Hosted by Photobucket.com

Sunday, July 09, 2006

Resensi Identitas

[Koran Tempo, Minggu, 4 Juni 2006]

Identitas adalah label yang konstan, yang setia, dan dengan seluruh perekatnya mengingatkan kita terus menerus akan hidup yang nyata, yang hakikat; yang bukan mimpi belaka. Dalam mimpi, identitas dan entitas berbaur dan mengabur. Kekaburan inilah yang membuat jarak antara yang mimpi dan yang nyata. Tetapi, di manakah letak dan makna identitas ketika yang mimpi dan yang nyata berkelindan?

Pemikiran tentang relasi antara entitas, identitas, yang mimpi, dan yang nyata tak berhenti sampai di situ. Dalam Identity (versi bahasa Indonesia berjudul Identitas, diterjemahkan oleh Landung Simatupang), Milan Kundera, dengan cerdas, reflektif, di beberapa bagian cenderung satir, mempertanyakan makna yang mimpi, yang imaji, terhadap identitas; terhadap perihal yang mendasari munculnya gagasan eksistensialisme. Dan yang terpenting, membungkusnya dalam peristiwa sederhana, yang sehari-hari, tanpa menyisihkan keunikan setiap perihal sehari-hari.

(["mb","p.27-28) Chantal tersipu,\ndan percakapan antara dua pribadi ini pun terhenti. Tetapi beberapa\nhari kemudian, Chantal mulai mendapati surat-surat tak bernama dalam\nsampul tak berperangko tak beralamat yang tertuju untuknya, terselip di\ndalam kotak posnya. "Aku menguntitmu ke mana-mana seperti mata-mata.\nKau cantik, cantik sekali." \n \nImaji akan seorang pengagum rahasia memantik kembali gairah hidup\nChantal yang memadam; ia merasa berada dalam kerumunan dan mulai\nterbakar hingga melenyap jadi sosok tak kasat mata karena menua. Imaji\nitu mengembalikan kepadanya gagasan tentang promiskuitas, hasrat\nmenjadi "aroma mawar yang merebak, menembus semua laki-laki dan,\nmenembus melalui laki-laki, merangkul seluruh dunia" (p.43). Lewat\nsurat-surat itu, Chantal merasa identitasnya mengutuh, yang sebelumnya\ntereduksi oleh keberadaan Jean-Marc. Surat-surat itu membuatnya kembali\ntersipu seperti remaja belasan tahun. Ia dengan asyik menerka-nerka\nsiapa laki-laki yang tahu persis detail kesehariannya, dan menghidupkan\nkarakter si pengagum rahasia dalam percintaan-penuh-gairahnya dengan\nJean-Marc. Alih-alih bercerita kepada Jean-Marc, ia memilih untuk\nmenyimpan surat-surat itu di balik tumpukan behanya; menghindari\nkonsekuensi diolok-olok oleh pasangannya sebagai pembual dan menikmati\nkesenangan akan dikagumi itu, sendirian. Hingga sebuah peristiwa\nmembangkitkan kecurigaan dan perasaan telah dikhianati yang rumit\nantara mereka berdua. \n \nSeperti dalam tulisannya yang sudah-sudah, yang analitik, eksploratif\ndan dengan elaborasi yang sabar, Kundera mengungkapkan kegalauan\nmanusia terhadap identitas, terhadap arti keberadaan. Kegalauan demi\nkegalauan itu tercecer dalam sudut-sudut kehidupan Chantal dan\nJean-Marc; cinta, persahabatan, kematian dan setelah-kematian, bahkan\nhidup sebelum kelahiran. "Ketahuilah, bahkan dalam perut ibumu pun,\nyang konon sakral, kamu masih tetap bisa dijangkau. Mereka memfilmkan\nkamu, mereka memata-matai kamu, mereka memperhatikanmu bermasturbasi.\nKamu tidak pernah bisa menghindar dari mereka selagi kau masih hidup,\nitu semua orang tahu. Tapi ternyata kamu juga tidak bisa menghindar\ndari mereka, bahkan sebelum kamu lahir pun. Begitu juga kamu tidak bisa\nmenghindari mereka sesudah kamu mati." (",1] ); Identitas adalah tentang sepasang kekasih yang hidup bersama; Chantal, si perempuan yang bergulat di antara khayalan tentang promiskuitas dan konformisme yang membuatnya baur dalam setiap kehidupan dengan wajah berbeda, dan Jean-Marc, si laki-laki berumur empat tahun lebih muda darinya, yang mencintai Chantal dengan mendalam dan dengan pemikiran romantisnya yang berujung pada katarsis. Pada suatu hari dalam liburan mereka, Chantal berkata kepada Jean-Marc, "Laki-laki tak lagi menoleh kepadaku". Jean-Marc menatapnya tak mengerti. "Lelaki tidak lagi menoleh memandangmu. Memang itu yang bikin kamu sedih?" Bagaimana kau bisa berpikir lelaki tidak lagi menolehmu, padahal aku tidak pernah berhenti mengubermu di mana pun juga kamu? (p.27-28) Chantal tersipu, dan percakapan antara dua pribadi ini pun terhenti. Tetapi beberapa hari kemudian, Chantal mulai mendapati surat-surat tak bernama dalam sampul tak berperangko tak beralamat yang tertuju untuknya, terselip di dalam kotak posnya. "Aku menguntitmu ke mana-mana seperti mata-mata. Kau cantik, cantik sekali."

Imaji akan seorang pengagum rahasia memantik kembali gairah hidup Chantal yang memadam; ia merasa berada dalam kerumunan dan mulai terbakar hingga melenyap jadi sosok tak kasat mata karena menua. Imaji itu mengembalikan kepadanya gagasan tentang promiskuitas, hasrat menjadi "aroma mawar yang merebak, menembus semua laki-laki dan, menembus melalui laki-laki, merangkul seluruh dunia" (p.43). Lewat surat-surat itu, Chantal merasa identitasnya mengutuh, yang sebelumnya tereduksi oleh keberadaan Jean-Marc. Surat-surat itu membuatnya kembali tersipu seperti remaja belasan tahun. Ia dengan asyik menerka-nerka siapa laki-laki yang tahu persis detail kesehariannya, dan menghidupkan karakter si pengagum rahasia dalam percintaan-penuh-gairahnya dengan Jean-Marc. Alih-alih bercerita kepada Jean-Marc, ia memilih untuk menyimpan surat-surat itu di balik tumpukan behanya; menghindari konsekuensi diolok-olok oleh pasangannya sebagai pembual dan menikmati kesenangan akan dikagumi itu, sendirian. Hingga sebuah peristiwa membangkitkan kecurigaan dan perasaan telah dikhianati yang rumit antara mereka berdua.

(["mb","p.61) Di satu bagian, Kundera\nmenyindir televisi dengan serangkaian program representasi kitsch yang\nmenenggelamkan manusia dalam kerumunan komunal dan melenyapkan\nidentitas, justru dengan mengangkatnya ke permukaan. Seperti\ndiungkapkannya dalam The Art of Novel, bagi Kundera novel adalah ajang\neksplorasi eksistensi manusia, tanpa menanggalkan kejenakaan yang satir\nsebagai spirit tulisan-tulisannya. \n \nNovel setebal 175 halaman ini terdiri dari 51 bab pendek-pendek,\nditerjemahkan oleh Landung dengan irama tutur memikat dan kosakata yang\nkaya. Perspektif penutur melompat-lompat dari Chantal ke Jean-Marc ke\npribadi sang penulis; di banyak bagian, pemikiran yang tecermin melalui\nkarakter di dalamnya membuat pembaca berhenti untuk merenung dan\nberefleksi. Surat-surat yang diterima Chantal hampir setiap hari\nmungkin mengingatkan kita pada Dunia Sophie (Jostein Gaarder); bedanya,\nTuhan dalam konteks Dunia Sophie adalah sang pencipta, dan tuhan dalam\nkonteks surat-surat untuk Chantal adalah wujud berhala baru manusia\nmodern: citra diri. Identitas, karenanya adalah sebuah novel posmo yang\nmempertanyakan kembali keberadaan manusia, ketika ia dipandang tak lagi\nsebagai manusia tetapi sebagai semata simulakrum. Pertanyaan itu\nbertahan hingga akhir cerita, di mana Chantal mengalami kebalauan\nidentitas di tengah imaji akan pesta orgy; sebuah kerumitan yang seolah\ntanpa ujung. Identitas meninggalkan gaung panjang selepas membaca. Ia\nmemantik pemikiran dan refleksi mendasar seorang manusia melalui sebuah\nskenario sederhana yang tidak bertele-tele. Akan tetapi, Identitas\nbukanlah sebuah jawaban. Sebab akhirnya justru permulaan pencarian itu\nsendiri. [] \n
*penulis, tinggal di Yogyakarta
",1] ); Seperti dalam tulisannya yang sudah-sudah, yang analitik, eksploratif dan dengan elaborasi yang sabar, Kundera mengungkapkan kegalauan manusia terhadap identitas, terhadap arti keberadaan. Kegalauan demi kegalauan itu tercecer dalam sudut-sudut kehidupan Chantal dan Jean-Marc; cinta, persahabatan, kematian dan setelah-kematian, bahkan hidup sebelum kelahiran. "Ketahuilah, bahkan dalam perut ibumu pun, yang konon sakral, kamu masih tetap bisa dijangkau. Mereka memfilmkan kamu, mereka memata-matai kamu, mereka memperhatikanmu bermasturbasi. Kamu tidak pernah bisa menghindar dari mereka selagi kau masih hidup, itu semua orang tahu. Tapi ternyata kamu juga tidak bisa menghindar dari mereka, bahkan sebelum kamu lahir pun. Begitu juga kamu tidak bisa menghindari mereka sesudah kamu mati." (p.61) Di satu bagian, Kundera menyindir televisi dengan serangkaian program representasi kitsch yang menenggelamkan manusia dalam kerumunan komunal dan melenyapkan identitas, justru dengan mengangkatnya ke permukaan. Seperti diungkapkannya dalam The Art of Novel, bagi Kundera novel adalah ajang eksplorasi eksistensi manusia, tanpa menanggalkan kejenakaan yang satir sebagai spirit tulisan-tulisannya.

Novel setebal 175 halaman ini terdiri dari 51 bab pendek-pendek, diterjemahkan oleh Landung dengan irama tutur memikat dan kosakata yang kaya. Perspektif penutur melompat-lompat dari Chantal ke Jean-Marc ke pribadi sang penulis; di banyak bagian, pemikiran yang tecermin melalui karakter di dalamnya membuat pembaca berhenti untuk merenung dan berefleksi. Surat-surat yang diterima Chantal hampir setiap hari mungkin mengingatkan kita pada Dunia Sophie (Jostein Gaarder); bedanya, Tuhan dalam konteks Dunia Sophie adalah sang pencipta, dan tuhan dalam konteks surat-surat untuk Chantal adalah wujud berhala baru manusia modern: citra diri. Identitas, karenanya adalah sebuah novel posmo yang mempertanyakan kembali keberadaan manusia, ketika ia dipandang tak lagi sebagai manusia tetapi sebagai semata simulakrum. Pertanyaan itu bertahan hingga akhir cerita, di mana Chantal mengalami kebalauan identitas di tengah imaji akan pesta orgy; sebuah kerumitan yang seolah tanpa ujung. Identitas meninggalkan gaung panjang selepas membaca. Ia memantik pemikiran dan refleksi mendasar seorang manusia melalui sebuah skenario sederhana yang tidak bertele-tele. Akan tetapi, Identitas bukanlah sebuah jawaban. Sebab akhirnya justru permulaan pencarian itu sendiri. []

*penulis, tinggal di Yogyakarta