Hosted by Photobucket.com

Monday, November 14, 2005

Azahari dan conspirative thinking

Waktu dengar berita bom di Villa Nova, Batu, Malang yang dikabarkan menewaskan Azahari the demolition man dan Arman, ada yang absurd. Yang terlintas pertama kali di pikiran bukan perasaan puas, bersyukur atau gembira karena the demolition man sudah men-demolish dirinya sendiri. Bukan juga harapan bahwa kekejaman terorisme di indonesia akan segera berakhir.
Yang terlintas justru keraguan.

bener nggak sih Azahari sudah mati?
for a guy like him, yang bertahun-tahun terakhir keberadaannya sulit terlacak, yang aksinya (was) selicin belut, kan bukan persoalan sulit membuat skenario kematian untuk melenyapkan diri?

Pikiran seperti ini bukan cuma punya kepalaku. Aku hampir yakin, keraguan yang sama berbiak dalam kepala banyak orang di negeri ini. Kebobrokan sistem mungkin sudah membuat kita kehilangan kepercayaan, selalu negative thinking dan berpikir konspiratif. Karena itu, berita bahwa SBY begitu gembira karena dua pencapaian besar dalam waktu hampir berbarengan dengan 'meledaknya' Azahari dan digerebeknya pabrik ekstasi gede di Banten yang terbaca di koran terasa tak lebih sebagai angin lalu yang tidak juga menimbulkan perasaan bangga, lega, berterimakasih atau apapun lah, terhadap pemerintah. Buatku aneh, karena kematian (kalau benar Azahari) yang seharusnya bikin lega itu ternyata cuma meninggalkan perasaan hambar. Lagi-lagi apatis.

Kemarin-kemarin, aku kerap bertanya, kenapa rasanya aku begitu apatis terhadap perkembangan peristiwa sosial-politik di Indonesia. Apatis yang tak mau tahu sama sekali. Is it because of me, faktor yang murni berasal dari dalam diriku, atau karena sistem membentukku jadi manusia apatis? Atau malah kombinasi keduanya?

Nggak tahu. Tapi at least, sekarang kalaupun aku apatis,
aku tahu alasannya.