Hosted by Photobucket.com

Friday, April 21, 2006

Paradoks Indonesia

Indonesia adalah negeri yang padat paradoks. Tengoklah dari yang paling asasi. Negara ini mengaku bhineka tunggal ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sebuah semboyan ideal, untuk sebuah negara yang terdiri dari beragam bangsa, seperti Indonesia. Betapa harmonis. Praktiknya? Jauh panggang dari api. Ingin contoh lain? Indonesia memperingati dua hari besar sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan: Hari Ibu dan Hari Kartini. Nyatanya, isu kesetaraan gender yang telah dirintis oleh Kartini sejak tahun 1890-an masih terus diperjuangkan hingga sekarang.

Kalau saja Mahapatih Gadjahmada tidak pernah mengikrarkan Sumpah Palapa untuk mempersatukan seluruh nusantara. Sebab dari sanalah sesungguhnya gerusan terhadap kebhinekaan bermula: keinginan untuk menguasai bangsa lain. Ketika negara kesatuan ini lahir, kedaulatan bangsa-bangsa di dalamnya diciutkan menjadi suku bangsa. Penghargaan terhadap bangsa tentu saja turut menciut. Lalu muncul yang kuat, menguasai yang lebih tertinggal. Mengisap, sampai bangsa yang diisap kehabisan semuanya, termasuk kesabaran. Mengimpit dan menginjak, sampai yang diimpit mencapai titik balik dan melenting. Jika hukum rimba memang masih berlaku, siapa yang mesti disalahkan jika kemudian muncul perlawanan dan perpecahan? Poso, Sampit, Aceh, Papua....

Yang satu, yang tunggal, memang tidak bisa disamakan dengan yang seragam. Penunggalan dari keberbagaian tidak bisa dicapai dengan memaksakan conformity. Tampaknya, pengertian itulah yang kerap tumpang tindih di negeri ini. Setidaknya, yang dipahami oleh orang-orang yang berkuasa. Bahwa persatuan sama dengan penyeragaman. Perbedaan digerus dan dipaksa lebur ke dalam nilai-nilai yang diakui ‘bersama’. Dianggap baku. Nilai mana yang kemudian menjadi acuan dan terfasilitasi, sepenuhnya tunduk kepada selera yang-lebih-kuat.

Di negeri yang bhineka ini, praktik conformity tak pernah usai. Barangkali itu pula yang membuat rakyat berlaku serupa; sebab begitulah contoh yang diberikan oleh pemimpinnya. Perbedaan terus diredusir, atau bahkan dihapuskan. Betapa sulit dan panjang jalan yang mesti ditempuh untuk mendapat pengakuan sebagai warga negara dengan hak-hak yang sama, ketika ia adalah warga keturunan Tionghoa, atau salah satu anggota keluarganya diasumsikan pernah terlibat sebagai komunis, misalnya. Tak ada ruang untuk menyatakan sikap sendiri, dan mendapatkan penghargaan atasnya.

Pun dalam wacana pornografi yang tengah terus diperdebatkan. Ada pemaksaan nilai-nilai tertentu di dalamnya. Ada kecenderungan untuk menyeragamkan yang bhineka ini—bangsa, agama, kepercayaan—ke dalam nilai satu kelompok. Ada yang dengan keras (dan dengan cara kekerasan) menentang pihak yang berbeda paham dengan kelompoknya, seperti yang dilakukan Front Pembela Islam. Ada pengakuan terhadap kebhinekaan (keberbedaan), tetapi miskin penghargaan dan justru melakukan penindasan terhadapnya.

Inilah paradoksnya Indonesia. Seperti juga ketika dua hari dalam setahun diperingati sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan, tetapi kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan terus terjadi. Dari mulai yang paling ekstrim seperti kasus Lisa (termasuk juga Lisa-Lisa yang lain, yang tak cukup beruntung untuk diekspos di media massa dan mendapat pembelaan orang banyak), sampai yang paling halus semacam pemampatan keberdayaan perempuan hingga hanya dianggap sebagai ‘pencetak anak’. Pun, wajah paradoks Indonesia pula yang terlihat, ketika 78 tahun yang lalu Sumpah Pemuda menyatakan berbahasa satu: bahasa Indonesia, tetapi sebagian besar generasi muda kini lebih bangga menggunakan bahasa Inggris.

Agaknya, melalui yang serba paradoks inilah kedewasaan kita sebagai negeri berbangsa-bangsa (bukan suku-suku bangsa) diuji. Agaknya, RUU Pornografi adalah sebuah momentum untuk mengaca: benarkah kita adalah bangsa yang paradoks? Atau ... benarkah negeri ini bhineka tunggal ika? [21 April 2006]

PS (post-script): Selamat Hari Kartini.

PS (pesan sponsor): Terima kasih atas dukungan terhadap iklan masyarakat Tolak RUU Porno. Aliansi Mawar Putih akan dukung Pawai Bhinekka Sabtu 22 April di Bundaran HI. Kenakan kostum etnik/daerah yang santai asik, kumpul di kafe-kafe lantai 1 Plaza Indonesia jam 10.30-an. Ada panitia yang membawa bunga untuk info acara. Atau, kalau mau seru, gabung dengan Pawai mulai di Monas jam 9. Saatnya tunjukkan cinta pada Indonesia damai & bhineka!