Hosted by Photobucket.com

Monday, April 03, 2006

Lengkap dalam Ketaklengkapan

Freud, suhu psikoanalisis, pernah berkata: anak yang tidak diinginkan/’haram’1 cenderung memiliki kondisi fisik yang lebih lemah daripada anak pada umumnya. Kecenderungan tersebut muncul sebagai manifes perdebatan antara ego (pikiran sadar) dengan id (kumpulan naluri bawah sadar) dan super-ego (sistem nilai) dalam diri seseorang. Dari premis di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi kejiwaan berhubungan erat dengan kondisi fisik; entah apa bermanifes ke mana (kekurangan/ketakstabilan fisik berpengaruh pada kondisi psikis, atau sebaliknya; sebab perdebatan yang tak teratasi antara ego dengan id dan super-ego berpotensi menyebabkan kecemasan, penyakit-penyakit neurotik, dan psikosomatik). Untuk mengatasi perdebatan tak henti-henti ini, ego tak berhenti bergerak. Menggali, mencari jawaban. Mencerap dan mencerna pengalaman. Mengerahkan seluruh indera untuk memperoleh keutuhan diri.

Lalu bagaimana dengan manusia yang dikaruniai indera tak lengkap? Apakah ketaklengkapan indera mesti membatasi mereka mencari jawaban demi keutuhan diri? Tidakkah mereka mesti berjuang lebih keras daripada kita yang panca-inderanya bekerja dengan baik? Perjuangan itu bahkan mesti menjadi lebih sulit, dengan minimnya dukungan dari orang-orang di sekitar mereka.

Kompleksitas kejiwaan teman-teman dengan indera tak lengkap sering kali luput dari perenungan. Padahal kita tak berhak menghakimi bahwa dunia orang-orang tunanetra, misalnya, lebih sederhana daripada dunia kita—yang seluruh inderanya berfungsi dengan baik—hanya karena daya penglihatan mereka terbatas. Kita sering kali menyederhanakan persoalan berdasar kacamata subjektif, tanpa mau tahu lebih dalam tentang duduk sebenarnya. Sebuah contoh sederhana yang saya alami, misalnya. Ketika berkunjung ke Yayasan Mitra Netra dan duduk mengobrol dengan Pak Irwan dan Pak Bambang Basuki yang memiliki low vision, kami sempat mengobrolkan keinginan teman-teman tunanetra untuk menonton film, dan bagaimana membuat sebuah film bisa diapresiasi oleh para tunanetra. Lalu muncul sebuah istilah dalam kepala saya yang terceletuk begitu saja: “mendengar film”. Sebuah istilah yang kemudian disanggah oleh Pak Bambang.

“Bukan mendengar film, Mbak. Kami menonton film. Menonton dengan telinga, penciuman, dan jari-jari kami.” Menonton dengan seluruh indera selain penglihatan yang masih berfungsi dengan baik.

Sanggahan itu membuat saya tersadar. Betapa selama ini kita kerap dengan enteng menyederhanakan persoalan; menyederhanakan fenomena di sekitar kita. Sebuah kebiasaan yang membuat ceruk kepedulian dalam super-ego kita terkikis. Yang menumpulkan sensitivitas dan empati terhadap kompleksitas manusia lain dengan segala kekurangan dan kelebihan yang lekat pada dirinya. Penyederhanaan itu pula yang barangkali membuat kita selama ini seolah-olah tak menyadari keberadaan tunanetra, dan secara tanpa sadar mengucilkan mereka dalam menara tinggi dengan semesta kehidupan mereka sendiri. Penyederhanaan itu pula yang mungkin membuat maskapai penerbangan Air Asia keberatan mengizinkan salah seorang tunanetra menjadi penumpang perjalanan mereka tanpa disertai pendamping. Padahal, penumpang tunanetra bisa berlaku sama baik dengan penumpang berindera lengkap, dengan fasilitas-fasilitas bantu yang selalu tersedia di bandara.

Saya merasa tertohok. Lebih tertohok lagi ketika menyadari, berbagai tembok atas nama keterbatasan yang diciptakan masyarakat kita bahkan mencapai hak-hak pribadi seseorang; untuk membaca, misalnya. Hitung berapa banyak perpustakaan yang memuat bacaan braille, audio-book dan komputer-bicara, untuk memperkaya wawasan tunanetra, mengasup dan membantu ego mereka menemukan jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan besar kehidupan dan mengatasi perdebatan dengan sang id dan super-ego. Hitung berapa banyak organisasi yang menegaskan kepeduliannya terhadap tunanetra, dan memperjuangkan kelayakan yang sama dengan orang lain. Jangan bertanya ‘mana tanggung jawab negara terhadap mereka’, jika tak ingin mendengar jawaban yang menyedihkan.

Saya kemudian merasa beruntung mengenal Yayasan Mitra Netra (YMN). Karena lewat yayasan inilah kepedulian kita menemu muara. YMN membuat kita setidaknya tahu apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung tunanetra. Program 1000 buku untuk tunanetra berbicara pada kita, bahwa tunanetra tak butuh dibantu berdiri ketika terjatuh, tak butuh pendamping ketika hendak beperjalanan jauh, tetapi butuh lautan baca di mana pengalaman batin bisa disauh. Saya, Anda, siapa saja, dapat mendukung mereka dengan cara yang sederhana, tanpa mesti menyederhanakan persoalan.
Program mendatang, peluncuran tujuh novel braille kerja sama penerbit GagasMedia dan Yayasan Mitra Netra, mudah-mudahan membuka mata kita (yang masih bisa melihat dengan baik) semua. Membuka cakrawala kesadaran kita, bahwa siapa pun tanpa kecuali, berhak memiliki diri yang utuh, yang lengkap. Dalam ketaklengkapannya.



1 saya menggunakan tanda kutip karena ‘haram’ atau ‘tidak haram’ adalah label sosial, bukan hal yang sifatnya kodrati

baca juga:
GagasMedia Luncurkan Tujuh Buku Pengarangnya dalam Format Braille

Yayasan Mitra Netra

Dan Si "Ungu Violet" Pun Menjadi Relawan