Hosted by Photobucket.com

Sunday, April 30, 2006

Pagi Terakhir Bersama Pak Pram

Di antara kelabu-kelabu yang masih
(tak tahu malu) bernafas, tiba-tiba
dering mesin di pagi hari mengesahkan
hitam

kita
tak
tahu
berapa tetes lagi tinta hitam
diam-diam
menunggu jatuh
(kelabu menghitam) #

Maret 2002

Pada sebuah pagi bening, lewat empat tahun yang lalu, saya menulis sepenggalan sajak itu. Pada sebuah pagi menjelang siang, ketika seorang kawan di Gelanggang mengabarkan kematian Pak Kayam (Umar Kayam) yang, entah kenapa, membuat hati saya tergetar. Sajak itu tak pernah termuat di mana-mana, kecuali pada secarik kertas dalam Buku Bebas, media curhat non-cetak kami, para Gelanggang-ers (warga gelanggang mahasiswa UGM). Juga hanya termuat dalam kepala saya. Tak pernah tersimpan lebih dari sebuah puisi tak terkabar. Yang pagi ini tiba-tiba menyata begitu saja.
Pagi ini, pagi mendung di kota saya, pesan singkat dari beberapa sahabat membuat saya tercenung. Pak Pram, seorang sastrawan besar, pejuang kemanusiaan, salah satu putra terbaik bangsa, telah berpulang. Beliau kembali ke pangkuan sang Pencipta pada 30 April 2006, pukul 9.15 WIB di rumah Jl. Multikarya, Utan Kayu, setelah semalam dipulangkan dari Rumah Sakit St. Carolus, sekira pukul 19.00 WIB. Sebelumnya, sejak Kamis (27/4) lalu, seperti dikabarkan oleh media dan mailing list, beliau dirawat di Intensive Care Unit RS St. Carolus, dalam kondisi tak stabil.
Setelah simpang-siur berita yang sempat saya terima malam sebelumnya, pesan-pesan singkat yang berdering di pagi ini mengesahkan kabar hitam. Mengesahkan duka yang dalam di hati siapa saja.
Jika saja saya sempat mengenal beliau lebih dalam. Sebagai seorang pengagum, saya belum lagi cukup lama mengenal Pak Pram. Masih segar dalam ingatan saya, buku beliau yang pertama kali saya baca adalah Larasati (terbitan Hasta Mitra), pinjaman dari seorang teman penggemar fanatik yang berhasil memiliki bukunya (kala itu masih dilarang peredarannya). Keberpihakan terhadap perempuan dalam menentukan nasibnya pada karya-karya fiksi beliau membuat kekaguman saya melencir, di samping paparan sejarah yang lugas dan “tidak berpihak kepada yang menang”. Belakangan baru saya tahu, karya-karya Pak Pram terinspirasi oleh ibunya, yang meninggal dunia di usia 34 tahun, ketika beliau masih berumur 17 tahun. Ia bahkan melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan-ibunya”.
Saya tak pernah benar-benar mengenalnya. Sosok itu; yang begitu saya kagumi dan hormati. Yang entah kenapa, tiba-tiba terasa dekat di hati saya, ketika saya menghadiri perayaan ulang tahun ke-79 di TIM. Sosok yang menancap dalam, ketika dengan suara serak ia bercerita perihal perlakuan kejam di masa penahanan, yang membuat susut pendengarannya. Yang selalu ingin saya kenal lebih dekat, sejak saat itu. Kesempatan yang kini tak mungkin lagi saya dapatkan.
Pada sebuah pagi cerah di bulan Juli 2004, saya dan Aishah Basar, seorang sahabat, berkunjung ke rumah Jl. Multikarya, Utan Kayu, untuk merundingkan kerja sama Penerbit Lentera Dipantara dengan Teater Utan Kayu dalam Festival Filsafat. Di teras rumah tenang itu, kedatangan kami disambut oleh Pak Pram, yang duduk tenang, asyik membaca sebuah harian pagi; yang lalu mendongak dan tersenyum pada kami. Kami tercekat. Sampai mas Yudi (Yudistira Ananta Toer) keluar rumah dan mengajak kami masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, Pak Pram melintas, masuk ke ruang dalam. Lagi-lagi, kami hanya mampu tercekat. Mas Yudi, barangkali memahami apa yang berpusar dalam kepala kami, hanya tersenyum. “Mau mengobrol dengan Bapak?” Sebuah tawaran yang tak pernah bisa kami jawab, sebab entah kenapa tiba-tiba kami merasa kerdil dan gagu. Bahkan melenyap. Tawaran itu kemudian berganti dengan janji segurat tanda tangan Pak Pram di buku-buku beliau yang kami miliki. Yang juga tak sempat terlaksana, sebab pada kedatangan kami berikutnya, Pak Pram tak sedang berada di rumah tenang itu. Saya tak pernah menyangka, itulah kesempatan terakhir saya bertemu Pak Pram. Se-tak menyangka saya, pagi ini adalah pagi terakhir kita bersama Pak Pram.

Selamat jalan, Pak Pram. Cinta dan ingatan kami tak pernah habis. Juga akan pesanmu untuk jangan mudah memaafkan rezim yang berlaku tak adil. Tak pernah habis; semoga pula perjuangan.

Friday, April 21, 2006

Paradoks Indonesia

Indonesia adalah negeri yang padat paradoks. Tengoklah dari yang paling asasi. Negara ini mengaku bhineka tunggal ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sebuah semboyan ideal, untuk sebuah negara yang terdiri dari beragam bangsa, seperti Indonesia. Betapa harmonis. Praktiknya? Jauh panggang dari api. Ingin contoh lain? Indonesia memperingati dua hari besar sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan: Hari Ibu dan Hari Kartini. Nyatanya, isu kesetaraan gender yang telah dirintis oleh Kartini sejak tahun 1890-an masih terus diperjuangkan hingga sekarang.

Kalau saja Mahapatih Gadjahmada tidak pernah mengikrarkan Sumpah Palapa untuk mempersatukan seluruh nusantara. Sebab dari sanalah sesungguhnya gerusan terhadap kebhinekaan bermula: keinginan untuk menguasai bangsa lain. Ketika negara kesatuan ini lahir, kedaulatan bangsa-bangsa di dalamnya diciutkan menjadi suku bangsa. Penghargaan terhadap bangsa tentu saja turut menciut. Lalu muncul yang kuat, menguasai yang lebih tertinggal. Mengisap, sampai bangsa yang diisap kehabisan semuanya, termasuk kesabaran. Mengimpit dan menginjak, sampai yang diimpit mencapai titik balik dan melenting. Jika hukum rimba memang masih berlaku, siapa yang mesti disalahkan jika kemudian muncul perlawanan dan perpecahan? Poso, Sampit, Aceh, Papua....

Yang satu, yang tunggal, memang tidak bisa disamakan dengan yang seragam. Penunggalan dari keberbagaian tidak bisa dicapai dengan memaksakan conformity. Tampaknya, pengertian itulah yang kerap tumpang tindih di negeri ini. Setidaknya, yang dipahami oleh orang-orang yang berkuasa. Bahwa persatuan sama dengan penyeragaman. Perbedaan digerus dan dipaksa lebur ke dalam nilai-nilai yang diakui ‘bersama’. Dianggap baku. Nilai mana yang kemudian menjadi acuan dan terfasilitasi, sepenuhnya tunduk kepada selera yang-lebih-kuat.

Di negeri yang bhineka ini, praktik conformity tak pernah usai. Barangkali itu pula yang membuat rakyat berlaku serupa; sebab begitulah contoh yang diberikan oleh pemimpinnya. Perbedaan terus diredusir, atau bahkan dihapuskan. Betapa sulit dan panjang jalan yang mesti ditempuh untuk mendapat pengakuan sebagai warga negara dengan hak-hak yang sama, ketika ia adalah warga keturunan Tionghoa, atau salah satu anggota keluarganya diasumsikan pernah terlibat sebagai komunis, misalnya. Tak ada ruang untuk menyatakan sikap sendiri, dan mendapatkan penghargaan atasnya.

Pun dalam wacana pornografi yang tengah terus diperdebatkan. Ada pemaksaan nilai-nilai tertentu di dalamnya. Ada kecenderungan untuk menyeragamkan yang bhineka ini—bangsa, agama, kepercayaan—ke dalam nilai satu kelompok. Ada yang dengan keras (dan dengan cara kekerasan) menentang pihak yang berbeda paham dengan kelompoknya, seperti yang dilakukan Front Pembela Islam. Ada pengakuan terhadap kebhinekaan (keberbedaan), tetapi miskin penghargaan dan justru melakukan penindasan terhadapnya.

Inilah paradoksnya Indonesia. Seperti juga ketika dua hari dalam setahun diperingati sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan, tetapi kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan terus terjadi. Dari mulai yang paling ekstrim seperti kasus Lisa (termasuk juga Lisa-Lisa yang lain, yang tak cukup beruntung untuk diekspos di media massa dan mendapat pembelaan orang banyak), sampai yang paling halus semacam pemampatan keberdayaan perempuan hingga hanya dianggap sebagai ‘pencetak anak’. Pun, wajah paradoks Indonesia pula yang terlihat, ketika 78 tahun yang lalu Sumpah Pemuda menyatakan berbahasa satu: bahasa Indonesia, tetapi sebagian besar generasi muda kini lebih bangga menggunakan bahasa Inggris.

Agaknya, melalui yang serba paradoks inilah kedewasaan kita sebagai negeri berbangsa-bangsa (bukan suku-suku bangsa) diuji. Agaknya, RUU Pornografi adalah sebuah momentum untuk mengaca: benarkah kita adalah bangsa yang paradoks? Atau ... benarkah negeri ini bhineka tunggal ika? [21 April 2006]

PS (post-script): Selamat Hari Kartini.

PS (pesan sponsor): Terima kasih atas dukungan terhadap iklan masyarakat Tolak RUU Porno. Aliansi Mawar Putih akan dukung Pawai Bhinekka Sabtu 22 April di Bundaran HI. Kenakan kostum etnik/daerah yang santai asik, kumpul di kafe-kafe lantai 1 Plaza Indonesia jam 10.30-an. Ada panitia yang membawa bunga untuk info acara. Atau, kalau mau seru, gabung dengan Pawai mulai di Monas jam 9. Saatnya tunjukkan cinta pada Indonesia damai & bhineka!

Saturday, April 08, 2006

Seribu Buku untuk Tunanetra

Kamis sore (6/4), di Library@Senayan, Ismail melangkah ke muka penonton tanpa keraguan. Keterbatasan yang dimilikinya membuat ia tak bisa melihat panggung, tapi lampu spot, derap emosi penonton yang larut bersama langkahnya, karakter tokoh yang lekat dalam diri, dan seluruh aspek panggung telah begitu hidup dalam imajinya. Sore itu, ialah si empunya panggung dan seluruh pementasan. Meski sesekali pergerakannya mesti dibantu oleh orang awas (istilah orang-orang tunanetra untuk menyebut mereka yang bisa melihat), tak sedikit pun keraguan terpancar dari dirinya. Penampilannya begitu mantap. Seperti kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari bibirnya. “Saya baru pulang dari airport, dan saya kesal sekali! Barusan saya bertengkar dengan istri saya.”

Ismail adalah seorang tunanetra yang menutur apresiasi tujuh buku braille GagasMedia melalui sebuah monolog. Ia menajuki penampilannya: Monolog Tujuh Nukil. Sebuah mozaik dari tujuh apresiasi terhadap tujuh buku Braille yang dilalapnya dalam tujuh hari. Dalam euforia, sebab kerinduannya akan bacaan telah terakumulasi sekian tahun lamanya. Ismail bukan satu-satunya tunanetra yang mengalami euforia membaca. “Saya pusing, istri saya mau pergi ke Singapura. Dia ngambek karena kami tidak bisa punya anak,” seruannya segera menuai tawa. Pementasan monolog itu adalah bagian dari program “Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Kita Bergandengan Tangan”, sebuah program kerja sama antara Yayasan Mitra Netra, Penerbit GagasMedia, Forum Indonesia Membaca, dan perpustakaan pendidikan nasional.

Dalam pentas itu, ia bukan lagi Ismail. Ia adalah Rahmat Natadiningrat, seorang tokoh dalam novel Testpack karya Ninit Yunita. Ismail memainkan perannya dengan wajar, dan mozaik tujuh karya yang dibacanya direkat dengan halus. Tujuh karya itu adalah Testpack, Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (F.X Rudy Gunawan), Filosofi Kopi (Dewi Lestari), Brownies (Fira Basuki), Ungu Violet, Cintapuccino (Icha Rahmanti) dan Si Parasit Lajang (Ayu Utami). Selama lima belas menit, ruang pun rehat dari suasana haru bercampur ruah kebahagiaan yang membuka acara di Library@Senayan, sore itu. Sesekali, ledak tawa meningkahi permainan. Penampilannya segar dan hidup. Seluruh diri Ismail memancarkan keyakinan yang kuat, membuat penonton hampir tak terpikir bahwa ia seorang difabel. Ia adalah seorang pemuda yang mengalami kebutaan di usia 17 tahun, mula-mula karena mata kirinya terkena tembak senapan angin, dan menyusul beberapa saat kemudian, mata kanannya.

Keyakinan yang kuat akan berwarnanya sebuah dunia baru memang memenuhi atmosfer ruang perpustakaan pendidikan nasional tersebut. Sebuah kebahagiaan yang telah ditunggu oleh teman-teman tunanetra selama tak kurang dari lima belas tahun. Dewi Lestari menyebut momen ini sebagai sebuah "pelangi imajiner" yang menjembatani dua dunia. Dewi menjelaskan bahwa ide untuk membantu teman-teman tunanetra dengan mem-braille-kan buku-bukunya sebenarnya sudah lama ada di kepala. Pada saat yang sama, telah sekian lama juga Yayasan Mitra Netra berjuang untuk mengadakan bacaan bagi para tunanetra. “Setelah 15 tahun, kami baru memiliki 302 judul buku Braille, yang sebagian besar merupakan buku-buku pelajaran."

Sebuah pergerakan yang sangat lamban, jika dibandingkan dengan kurang lebih 10.000 judul buku yang terbit di Indonesia setiap tahunnya. "Selama ini kami hanya bisa mendengar munculnya buku-buku populer tanpa bisa membacanya, yang membuat kami merasa berada di sebuah dunia lain. Karena itu, kerja sama dengan penerbit GagasMedia saat ini merupakan perwujudan mimpi,” tutur Irwan Dwi Kustanto, Wakil Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, yang sore itu menjadi juru bicara. Wajar jika pada momentum Kamis sore itu, setelah penantian yang demikian panjang, ia merasa seperti sedang bermimpi.

Ada banyak kegelisahan tentang tunanetra yang mesti terus dicari jawabannya, yang kadang-kadang membuat Irwan (dan teman-teman tunanetra yang lain) merasa sunyi di tengah keramaian. Ada mata rantai yang hilang dalam masyarakat kita, yang membuat mereka merasa terkucil di sebuah dunia berpagar tinggi. Tidak hanya rasa malu sebagai seorang difabel yang membatasi kehidupan sosial mereka, ketidaktahuan akan akses menuju pengetahuan dan fasilitas membuat sebagian besar kaum tunanetra makin terpuruk dalam ketakberdayaan. Baru sedikit dari mereka yang berkeras maju mengatasi hambatan dan keterbatasan diri mereka. Selain itu, terbatasnya dukungan dari lingkungan sekitar merupakan faktor penghambat yang cukup besar. Drs. Bambang Basuki, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, pada suatu kesempatan menyebut sempitnya pemahaman pemerintah terhadap kebutuhan kaum tunanetra. Hal ini, pada muaranya malah memunculkan mafia-mafia yang melulu berkutat memperebutkan lahan yang sama, sementara di luar itu masih begitu luas hutan yang bisa dibabat.

Ketiadaan sumber bacaan bagi mereka yang daya penglihatannya terbatas hanyalah salah satu dari sekian banyak masalah. Selain persoalan semacam jaminan perlindungan kesamaan hak dan kesempatan dalam dunia kerja yang tidak diatur pada undang-undang penyandang cacat, Irwan menyebut juga keprihatinannya terhadap angka tunanetra bersekolah, yang jumlahnya sampai saat ini baru mencapai sekitar 2.000 orang, dari kurang lebih 3.000.000 penduduk tunanetra di Indonesia. Karena itu, kerja sama Yayasan Mitra Netra dengan Penerbit GagasMedia adalah gayung bersambut yang diharapkan dapat menjadi gong pembuka kerja sama Yayasan Mitra Netra dengan pihak-pihak lain, apa pun bentuknya.

Acara itu bukan hanya milik teman-teman tunanetra. Ia juga sebuah ruang yang prestisius untuk para penulis. Sore itu, sebanyak delapan penulis antara lain: F.X Rudy Gunawan, Ayu Utami, Dewi Lestari, Fira Basuki, Yennie Hardiwijaya, Ninit Yunita, Icha Rahmanti, dan saya, hadir dan menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi sebagai relawan program “1000 Buku Untuk Tunanetra”. Soft copy naskah kesemua penulis tersebut dikontribusikan kepada Yayasan Mitra Netra secara cuma-cuma. Program “1000 Buku Untuk Tunanetra” sendiri sebenarnya telah dicanangkan Yayasan Mitra Netra sejak tahun 2005. Tetapi, bahkan ketika IKAPI menyatakan dukungannya terhadap program tersebut dan mengimbau penerbit untuk bergandengan tangan dengan Yayasan Mitra Netra, kerja sama baik antara mereka dengan penerbit baru terealisasi kini.

Kesediaan penulis memberikan soft copy karyanya untuk Yayasan Mitra Netra secara seremonial ditandai dengan penandatanganan surat pernyataan disaksikan audiens yang hadir, di awal acara. Beberapa penulis, yang karyanya terbit tidak hanya di bawah bendera GagasMedia, seperti Ayu Utami, Fira Basuki, dan Dewi Lestari, menyatakan kesediaannya untuk memberikan pula soft copy karya mereka yang dipublikasikan oleh penerbit lain. Selanjutnya, lewat relasi yang terjalin antara penulis, penerbit, dan teman-teman tunanetra ini, semua pihak berharap akan muncul karya-karya dari mereka yang tidak awas, yang, seperti diyakini oleh Ayu Utami, memiliki dimensi kedalamannya sendiri karena kekayaan imajinasi yang tidak dimiliki orang awas. Menanggapi hal ini, F.X Rudy Gunawan, Direktur Penerbit GagasMedia menyatakan kesediaannya untuk mendukung pemublikasian karya-karya para tunanetra nantinya. Salah satu bentuk yang diusulkan oleh Ayu Utami, misalnya, adalah penerbitan buku humor tunanetra.

Ayu Utami juga menyatakan pentingnya program pelatihan penulisan untuk mengakomodasi kreativitas para tunanetra, dan ini seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh penulis, penerbit, organisasi seperti IKAPI, dan forum-forum publik yang terkait dengan buku, selain, tentunya, pemerintah. Dukungan semacam ini merupakan kewajiban moral siapa saja, karena seperti berulang kali dikatakan oleh Irwan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang memberi kesempatan menang pada kelompok-kelompok yang tertindas atau termarjinalkan”.

Obrolan interaktif yang diselai penampilan musik oleh Endah—juga Dewi Lestari yang sempat membawakan lagu Eternal Flame—sore itu diakhiri dengan demo pencetakan soft copy ke dalam format Braille oleh Irwan Dwi Kustanto. Beliau yang menyandang low vision mengoperasikan komputer dengan bantuan program Job Access With Speech dan peranti lunak bernama Mitra Netra Braille Converter, yang dibuat oleh Yayasan Mitra Netra untuk mempermudah proses pencetakan buku-buku braille. Dan ketika hari bergulir senja, meski kaki terasa berat dan hati begitu penuh, acara tetap mesti diusai. Tetapi keintiman hubungan antara penulis, penerbit, relawan, dan teman-teman tunanetra terus membekas tak terlupakan. Ada begitu banyak kerja bersama yang menanti untuk terus dilakukan. Sore kemarin, sebuah jendela lagi terbuka untuk mereka. Siapa bilang dengan jari tunanetra tak bisa mengubah dunia?

(tulisan ini dimuat pula di Koran Tempo edisi Minggu, 9 April 2006)

Monday, April 03, 2006

Lengkap dalam Ketaklengkapan

Freud, suhu psikoanalisis, pernah berkata: anak yang tidak diinginkan/’haram’1 cenderung memiliki kondisi fisik yang lebih lemah daripada anak pada umumnya. Kecenderungan tersebut muncul sebagai manifes perdebatan antara ego (pikiran sadar) dengan id (kumpulan naluri bawah sadar) dan super-ego (sistem nilai) dalam diri seseorang. Dari premis di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi kejiwaan berhubungan erat dengan kondisi fisik; entah apa bermanifes ke mana (kekurangan/ketakstabilan fisik berpengaruh pada kondisi psikis, atau sebaliknya; sebab perdebatan yang tak teratasi antara ego dengan id dan super-ego berpotensi menyebabkan kecemasan, penyakit-penyakit neurotik, dan psikosomatik). Untuk mengatasi perdebatan tak henti-henti ini, ego tak berhenti bergerak. Menggali, mencari jawaban. Mencerap dan mencerna pengalaman. Mengerahkan seluruh indera untuk memperoleh keutuhan diri.

Lalu bagaimana dengan manusia yang dikaruniai indera tak lengkap? Apakah ketaklengkapan indera mesti membatasi mereka mencari jawaban demi keutuhan diri? Tidakkah mereka mesti berjuang lebih keras daripada kita yang panca-inderanya bekerja dengan baik? Perjuangan itu bahkan mesti menjadi lebih sulit, dengan minimnya dukungan dari orang-orang di sekitar mereka.

Kompleksitas kejiwaan teman-teman dengan indera tak lengkap sering kali luput dari perenungan. Padahal kita tak berhak menghakimi bahwa dunia orang-orang tunanetra, misalnya, lebih sederhana daripada dunia kita—yang seluruh inderanya berfungsi dengan baik—hanya karena daya penglihatan mereka terbatas. Kita sering kali menyederhanakan persoalan berdasar kacamata subjektif, tanpa mau tahu lebih dalam tentang duduk sebenarnya. Sebuah contoh sederhana yang saya alami, misalnya. Ketika berkunjung ke Yayasan Mitra Netra dan duduk mengobrol dengan Pak Irwan dan Pak Bambang Basuki yang memiliki low vision, kami sempat mengobrolkan keinginan teman-teman tunanetra untuk menonton film, dan bagaimana membuat sebuah film bisa diapresiasi oleh para tunanetra. Lalu muncul sebuah istilah dalam kepala saya yang terceletuk begitu saja: “mendengar film”. Sebuah istilah yang kemudian disanggah oleh Pak Bambang.

“Bukan mendengar film, Mbak. Kami menonton film. Menonton dengan telinga, penciuman, dan jari-jari kami.” Menonton dengan seluruh indera selain penglihatan yang masih berfungsi dengan baik.

Sanggahan itu membuat saya tersadar. Betapa selama ini kita kerap dengan enteng menyederhanakan persoalan; menyederhanakan fenomena di sekitar kita. Sebuah kebiasaan yang membuat ceruk kepedulian dalam super-ego kita terkikis. Yang menumpulkan sensitivitas dan empati terhadap kompleksitas manusia lain dengan segala kekurangan dan kelebihan yang lekat pada dirinya. Penyederhanaan itu pula yang barangkali membuat kita selama ini seolah-olah tak menyadari keberadaan tunanetra, dan secara tanpa sadar mengucilkan mereka dalam menara tinggi dengan semesta kehidupan mereka sendiri. Penyederhanaan itu pula yang mungkin membuat maskapai penerbangan Air Asia keberatan mengizinkan salah seorang tunanetra menjadi penumpang perjalanan mereka tanpa disertai pendamping. Padahal, penumpang tunanetra bisa berlaku sama baik dengan penumpang berindera lengkap, dengan fasilitas-fasilitas bantu yang selalu tersedia di bandara.

Saya merasa tertohok. Lebih tertohok lagi ketika menyadari, berbagai tembok atas nama keterbatasan yang diciptakan masyarakat kita bahkan mencapai hak-hak pribadi seseorang; untuk membaca, misalnya. Hitung berapa banyak perpustakaan yang memuat bacaan braille, audio-book dan komputer-bicara, untuk memperkaya wawasan tunanetra, mengasup dan membantu ego mereka menemukan jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan besar kehidupan dan mengatasi perdebatan dengan sang id dan super-ego. Hitung berapa banyak organisasi yang menegaskan kepeduliannya terhadap tunanetra, dan memperjuangkan kelayakan yang sama dengan orang lain. Jangan bertanya ‘mana tanggung jawab negara terhadap mereka’, jika tak ingin mendengar jawaban yang menyedihkan.

Saya kemudian merasa beruntung mengenal Yayasan Mitra Netra (YMN). Karena lewat yayasan inilah kepedulian kita menemu muara. YMN membuat kita setidaknya tahu apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung tunanetra. Program 1000 buku untuk tunanetra berbicara pada kita, bahwa tunanetra tak butuh dibantu berdiri ketika terjatuh, tak butuh pendamping ketika hendak beperjalanan jauh, tetapi butuh lautan baca di mana pengalaman batin bisa disauh. Saya, Anda, siapa saja, dapat mendukung mereka dengan cara yang sederhana, tanpa mesti menyederhanakan persoalan.
Program mendatang, peluncuran tujuh novel braille kerja sama penerbit GagasMedia dan Yayasan Mitra Netra, mudah-mudahan membuka mata kita (yang masih bisa melihat dengan baik) semua. Membuka cakrawala kesadaran kita, bahwa siapa pun tanpa kecuali, berhak memiliki diri yang utuh, yang lengkap. Dalam ketaklengkapannya.



1 saya menggunakan tanda kutip karena ‘haram’ atau ‘tidak haram’ adalah label sosial, bukan hal yang sifatnya kodrati

baca juga:
GagasMedia Luncurkan Tujuh Buku Pengarangnya dalam Format Braille

Yayasan Mitra Netra

Dan Si "Ungu Violet" Pun Menjadi Relawan