Hosted by Photobucket.com

Tuesday, December 13, 2005

"Itu benar-benar panjang dan melelahkan."

Birokrasi. Hari ini, genap tiga kali angin birokrasi menyepoi kepala saya. Sekali sebelum jatuh tertidur akibat kelelahan tertahan, sekali sesudah terbangun dengan perasaan absurd, dan sekali setelah benar-benar sadar - kali ini bahkan bersentuhan langsung dengannya.
Pagi tadi, di koran saya baca pengakuan seorang pengusaha Taiwan yang mengeluh soal birokrasi panjang berinvestasi di Indonesia, dan perlakuan aparat lokal yang jauh berbeda dibandingkan dengan perlakuan aparat di Cina. Juga ketika para investor yang notabene adalah pendatang itu mesti 'membayar biaya tambahan' di bagian imigrasi bandara, karena mereka selalu minta duit. Siang tadi, dalam sebuah momen makan siang dengan seorang sahabat, ia mengeluhkan soal para pejabat di tingkat pemerintahan terendah yang tak segan-segan minta uang sebagai 'imbalan' tanda tangan dokumen-dokumen tanah dan bangunan. Dan betapa proses itu sudah menjadi sangat lazim bagi mereka, yang bahkan berani 'memasang harga'. Tapi, seberapa keras pun sahabat saya mengeluh, birokrasi panjang dan melelahkan itu tetap mesti ditempuh. Dan seberapa tak setuju pun hati nuraninya (dan hati nurani saya, juga Anda, tentu), ritual suap-menyuap itu pun mesti berlaku, supaya proses bisa berjalan terus tanpa hambatan.
Pembicaraan kami terseling perdebatan keras, karena di satu sisi menurut saya para pejabat pemerintahan tingkat rendah itu tidak sepenuhnya salah, dan jika memang mesti ada kambing hitam, yang mesti disalahkan adalah sistem. Di sisi lain, fenomena birokrat tingkat rendah di negara kita yang, konon, kaya ini, memang menjengkelkan. Karena para PNS itu kebanyakan hanya mengutak-atik solitaire atau freecell di PC-nya, ongkang-ongkang di posisi menunggu momen-momen dibutuhkan (seperti yang sahabat saya alami), di mana dengan sendirinya uang datang, hanya dengan segurat tanda tangan. Hanya berembel-embelkan jabatan tertentu.

Sore ini, lagi-lagi proses yang saya tempuh di kampus terganjal birokrasi. Lagi-lagi saya dibuat kesal dan setengah putus asa. Tanpa disuruh, kepala saya tak henti merutuk dan bertanya; apa yang ada di kepala para pemimpin dan aparatur ketika dulu menciptakan sistem dan jenjang birokrasi yang melelahkan, yang pada muaranya membudayakan korupsi, kolusi dan nepotisme di negara ini? Tidak semua birokrat berelasi dengan uang dan tidak semua birokrasi UUD (ujung-ujungnya duit), memang (meski sebagian besar ya). Tapi pemikiran saya sesederhana banyak orang lain: kalau memang bisa dibuat mudah, kenapa sih mesti dibuat-buat sulit?
Kini, ketika kita semua terlalu terbiasa menyuap dan jenjang birokrasi yang dipanjang-panjangkan terus dipertahankan, sehingga kemalasan menghadapi birokrasi yang hinggap menjadi sebuah kewajaran yang membenarkan budaya suap terus terjadi, masih patutkah kita bertanya: kapan kita keluar dari budaya dan lingkaran setan ini?