Hosted by Photobucket.com

Tuesday, November 15, 2005

favorit + mati lampu

Favorit.
Sekali waktu, aku pernah berdebat dengan seseorang tentang 'favorit'. Bukan sekedar term-nya, tapi juga bagaimana aku menggolongkan sesuatu sebagai 'favorit' atau 'suka', atau biasa-biasa. Kami berdebat keras, karena terusterang entah kenapa aku kurang terbiasa dengan -isme favorit. Agak sulit menyebut beberapa things sebagai favorit. Entah karena aku memang susah (atau terlalu sombong) untuk memfavoritkan sesuatu, atau karena sejak kecil tak terbiasa dengan ide favorit. Yang aku ingat sekali, waktu kebiasaan mengedarkan diary bergambar warnawarni (dan kerap berbau wangi) untuk bertukar biografi jadi trend semasa SD, aku selalu sulit menuliskan 'makanan favorit', 'bintang film favorit', etc etc etc.
Memang begitu. Teman yang mendebatku, atau siapapun mungkin heran, karena 'favorit' bukan sesuatu yang sangat berjarak dalam kehidupan sehari-hari; barangkali justru kerapkali sangat dekat. Tapi begitulah aku....

Mati lampu.
tadi malam, ruas jalan kaliurang dengan radius kurang lebih satu kilometer, mati lampu. seluruh ugm dirundung kegelapan (kecuali beberapa gedung seperti fak. hukum, fak. teknologi pertanian dan gedung pusat ugm) selama kuranglebih tiga perempat jam. Latihan monolog Matinya Seorang Pejuang yang sedianya dilaksanakan di plasa sospol praktis gagal total. Akhirnya kami pun beramai-ramai hijrah ke daerah selatan yang diperkirakan tidak mengalami gangguan listrik. Setelah menempuh rute Terban-Jl Mangkubumi *yang pasar maling-nya lagi rame2nya*-Bumijo-Kuncen-dan berlabuh di Wirobrajan selama setengah jam, kami sampai di tujuan. Ironisnya, salah satu teman yang berangkatnya menyusul setengah jam kemudian ke selatan mengabarkan kalau listrik di ruas jalan kaliurang sudah menyala tak berapa lama setelah kami berangkat ke selatan.

Hubungan favorit dan mati lampu??
Sebenarnya begini: aku punya seorang pengemis favorit di perempatan Mirota Kampus. Pengemis itu, seorang bapak tua yang sepanjang hari nongkrong sambil ngerokok linthingan atau terkantuk-kantuk di depan pelataran KFC, adalah pengemis yang selalu berhasil menarik perhatian (dan recehanku) setiap kali berhenti di lampu merah KFC. Meski ia mungkin tak pernah mengenalku.
Tapi malam kemarin, mati lampu membuatku tak sempat menengoknya seperti biasa. Karena listrik mati membuat lampumerah perempatan itu tidak beroperasi.
Aku melintasinya. Ia masih terkantuk-kantuk. Tiba-tiba aku merasa ingin mengelus dada.

Berapa rupiah rejekinya, bapak tua pengemis itu, yang melayang akibat mati lampu, ya..?