Hosted by Photobucket.com

Tuesday, July 11, 2006

Maridjan: The Man Behind Merapi

Lewat tengah hari menjelang senja, kami memasuki halaman sebuah rumah sederhana yang tampak tenang, meski tak terlalu lengang. Orang tua itu sedang berdiri di pekarangan rumah, bersama beberapa orang yang mengerumun di dekatnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar langkah pelannya mendekati kami. Orang tua itu tersenyum hangat, sembari bersalam. “Sinten, niki?”1 sapanya karib. Dalam sekejap, rasa waswas yang sesekali bersambang selama berada di kawasan Kinahrejo-Kaliadem, lenyap tersapu sorot mata yang arif sekaligus menentramkan hati.

Kedatangan kami disambut langsung oleh Mbah Maridjan, the man behind Merapi.

Kebersahajaan, seperti dikatakan semua orang, nyata lekat pada sosok R. Ng. Suraksohargo, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan itu. Tak sedikit pun tersirat keangkuhan dalam diri sang juru kunci Merapi, meski belakangan ia dikabarkan bersikap mbalela karena menolak perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Jusuf Kalla untuk turun gunung ketika aktivitas Merapi meningkat sampai status Awas. Alih-alih mengungsi, orang tua yang linuwih (dianggap memiliki kelebihan) ini memilih tetap bertahan di Kinahrejo, ketika 14 Juni lalu Merapi kembali mengeluarkan awan panas yang mencapai pemukiman penduduk. Saat itu, warga dukuh Kinahrejo yang terkenal enggan mengungsi berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal mereka menuju Balai Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, termasuk isteri dan anak-anaknya.

Bagi Mbah Maridjan, sikap bertahan adalah salah satu wujud baktinya sebagai juru kunci Merapi, selayaknya nama Suraksohargo, yang secara harfiah berarti ‘menjaga gunung’. Dengan bertahan, Mbah Maridjan menjalankan laku prihatin dan berdoa, memanjatkan permohonan keselamatan. Tak hanya untuk warga yang bermukim di sekitar Gunung Merapi, tetapi juga untuk seluruh warga Daerah Istimewa Yogyakarta. Entah adakah kaitan antara sikap bertahannya dengan mistik dan klenik, seperti kerap dimitoskan. Bagi Mbah Maridjan, ketika Gunung Merapi sedang giat beraktivitas seperti saat-saat ini, hanya berdoa yang bisa ia lakukan. “Saged-e kulo nggih namung nyuwun kawilujengan dumateng Ingkang Maha Kuwaos. Liya-liyane kulo mboten saged, saestu.”2

Persepsi yang mengaitkan Mbah Maridjan dengan dunia klenik mungkin muncul karena ritual-ritual yang dilakukannya sebagai penjaga; juru reresik, juru kunci Gunung Merapi. Caranya memanjatkan permohonan kepada Yang Maha Kuasa memang sarat nilai-nilai tradisional, hal-hal yang belum sanggup dijelaskan dengan nalar pengetahuan dan akal sehat. Hal-hal yang kemudian oleh persepsi umum disepakati sebagai klenik. Tengok sejenak kebiasaannya. Sejak status Merapi ditingkatkan menjadi Awas, sehari-hari Mbah Maridjan menjalankan puasa mutih sebagai laku prihatin. Hanya makan sekepal nasi dan minum air putih, selain mengisap rokok putih kegemarannya. Secara rutin dijalankannya laku tirakat. Bersemadi di kediamannya, di Paseban Sri Manganti (terletak di pos I Gunung Merapi), atau Paseban Labuhan Dalem (pos II). Setiap tanggal 30 Rejeb Tahun Saka ia melakukan ritual Labuhan di Paseban Labuhan Dalem, bersama para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ritual ini biasanya disertai pula oleh rombongan pecinta alam dan masyarakat. Doa untuk Eyang Empu Romo, Eyang Empu Permadi, Eyang Panembahan Sapu Jagat (dikenal juga dengan nama Kyai Sapu Jagat), dan semua yang lenggah3 di Gunung Merapi tak pernah ditinggalkan ketika menjalankan ritual. Selain itu, setiap sudut ruang tamu rumahnya dipenuhi pusaka, foto Sri Sultan Hamengkubuwono X, penanggalan Jawa-Islam, dan foto Gunung Merapi. Tetapi di antara kesehariannya, kerabat Keraton ini tak pernah meninggalkan salat lima waktu di masjid yang dibangunnya di ujung pekarangan rumah. Klenikkah ia?

Wallahu’alam. Seperti dinyatakan sendiri olehnya, sebagian orang menganggap Mbah Maridjan sebagai puncak kearifan lokal, yang karena kedekatan dengan Gunung Merapi dan kejernihan hatinya, sanggup mengenali setiap tanda-tanda yang dikeluarkan sang gunung. Barangkali bahkan tak ada hubungannya dengan mistik dan klenik. “Psikologi Merapi itu ya Maridjan,” ujar Ong Hari Wahyu, seorang perupa, menggambarkan betapa menunggalnya sosok Mbah Maridjan dengan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia ini. “Karena dia sejak kecil di situ. Hidup, makan, minum air Merapi, jadi dia sudah bisa membaca gejala alam.”

Perjalanan Mbah Maridjan mengenal Gunung Merapi tentulah sudah sangat panjang. Maridjan lahir tahun 1927 dan dibesarkan di Merapi. Dari almarhum ayahnya, Mas Penewu Suraksohargo, ia mewarisi jabatan sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tahun 1974, ia diangkat menjadi Wakil Juru Kunci. Pada masa-masa itu ia kerap mewakili ayahnya dalam laku Labuhan, pada peringatan jumenengan (naik tahta) Sultan. Tahun 1982, sepeninggal ayahnya, Mbah Maridjan diangkat menjadi Mantri Juru Kunci. Tiga belas tahun kemudian, Sri Sultan Hamengkubuwono X, lewat Serat Kekancingan Dalem Ngarsa Dalem Sultan Hamengkubuwono X tertanggal 3 Maret 1995, menaikkan pangkat Mbah Maridjan menjadi Mas Penewu Juru Kunci, jabatan yang dipangkunya hingga saat ini.4

Selama lebih dua puluh tahun Mbah Maridjan telah mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengabdikan diri sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tetapi pergulatannya dengan Merapi menempuh jarak berlipat lebih panjang. Sejak kecil, ia yang tinggal di lereng selatan Merapi telah mencerap kearifan sang ayah (yang konon juga dimiliki ibunya) dalam menghadapi tindak-tanduk Merapi. Selama perjalanan panjang hampir seumur hidup, ia tak hanya belajar mengenali gejala-gejala alam berkaitan dengan aktivitas Merapi. Tetapi juga belajar memahami “keinginan” sang gunung yang tak pernah berhenti “memberi” pada warga di sekitarnya tersebut, melalui laku tirakat dan kebersahajaan yang tak pernah lepas.

Bagi Mbah Maridjan, Merapi adalah makhluk gaib yang bernafas, berpikir, dan berperasaan. Jangan mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, demikian selalu pesan Mbah Maridjan. “Mbledhos, njeblug, wedhus gembel,” kepada kami ia merinci istilah-istilah yang umum digunakan oleh masyarakat mengenai aktivitas Merapi, tetapi membuat Sang Makhluk terluka perasaannya. Istilah-istilah itu, menurut Mbah Maridjan, memang umum digunakan, tetapi baginya tetaplah “kurang umum” alias tidak sopan. “Kanggo wong pinter mbok menawi kedah ngaten niku, nanging kanggo wong bodho kados kulo niki nggih mboten makaten.5

Bagi “orang-orang bodoh”, lanjutnya, saat ini Merapi sedang “membangun”. Suara gelegar yang beberapa kali terdengar diibaratkannya sebagai “orang tua yang sedang memecah batu di puncak Gunung Merapi”. Jikapun aktivitas Merapi kini meningkat, itu berarti Sang Gaib yang lenggah di sana sedang punya hajat. Dan menurut Mbah Marijan, selayaknya orang punya hajat, sampahnya tidak akan dibuang ke depan, tetapi ke samping dan belakang rumah.

Sifat Jawa yang sarat simbol tersirat dari cara Mbah Maridjan menjelaskan apa yang tengah terjadi pada Merapi. Gunung Merapi yang terhubung dengan Laut Selatan dan menjadi salah satu poros imajiner sebagai kekuatan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memang diibaratkannya menghadap Keraton Yogya. Sedang bagian “depan rumah” yang dimaksudkannya adalah bagian selatan gunung, yakni kota Yogyakarta. Tak hanya sarat simbol, selayaknya apa yang telah dipercayai selama bertahun-tahun, Mbah Maridjan bersikap sangat halus terhadap Merapi. Ritual dan tatacara yang ia lakukan adalah bentuk penghormatan pada makhluk yang dijaganya. Agar Sang Gunung senantiasa bersabar, tak memasukkan dalam hati perilaku orang-orang kota yang terkesan mengecilkan artinya. Dalam kebijakan pikirnya, Mbah Maridjan menyadari bagaimana sikap “orang-orang pandai” telah melukai Gunung Merapi. Membawa dampak buruk bagi masyarakat yang bermukim di sekitar gunung.

Tak hanya perilakunya yang sarat nilai tradisi. Tutur kata Mbah Maridjan pun selalu bernilai simbolik. Di balik kerendahan hati dan kebersahajaan, lelaki tua yang membuka diri pada dunia dan suka bicara dengan siapa pun ini menyimpan kebijaksanaan. Suatu kali, seperti dituturkan oleh budayawan Landung Simatupang, pada suatu acara hajatan, Mbah Maridjan bercerita. Tentang rombongan pendaki Gunung Merapi yang diantarnya. Mereka, orang-orang kota dengan pakaian modern dan atribut lengkap termasuk sepatu gunung, merasa heran pada Mbah Maridjan yang menyertai perjalanan mereka tanpa alas kaki. Di tengah perjalanan yang sulit, salah satu dari mereka bertanya, kenapa ia tak menggunakan alas kaki. “Kan panas?” Mbah Maridjan diam sejenak. Mengembuskan nafas, memandang tajam si penanya, dan dengan sebersit senyum justru balik bertanya: kenapa mereka tak menggunakan penutup kepala.

Pertanyaannya tentu saja membuat si penanya bingung. Menangkap selisih paham antara mereka, Mbah Maridjan melanjutkan kalimatnya dengan enteng: saya tidak mengenakan alas kaki, tetapi menutup kepala (dengan kopiah). Karena bagi saya, kepala lebih utama daripada kaki. Karena kepalalah yang berpikir dan memberi perintah pada kaki untuk berjalan. Sementara kaki hanya saya gunakan untuk melangkah.

Bagi Landung, cerita di atas menunjukkan bagaimana sikap bijak Mbah Maridjan menempatkan keutamaan dan mengesampingkan logika praktis orang kota, alias “orang-orang pandai”. Sebuah kalimat bermakna ganda, berkonotasi demikian filosofis, yang mungkin hampir tak pernah terpikirkan oleh kita semua. Ceritera ini tersurat pula dalam buku The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, bersama sebuah kalimat bersayapnya yang lain: “Buah yang kamu pungut di bawah pohon terasa manis dan masak, sebaliknya yang kamu petik dari pohon dengan menyogoknya pakai tongkat bambu akan selalu terasa pahit.”6

Monggo lho, silakan dimakan. Ini bukan fantasi,” paksa Mbah Maridjan pada kami, menjelang senja di rumahnya. Dengan cekatan dibukanya setoples kue kering yang manggrok di hadapan kami, ditemani gelas-gelas berisi teh hangat yang kental dan manis yang terasa legit di tengah hawa dingin menusuk tulang. Sekali lagi, ia mengatakan kalimat yang sama: supaya kami segera menikmatinya. “Niki sanes fantasi, niki tenanan,7 ujarnya lucu. Dari pengalaman kami yang pendek bersamanya, sosok sederhana itu memang memancarkan kebaikan hati yang tak dibuat-buat. Tetapi sosok Mbah Maridjan tak sekadar sosok yang baik hati dan bersahaja. Di dalamnya tersimpan kebijaksanaan dan pemahaman tentang esensi hidup. Lewat kesempatan itu, mungkin ia sedang berusaha mengingatkan kami akan hakikat hidup modern, yang kini dipenuhi oleh fantasi belaka. Dan jalan untuk mengetahui yang sebenar-benarnya adalah tidak dengan mengamatinya. Membedahnya dengan pisau analisis. Tetapi menjalaninya. Mencicipinya. Menikmatinya.


Saya ini cuma orang bodoh...”

Dalam beberapa perbincangan dengan narasumber yang berbeda, kami hampir selalu menemukan kalimat yang lantas seolah menjadi trademark Mbah Maridjan. Kalimat yang mengesankan kerendahan hati dan kebersahajaannya, dan menjauhkannya dari kesan hendak menonjolkan diri. Kalimat itu adalah kalimat yang kerap kali meluncur dari bibirnya, bersama seutas senyum hangat. “Saya ini cuma orang bodoh.”

Bagi sebagian orang yang kami temui, Mbah Maridjan memang hanyalah seorang jujur. Tanpa embel-embel kekuatan supranatural. Juru-juru kunci yang lain dapat membuktikan kesaktian dan kelebihan mereka, diiringi pengakuan orang-orang di sekitarnya, yang tidak dilakukan oleh Mbah Maridjan. Tetapi mungkin justru kalimat itulah yang menancapkan kesan kuat akan sosoknya pada diri orang-orang lain. Kesan itu pula yang ditangkap oleh Elisabeth D. Suprapto, penulis buku The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih. Ketika Elisabeth meminta penjelasan, cermatilah tuturan Mbah Maridjan: “Kalau orang pinter diberi satu, akan minta dua. Tapi kalau orang bodoh diberi satu, akan disyukuri.”8

Ungkapan yang selalu diucapkan Mbah Maridjan dengan cara yang jenaka itu tentu memiliki makna yang, selain begitu relijius, juga sangat dalam. Senantiasa bersyukur sesungguhnya membuat manusia menjadi manusia. Membuat manusia menemukan hakikat kesetiaan. Menemukan dirinya yang utuh. Dengan bersyukur, manusia kembali pada kejernihan hati. Dan lewat hati yang jernih, ia melihat hal-hal yang tak terlihat dan tertutupi oleh rasionalitas pikir. Sebaliknya, makna bodoh dalam falsafah Jawa pun mengandung makna tersembunyi. “Yang tak tahu, tetapi sesungguhnya mengetahui.” Dengan menempatkan diri sebagai orang bodoh, manusia akan terus mengisi. Mencoba memahami dengan menjalani. Sebab yang berusaha dipahami pada hakikatnya bukan sesuatu yang berhenti.

Mengungkapkan diri sebagai orang bodoh sesungguhnya adalah cerminan laku ngelmu. Budaya Jawa mengenal ngelmu dan kawruh, jelas Landung Simatupang pada kami di satu perbincangan minum teh sore hari. Yang disebut dengan kawruh adalah ilmu pengetahuan, knowledge. Sedangkan ngelmu adalah mengetahui dengan cara menjalani, nglakoni. Keduanya memiliki tujuan sama: memahami suatu objek. Perbedaannya terletak pada cara yang ditempuh untuk mendapatkan pemahaman.

Kawruh atau ilmu pengetahuan memandang objek sebagai sesuatu yang berjarak dari si pembelajar, di mana objek dibekukan, dimatikan, dihentikan daya hidupnya untuk diamati, dibedah, dipelajari strukturnya, dan selanjutnya dianalisis. Dari situ didapatkan pemahaman terhadap objek. Tidak demikian halnya dengan ngelmu. Dalam ngelmu, dikenal adanya daya hidup objek. Ngelmu memahami objek sebagai sesuatu yang terus bergerak, hidup, berubah. Maka jalan satu-satunya untuk memahami objek yang berdaya hidup tersebut adalah dengan menyatu, menunggal, menjadi sang objek. Memahami pola hidup, pikir, dan perasaan objek. Memahami sesuatu, tidak dengan mengambil jarak, melainkan dengan menyatu. Itulah yang dilakukan oleh Mbah Maridjan. Menyatukan jiwa dengan Merapi.

Penjelasan ini kemudian membawa sedikit penerang, mengapa Mbah Maridjan menolak pergi dari Kinahrejo, dukuh terakhir di lereng Gunung Merapi yang jaraknya hanya kurang lebih 3 km dari puncak tersebut. Sebab jika ia memilih untuk pergi dan mengungsi, maka ia menempatkan dirinya berjarak dengan Merapi. Dan dengan mengambil jarak, ia membekukan Gunung Merapi, sang makhluk berdaya hidup yang senantiasa dipersonifikasikannya sebagai orang tua. Memutus benang pemahamannya. Tak hanya itu; sebagai orang yang senantiasa ngelmu, Mbah Maridjan sangat konsisten.

Sikap konsistennyalah yang membuat masyarakat Kinahrejo menaruh hormat, di samping ia yang lucu dan gemar bicara pada siapa saja. “Dengan siapa saja, dengan anak kecil pun ia tetap hormat. Artinya tidak memandang usianya berapa,” ujar Bademan, salah seorang penduduk setempat. “Yang jelas, masyarakat sini hormat terhadap Mbah Maridjan dengan sikap yang sederhananya itu,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan Mbah Pujowijono, warga Kinahrejo yang rumahnya hanya berjarak seratusan meter dari rumah Mbah Maridjan. “Bapak itu takut sama uang banyak,” komentarnya. Lalu kisah tentang Mbah Maridjan pun meluncur dari bibirnya. Mbah Maridjan yang disebutnya Bapak tak pernah mempertanyakan uang gaji yang pada suatu waktu ketika sampai di tangan berkurang jumlahnya. “Misalnya, mestinya terima lima belas ribu, kalo yang sampe cuma sepuluh ribu, Bapak nggak pernah tanya. Kalo orang lain kan tanya, iki diutang sapa, po piye, gitu kan? Bapak nggak.”

Gaji Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi memang sebulan hanya Rp 5.600,00. Jumlah yang kerap kali diguyonkannya sebagai “lima juta enam ratus ribu rupiah”. Karena itu, Mbah Maridjan biasa mengambil gaji di Keraton tiga bulan sekali, agar jumlah yang ia dapat tak tombok dengan ongkos naik bus ke kota. Mbah Pudjo juga berkisah bahwa Mbah Maridjan, yang dipanggilnya Bapak, takut menerima bantuan banyak-banyak. “Biar Pak Dukuh yang membagi adil. Diberi lebih pun dia tidak mau, maunya sama dengan yang lain,” jelas Mbah Pudjo.

Pribadi Mbah Maridjan memang unik. Itulah yang tak ada pada pribadi-pribadi lain. Ia tak pernah mementingkan diri sendiri. Alasan itu yang dilontarkannya ketika diminta turun dari Kinahrejo, saat status Merapi meningkat menjadi Awas. “Di sini, saya bisa berdoa untuk keselamatan banyak orang. Tapi kalau saya ikut mengungsi, itu berarti saya mengejar kepentingan pribadi.”9 Karakter ini diungkapkan pula oleh warga di sekitarnya, yang sempat bicara pada kami. “Orangnya begitu bersahaja, tidak mementingkan pribadi tetapi mementingkan orang lain, orangnya ramah, dan lucu,” papar Bademan, ketika ditanyai kesannya tentang Mbah Maridjan. Tampaknya, atas alasan ini pulalah Mbah Maridjan menolak undangan pemerintah Jerman untuk menonton langsung pembukaan Piala Dunia 2006. "Aku emoh ora gelem, aku ini orang kecil, tidak tahu apa-apa, ya emoh. Sandalku saja sandal jepit, yo hilang keselempit,"10 jawabnya lugu ketika undangan itu disampaikan kepadanya.

Undangan menonton Pesta Pembukaan Piala Dunia 2006, 9 Juni lalu di Jerman, disampaikan oleh seorang wartawan Jerman yang datang untuk menemuinya. Sang wartawan mendapat mandat langsung dari Walikota Munich untuk menitipkan undangan kepada Mbah Maridjan. Undangan itu bukan basa-basi, tentu, sebab pemerintah Jerman bersedia menanggung seluruh biaya akomodasi Mbah Maridjan, bahkan juga pengurusan paspornya, jika sang juru kunci Merapi tersebut bersedia datang. Sayangnya, sang wartawan yang ketitipan mandat tak bisa bertemu langsung dengannya saat itu, karena yang dicari malah sedang ke puncak Merapi berbekal cangkul di pundak. Tetapi bertemu atau tak bertemu toh hasilnya tak akan jauh berbeda: Mbah Maridjan bergeming.

Reaksi yang lugu pulalah yang muncul dari Mbah Maridjan, ketika mantan presiden RI Megawati Sukarnoputri secara khusus memberinya polis asuransi, dalam kesempatan kunjungannya ke Yogyakarta, awal Juni lalu. Barangkali sang mantan presiden berniat baik, berusaha memahami keteguhan tekad Mbah Maridjan untuk bertahan di Kinahrejo. Padahal ingar-bingar situasi di Merapi mulai meresahkan banyak orang. Boleh jadi pula pemberian asuransi itu sesungguhnya bermakna sebagai sebuah sentilan, bahwa Mbah Maridjan tetaplah manusia biasa. Tetapi Mbah Maridjan memang tak pernah mementingkan diri sendiri. Ia tak perlu polis asuransi. Ia hanya orang lugu yang sedang berusaha memahami kehendak Sang Kuasa, dan kehendak Merapi. “Apa itu, polis, kulo mboten ngertos,” jawabnya lugu ketika berita itu disampaikan kepadanya. Baginya, ada lebih banyak orang yang perlu dibantu, yaitu masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, ketimbang dirinya.

Tetapi hakikatnya, Mbah Maridjan memang hanya seorang manusia biasa. Ketika awan panas menyerang Kaliadem dan sekitarnya, 14 Juni lalu, ia turut mengungsi. Tidak turun ke barak-barak pengungsian bersama warga Kinahrejo yang lain, tetapi ke masjid berarsitektur Jawa yang dibangunnya di ujung pelataran, berjarak sepelontaran batu dari rumahnya. Di sana, ia merapal doa, memohon keselamatan jiwa kepada Yang Maha Kuasa. Ia tak pernah mengingkari kodratnya sebagai manusia biasa. Seperti juga yang kerap diakunya kepada media, dan diungkapkannya pada kami di rumahnya yang sederhana. Saya ini tidak bisa apa-apa, tuturnya dalam bahasa Jawa, masih dengan senyum arifnya yang menyejukkan.

Pak Ponimin dan Pak Sawidjan, abdi dalem Keraton yang menjaga daerah Kaliadem dan menjalankan tugas yang sama dengan Mbah Maridjan, sebagai juru reresik Gunung Merapi, menandaskan hal sama. “Mbah Maridjan itu orang sejujur-jujurnya orang,” tukas Pak Sawidjan, seusai cerita panjang dengan Pak Ponimin mengenai peristiwa awan panas di teras rumahnya, suatu siang. Hal itu diamini Pak Ponimin, sang juru reresik yang linuwih dan dijadikan panutan oleh warga Kaliadem. Dalam obrolannya dengan kami, Pak Ponimin yang enggan bercerita banyak mengenai Mbah Maridjan mengisahkan hal-hal gaib yang dilihatnya, beberapa saat sebelum dan setelah gempa tektonik 5,9 skala Richter mengguncang kota Yogya.

Pak Ponimin memang salah satu abdi dalem yang turut menjaga Gunung Merapi dan dikaruniai kelebihan. Ia dekat dengan para gaib yang nglenggahi Gunung Merapi. Secara implisit, dalam kisahnya Pak Ponimin menegaskan hubungan baik dan saling menghormati yang terjalin antara ia dengan “Keraton Merapi”. Ihwal mitos mengenai adanya “pemerintahan” di Gunung Merapi, seperti juga di Laut Selatan, memang diakui oleh sekalangan orang, terutama mereka yang menganut paham Kejawen.

Mbah Maridjan, boleh jadi memang hanya manusia biasa. Ia tak bisa melihat hal-hal gaib. Tak memiliki kelebihan seperti yang dimiliki Pak Ponimin, kecuali lewat mimpi-mimpi, yang dituainya dalam raga yang tidur ketika bersemadi. Mata lahirnya yang tajam dan cerdas tak sanggup menangkap peristiwa-peristiwa tak kasat mata. Tetapi mata batinnya telah menyampaikan banyak hal kepadanya. Mata batin yang terasah karena laku prihatin, karena kesetiaannya pada Merapi, karena kesederhanaan dan kebersahajaannya sebagai manusia. Mata batinnya menangkap keresahan warga yang timbul karena tindak pragmatisme ilmu pengetahuan modern yang berlebihan dan semata-mata mengeksploitasi gunung yang dijaganya, yang dicintainya dengan pengabdian sepenuh hati. Ketika Mbah Maridjan berkata Merapi sedang murka, berarunglah lebih dalam untuk mencapai makna yang ingin disampaikannya. Boleh jadi jauh di dalam kalimatnya, ia sedang berkata, bukan Merapi an sich yang sedang murka, tetapi warga di sekitar Merapi yang tersia-sia karena tindak kapitalistik dan komersialisasi Gunung Merapi.

Seperti diungkapkan Landung Simatupang, arti penting Mbah Maridjan sesungguhnya adalah karakternya yang tak pernah mementingkan diri sendiri. Mbah Maridjan setia menyuarakan warga yang bertahun-tahun diayomi oleh Merapi. Suara Mbah Maridjan dalam beberapa kasus seperti back hoe (begu) yang menambang pasir di jalur tradisional Merapi dan kasus padang golf Merapi (Merapi Golf) yang dibangun di Cangkringan-lah bentuk pengayomannya yang paling nyata terhadap warga yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi. Bukan perkara anjuran untuk mengungsi atau tidak mengungsi, seperti yang kerap diributkan dan diwacanakan di media massa. Mbah Maridjan tak pernah tidak mengindahkan keselamatan warga lereng Gunung Merapi, meski ia bersikukuh untuk bertahan di tempatnya. Tidak. Tengoklah penggalan indah antara hubungannya dengan Sultan yang tersurat dalam The White Banyan berikut:

Saya mohon kebijaksanaan, supaya Kinahrejo aman-tenteram, tidak diusik oleh pemerintah, untuk pindah. Juga mohon pada Tuhan di Kinahrejo diberi keselamatan.”

Sinuwun setuju, dan dhawuh: “Kalau tidak saya yang menyuruh pergi ... jangan pergi.” 11


1 Siapa, ini?

2 Saya hanya bisa memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Yang lain-lain saya tidak bisa, sungguh.

3 Istilah “yang lenggah” ditafsirkan sebagai makhluk gaib yang menguasai Gunung Merapi

4 Pikiran Rakyat, “Perusak Merapi Harus Tobat”, Mei 2006

5 Untuk orang pandai mungkin harus begitu, tapi untuk orang-orang bodoh seperti saya tidak.

6 The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, Elisabeth D. Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta, 1998

7 “Ini bukan fantasi, ini sungguhan.”

8 The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, Elisabeth D. Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta, 1998

9 Kompas Cyber Media, “Di Rumah Mbah Maridjan Suatu Pagi”, Mei, 2006

10 “mBah Maridjan ‘Emoh’ ke Piala Dunia”, Juni, 2006 (diambil dari mailing list madiunClub)

11 The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, Elisabeth D. Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta, 1998