Hosted by Photobucket.com

Saturday, April 08, 2006

Seribu Buku untuk Tunanetra

Kamis sore (6/4), di Library@Senayan, Ismail melangkah ke muka penonton tanpa keraguan. Keterbatasan yang dimilikinya membuat ia tak bisa melihat panggung, tapi lampu spot, derap emosi penonton yang larut bersama langkahnya, karakter tokoh yang lekat dalam diri, dan seluruh aspek panggung telah begitu hidup dalam imajinya. Sore itu, ialah si empunya panggung dan seluruh pementasan. Meski sesekali pergerakannya mesti dibantu oleh orang awas (istilah orang-orang tunanetra untuk menyebut mereka yang bisa melihat), tak sedikit pun keraguan terpancar dari dirinya. Penampilannya begitu mantap. Seperti kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari bibirnya. “Saya baru pulang dari airport, dan saya kesal sekali! Barusan saya bertengkar dengan istri saya.”

Ismail adalah seorang tunanetra yang menutur apresiasi tujuh buku braille GagasMedia melalui sebuah monolog. Ia menajuki penampilannya: Monolog Tujuh Nukil. Sebuah mozaik dari tujuh apresiasi terhadap tujuh buku Braille yang dilalapnya dalam tujuh hari. Dalam euforia, sebab kerinduannya akan bacaan telah terakumulasi sekian tahun lamanya. Ismail bukan satu-satunya tunanetra yang mengalami euforia membaca. “Saya pusing, istri saya mau pergi ke Singapura. Dia ngambek karena kami tidak bisa punya anak,” seruannya segera menuai tawa. Pementasan monolog itu adalah bagian dari program “Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Kita Bergandengan Tangan”, sebuah program kerja sama antara Yayasan Mitra Netra, Penerbit GagasMedia, Forum Indonesia Membaca, dan perpustakaan pendidikan nasional.

Dalam pentas itu, ia bukan lagi Ismail. Ia adalah Rahmat Natadiningrat, seorang tokoh dalam novel Testpack karya Ninit Yunita. Ismail memainkan perannya dengan wajar, dan mozaik tujuh karya yang dibacanya direkat dengan halus. Tujuh karya itu adalah Testpack, Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (F.X Rudy Gunawan), Filosofi Kopi (Dewi Lestari), Brownies (Fira Basuki), Ungu Violet, Cintapuccino (Icha Rahmanti) dan Si Parasit Lajang (Ayu Utami). Selama lima belas menit, ruang pun rehat dari suasana haru bercampur ruah kebahagiaan yang membuka acara di Library@Senayan, sore itu. Sesekali, ledak tawa meningkahi permainan. Penampilannya segar dan hidup. Seluruh diri Ismail memancarkan keyakinan yang kuat, membuat penonton hampir tak terpikir bahwa ia seorang difabel. Ia adalah seorang pemuda yang mengalami kebutaan di usia 17 tahun, mula-mula karena mata kirinya terkena tembak senapan angin, dan menyusul beberapa saat kemudian, mata kanannya.

Keyakinan yang kuat akan berwarnanya sebuah dunia baru memang memenuhi atmosfer ruang perpustakaan pendidikan nasional tersebut. Sebuah kebahagiaan yang telah ditunggu oleh teman-teman tunanetra selama tak kurang dari lima belas tahun. Dewi Lestari menyebut momen ini sebagai sebuah "pelangi imajiner" yang menjembatani dua dunia. Dewi menjelaskan bahwa ide untuk membantu teman-teman tunanetra dengan mem-braille-kan buku-bukunya sebenarnya sudah lama ada di kepala. Pada saat yang sama, telah sekian lama juga Yayasan Mitra Netra berjuang untuk mengadakan bacaan bagi para tunanetra. “Setelah 15 tahun, kami baru memiliki 302 judul buku Braille, yang sebagian besar merupakan buku-buku pelajaran."

Sebuah pergerakan yang sangat lamban, jika dibandingkan dengan kurang lebih 10.000 judul buku yang terbit di Indonesia setiap tahunnya. "Selama ini kami hanya bisa mendengar munculnya buku-buku populer tanpa bisa membacanya, yang membuat kami merasa berada di sebuah dunia lain. Karena itu, kerja sama dengan penerbit GagasMedia saat ini merupakan perwujudan mimpi,” tutur Irwan Dwi Kustanto, Wakil Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, yang sore itu menjadi juru bicara. Wajar jika pada momentum Kamis sore itu, setelah penantian yang demikian panjang, ia merasa seperti sedang bermimpi.

Ada banyak kegelisahan tentang tunanetra yang mesti terus dicari jawabannya, yang kadang-kadang membuat Irwan (dan teman-teman tunanetra yang lain) merasa sunyi di tengah keramaian. Ada mata rantai yang hilang dalam masyarakat kita, yang membuat mereka merasa terkucil di sebuah dunia berpagar tinggi. Tidak hanya rasa malu sebagai seorang difabel yang membatasi kehidupan sosial mereka, ketidaktahuan akan akses menuju pengetahuan dan fasilitas membuat sebagian besar kaum tunanetra makin terpuruk dalam ketakberdayaan. Baru sedikit dari mereka yang berkeras maju mengatasi hambatan dan keterbatasan diri mereka. Selain itu, terbatasnya dukungan dari lingkungan sekitar merupakan faktor penghambat yang cukup besar. Drs. Bambang Basuki, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, pada suatu kesempatan menyebut sempitnya pemahaman pemerintah terhadap kebutuhan kaum tunanetra. Hal ini, pada muaranya malah memunculkan mafia-mafia yang melulu berkutat memperebutkan lahan yang sama, sementara di luar itu masih begitu luas hutan yang bisa dibabat.

Ketiadaan sumber bacaan bagi mereka yang daya penglihatannya terbatas hanyalah salah satu dari sekian banyak masalah. Selain persoalan semacam jaminan perlindungan kesamaan hak dan kesempatan dalam dunia kerja yang tidak diatur pada undang-undang penyandang cacat, Irwan menyebut juga keprihatinannya terhadap angka tunanetra bersekolah, yang jumlahnya sampai saat ini baru mencapai sekitar 2.000 orang, dari kurang lebih 3.000.000 penduduk tunanetra di Indonesia. Karena itu, kerja sama Yayasan Mitra Netra dengan Penerbit GagasMedia adalah gayung bersambut yang diharapkan dapat menjadi gong pembuka kerja sama Yayasan Mitra Netra dengan pihak-pihak lain, apa pun bentuknya.

Acara itu bukan hanya milik teman-teman tunanetra. Ia juga sebuah ruang yang prestisius untuk para penulis. Sore itu, sebanyak delapan penulis antara lain: F.X Rudy Gunawan, Ayu Utami, Dewi Lestari, Fira Basuki, Yennie Hardiwijaya, Ninit Yunita, Icha Rahmanti, dan saya, hadir dan menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi sebagai relawan program “1000 Buku Untuk Tunanetra”. Soft copy naskah kesemua penulis tersebut dikontribusikan kepada Yayasan Mitra Netra secara cuma-cuma. Program “1000 Buku Untuk Tunanetra” sendiri sebenarnya telah dicanangkan Yayasan Mitra Netra sejak tahun 2005. Tetapi, bahkan ketika IKAPI menyatakan dukungannya terhadap program tersebut dan mengimbau penerbit untuk bergandengan tangan dengan Yayasan Mitra Netra, kerja sama baik antara mereka dengan penerbit baru terealisasi kini.

Kesediaan penulis memberikan soft copy karyanya untuk Yayasan Mitra Netra secara seremonial ditandai dengan penandatanganan surat pernyataan disaksikan audiens yang hadir, di awal acara. Beberapa penulis, yang karyanya terbit tidak hanya di bawah bendera GagasMedia, seperti Ayu Utami, Fira Basuki, dan Dewi Lestari, menyatakan kesediaannya untuk memberikan pula soft copy karya mereka yang dipublikasikan oleh penerbit lain. Selanjutnya, lewat relasi yang terjalin antara penulis, penerbit, dan teman-teman tunanetra ini, semua pihak berharap akan muncul karya-karya dari mereka yang tidak awas, yang, seperti diyakini oleh Ayu Utami, memiliki dimensi kedalamannya sendiri karena kekayaan imajinasi yang tidak dimiliki orang awas. Menanggapi hal ini, F.X Rudy Gunawan, Direktur Penerbit GagasMedia menyatakan kesediaannya untuk mendukung pemublikasian karya-karya para tunanetra nantinya. Salah satu bentuk yang diusulkan oleh Ayu Utami, misalnya, adalah penerbitan buku humor tunanetra.

Ayu Utami juga menyatakan pentingnya program pelatihan penulisan untuk mengakomodasi kreativitas para tunanetra, dan ini seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh penulis, penerbit, organisasi seperti IKAPI, dan forum-forum publik yang terkait dengan buku, selain, tentunya, pemerintah. Dukungan semacam ini merupakan kewajiban moral siapa saja, karena seperti berulang kali dikatakan oleh Irwan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang memberi kesempatan menang pada kelompok-kelompok yang tertindas atau termarjinalkan”.

Obrolan interaktif yang diselai penampilan musik oleh Endah—juga Dewi Lestari yang sempat membawakan lagu Eternal Flame—sore itu diakhiri dengan demo pencetakan soft copy ke dalam format Braille oleh Irwan Dwi Kustanto. Beliau yang menyandang low vision mengoperasikan komputer dengan bantuan program Job Access With Speech dan peranti lunak bernama Mitra Netra Braille Converter, yang dibuat oleh Yayasan Mitra Netra untuk mempermudah proses pencetakan buku-buku braille. Dan ketika hari bergulir senja, meski kaki terasa berat dan hati begitu penuh, acara tetap mesti diusai. Tetapi keintiman hubungan antara penulis, penerbit, relawan, dan teman-teman tunanetra terus membekas tak terlupakan. Ada begitu banyak kerja bersama yang menanti untuk terus dilakukan. Sore kemarin, sebuah jendela lagi terbuka untuk mereka. Siapa bilang dengan jari tunanetra tak bisa mengubah dunia?

(tulisan ini dimuat pula di Koran Tempo edisi Minggu, 9 April 2006)