Hosted by Photobucket.com

Sunday, November 27, 2005

anakanak bengkulu

"Ambo dah sampe di Bengkulu. Di siko ndak ado k bulet (maksudnya circle k, pen.), ndak ado bioskop, ndak ado supermarket. cuma ado minimarket."


???????
Itu adalah isi sms dari salah seorang teman yang sudah lebih dulu sampai di Bengkulu (Bengkulu adalah kota kedelapan pentas monolog Matinya Seorang Pejuang, sebuah monolog yang didedikasikan untuk alm. Munir; tempat darimana aku baru saja pulang). Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, sms itu sebentar sempat bikin hati setengah deg-degan dan kepala dipenuhi bayangan buruk tentang Bengkulu. Apalagi, informasi lanjutan mengabarkan bahwa di sana setiap hari hujan. Barusan mendengar kabar ada gempa bumi di Bengkulu, dan kabarburung dari manamana kalau kota ini rawan banjir bikin bayangan-bayangan buruk menggelembung makin gede. Bagaimanapun, komitmen membuat bayangan buruk di kepala kami cuma jadi 'angin numpang lewat' dan segera lenyap larut di udara, tanpa sempat bikin merasa 'angin-anginan' ketika berangkat. Untunglah.

Nah. Mulanya, berbagai kabarburung yang tidak jelas asal-muasalnya itu bikin aku tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi terhadap Bengkulu. Tapi empat malam di sana benar-benar mengubah pikiranku.

Sebelumnya aku (tepatnya kami) berpikir tingkat apresiasi mereka terhadap kesenian tidak bisa terlalu diharapkan, karena Bengkulu bukan kota besar. Tapi ternyata aku (tepatnya kami) salah besar. Mereka punya daya apresiasi cukup besar, bahkan kalau dibandingkan dengan Yogya yang konon, katanya kota budaya (meski mungkin juga karena di Yogya alternatif tontonan memang sudah lebih beragam ketimbang di sana). Bayangkan, dua sesi pemutaran film yang kami buat selalu penuh. Yang ajaib, ruangan dipenuhi oleh anak-anak SMP & SMA! Ajaib buatku, karena film yang diputar jelas-jelas bukan film populer, tapi film dokumenter. Pun, pentas monolognya. 50% penonton adalah anak sekolah. Dulu, waktu aku masih SMA, minat nonton pertunjukan teater cuma dimiliki kalangan terbatas. Lagipula kebanyakan orangtua (pada waktu itu) belum terlalu 'setuju' dengan hal-hal berbau 'komunis' semacam pertunjukan teater macam begitu. Beda sekali dengan mereka. A thing to be underlined, mereka tidak datang karena paksaan atau keliatan merasa terpaksa. Nggak. Mereka datang dengan wajah ingin tahu dan semangat yang jelas-jelas terpancar dari situ.

Masih tentang anak-anak,
perempatan-perempatan jalan Bengkulu (yang sangat bersih, dan landscape-nya asyik banget) bersih dari anak-anak kecil bawa kecrekan dan minta duit. Sama sekali nggak ada. Dan waktu kami semua singgah di teluk Sepang, sebuah kampung nelayan di sana, yang penuh sekali dengan anak-anak kecil, aku menemukan anak-anak yang 'aura'-nya jauh beda dengan aura anak-anak kota jaman sekarang. Like a journey to the past, mereka masih polos (meski juga kenal istilah 'so what gitu loh') dan mainannya sama dengan mainanku jaman kecil. Bukan uang yang bikin mereka senang, tapi 'mainan' dan 'bermain'. Lagi-lagi rasanya miris kalau aku membandingkan dengan anak-anak umur segitu yang sudah pegang kecrekan dan ngamen di perempatan jalan. Yang sorot matanya jauh lebih dewasa dari fisiknya dan cemar oleh polusi kehidupan kota besar.

Nggak tau, ya.
Hal-hal kecil kaya' gitu bikin aku salut pada Bengkulu. Mungkin kita perlu mengaca pada mereka. Lihat apa yang bisa dilakukan oleh generasi muda kita, kalau punya semangat sebesar mereka. Semangat untuk tahu, bahkan mengapresiasi sesuatu yang tidak dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, dan bersetia bertahan! Buat aku, itu sebuah prestasi.

Sepulang dari Bengkulu, selain terkesan, aku sedikit merasa tertampar. Bagaimanapun, seharusnya kita semua mengaca dari semangat murni mereka. Tapi sepertinya, ini pikiran utopis. Yeah....