Hosted by Photobucket.com

Wednesday, August 23, 2006

Mobil Tua dan Mata yang Mengintai dari balik Reruntuhan

sebuah pengantar proses

Garudayeksa. Itu namanya. Sebuah kijang tua tujuhpuluhan yang mengantar kami ke kehidupan di balik pepuing dan jejak debu di udara. Yang mempertemukan kami dengan dunia ajaib di balik bencana, dan menjadi saksi tumbuhnya kembali sebuah desa. Tempat di mana anak-anak tak lupa cara tertawa, dan orang-orang tua masih bisa bersenda. Di tengah kepasrahan dan reruntuhan.

Dari balik jendela Garudayeksa berkecepatan sedang, kami merekam tilas hidup desa yang luluh lantak akibat gempa berkekuatan 5,9 S.R, 27 Mei 2006 lalu, yang masih berdenyut tak kenal lelah meski bencana merenggut banyak dari mereka. Sebuah keajaiban yang membuat kami belajar memahami makna paradoks di balik bencana. Lihatlah. Di balik sekian pasang mata yang mengintai ketika kendaraan tua kami menyusur jalan yang membelah desa, kami melihat pijar. Menyala, meski tersaput jelaga sisa gempa. Sekian pasang mata itu tidak semata bertanya: ‘apa bantuan yang dapat diberikan untuk kami’, tetapi ‘apa yang dapat kita lakukan bersama untuk kembali pulih’. Darinya, kami membaca tekad untuk beranjak dari keterpurukan. Sebuah keajaiban.

Dan begitu banyak keajaiban lain. Relawan-relawan yang dengan komitmen penuh mengisi proses dengan atmosfir sejuk waktu ke waktu, bantuan demi bantuan yang datang tak terduga, sampai mogoknya sang Garudayeksa dan ban yang pecah ketika menjalankan tugas. Ajaib, sebab tak ada yang membuat kami surut, meski mesti melangkah dengan tersaruk-saruk. Meski compang-camping.

Armada ini memang compang-camping. Ketika bencana memorak-morandakan sebagian wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah seratus hari yang lalu, Perkumpulan Seni Indonesia, organisasi yang berangkat dari semata-mata komitmen ini, bertanya: apa yang dapat dilakukan untuk mereka, para korban bencana. Apa yang dapat kami gayuh, hanya dengan kapasitas dan kemampuan yang kami miliki. Hingga tersepakati sebuah proses yang demikian sederhana: pendampingan untuk anak-anak korban bencana, pada lingkup yang tak kalah kecil jika diperbandingkan dengan luas lingkup wilayah korban bencana. Sebentuk pendampingan yang diformulasikan dalam program sederhana pula: mengajak anak untuk mengungkapkan, dengan bahasa mereka sendiri, ketakutan-kegelisahan-luka jiwa-pikiran-anganangan dan harapan mereka untuk masa depan. Mengajak anak menyuarakan diri sendiri, dengan sesedikit mungkin menempatkan mereka sebagai objek. Dengan sedikit bekal yang kami miliki, selama bulan Juli hingga pertengahan Agustus, PSI menjalankan pendampingan di beberapa titik, antara lain: Pelemsewu, Kasongan, Pengkol, Bawuran, dan Karangasem.

Lalu, di sinilah kini kami berada, bersama Garudayeksa dan serangkaian keajaiban yang membuat program tahap awal berhasil terlampaui. Sesungguhnya, masih banyak yang ingin kami lakukan untuk bangkit bersama korban bencana. Masih banyak titik yang ingin kami singgahi menitih Garudayeksa: Payak, Bawuran Tengah, lereng Merapi, bahkan Pangandaran, jika saja kami mampu. Mungkin kelak. Sebab, ketika tikar digulung, anak-anak dampingan kami kembali ke rumah, dan sang Garudayeksa disimpan kembali dalam garasi, diam-diam kami menyimpan janji. Untuk selalu kembali.

Kini; Garudayeksa mungkin berhenti. Sejenak saja. Tetapi celoteh anak yang meramaikan hidup kami sebentar kemarin akan menggantikannya, melanglang tanah air dan belahan lain dunia, menceritakan suka-duka mereka di tengah reruntuhan dan kehilangan. Sementara kami hanya bisa memandang dan berdoa: semoga sesuatu yang sederhana ini cukup berarti. Semoga mereka, anak-anak di wilayah bencana, menemukan kekuatannya untuk melompat keluar dari ingatan buruk tentang gempa, pada suatu pagi dini.

Dan inilah armada Garudayeksa, relawan-bagian PSI pada mana saya mesti mengucapkan terima kasih sedalamnya: Landung Simatupang, Hari Santosa, Pak Piet Hari, Ina Landung, Ibu Tuti, Ibnu ‘Denko’ S, Anto, Ivan Bestari, Dewi, Tri ‘Mungil’ W, Prasetyo ‘Sinyo’, Fr. Danang, Anggie, dan Tita.
Terima kasih pula untuk dukungan penuh awak PSI di Betawi terhadap proses: FX Rudy Gunawan, Agung Yudha, Andi Yuwono, Raharja W. Jati.
Serta seluruh keajaiban yang menyertai kami sepanjang proses: Maya, Frans, Ibu Agus Sukidi, Ibu Soni, Paroki Katedral Denpasar, Ibu Retno Iskandar dan KPH Kotabaru, Pak Wiwit C-59, Ninit Yunita dan Adhitya Mulya, Icha Rahmanti, Rumah Seni Cemeti, Rm. Windyatmaka dan Wisma Mahasiswa, Gerakan Jogja Bangkit, Bapak Ryan Masagung dan TB Gunung Agung, Tinuk Yampolsky, Yayasan Pustaka Kelana, Penerbitan Kanisius, Tita Rubi dan Studio Biru, Shabaviz Publishing House Iran, Gun Yayincilik Publishing House Mesir, Bp Diyono dan Masyarakat Pengkol-Kulonprogo, dan semua pihak yang tak dapat disebut satu per satu.


There always be miracle, when you believe.


“You may give them your love but not your thoughts.
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls.
For their souls dwell in the house of tomorrow, which
you cannot visit, not even in your dreams.”

—Kahlil Gibran, The Prophet, “On Children”—

Bencana, Trauma, dan Akar Kultur

Miranda Harlan

Ada satu hal yang kerap ternafikan ketika bencana mengembalikan sebagian manusia ke titik mula kehidupan, dan menggerakkan sebagian yang lain untuk memberi bantuan, hampir tanpa arah dan koordinasi. Ialah akar kultur masyarakat korban bencana.

Pascabencana bagi masyarakat korban adalah masa yang rentan secara sosiokultural. Ketergantungan korban terhadap bantuan di masa tanggap-darurat bencana menimbulkan problema-problema sosial yang peka, karena hiruk-pikuk bantuan tak lepas dari tumpang-tindih kepentingan. Wajar bila isu semacam Kristenisasi, Islamisasi, Indomie-sasi, sampai terbentuknya budaya ‘kridha lumahing asta’, tanpa memasalahkan tendensi di balik pahlawan pemberi bantuan, menjadi isu faktual yang mengkhawatirkan. Tanpa pertimbangan yang bijaksana dari pemberi bantuan, masyarakat korban bencana, alih-alih terbantu, bisa-bisa justru terancam akan tercerabut dari akar kulturnya semula.

Hal ini menjadi kekhawatiran sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta, pascabencana yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei lalu. Menurut mereka, rupa-rupa bantuan yang diterima korban, jika tak dimaknai secara benar, berpotensi membelokkan masyarakat korban dari kultur semula. Kesadaran akan hal ini, bagi kalangan kebudayaan, mestinya tak hanya disadari oleh masyarakat korban alias penerima bantuan, tetapi pun oleh lembaga-lembaga penyalur bantuan.

Kekhawatiran akan bergesernya kultur masyarakat korban akibat bencana disampaikan Whani Dharmawan, yang dengan beberapa budayawan lain seperti Bondan Nusantara dan Miroto, membentuk Gerakan Jogja Bangkit. Sebuah gerakan pemulihan pascabencana melalui pendekatan kultural. Membanjirnya bantuan, menurut Whani, jika tidak dikelola dengan baik oleh lembaga-lembaga distribusi, dapat menimbulkan, semisal, budaya ‘kridha lumahing asta’ atau budaya meminta-minta. Adalah kewajiban lembaga penyalur untuk mengorganisir bantuan yang masuk dan melibatkan masyarakat korban secara sedemikian rupa sehingga terhindar dari mentalitas peminta-minta. Hal senada diungkapkan pula oleh Landung Simatupang, “Jangan sampai bantuan berdus-dus mi instan membuat ibu-ibu lupa cara memasak jangan brongkos.” Pada tataran hidup bermasyarakat, Landung menggarisbawahi kultur bergotong-royong, toleransi, dan saling pengertian, yang terancam pupus jika bantuan tidak disikapi secara proporsional. Terlebih, ketika masyarakat korban bencana berada dalam kondisi mental yang labil.

Karena itu, proses pemulihan kejiwaan korban bencana menjadi urgensi yang mesti pula diperhatikan, di samping pembangunan dan pemulihan fisik. Dengan landasan mental yang kuat, masyarakat akan memaknai bencana sebagai sebuah momentum. Untuk bergerak, membangun kembali, untuk beranjak kepada pemahaman yang lebih. Dengan mental yang sehat, masyarakat korban gempa akan memaknai bencana secara positif, tanpa tercerabut dari akar kulturnya.

Pulih dari trauma melalui gerakan kebudayaan

Gerakan kebudayaan adalah jalur yang dipilih oleh sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta untuk memulihkan kondisi kejiwaan masyarakat korban gempa. Jogja Bangkit—sebuah lembaga yang berdiri atas kerja sama beberapa penerbit dan dikelola oleh Julius dan Penerbit Galang Press—misalnya, menjalankan trauma healing dengan mengelilingkan hiburan Badut Sponge Bob dan Ketoprak Den Baguse Ngarso ke daerah-daerah bencana di Yogyakarta. Pada tataran lanjut, Romo Banar mengatakan media hiburan semacam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk terjadinya dialog antarwarga. Dialog untuk saling berbagi dalam kelompok-kelompok kecil, dengan didampingi fasilitator, adalah salah satu proses pemulihan trauma yang dapat diterapkan untuk orang-orang tua. Sebab, seperti disampaikan Landung Simatupang, trauma yang dialami anak-anak, selain sebagai dampak bencana sendiri, kerap kali merupakan tularan dari orangtua. Sementara pemulihan trauma untuk orang tua, dalam implementasi bantuan, cenderung dinomorduakan dari proses pemulihan trauma untuk anak.

Pendampingan terhadap orang tua dalam proses berbagi dilakukan pula oleh relawan-relawan dari Bulungan, Jakarta, di posko Kepuhan (Imogiri, Bantul) yang dikelola oleh Ihsan ‘Dobleh’ Zulkarnain dan Wendy Shan Wong dari Institut Seni Indonesia. Wendy, pada pengalaman di lapangan, menemukan kenyataan bahwa korban pada usia produktif dan lanjut ternyata membutuhkan muara untuk mencurahkan isi hati. Kebutuhan itulah yang kemudian difasilitasi sebagai salah satu implementasi pemulihan trauma bagi masyarakat korban.

Selain melalui proses berbagi, pemulihan trauma untuk korban usia produktif dapat pula dilakukan melalui bangkit dan hidupnya kembali rutinitas masyarakat sebelum bencana terjadi. Keyakinan akan hal inilah yang melandasi program Gerakan Jogja Bangkit untuk masyarakat korban bencana.

Pascagempa 27 Mei lalu, perhatian warga korban usia produktif terserap pada rehabilitasi hunian-hunian yang rusak, sehingga mereka tak sempat menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi rutinitas sebelum bencana terjadi. Aktivitas inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Gerakan Jogja Bangkit. Dengan memberi bantuan riil sesuai bidang pencaharian masyarakat korban gempa, Whani berharap trauma yang dialami oleh masyarakat korban pada usia produktif akan teratasi. Dua minggu pascagempa, misalnya, Gerakan Jogja Bangkit memberi bantuan dua puluh unit sepeda untuk korban yang sebelum gempa bermata pencaharian sebagai tukang sol sepatu keliling. Gerakan Jogja Bangkit juga mendirikan sekolah dan pondok baca untuk anak di Kasongan, Bergan, dan Payak, Bantul, DIY. Meski dikemas sebagai bantuan untuk anak, Whani berharap pondok-pondok baca ini kemudian menjadi media berkumpulnya orang-orang tua, dan selanjutnya dapat menjadi rangsangan untuk menjalankan aktivitas bermasyarakat seperti semula, sebelum terjadi bencana.

Masih dalam kerangka tujuan dan upaya yang sama, seniman tari Miroto menghidupkan kembali kelompok-kelompok kesenian ketoprak di pedesaan, dan berharap proses tersebut dapat dipentaskan di luar Yogya. Dengan melibatkan mereka dalam proses berkesenian, mengajak korban bencana untuk beraktivitas rutin, dan mengepulkan kembali tungku-tungku dapur mereka, Miroto berharap proses ini memijarkan semangat baru dalam diri korban. Sekali lagi, tanpa menjerumuskan mereka menjadi kaum yang ‘kridha lumahing asta’.

Ekspresi Anak, Sembuhnya Luka

Merujuk pada deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Peringatan Tahun Anak Sedunia (1979), anak-anak termasuk salah satu kelompok yang harus diutamakan sebagai penerima bantuan di saat terjadi bencana.

Ketika perhatian orangtua dan pengampunya terserap pada proses membangun kembali hidup pascabencana, anak menjadi objek yang rentan mengalami gangguan kejiwaan. Anak kerap terlalaikan, dan secara tanpa sadar terus tergerus oleh trauma orangtua dan pengampunya terhadap bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Anak kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri dan mengekspresikan keinginannya untuk dipahami, dalam konteks kehidupan pascabencana. Berbeda dengan korban berusia dewasa yang mampu berbagi beban dan ganjalan yang ditanggungnya kepada orang lain, proses pemulihan trauma untuk anak memiliki kompleksitas dan bentuk penanganan tersendiri.

Piaget, seorang ahli psikologi anak, menyatakan bahwa permainan menjembatani ruang kosong antara pengalaman-pengalaman yang nyata dengan pikiran dan perasaan yang bergolak dalam diri anak. Demikian pula kesenian. Permainan dan kesenian, oleh ahli terapi anak, sejak lama diyakini sebagai bentuk terapi yang tepat bagi anak-anak korban bencana. Melalui bermain dan berkesenian, anak mengekspresikan dirinya dan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan media tersebut, anak menyampaikan kebutuhannya. Dus, kondisi kejiwaannya menjadi lebih mudah dipahami.

Berpijak pada pemahaman tersebut, beberapa lembaga seperti Laboratorium Pembelajaran Cakrawala dan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) memusatkan perhatian dan melakukan pendampingan terhadap anak-anak, melalui proses bermain dan berkesenian bersama. Seperti diungkapkan oleh Detty Aryanti, ahli psikologi anak yang berpengalaman menangani korban trauma Badai Katrina di Amerika Serikat, tahun 2005 lalu, jika orang dewasa mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata, pada anak-anak, mainan dan benda adalah “kata-kata”, dan permainan adalah “bahasa”. Menyediakan media bagi anak untuk berkomunikasi adalah bantuan yang tepat guna memulihkan anak dari trauma.

Hari Santosa, pemilik Sanggar Menggambar Melati Suci yang selama bertahun-tahun berpengalaman bergulat dengan anak-anak, meyakini bahwa menggambar merupakan salah satu media yang tepat untuk mengekspresikan kegelisahan yang tersimpan di alam bawah sadar anak. Bersama PSI, Hari Santosa melakukan pendampingan terhadap anak-anak di beberapa titik bencana, di antaranya Kasongan, Bawuran, Pelemsewu, dan Pengkol. Melalui menggambar, Hari mengajak anak melangkah, mengambil jarak dari penyebab trauma, yang pada tingkat lanjut membuat anak secara mandiri mampu mengatasi trauma yang dialaminya. Selain menggambar, PSI mendekatkan anak dengan tradisi tulis, dan mendorong anak untuk menceritakan pengalaman batinnya dengan membuat cerita. Untuk mendukung keberlangsungan proses kreatif anak, PSI membangun pula perpustakaan sederhana untuk mereka.

Pustaka merupakan infrastruktur kreativitas yang cukup penting. Dalam perjalanan program bersama PSI, Landung Simatupang menemui kenyataan yang menyedihkan; betapa anak di pedesaan masih begitu jauh dari tradisi menulis. Jangankan membuat sebuah karangan utuh, sebagian besar dari mereka belum bisa menulis dengan ejaan yang benar, terlebih menggunakan tanda baca. Gejala ini menunjukkan rendahnya mutu pendidikan anak di pedesaan. Sesuatu yang mestinya dicermati oleh lembaga-lembaga yang peduli.

Serupa dengan PSI, Laboratorium Pembelajaran Cakrawala bekerja sama dengan masyarakat lokal membangun Pusat Kegiatan Anak (Children Center) sebagai upaya memulihkan trauma anak-anak korban bencana. Cakrawala memfokuskan program pada satu desa binaan dengan menyediakan fasilitator, sarana yang diperlukan, serta materi atau “kurikulum” yang terstruktur. Rangkaian kegiatan yang ditawarkan kepada anak terdiri dari tiga tahap. Berawal dari penanganan kebutuhan dasar yang meliputi pemulihan daya kerja indera peraba (bermain-main dengan pasir, air, tanah liat, dan lilin). Pada tahap kedua, anak diajak untuk menggambar, menulis, membuat boneka atau wayang, bermain musik, dan mendongeng. Kesemua keasyikan tersebut bermuara pada tahap ketiga, di mana anak akan membuat pertunjukan; menyusun cerita drama, dan bermain teater. Dengan cara tersendiri, terapi anak melalui teater diterapkan pula oleh Sheep of Peace, bekerja sama dengan Anak Wayang Indonesia.

Bagaimanapun bentuknya, rangkaian upaya pemulihan trauma terhadap korban bencana tak boleh dilepaskan dari akar kultur masyarakat. Seperti diungkapkan Landung Simatupang, lembaga-lembaga penyalur bantuan mesti mempertimbangkan aspek ini secara bijaksana sebelum menjalankan program trauma-healing. Sedapat mungkin, pendampingan yang dilakukan oleh fasilitator di lapangan tak membuat masyarakat korban tercerabut dari akar kulturnya. Terlebih, menimbulkan ketergantungan masyarakat korban terhadap fasilitator dan lembaga bantuan. Proses pemulihan dari trauma tak akan berjalan efektif jika tidak didukung oleh kemandirian korban untuk lepas dari trauma. Adalah tugas kita semua, lembaga fasilitator trauma-healing, untuk mengingatnya.