsung selesai dibaca.&lt;br /&gt;Gua suka dengan cerita yang membumi. SIHIR CINTA ini ceritanya down to earth banget! Nggak glamour.&lt;br /&gt;Personally, gua baru sekali ketemu Miranda pas Grand Opening QB di Bandung. Orangnya baik dan sedikit terkesan cuwek. Tapi satu yang gua suka, Miranda enak diajak ngobrol dan sama sekali ngga arogan meski gua tau kalo karya-karya-nya bagus banget dan banyak orang yang muji dia.&lt;br /&gt;Miranda aktif di Komunitas Utan Kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua yakin, SIHIR CINTA akan jadi best seller novel di tahun 2005 ini… gua yakin banyak orang yang akan ‘tersihir’ ketika baca novel Miranda.&lt;br /&gt;So, what are you waiting for? Pergi ke toko buku terdekat dan beli SIHIR CINTA sekarang juga =) [Ninit Yunita, penulis &lt;em&gt;Kok Putusin Gue&lt;/em&gt;]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111269797013478027?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111269797013478027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111269797013478027&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269797013478027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269797013478027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/04/sihir-cinta-novel-by-miranda-teh-nits.html' title='SIHIR CINTA: a novel by Miranda (Teh Nits)'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111269761696297716</id><published>2005-04-05T03:28:00.000-07:00</published><updated>2005-04-05T03:40:16.963-07:00</updated><title type='text'>Still a Sweet Love Story (Tria)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Review-nya &lt;strong&gt;Tria&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#6666cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;&lt;em&gt;Sihir Cinta&lt;/em&gt; by Miranda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#6666cc;"&gt;Gw udah ngincer buku ini even sejak belum terbit..hehe..sejak &lt;em&gt;teaser&lt;/em&gt;2nya muncul di blognya sang pengarang. Begitu liat di Gramed, langsung samber deh. Gw suka gaya bahasanya Miranda sejak baca novel &lt;em&gt;Dara Manisku&lt;/em&gt;. Enak diikutin, &lt;em&gt;and&lt;/em&gt; pilihan katanya bagus.. &lt;em&gt;As what I've expected&lt;/em&gt;, gw dapetin hal yang sama dari &lt;em&gt;Sihir Cinta&lt;/em&gt;. Novel ini enak banget dibaca, membius..kaya suaranya Anwar Robinson..mencengangkan..kaya penampilannya Bo Bice, &lt;em&gt;and have a consistent beautiful flow&lt;/em&gt; kaya suaranya Carrie Underwood (hehe..ketauan penonton setia AI :-P). Ide-idenya &lt;em&gt;magnificent&lt;/em&gt;, bayangin aja..ada &lt;em&gt;a talking cat like&lt;/em&gt; Nimbus. Dari sisi ide cerita global sih agak bisa ketebak, tapi &lt;em&gt;it's still a sweet love story&lt;/em&gt;. Yang paling gue suka dari novel ini justru bukan ceritanya, bukan alurnya, bukan dialognya..tapi keindahan bahasanya. (Tria)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111269761696297716?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111269761696297716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111269761696297716&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269761696297716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269761696297716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/04/still-sweet-love-story-tria.html' title='Still a Sweet Love Story (Tria)'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111269681413604459</id><published>2005-04-05T03:18:00.000-07:00</published><updated>2005-04-05T03:40:41.186-07:00</updated><title type='text'>Just Another Love Story</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff6666;"&gt;Review from Mojang koNce&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;Sihir Cinta&lt;/strong&gt;, judulnya. Yang nulis namanya Miranda. Awalnya MK beli karena ada penulis2 fav MK yg &lt;em&gt;comment&lt;/em&gt; bagus ttg ini buku, n berbagai &lt;em&gt;comment&lt;/em&gt; bagus lainnya d milis PSTC. Ternyata...&lt;br /&gt;MK beli ni novel hari Jumat, n baca 2 bab pertama langsung... Malessssss.... Ceritanya standar abis. Sampe ngerasa rugi berat... Bete lah beli ni novel. Aneh, ko banyak orang malah muji ya???&lt;br /&gt;Ceritanya gini, ada anak kuliahan namanya Rhein yg punya kucing luttuuu banett. Terombang-ambing di antara 3 cowok, temen baek yg lugu tapi sama2 suka ma 1 cowok, genk populer yg nyebelin, n &lt;em&gt;stuff like that&lt;/em&gt;. Aduh pliss deh, itu lebih pantes setingannya anak sma. Sinetron banget lah. &lt;em&gt;Just another love story&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Yang sedikit ngehibur paling setingannya yg bawa2 'dunia sihir'....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111269681413604459?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111269681413604459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111269681413604459&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269681413604459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269681413604459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/04/just-another-love-story.html' title='Just Another Love Story'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111269618440276129</id><published>2005-04-05T03:06:00.000-07:00</published><updated>2005-04-05T03:16:24.406-07:00</updated><title type='text'>:: seorang teman lama ::</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Tersihir Cinta?, Please Deh …&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Rhein Prabasnaya sebenarnya sosok gadis yang sempurna. Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya hitam tembaga, rambut lurus sebatas punggung yang selalu dibiarkan terurai,  gerak-giriknya lincah – karna sering menari waktu kecil, nyambungan kalau diajak bicara. Kecerdasan? Rata-ratalah, paling tidak ia bisa kuliah di jurusan sosial universitas negeri terbesar di Jogja. Tapi Rhein adalah seorang gadis yang kering dalam soal cinta. Meski jumlah lelaki yang mendekatinya sudah lebih dari lima belas, tapi Rhein tak kunjung punya cowok. Lima belas kali pacaran, lima belas kali pula ia gagal. Setiap lelaki yang mendekatinya tak pernah bertahan lebih dari dua bulan hanya gara-gara Rhein punya kemampuan khusus : meramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhein dianugrahi kemampuan melihat masa depan, gambaran akan peristiwa masa depan yang kemudian benar-benar terjadi. Sialnya, “pengliatan” masa depan yang seringkali Rhein temui biasanya hal-hal yang buruk bagi kehidupan pribadinya. Peristiwa kematian papa-mamanya, kegagalannya dalam bercinta, semua itu adalah pengliatan Rhein sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh tahun lalu, saat kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa kedua oraang tuanya, Rhein kecil merasakan sesuatu yang aneh : mata sang papa, kesibukan mama, kehidupan berjalan lambat. Lalu, kencannya dengan seorang bernama Gus gagal total karena Gus tak tahan melihat sikap Rhein yang terus terusan ngoceh tentang ramalan, apalagi Gus menurut “pengliatan” Rhein katanya akan terkena penyakit lever. Belum lengkap, cinta sejati Rien kepada seorang bernama Ary Suta ia buang jauh-juah, hanya gara-gara “pengliatan” Rhein mengatakan Ary, sang lelaki senja akan berpacaran dengan Mita, sahabat karib di kampusnya. “ Apa yang salah dengan bisa ngeramal?” (Hal 12)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9966;"&gt;Sihir Cinta karya Miranda sebenarnya dapat menjadi novel cinta yang jauh lebih cerdas, menarik dan menantang kalau penulis mau. Hidup dalam komunitas teater mahasiswa dan sempat bergaul dengan banyak penulis sukses sebuat saja Ayu Utami, Gunawan Muhammad di komunitas Teater Utan Kayu, seharusnya bisa menjadi modal besar Miranda  untuk mengekspresikaan problem cinta yang lebih dari sekedar cerita cinta seperti buku-buku Chicklit yang lagi laris manis di pasaran. Atau jangan-jangan buku ini memang Chicklit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa yang ringan, renyah, dan menyegarkan menjadikan Sihir Cinta menarik untuk dibaca oleh siapapun. Saya yang membaca buku setebal 300 halaman ini sangat menikmati gaya tulisan Miranda, terkadang saya dibuat senyum-senyum sendiri. Namun memasuki separuh halaman buku, kita akan menemukan kebosanan. Terlebih penulis masih terjebak dalam kisah viksi yang tak rasional. Berulang-ulang Rhein- yang sebenarnya adalah imajinasi kehidupan nyata sang penulis - melakukan pembicaraan dengan Nimbus, kucing kesayangannya. Mana ada kucing bisa ngomong Mir?. Atau nama-nama tempat yang dibuat sembarangan : Universitas Gagasan Masadepan, Metropolitan TV, Girang Media, Teras TV, Koran Kang Pas, Milas Production. Please deh.. Ada sih tempat-tempat yang yang tak dipalsukan seperti TUK atau TIM, itupun karena sang penulis memiliki kenangan khusus di dua tempat itu. Jurus seperti ini tanpa disadari telah membuat alur cerita jadi konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endingnya pun mudah ditebak. Bahwa mencintai pada akhirnya adalah persoalan mempercayai dan menghargai perasaan. Rhein tak bisa berbohong bahwa ia sangat mencintai Ary Suta, sang lelaki senja yang dijumpainya saat membuka stan ramal di kampusnya. Demikian pula Ary yang diam-diam mencintai Rhein meski menjalin cinta dengan Mita. Pliss, jangan dibilang mereka saling mencintai gara-gara tersihir cinta, tapi memang cinta membutuhkan kejujuran.  Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bermaksud agar novel ini laris di pasaran atau tidak, penulis memajang penulis-penulis muda perempuan sukses untuk memberi komentar : Fira Basuki dengan novel jendela yang sukses itu atau Dewi Dee Lestari yang baru saja menerbitkan sekuel ketiga Supernovanya- petir- yang katanya lebih rileks. Ramuan ini sah-sah saja, hanya saja sebuah karya tak semata-mata mengejar pasar, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, Miranda adalah penulis pemula yang cukup berani. Bukankah yang terpenting dalam menulis adalah keberanian, demikian Katherine Anne Porter pernah berkata, (lihat Menulis dengan Emosi karya Carmel Bird). Kata-katanya di awal pembuka buku sangat apik. Ia menulis : ...Pernahkah kita menghitung berapa banyak karakter sudah terbunuh  sejak mereka masih dalam kepala, semata karena idealisme soal gagasan besar?…  Ya, miranda tampaknya bukan tipe penulis yang memilih untuk bersabar menunggu gagasan besar yang hinggap di kepala untuk lantas dititiskan dalam cerita. Ia tak ingin karakter yang sudah terbangun mengalami aborsi sebelum berkembang dan lahir. Keberanian ini pula yang membuat Mia menulis, meski bukan gagasan yang besar, meski tentang sihir, meski lagi-lagi tentang cinta. (M. Abdul Syukur, Jkt)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111269618440276129?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111269618440276129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111269618440276129&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269618440276129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111269618440276129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/04/seorang-teman-lama.html' title=':: seorang teman lama ::'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-111000212287422807</id><published>2005-03-04T21:42:00.000-08:00</published><updated>2005-03-04T22:17:33.516-08:00</updated><title type='text'>Start from today...</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Nggak ada janji-janji palsu lagi, deh. Mulai hari ini, &lt;em&gt;Sihir Cinta&lt;/em&gt; sudah bisa didapatkan di toko-toko buku 'kesayangan'-mu. :)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;An Impressive Piece of Work: dari blog Adhitya Mulya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;"Siap-siap untuk tersihir dengan pesona cerita cinta Miranda ini. Menurut penglihatan bola kristal saya, cerita ini punya daya tarik yang tinggi. Lancar, imajinatif dan renyah. Saya ramalkan Miranda memiliki masa depan penulisan yang cerah dan orang-orang akan 'jatuh cinta' padanya."&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fira Basuki&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;"Mia tidak menjual mimpi. Alur dia tulis dengan ringan membawa pembaca dari halaman ke halaman dengan kilatan ramalan sang tokoh utama. Mia juga berhasil meng-capture dengan akurat gaya hidup mahasiswa kota Jogjakarta dari sisi yang tidak glamor."&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Adhitya Mulya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;"Kombinasi yang menyihir antara elemen pop dan kecerdasan literasi. Seru!"&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dewi 'Dee' Lestari&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;"Love is a magical thing. Sounds too cliche for you? Try to read 'Sihir Cinta'."&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Icha Rachmanti&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;How Good Is It?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;An excellent job, well done. I can safely say bahwa Miranda &lt;strong&gt;adalah salah satu penulis fiksi terbaik today&lt;/strong&gt; and I can also say this book will be Indonesian blockbuster 2005 (tapi masih tergantung marketingnya sih). Isi cerita memang &lt;strong&gt;terbatas dalam segi cinta namun teknik penyampaian dan bakat menulis Miranda&lt;/strong&gt; membuat karya bertopik cinta ini, &lt;strong&gt;menjadi maksimal&lt;/strong&gt;. Gue suka cara dia memilah plot dan mereveal dengan timing yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah karya tulis kedua Miranda, namun karya pertama sebagai novel. Buku pertamanya adlah adaptasi dari sebuah sinetron kalo gak salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue sangat rekomen pada mereka yang sedang mencoba menulis, untuk membuat buku ini menjadi panutan. Gue cuman berharap agar revisi2 minor yang gue rekomen ke dia dieksekusi sebelum naik cetak kemarin. Tapi kalo nggak pun gak papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;How good is &lt;em&gt;she&lt;/em&gt;?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Reputasinya gak diragukan lagi.&lt;br /&gt;1. Dia adalah editor dari buku 'Kok Putusin Gue?'-nya Ninit. Miranda dan Ninit tidak pernah bertemu namun semua eksekusi editorial terjalankan dengan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dia mendapat dukungan dan rekomendasi dari Ayu Utami ke Gagas media. Menurut editor gue, Ayu Utami itu jarang banget rekomendasiin orang, so when she did, she really meant it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Setelah itu Miranda datang ke gue dan Mbak Fira untuk minta paperback comment dan apa yang Ayu Utami pernah bilang, bener-bener gak salah. We were both separately impressed. Gue dan Mbak Fira gak pernah ngomongan ttg Miranda tapi ternyata reaksi Mbak Fira tercermin banget dari komentarnya. kalian bisa lihat seorang penulis sekaliber Fira bisa sampe ngomong kek gitu dan gue sendiri sampe nulis blog promo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. As for myself, gue gak akan komen ttg ceritanya krn mutu cerita subjektif ya di mata orang2. Namun gue bisa bilang, cara dia nulis, enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir....&lt;strong&gt;covernya nendang&lt;/strong&gt;. A gypsy casting a love spell. That's brilliant and very relevant to the book. Siapa sih yang bikin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prediksi gue:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. tanpa marketing yang baik, buku ini masih akan menjual di Area jawa karena setting tempat ada di Jogjakarta.&lt;br /&gt;2. Dengan marketing yang baik, buku ini bisa juga menjual di Jakarta. Gue harap Miranda punya strategi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Congrats Miranda, atas karya kedua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rgds,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;[Adhitya Mulya - &lt;em&gt;Jomblo, Gege Mengejar Cinta&lt;/em&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-111000212287422807?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/111000212287422807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=111000212287422807&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111000212287422807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/111000212287422807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/03/start-from-today.html' title='Start from today...'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-110845673546309654</id><published>2005-02-15T00:35:00.000-08:00</published><updated>2005-02-15T20:51:51.290-08:00</updated><title type='text'>'gajah selalu ingat'</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Suka Agatha Christie? Pasti pernah baca 'Elephants can Remember', versi terjemahannya berjudul 'Gajah Selalu Ingat', diterbitkan oleh Gramedia - baru-baru ini diterbitkan ulang dengan desain &lt;em&gt;cover&lt;/em&gt; yang lebih &lt;em&gt;fresh&lt;/em&gt;. Sebagai catatan, di situs www.bhinneka.com, judul ini diberi label 'best'. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;&lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, Agatha Christie memang asik banged. Tapi intinya bukan itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Yang menarik adalah: &lt;em&gt;do animals remember things from their past&lt;/em&gt;? Kata orang, gajah akan ingat siapa yang baik padanya, dan tak akan pernah melupakan mereka yang jahat. Bener gak sih? &lt;em&gt;Check this out:&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/teknologi/news/0308/26/174516.htm/"&gt;Apakah Binatang Bisa Mengingat?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Entah soal penelitian, tapi soal ingatan hewan, aku pernah punya pengalaman dengan kucingku -- &lt;em&gt;before &lt;/em&gt;Nimbus [jangan &lt;em&gt;jeles&lt;/em&gt; ya, Mbus!], kucing yang kukasih nama Leo, hasil pungut di tepi jalan. Sempat betah di rumahku selama dua minggu, sampai tiba-tiba suatu hari dia hilang entah ke mana -- gak pamit pula, boro-boro ninggalin 'surat wasiat'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Kucing itu pergi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Tapi, kira-kira lima bulan kemudian, waktu balik kuliah, aku menemukan dia, kembali, sedang 'bertengger' di kursi teras -- tempat nongkrong favoritnya dulu, selama dua minggu dia menetap di rumahku -- dan menatapku dengan pandangan yang 'familiar'. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Aku menyapanya, &lt;em&gt;but he didn't say a word&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Cuma langsung melompat pergi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Kejadian itu bikin aku yakin banged kalo dia ingat aku, dia ingat rumahku, tempat-singgah-sementara-nya selama dua minggu, ingat tempat bertengger favoritnya... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Dan bikin aku yakin kalau &lt;em&gt;in some case, &lt;strong&gt;animals DO remember&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;Jadi, hati-hatilah bersikap pada binatang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;[&lt;em&gt;'n don't do animals-abuse in front of Nimbus. Believe me, he's dangerous!&lt;/em&gt;] &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#663300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10410331-110845673546309654?l=sihircinta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/110845673546309654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=110845673546309654&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/110845673546309654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/110845673546309654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/02/gajah-selalu-ingat_15.html' title='&apos;gajah selalu ingat&apos;'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-110835102144130926</id><published>2005-02-13T17:50:00.000-08:00</published><updated>2005-02-13T19:17:01.553-08:00</updated><title type='text'>Bonsaikitten</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Nimbuuuu...usss! Meauw, cini pus. Sarapan gih, masakan spesial nih!" Kuputar kenop kompor gas ke posisi &lt;em&gt;off&lt;/em&gt;. Nasi-mentega-daging asap mengepul dalam kuali yang &lt;em&gt;nangkring &lt;/em&gt;dengan manis di atas kompor membuatku meneguk ludah. &lt;em&gt;Kriuuukk...&lt;/em&gt; Ups! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Laper, ih. Nasinya Nimbus enak juga 'kali ya, buat sarapan...&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku buru-buru menyendok menu-eksperimental-gak-jelas-ku ke dalam cawan makan Nimbus. Takut memperpanjang imajinasiku. Buatku, sarapan cukup dengan secangkir kopi capuccino dan sebatang rokok. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kutaruh cawan Nimbus di bawah meja bundar, tempat nongkrong favoritnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Ke mana si kucing... Pasti lagi berjemur ria di teras depan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Nimbuuuuss! Mau sarapan gak? Keburu dingin lho... Menu spesial nih, Mbus!" jeritku sambil menyalakan tv. &lt;em&gt;Ada berita apa hari ini?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;--&lt;/em&gt;di teras depan--&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nimbus tergeletak pasrah, tak bisa menyembunyikan muka sedihnya. Tak terusik sedikit pun oleh panggilan nona-tercintanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;(sigh) Masakan spesial? Oh no... not another experiment, give me a break...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kerut di muka-sedihnya berlipat-ganda membayangkan sepanjang hari yang menyiksa karena sakit perut (bayangkan kalau wajah kucing bisa berkerut!). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sebenarnya, apa sih yang sedang membuat Nimbus sedih? Diputusin Pinky, kucing Tante Maya, tetangga, yang manis bin manut itu? (maksudnya yang manis dan manut itu Pinky lho, bukan Tante Maya, &lt;em&gt;ed.&lt;/em&gt;) Bukan. Merasa Rhein tak lagi mencintainya karena akhir-akhir ini sering pergi dengan Ary Suta? Enggak. Bagaimanapun, Nimbus sangat menyadari keberadaannya di sisi Rhein tak terusik dan tak tergantikan oleh siapapun. (ya jelas, lah.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Lantas apa, dong?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nimbus ingat artikel tentang &lt;em&gt;bonsaikitten&lt;/em&gt; yang dibacanya tanpa sengaja di &lt;em&gt;bulletin board&lt;/em&gt; friendster-nya kemarin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;Bonsaikitten&lt;/em&gt; adalah sejenis 'kekerasan terhadap anak kucing' yang terjadi di New York. Kedengarannya sih imut banget: &lt;em&gt;bonsaikitten&lt;/em&gt;. Tapi yang terjadi tidak se-imut itu. Bayangkan! Seorang Japanese memanfaatkan anak kucing sebagai komoditas bisnis dengan cara yang sangat kejam: memasukkan tubuh anak kucing yang sudah dikasih &lt;em&gt;muscle-relaxant&lt;/em&gt; [di kepala Nimbus tergambar kecilnya dia yang masih imut-imut banget, yang jalan aja masih bengkok-bengkok belum bener banget, yang masih seneng ngusel-usel p****l susu mamanya] ke dalam botol kecil dan menyekapnya di dalam sana selama-lamanya untuk dijual!!! Nimbus jadi lebih merana lagi ketika membayangkan para anak kucing yang jadi korban kekejaman dan keserakahan otak manusia itu dikasih makan lewat sedotan. Ironisnya, bonsai-bonsai kucing itu dijual, karena sisi menariknya, bentuk tubuh si kucing akan berkembang sesuai dengan bentuk botol yang melingkupinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nimbus mengeong sedih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;Dunia segini luas jadi begitu ciut dalam botol? Dan.... gak bisa ke mana-mana?? Oooooh....&lt;/em&gt; Nimbus melolong. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;--di depan TV--&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sudah hampir lima belas menit. Nimbus tak muncul-muncul juga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;Ke mana, sih? Biasanya kan dia paling semangat kalo soal makan!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Aku tak bisa mentolerir kecemasan campur gusar yang tumbuh makin besar dalam kepalaku. Nimbus akhir-akhir ini, sejak pacaran dengan si Pinky, makin sering ngabur pagi-pagi ke rumah Tante Maya, tetangga, dan lebih suka makan di sana. Padahal, kurang apa aku? Aku yang selalu memasakkan sarapan pagi-nya dengan penuh kasih sayang [konon, masakan yang dibumbui kasih sayang rasanya jadi lebih enak, kan? Kalau pakai istilah &lt;em&gt;Brownies&lt;/em&gt;, novel adaptasi terbarunya Fira Basuki, 'menunjukkan rasanya'.] dan tidak pernah merebut makanannya [meski sering berpikir untuk itu]... Grrrggh. Keterlaluan ah, kalau Nimbus sampai makan di rumah Pinky lagi. Kemarin kan sudah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Aku tak bisa menahan geram. Capek memanggil, aku beranjak dan berjingkat ke teras depan. Mengintip. &lt;em&gt;Lagi ngapain sih, si Mbus?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;...Hatiku runtuh seketika melihat Nimbus 'teronggok' lemas dengan muka sedih di ujung teras. Kucing hitam lucu yang biasanya ceria dan gokil, sekarang bahkan tidak sadar kalau tempat dia berbaring sudah tak terkena cahaya matahari lagi! [Tujuan Nimbus nongkrong di teras selain pacaran adalah... berjemur]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Pelan-pelan aku membuka pintu depan. Nimbus pasti mendengarku, tapi ia tak bereaksi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;See? There must be something wrong!&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kusenggol perutnya dengan jempol kakiku main-main. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Da pa, Mbus? Kok sunyi gitu sih? Sarapan dulu, gih. Abis itu cerita. Ato mau cerita dulu baru sarapan?" Aku berjongkok di sebelahnya. Menyisir rambut hitam lebat Nimbus yang, meski sudah lima hari tak dimandikan, masih mengkilat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nimbus melenguh pelan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Napa sih? Berantem ma Pinky? Kesepian? Ato Pinky hamil? Takut dimarahin Tante Maya, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nimbus masih tak mau bereaksi. Malah membuang muka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;Ya ampuuun... Ni kucing kenapa? Masa' sih, harus bawa ke klinik dokter hewan? Ini sih, sakitnya psikologis!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Aku mengucak kepalanya pelan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Mbus, hei. Tega bener sih, bikin aku bingung? Cerita dong, jangan jadi &lt;em&gt;mute&lt;/em&gt; gitu. Duniaku yang udah sepi jadi tambah sepi nih, kalo kamu gak ceriwis kaya' biasanya. Ayo dong... &lt;em&gt;Tell me 'bout it&lt;/em&gt;. Ato aku titipin ke 'sekolah-Tante-Rima', lho!" ancamku. Nimbus, sejak hari pertama kedatangannya di rumahku, paling malas dikembalikan ke rumah Tante Rima. Tante Rima itu tanteku yang punya selusin kucing, diantaranya Nimbus kecil, sebelum berpindah tangan. Kata Nimbus, Tante Rima suka &lt;em&gt;'kitten-abuse&lt;/em&gt;'. Iya, Nimbus, jelek-jelek gitu kan pembela berat Hak Asasi Kucing dan Anak Kucing - HAKdAK! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kali ini Nimbus bereaksi dengan menghela nafas berat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Mending dikembaliin ke Tante Rima, deh," keluhnya. &lt;/s
