Hosted by Photobucket.com

Friday, February 17, 2006

Bandung berjuang untuk kemanusiaan!

Sudah lebih setahun pascakematian Munir Said Thalib, dan kasus kematian aktivis hak asasi manusia ini belum juga menampakkan tanda-tanda kejelasan. Kasusnya bahkan menyayup setelah vonis dijatuhkan pengadilan kepada Pollycarpus Budihari Priyanto, yang diyakini banyak orang, hanyalah scapegoat sekaligus bukti bahwa praktek impunitas dalam kasus kekerasan politik di negara ini masih terjadi.

Mematahkan impunitas negara dalam kekerasan dan pembunuhan politik adalah kewajiban kita seluruhnya. Maka, PSI bekerja sama dengan Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM), Toko Buku Ultimus Bandung dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia menggelar pementasan monolog “Matinya Seorang Pejuang”, pemutaran film “Bunga Dibakar” – jalan panjang kehidupan Munir – dan diskusi kasus Munir bersama Raharja Waluya Jati (VHR) dan Andi Yuwono (Praxis). Sebelumnya, kegiatan ini telah diselenggarakan di sembilan kota di Indonesia (Yogyakarta, Malang, Surabaya, Denpasar, Mataram, Jakarta, Medan, Bengkulu, Batu) sejak Januari 2005.

Perjuangan melawan penindasan hak asasi manusia dimulai dari diri sendiri. Apakah Anda bersama kami?

Tabe,
PSI • KASUM • ISAI • TB Ultimus • STSI Bandung


Rangkaian Kegiatan

Senin, 27 Februari 2006 (TB Ultimus, Jl Lengkong Besar 127, Bandung)

18.30 s.d 20.00 – diskusi kasus Munir

20.00 s.d 20.46 – pemutaran film “Bunga Dibakar”


Selasa, 28 Februari 2006 (Gedung Dewi Asri, STSI Bandung)

19.14 s.d 20.00 – pemutaran film “Bunga Dibakar”

20.00 s.d 21.00 – pentas monolog “Matinya Seorang Pejuang”


Matinya Seorang Pejuang”

Pelakon Tunggal : Wendy H.S

Naskah : F.X Rudy Gunawan

Sutradara : Landung Simatupang

Artistik : Hendro Suseno

Setting : Kuncoro D.P

Lighting : Johan D.H

Sound&Multimedia : Prasetyo “Sinyo” B.M

Produksi : Miranda

Supervisi : Raharja Waluya Jati

Keuangan : Dhiah Hartini

Dokumentasi : Ratrikala Bhre

Koordinator Lokal : Yunis Kartika


Bunga Dibakar”*

Durasi : 46 menit

Produser : Institut Studi Arus Informasi, Imparsial, Kontras,
bekerja sama dengan Cinema Society, Cangkir Kopi Mediavisual, Off Stream, dan Lembaga Pembebasan, Media dan Ilmu Sosial

Sutradara : Ratrikala Bhre Aditya

Produser Eksekutif : M. Abduh Azis


Bulan September 2004, Indonesia dikejutkan oleh meninggalnya Munir, tokoh gerakan hak asasi manusia yang konsisten dengan perjuangannya.

Film ini mencoba merekonstruksi perjalanan hidup dan perkembangan kejiwaan serta pergolakan batinnya. Dari seorang Munir, aktivis muslim yang sangat ekstrim, menjadi seorang Cak Munir yang menjunjung tinggi toleransi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, anti kekerasan dan berjuang tanpa kenal lelah melawan praktek-praktek otoritarian serta militeristik.

Si pemberani ini ternyata juga manusia biasa yang menurutnya, juga mengenal rasa takut. Namun yang justru menginspirasi adalah kata-katanya: “...kita harus lebih takut kepada takut itu sendiri, karena rasa takut itu menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita.” Ia sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai isteri dan kedua anaknya.

Ia dibunuh justru pada era di mana demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai tumbuh. Bunga indah itu kini telah dibakar.


*”Bunga Dibakar” adalah judul seri enam lukisan Yayak Yatmaka yang didedikasikan kepada para aktifis yang telah hilang. Lukisan di judul pembuka film adalah lukisan Yayak dengan judul “Bunga Dibakar” yang ketujuh.