Hosted by Photobucket.com

Friday, November 04, 2005

Dell: “I’m obsessed of stars.”

Kamu suka bintang?

Sejak kecil, aku suka melihat bintang. Aku sering menyelinap keluar kamar malam-malam, melarikan diri dari kewajiban bikin pe-er dan duduk di balkon cuma untuk menikmati langit malam. Kelas dua SMA aku menemukan planisphere alias peta langit malam untuk pertama kalinya, di sebuah perpustakaan Jepang, di waktu bolosku ketika sekolah jadi terlalu membosankan. Langit malam punya peta? Sejak saat itu aku paham kenapa orang begitu takjub kepada bintang; sejak untuk pertama kalinya aku melihat gambar berisi noktah-noktah bernama yang dihubungkan dengan garis-garis.

Kalau langit punya peta, berarti noktah-noktah itu rumah dan garis-garis adalah jalan. Berarti masing-masing gambar itu adalah kota. Dan makhluk planet bisa bertandang ke bintang tetangga dengan meniti garis-garis maya....

Imajinasi soal alien dan jalan maya yang menghubungkan bintang satu dengan lainnya membuatku berhasrat mencintai bintang; benda langit berkelip yang malam-malam menemaniku melamun ketika romo-biyung sudah terlelap dalam mimpi konservatif mereka. Cuma itu? Imajinasi tentang alien? Sebenarnya, ada hal lain yang membuatku mencintai bintang. Sesuatu yang kutemukan pada peta langit malam. Tapi tak ada yang perlu tahu tentang itu. Seperti setiap orang, aku berhak punya satu rahasia besar dalam hidup. Sudah kuputuskan, tidak ada yang perlu tahu. Dan rahasia itu akan terkubur jadi harta karun yang lenyap bersama debu tubuhku, kelak.

Aku bergidik mendapati pikiranku sendiri. Diam-diam, kuselipkan lembar planisphere itu ke dalam ransel hijauku. Lalu aku melenggang keluar perpustakaan seolah tak terjadi apa-apa.

Naud “Bintang? Gue mengagumi Dell.”

Gue emang suka ngeliat bintang. Gue mulai suka ngeliat bintang waktu SMA, waktu gue minggat dari rumah buat pertama kalinya. Malam itu, gue nggak tau mau ke mana. Gue nggak punya banyak temen, dan beberapa yang gue punya malam itu nggak berhasil gue kontak. Karena nggak tau mau pergi ke mana, gue pergi ke TIM, satu-satunya tempat yang menurut gue cukup aman untuk tidur. Ya, gue nggak tau tempat lain lagi. Malam itu, akhirnya gue tidur di emperan planetarium. Dan untuk pertama kalinya, gue leluasa melihat langit malam dan bintang-bintang.

Tapi tiga tahun kemudian baru gue tahu, ada orang yang bisa begitu cintanya sama bintang. Namanya Dell. Anak Geografi yang gue kenal waktu jaman ploncoan. Pertemuan kedua gue sama dia terjadi di depan planetarium, ketika gue tiba-tiba aja kangen sama tempat itu.

Gue pikir anak itu nggak inget gue. Karena pertemuan pertama di kampus menurut gue nggak penting banget untuk cewek cuek kaya’ dia. Tapi ternyata dia inget gue.

“Anak Dewantara, kan?” tembaknya dengan tatapan dingin. Gue surprise dia tahu. Lantas, dia menggelosor di lantai emper planetarium. Entah kenapa, gue ikut-ikutan duduk di sebelahnya. Anak itu seperti punya magnet.

“Namaku Dell. Geografi.”

“Oh. Gue Naud.”

Lalu tiba-tiba dia tanya apa gue suka bintang. Ketika gue nggak menjawab tapi mengangguk, tiba-tiba anak itu cerita banyak soal bintang-bintang. Bahwa dia suka banget ngeliat bintang dan menebak-nebak apa warnanya biru, kuning atau merah. Bahwa bintang yang sekarang memancarkan sinar berwarna kuning, lama-lama bakal jadi merah setelah bahan bakar hidrogen-nya abis. Bahwa suatu saat ntar, mungkin lima milyar tahun dari sekarang, matahari yang kehabisan hidrogen dan bengkak jadi raksasa merah bakal menelan Merkurius, Venus, dan bumi, lalu menyusut jadi cahaya kerdil warna putih dan melenyapkan segala materi di dalamnya. Pas dia selesai cerita, gue nggak bisa komentar apa-apa kecuali nyeletuk; mungkin itu yang namanya kiamat, ya? Ya, gue emang nggak paham apa yang dia omongin, tapi gue suka bintang. Dan gue kagum karena ada orang yang tahu banyak soal bintang. Belakangan gue tahu, Dell ternyata mengetahui jauh lebih banyak dari apa yang dia ceritain di emperan planetarium TIM sore itu.

Gue suka Dell, karena dia makhluk yang nggak ketebak, seperti alam. Gue mencintai alam, seperti Dell terobsesi pada bintang. Dell? Gue pernah tanya apa dia suka alam. Dia bilang dia nggak tahu, tapi dia pikir dia dilahirkan untuk jadi anak alam.

Dell punya banyak sisi yang bikin gue suka sobatan sama dia. Banyak lah. Selain bahwa gue dan dia sama-sama suka ngeliat bintang....

Trix (nama aslinya Trisnadi, tapi ini off-the-record): "Dell? Bintang yang muram."

Wah. Aku nggak tau apa-apa soal bintang. Aku lebih tahu soal perempuan yang konek banget kalo diajak ngomong soal bintang. Namanya Adellja bla bla bla. Panjang, lah. Maklum, ningrat. Pertama kali ketemu sama dia dan liat namanya di daftar absen aku pengen ketawa. Nama kok Adellja.

Maksudnya Adell-aja ‘kali, nih! Yang mana yang namanya Adell-aja, haa?

Waktu perempuan itu mengangkat tangannya dengan raut ketus yang memperlihatkan ketidaksukaannya sama guyonanku, aku baru sadar kalau yang barusan aku omongin keras-keras di depan kelas itu jayuz. Dan aku sudah mengetuk pintu dengan cara yang salah. Adell-aja, anak itu, sumpah mati manis.

Itu dibacanya A-del-lya! Tegasnya tidak main-main. Buset, anak itu nggak cuma manis, tapi juga galak. Sesuai dengan bibirnya yang tipis tapi indah.

Ooh, jadi orangtuamu penganut ejaan lama, ya?

Rengutannya makin jadi. Aku jadi serba salah dan tambah kebat-kebit. Tapi perempuan hitam-manis bermata sipit yang duduk di sebelahnya tertawa terbahak-bahak. Nggak peduli sama Adell, si cantik itu, yang mendelik ke arahnya.

Panggilannya Dell, ‘Kak, seru perempuan sipit itu setelah selesai tertawa. Penyelamatannya membuatku bisa bernafas lega. Meski bibir Adell cantik itu masih saja manyun.

Ooo, Dell. Kalo kamu? Nama kamu siapa, Sipit?

Sumpah mati. Aku nggak punya ketertarikan khusus sama si Sipit yang ternyata bernama Naud itu. Aku cuma memanfaatkan dia jadi topeng untuk menyelamatkan mukaku di depan den ayu Dell-aja itu. Trik-ku berhasil. Dia kelihatan jengah karena barusan sempat merasa kegeeran menanggapi sikapku. Rasain kamu. Nggak usah terlalu belagu deh, mentang-mentang cakep!

Tapi sumpah mati,

sejak saat itu aku jadi pengen bersumpah kalau suatu saat aku bakal menaklukkan makhluk galak berbibir indah itu. Jangankan cuma seorang Adell, gunung apa yang belum aku taklukkan di antero Jawa ini? Cuma kesempatan yang belum membawaku ke pulau lain. Dan cuma waktu yang pelit dan belum memberikan Adell untukku sekarang. Suatu saat nanti akan aku buktikan.

Nggak akan sia-sia aku dipanggil Trix (baca: treez).

Dan nggak akan sia-sia aku jadi ketua Paladewa, klub pecinta alam Dewantara selama dua periode berturut-turut.

Miranda: "Belum kenal."

Hh... Aku belum kenal Dell. Pernah sih, liat dari jauh aja.
Kamu?