Hosted by Photobucket.com

Thursday, January 19, 2006

Boston Marriage


Jenis perkawinan seperti apa yang Anda inginkan? Perkawinan sakinah, mawaddah warahmah? Atau perkawinan dengan seorang pekerja keras dengan karir yang baik tanpa mengesampingkan keluarganya? Atau perkawinan yang menghargai hak privat pasangannya untuk mengaktualisasikan diri dalam konteks seluas-luasnya, mungkin? Saya melakukan jelajah rimba maya hari ini, dan menemukan jenis perkawinan yang, tanpa sadar, sering kali saya idam-idamkan. Ia disebut Boston Marriage.

Istilah Boston Marriage dipercaya muncul dari novel Henry James, The Bostonians (1886 – tentang dua perempuan berkepribadian kontras yang kemudian terikat dalam jalinan konflik seksual antara mereka); atau mungkin juga dari pasangan-pasangan perempuan yang "membina rumah tangga" di Boston; di antaranya Sarah Orne Jewett, seorang novelis, dengan "istrinya", Annie Adams Field, juga penulis. Boston Marriage adalah sebuah ungkapan yang digunakan untuk mendefinisikan sepasang perempuan yang membina kehidupan mereka bersama-sama (biasanya dalam satu rumah). Apakah Boston Marriage adalah sebuah pernikahan lesbian? Lilian Faderman, seorang sejarawan, mengatakan kesimpulannya tak semudah itu ditentukan. Orang mungkin berkata Anda –atau teman Anda– adalah seorang lesbian ketika mereka melihat Anda –atau ia– tinggal bersama perempuan lain dan membina rumah tangga. Orang mungkin akan berkata "Maaf – pernikahan.... apa?" sambil mendelik ketika Anda menyebut Boston Marriage, terlebih mereka yang memahaminya sebagai bentuk kontrak pasangan lesbian. Tapi segolongan perempuan –termasuk saya diantaranya– bisa jadi memandang Boston Marriage sebagai bentuk perkawinan yang relatif paling aman. Dan percayalah; yang sebenarnya terjadi pada Boston Marriage tak semata-mata sesederhana kesimpulan "rumah tangga lesbian".

Lepas dari relasi seksual antaranggota "rumah tangga" ini, Boston Marriage menurut saya adalah bentuk kontemplatif relasi antarperempuan. Sebuah rumah tangga di mana kamu merasa aman untuk berbagi visi, opini, kasih sayang, hingga cerita sehari-hari dengan pasanganmu. Tak jauh beda dengan lazimnya perkawinan; hanya saja yang ini relatif lebih aman dari tekanan-tekanan patriarki dalam rumah tangga. Dua orang perempuan yang "straight" (istilah ini saya gunakan hanya untuk membedakannya dengan kaum lesbian) tapi memutuskan untuk tidak menikah bisa membina sebuah rumah tangga, merumuskan cita-cita bersama, berbagi rekening bank, bahkan membesarkan anak bersama-sama. Boston Marriage tak membatasi anggota rumah tangganya untuk menjalin relasi dengan orang lain – termasuk memiliki kekasih. Boston Marriage bisa menjadi solusi untuk kekhawatiran yang muncul dari trauma terhadap sistem patriarkal atau perkawinan konvensional yang gagal. Boston Marriage adalah bentuk ikatan persahabatan ideal sepasang perempuan, yang tak akan memaksa anggotanya untuk terus berada di rumah yang sama dan siapa pun di antara keduanya bisa "terbang" keluar rumah untuk sesuatu (atau seseorang) yang dicintai. Bukankah ide itu sangat menyenangkan?


Setelah mengamati keadaan di sekeliling saya selama ini, saya kerap berandai-andai jika saya tinggal dengan seorang (atau beberapa orang) sahabat perempuan dan menjalani sisa hidup saya bersama mereka. Beberapa diantaranya mungkin orangtua tunggal, dan saya merasa tak sedikit pun keberatan untuk membesarkan anaknya bersama-sama. Ini membuat saya paham bahwa (sekali lagi), salah satu dampak positif perkawinan adalah rasa aman, dan rasa aman hakikatnya tidak berasal dari jenis kelamin atau status dengan pasangan, tapi dari kesetiaan dan komitmennya untuk menemani dan ditemani. Hari ini saya menemukan formulasi yang saya idam-idamkan itu, dan menemukan bahwa banyak perempuan di luar sana ternyata memiliki mimpi yang sama dengan saya. Sungguh menyenangkan. [miranda]

Baca juga:
So, Are You Too Together?
What's Boston Marriage?