Hosted by Photobucket.com

Wednesday, August 23, 2006

Bencana, Trauma, dan Akar Kultur

Miranda Harlan

Ada satu hal yang kerap ternafikan ketika bencana mengembalikan sebagian manusia ke titik mula kehidupan, dan menggerakkan sebagian yang lain untuk memberi bantuan, hampir tanpa arah dan koordinasi. Ialah akar kultur masyarakat korban bencana.

Pascabencana bagi masyarakat korban adalah masa yang rentan secara sosiokultural. Ketergantungan korban terhadap bantuan di masa tanggap-darurat bencana menimbulkan problema-problema sosial yang peka, karena hiruk-pikuk bantuan tak lepas dari tumpang-tindih kepentingan. Wajar bila isu semacam Kristenisasi, Islamisasi, Indomie-sasi, sampai terbentuknya budaya ‘kridha lumahing asta’, tanpa memasalahkan tendensi di balik pahlawan pemberi bantuan, menjadi isu faktual yang mengkhawatirkan. Tanpa pertimbangan yang bijaksana dari pemberi bantuan, masyarakat korban bencana, alih-alih terbantu, bisa-bisa justru terancam akan tercerabut dari akar kulturnya semula.

Hal ini menjadi kekhawatiran sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta, pascabencana yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei lalu. Menurut mereka, rupa-rupa bantuan yang diterima korban, jika tak dimaknai secara benar, berpotensi membelokkan masyarakat korban dari kultur semula. Kesadaran akan hal ini, bagi kalangan kebudayaan, mestinya tak hanya disadari oleh masyarakat korban alias penerima bantuan, tetapi pun oleh lembaga-lembaga penyalur bantuan.

Kekhawatiran akan bergesernya kultur masyarakat korban akibat bencana disampaikan Whani Dharmawan, yang dengan beberapa budayawan lain seperti Bondan Nusantara dan Miroto, membentuk Gerakan Jogja Bangkit. Sebuah gerakan pemulihan pascabencana melalui pendekatan kultural. Membanjirnya bantuan, menurut Whani, jika tidak dikelola dengan baik oleh lembaga-lembaga distribusi, dapat menimbulkan, semisal, budaya ‘kridha lumahing asta’ atau budaya meminta-minta. Adalah kewajiban lembaga penyalur untuk mengorganisir bantuan yang masuk dan melibatkan masyarakat korban secara sedemikian rupa sehingga terhindar dari mentalitas peminta-minta. Hal senada diungkapkan pula oleh Landung Simatupang, “Jangan sampai bantuan berdus-dus mi instan membuat ibu-ibu lupa cara memasak jangan brongkos.” Pada tataran hidup bermasyarakat, Landung menggarisbawahi kultur bergotong-royong, toleransi, dan saling pengertian, yang terancam pupus jika bantuan tidak disikapi secara proporsional. Terlebih, ketika masyarakat korban bencana berada dalam kondisi mental yang labil.

Karena itu, proses pemulihan kejiwaan korban bencana menjadi urgensi yang mesti pula diperhatikan, di samping pembangunan dan pemulihan fisik. Dengan landasan mental yang kuat, masyarakat akan memaknai bencana sebagai sebuah momentum. Untuk bergerak, membangun kembali, untuk beranjak kepada pemahaman yang lebih. Dengan mental yang sehat, masyarakat korban gempa akan memaknai bencana secara positif, tanpa tercerabut dari akar kulturnya.

Pulih dari trauma melalui gerakan kebudayaan

Gerakan kebudayaan adalah jalur yang dipilih oleh sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta untuk memulihkan kondisi kejiwaan masyarakat korban gempa. Jogja Bangkit—sebuah lembaga yang berdiri atas kerja sama beberapa penerbit dan dikelola oleh Julius dan Penerbit Galang Press—misalnya, menjalankan trauma healing dengan mengelilingkan hiburan Badut Sponge Bob dan Ketoprak Den Baguse Ngarso ke daerah-daerah bencana di Yogyakarta. Pada tataran lanjut, Romo Banar mengatakan media hiburan semacam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk terjadinya dialog antarwarga. Dialog untuk saling berbagi dalam kelompok-kelompok kecil, dengan didampingi fasilitator, adalah salah satu proses pemulihan trauma yang dapat diterapkan untuk orang-orang tua. Sebab, seperti disampaikan Landung Simatupang, trauma yang dialami anak-anak, selain sebagai dampak bencana sendiri, kerap kali merupakan tularan dari orangtua. Sementara pemulihan trauma untuk orang tua, dalam implementasi bantuan, cenderung dinomorduakan dari proses pemulihan trauma untuk anak.

Pendampingan terhadap orang tua dalam proses berbagi dilakukan pula oleh relawan-relawan dari Bulungan, Jakarta, di posko Kepuhan (Imogiri, Bantul) yang dikelola oleh Ihsan ‘Dobleh’ Zulkarnain dan Wendy Shan Wong dari Institut Seni Indonesia. Wendy, pada pengalaman di lapangan, menemukan kenyataan bahwa korban pada usia produktif dan lanjut ternyata membutuhkan muara untuk mencurahkan isi hati. Kebutuhan itulah yang kemudian difasilitasi sebagai salah satu implementasi pemulihan trauma bagi masyarakat korban.

Selain melalui proses berbagi, pemulihan trauma untuk korban usia produktif dapat pula dilakukan melalui bangkit dan hidupnya kembali rutinitas masyarakat sebelum bencana terjadi. Keyakinan akan hal inilah yang melandasi program Gerakan Jogja Bangkit untuk masyarakat korban bencana.

Pascagempa 27 Mei lalu, perhatian warga korban usia produktif terserap pada rehabilitasi hunian-hunian yang rusak, sehingga mereka tak sempat menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi rutinitas sebelum bencana terjadi. Aktivitas inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Gerakan Jogja Bangkit. Dengan memberi bantuan riil sesuai bidang pencaharian masyarakat korban gempa, Whani berharap trauma yang dialami oleh masyarakat korban pada usia produktif akan teratasi. Dua minggu pascagempa, misalnya, Gerakan Jogja Bangkit memberi bantuan dua puluh unit sepeda untuk korban yang sebelum gempa bermata pencaharian sebagai tukang sol sepatu keliling. Gerakan Jogja Bangkit juga mendirikan sekolah dan pondok baca untuk anak di Kasongan, Bergan, dan Payak, Bantul, DIY. Meski dikemas sebagai bantuan untuk anak, Whani berharap pondok-pondok baca ini kemudian menjadi media berkumpulnya orang-orang tua, dan selanjutnya dapat menjadi rangsangan untuk menjalankan aktivitas bermasyarakat seperti semula, sebelum terjadi bencana.

Masih dalam kerangka tujuan dan upaya yang sama, seniman tari Miroto menghidupkan kembali kelompok-kelompok kesenian ketoprak di pedesaan, dan berharap proses tersebut dapat dipentaskan di luar Yogya. Dengan melibatkan mereka dalam proses berkesenian, mengajak korban bencana untuk beraktivitas rutin, dan mengepulkan kembali tungku-tungku dapur mereka, Miroto berharap proses ini memijarkan semangat baru dalam diri korban. Sekali lagi, tanpa menjerumuskan mereka menjadi kaum yang ‘kridha lumahing asta’.

Ekspresi Anak, Sembuhnya Luka

Merujuk pada deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Peringatan Tahun Anak Sedunia (1979), anak-anak termasuk salah satu kelompok yang harus diutamakan sebagai penerima bantuan di saat terjadi bencana.

Ketika perhatian orangtua dan pengampunya terserap pada proses membangun kembali hidup pascabencana, anak menjadi objek yang rentan mengalami gangguan kejiwaan. Anak kerap terlalaikan, dan secara tanpa sadar terus tergerus oleh trauma orangtua dan pengampunya terhadap bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Anak kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri dan mengekspresikan keinginannya untuk dipahami, dalam konteks kehidupan pascabencana. Berbeda dengan korban berusia dewasa yang mampu berbagi beban dan ganjalan yang ditanggungnya kepada orang lain, proses pemulihan trauma untuk anak memiliki kompleksitas dan bentuk penanganan tersendiri.

Piaget, seorang ahli psikologi anak, menyatakan bahwa permainan menjembatani ruang kosong antara pengalaman-pengalaman yang nyata dengan pikiran dan perasaan yang bergolak dalam diri anak. Demikian pula kesenian. Permainan dan kesenian, oleh ahli terapi anak, sejak lama diyakini sebagai bentuk terapi yang tepat bagi anak-anak korban bencana. Melalui bermain dan berkesenian, anak mengekspresikan dirinya dan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan media tersebut, anak menyampaikan kebutuhannya. Dus, kondisi kejiwaannya menjadi lebih mudah dipahami.

Berpijak pada pemahaman tersebut, beberapa lembaga seperti Laboratorium Pembelajaran Cakrawala dan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) memusatkan perhatian dan melakukan pendampingan terhadap anak-anak, melalui proses bermain dan berkesenian bersama. Seperti diungkapkan oleh Detty Aryanti, ahli psikologi anak yang berpengalaman menangani korban trauma Badai Katrina di Amerika Serikat, tahun 2005 lalu, jika orang dewasa mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata, pada anak-anak, mainan dan benda adalah “kata-kata”, dan permainan adalah “bahasa”. Menyediakan media bagi anak untuk berkomunikasi adalah bantuan yang tepat guna memulihkan anak dari trauma.

Hari Santosa, pemilik Sanggar Menggambar Melati Suci yang selama bertahun-tahun berpengalaman bergulat dengan anak-anak, meyakini bahwa menggambar merupakan salah satu media yang tepat untuk mengekspresikan kegelisahan yang tersimpan di alam bawah sadar anak. Bersama PSI, Hari Santosa melakukan pendampingan terhadap anak-anak di beberapa titik bencana, di antaranya Kasongan, Bawuran, Pelemsewu, dan Pengkol. Melalui menggambar, Hari mengajak anak melangkah, mengambil jarak dari penyebab trauma, yang pada tingkat lanjut membuat anak secara mandiri mampu mengatasi trauma yang dialaminya. Selain menggambar, PSI mendekatkan anak dengan tradisi tulis, dan mendorong anak untuk menceritakan pengalaman batinnya dengan membuat cerita. Untuk mendukung keberlangsungan proses kreatif anak, PSI membangun pula perpustakaan sederhana untuk mereka.

Pustaka merupakan infrastruktur kreativitas yang cukup penting. Dalam perjalanan program bersama PSI, Landung Simatupang menemui kenyataan yang menyedihkan; betapa anak di pedesaan masih begitu jauh dari tradisi menulis. Jangankan membuat sebuah karangan utuh, sebagian besar dari mereka belum bisa menulis dengan ejaan yang benar, terlebih menggunakan tanda baca. Gejala ini menunjukkan rendahnya mutu pendidikan anak di pedesaan. Sesuatu yang mestinya dicermati oleh lembaga-lembaga yang peduli.

Serupa dengan PSI, Laboratorium Pembelajaran Cakrawala bekerja sama dengan masyarakat lokal membangun Pusat Kegiatan Anak (Children Center) sebagai upaya memulihkan trauma anak-anak korban bencana. Cakrawala memfokuskan program pada satu desa binaan dengan menyediakan fasilitator, sarana yang diperlukan, serta materi atau “kurikulum” yang terstruktur. Rangkaian kegiatan yang ditawarkan kepada anak terdiri dari tiga tahap. Berawal dari penanganan kebutuhan dasar yang meliputi pemulihan daya kerja indera peraba (bermain-main dengan pasir, air, tanah liat, dan lilin). Pada tahap kedua, anak diajak untuk menggambar, menulis, membuat boneka atau wayang, bermain musik, dan mendongeng. Kesemua keasyikan tersebut bermuara pada tahap ketiga, di mana anak akan membuat pertunjukan; menyusun cerita drama, dan bermain teater. Dengan cara tersendiri, terapi anak melalui teater diterapkan pula oleh Sheep of Peace, bekerja sama dengan Anak Wayang Indonesia.

Bagaimanapun bentuknya, rangkaian upaya pemulihan trauma terhadap korban bencana tak boleh dilepaskan dari akar kultur masyarakat. Seperti diungkapkan Landung Simatupang, lembaga-lembaga penyalur bantuan mesti mempertimbangkan aspek ini secara bijaksana sebelum menjalankan program trauma-healing. Sedapat mungkin, pendampingan yang dilakukan oleh fasilitator di lapangan tak membuat masyarakat korban tercerabut dari akar kulturnya. Terlebih, menimbulkan ketergantungan masyarakat korban terhadap fasilitator dan lembaga bantuan. Proses pemulihan dari trauma tak akan berjalan efektif jika tidak didukung oleh kemandirian korban untuk lepas dari trauma. Adalah tugas kita semua, lembaga fasilitator trauma-healing, untuk mengingatnya.