Hosted by Photobucket.com

Thursday, January 05, 2006

Kawin Kompleks

Apa yang membuat Anda memutuskan untuk kawin?

The marriage of Tristram and Isoude
Entah ada hubungannya atau tidak dengan usia quarter-life yang sudah saya jalani, saya tertarik pada “kawin” (bedakan dengan "untuk kawin", ya. ^_^). Ini bukan ketiba-tibaan. Saya pernah beberapa kali membahasnya dari berbagai perspektif. Tapi setelah sekian lama merenungkan secara sambil lalu, saya terpaksa mengakui bahwa "kawin" memang membuat saya tertarik. Dan mungkin perlu direnungkan tidak secara sambil lalu.
Tentu bukan prosesi tribal atau aspek biologis dari “kawin” yang membuat saya tertarik (hmmm... katakanlah, dalam beberapa celah, ya. Tapi secara keseluruhan? Rasanya bukan.). Sekarang, mari mengetuk kepala masing-masing dan bertanya: Kenapa kamu memutuskan untuk kawin atau setidaknya merasa membutuhkan pernikahan dan melembagakan diri, atau bahkan untuk tidak kawin?
Atas nama keingintahuan di atas keisengan belaka, saya pernah mendiskusikannya dengan seorang teman peskenario film, Agustinus Sudarsa.
“Kenapa orang-orang pada kawin, ya, Gus?”

Dia tersenyum. Dia bilang (ini agak mengejutkan sekaligus menyenangkan, karena ternyata saya menemukan seorang teman dengan ketertarikan yang sama),
“Aku yo lagi meh gawe skenario soal kawin, jhe.”[1]
Karena itu kami lantas berdiskusi.
Jadi, kenapa orang memutuskan untuk kawin? Diskusi simpang-siur itu tentu tak berkesimpulan. Ada banyak sekali alasan untuk kawin. Seberagam latar belakang manusia. Kawin adalah tradisi yang sama tuanya dengan sejarah manusia. Manusia bisa saja memutuskan menikah karena alasan (selain cinta, tentunya) tradisi, religiositas, pengabdian, sekuriti, prokreasi, sosiokultural, sampai keseluruhannya. Seorang teman dari suku Batak bilang, kawin dalam perspektif masyarakat tradisional Batak adalah demi alasan prokreasional; meneruskan keturunan. Selain alasan prokreasi, yang kebanyakan terjadi pada generasi di atas kita barangkali adalah perkawinan sebagai bentuk pengabdian perempuan terhadap laki-laki. Golongan ini bisa saja beririsan dengan golongan lain yang beralasan bahwa kawin dianjurkan oleh agama. Sebagian golongan rural barangkali kawin demi alasan sosiokultural. “Kalo kamu kawin, alasannya apa, Mar?” Kami semua menoleh pada seorang teman dalam diskusi itu. “Rasa aman,” jawabnya pendek.
Diskusi antara kami berakhir dengan hipotesis; kini trend seputar kawin adalah alasan sekuriti. Rasa aman, pembebasan dari kekhawatiran. Karena mitosnya, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang terbelah, barangkali. Atau yang lebih logis, karena manusia adalah makhluk sosial sekaligus individual sepanjang hidupnya.
Lalu, ketika sifat manusia kian androginal; ketika seorang perempuan atau laki-laki merasa cukup dan aman dengan dirinya sendiri,
apa masih ada alasan untuk kawin?
....................................................
(miranda)

[1] Terjemahan bebas-nya kira-kira begini: “Aku juga lagi mo bikin skenario soal kawin, neh…”