Hosted by Photobucket.com

Monday, December 05, 2005

warna-warni dunia paralel

Malam tadi, dalam sebuah latihan yang berakhir dengan perbincangan, Wendy [sang monolog'er] melontarkan isu tentang salah satu karya seni rupa kontemporer dalam Biennale Jogja VIII (Biennale Jogja VIII adalah sebuah program yang melibatkan dua kajian budaya sekaligus; seni rupa dan pusaka/heritage. Tajuk program dua tahunan itu tahun ini adalah "Di Sini dan Kini" - Consciousness of The Here and Now). Karya yang disebut-sebut itu (saya terus terang lupa judul persisnya) berkaitan dengan 'berdarmawisata di kota sendiri'.

Biennale Jogja tahun ini memang mengangkat wacana-wacana yang berkaitan dengan kebijakan tata kota; pengelolaan wilayah yang tidak tersiasati dengan baik, polusi iklan dengan menjamurnya giant-board di sembarang tempat, munculnya sekian mal di tempat-tempat yang 'tidak semestinya' [seperti persis di seberang sebuah SMU, atau malah di dalam kompleks universitas], yang kerap kali mengusik keberadaan pusaka peninggalan sejarah. Disebut-sebut juga pengaruh kapitalisme global yang memengaruhi perangai warga kota Jogja (dalam interpretasi saya, ini berkaitan dengan Mc Donald'isme, salah satunya). Tak heran, jika salah satu karya seni rupa kontemporer yang lolos kuratorial Biennale Jogja tahun ini adalah karya bertajuk 'berdarmawisata di kota sendiri' itu.

Back then, wujud karya itu adalah 'piknik' ke berbagai situs bersejarah (sosial-budaya) di Jogja. Konon, karya itu ditanggapi antusias oleh masyarakat. Indikasinya jelas: banyak orang mendaftar untuk 'berdarmawisata di kota sendiri'. Lontaran itu kemudian ramai ditanggapi oleh kami: aku, mas Landung, Sinyo the multimediaman dan Kuncoro setting'er. Mas Landung menceletuk: dia, sang seniman itu, pasti sudah mempersiapkan programnya dengan baik. Mulai dari survey ke bantaran kali code, ngobrol dengan ketua RT-nya, lalu membeberkan riwayat keluarga itu pada para 'turis'.... [meski ramai canda, kami sadar betul kalau kebanyakan dari kami memang sudah lama 'lupa' pada kota sendiri]

Konon, bantaran kali Code memang termasuk salah satu situs yang akan dikunjungi dalam 'karya' itu. Entah benar, entah tidak. Lalu, dalam perjalanan pulang, tepat di jembatan Gondolayu, sesuatu tiba-tiba meletik dalam pikiran saya.

Beberapa waktu lalu pernah terjadi, jembatan itu jadi salah satu situs nongkrong; tempat di mana para pengendara motor berhenti untuk sekedar memandang lelampu di bawah jembatan; lelampu yang berasal dari kawasan permukiman di bantaran kali Code. Tiba-tiba, otak melankolik saya merasa betapa ide itu pathetic. Apa yang sedang mereka lihat dari atas jembatan, orang-orang itu? Kemiskinan? Kehidupan di bantaran kali Code yang terepresentasi kulit-kulitnya saja lewat ratusan kerlip lampu, yang sama sekali tak pernah bercerita tentang apa yang sesungguhnya mereka hadapi di sana? Sejak kapan kelas marjinal jadi tontonan yang keren, bahkan romantis bagi kelas yang lebih tinggi? Is that what really happened?

Dan di balik ratusan kerlip lampu di bawah sana, ratusan manusia sedang terpana, memelototi televisi mereka, menonton sinetron dan tontonan sampah yang terus membuat mereka bermimpi (meski kata salah seorang teman yang saya hormati, bermimpi baik untuk membuat mereka 'survive') dan berkubang dalam kebodohan?

Sungguh, sebuah dunia paralel yang warna-warni.