Hosted by Photobucket.com

Sunday, April 30, 2006

Pagi Terakhir Bersama Pak Pram

Di antara kelabu-kelabu yang masih
(tak tahu malu) bernafas, tiba-tiba
dering mesin di pagi hari mengesahkan
hitam

kita
tak
tahu
berapa tetes lagi tinta hitam
diam-diam
menunggu jatuh
(kelabu menghitam) #

Maret 2002

Pada sebuah pagi bening, lewat empat tahun yang lalu, saya menulis sepenggalan sajak itu. Pada sebuah pagi menjelang siang, ketika seorang kawan di Gelanggang mengabarkan kematian Pak Kayam (Umar Kayam) yang, entah kenapa, membuat hati saya tergetar. Sajak itu tak pernah termuat di mana-mana, kecuali pada secarik kertas dalam Buku Bebas, media curhat non-cetak kami, para Gelanggang-ers (warga gelanggang mahasiswa UGM). Juga hanya termuat dalam kepala saya. Tak pernah tersimpan lebih dari sebuah puisi tak terkabar. Yang pagi ini tiba-tiba menyata begitu saja.
Pagi ini, pagi mendung di kota saya, pesan singkat dari beberapa sahabat membuat saya tercenung. Pak Pram, seorang sastrawan besar, pejuang kemanusiaan, salah satu putra terbaik bangsa, telah berpulang. Beliau kembali ke pangkuan sang Pencipta pada 30 April 2006, pukul 9.15 WIB di rumah Jl. Multikarya, Utan Kayu, setelah semalam dipulangkan dari Rumah Sakit St. Carolus, sekira pukul 19.00 WIB. Sebelumnya, sejak Kamis (27/4) lalu, seperti dikabarkan oleh media dan mailing list, beliau dirawat di Intensive Care Unit RS St. Carolus, dalam kondisi tak stabil.
Setelah simpang-siur berita yang sempat saya terima malam sebelumnya, pesan-pesan singkat yang berdering di pagi ini mengesahkan kabar hitam. Mengesahkan duka yang dalam di hati siapa saja.
Jika saja saya sempat mengenal beliau lebih dalam. Sebagai seorang pengagum, saya belum lagi cukup lama mengenal Pak Pram. Masih segar dalam ingatan saya, buku beliau yang pertama kali saya baca adalah Larasati (terbitan Hasta Mitra), pinjaman dari seorang teman penggemar fanatik yang berhasil memiliki bukunya (kala itu masih dilarang peredarannya). Keberpihakan terhadap perempuan dalam menentukan nasibnya pada karya-karya fiksi beliau membuat kekaguman saya melencir, di samping paparan sejarah yang lugas dan “tidak berpihak kepada yang menang”. Belakangan baru saya tahu, karya-karya Pak Pram terinspirasi oleh ibunya, yang meninggal dunia di usia 34 tahun, ketika beliau masih berumur 17 tahun. Ia bahkan melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan-ibunya”.
Saya tak pernah benar-benar mengenalnya. Sosok itu; yang begitu saya kagumi dan hormati. Yang entah kenapa, tiba-tiba terasa dekat di hati saya, ketika saya menghadiri perayaan ulang tahun ke-79 di TIM. Sosok yang menancap dalam, ketika dengan suara serak ia bercerita perihal perlakuan kejam di masa penahanan, yang membuat susut pendengarannya. Yang selalu ingin saya kenal lebih dekat, sejak saat itu. Kesempatan yang kini tak mungkin lagi saya dapatkan.
Pada sebuah pagi cerah di bulan Juli 2004, saya dan Aishah Basar, seorang sahabat, berkunjung ke rumah Jl. Multikarya, Utan Kayu, untuk merundingkan kerja sama Penerbit Lentera Dipantara dengan Teater Utan Kayu dalam Festival Filsafat. Di teras rumah tenang itu, kedatangan kami disambut oleh Pak Pram, yang duduk tenang, asyik membaca sebuah harian pagi; yang lalu mendongak dan tersenyum pada kami. Kami tercekat. Sampai mas Yudi (Yudistira Ananta Toer) keluar rumah dan mengajak kami masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, Pak Pram melintas, masuk ke ruang dalam. Lagi-lagi, kami hanya mampu tercekat. Mas Yudi, barangkali memahami apa yang berpusar dalam kepala kami, hanya tersenyum. “Mau mengobrol dengan Bapak?” Sebuah tawaran yang tak pernah bisa kami jawab, sebab entah kenapa tiba-tiba kami merasa kerdil dan gagu. Bahkan melenyap. Tawaran itu kemudian berganti dengan janji segurat tanda tangan Pak Pram di buku-buku beliau yang kami miliki. Yang juga tak sempat terlaksana, sebab pada kedatangan kami berikutnya, Pak Pram tak sedang berada di rumah tenang itu. Saya tak pernah menyangka, itulah kesempatan terakhir saya bertemu Pak Pram. Se-tak menyangka saya, pagi ini adalah pagi terakhir kita bersama Pak Pram.

Selamat jalan, Pak Pram. Cinta dan ingatan kami tak pernah habis. Juga akan pesanmu untuk jangan mudah memaafkan rezim yang berlaku tak adil. Tak pernah habis; semoga pula perjuangan.