Hosted by Photobucket.com

Thursday, December 22, 2005

catatan akhir tahun

Barangkali ini adalah sebuah catatan akhir tahun. Bukan berarti berisi ulasan peristiwa selama satu tahun yang sebentar lagi akan berlalu. Tapi barangkali lebih pada jejaring pemikiran yang melintas-lantur dalam kepala saya, menjelang akhir tahun ini.
Tadi malam, sambil terkantuk saya menonton The Stepford Wives. Sebuah film yang disutradarai Scott Rudin dan dibintangi oleh Nicole Kidman. Lalu saya menemukan sesuatu yang pada paruh akhir tahun ini kerap bersinggungan dengan diri saya. "Apa yang akan dilakukan 'sang superior' laki-laki ketika terimpit inferioritas terhadap pasangannya?"
Saya membuat analisis yang tertuang dalam sebuah cerita pendek. Laki-laki, sang superior yang 'terjangkit' inferioritas berkepanjangan itu bisa kena schizoprenia, mengalami delusi dan halusinasi, dan dalam jangka panjang punya potensi untuk membunuh pasangannya. Nonsense? Belum tentu. Dalam The Stepford Wives, 'barisan sakit hati', para laki-laki yang bergabung dalam Stepford Men Association, melampiaskan dendam dengan menjerumuskan pasangannya ke dalam 'kematian sementara' dan mengubah mereka jadi robot. Tak cukup, wujud robot bentukan mereka adalah perempuan-perempuan 'idaman' yang terobsesi pada dapur, rumah cantik dan tubuh molek. Sebuah perubahan yang, menurut film itu, nyaris tak mungkin terjadi pada barisan wanita karir plus plus yang sukses, cerdas, kaya, kemampuan diplomasi di atas rata-rata dan punya segala (sebab wanita demikian identik dengan penampilan seadanya, dan kecantikan serta tubuh terawat menjadi semacam ikon ketidakcerdasan di kalangan mereka). Perempuan idaman? Tinggal di rumah seharian, menekuni trend buku masak dan housing, 'mengawini' alat-alat kecantikan, merawat diri dengan berbagai produk dan alat kebugaran demi terjaganya hubungan seks yang ideal, dan cuma bisa bilang 'ya' tanpa pertimbangan asertif kepada pasangan? Mereka, para laki-laki sakit hati itu, pasti telah mengalami sisip-pikir. Schizoprenic.
Di dunia nyata? Jangan tanya. Belum dua minggu yang lalu, seorang laki-laki pengangguran hampir membunuh isterinya karena sebuah alasan sepele. Penolakan sang istri melayani birahinya, karena hendak berjualan di pasar. Seorang bapak tiri (yang juga berstatus pengangguran) tega memperkosa dua anak gadisnya, bahkan berkali-kali, ketika sang istri mencari nafkah di luar rumah. Seorang lelaki penganggur yang lain bisa mengancam akan membunuh istri, keluarga dan teman-temannya, ketika sang istri (yang juga jadi penopang ekonomi keluarga) akhirnya menggugat cerai. Mengeluarkan rentetan ayat sebagai pembenaran, dan merasa diri Ratu Adil. Oh.
Inilah wajah lain budaya patriarki.

Hal lain yang melintas-lantur dalam kepala saya menjelang akhir tahun ini adalah kuping tipis para pejabat, perdebatan mengenai kerja editor di milis pasarbuku, kelaparan di Yahukimo, dan vonis 14 tahun penjara yang dijatuhkan untuk terdakwa Pollycarpus Budihari Priyanto. Tidak ada benang merah yang menghubungkan kelima topik di atas, memang. Kecuali bahwa kelima-limanya kadangkala memancing kesedihan saya. Terlebih dua topik terakhir. Seharusnya pemerintah kita digugat untuk meninggalkan warga Papua dalam kubangan keprimitifan dan menjadikan mereka warga negara kelas dua. Hell.

Well,
selamat Hari Ibu. Sebentar lagi, selamat Natal dan Tahun Baru.