Hosted by Photobucket.com

Friday, October 14, 2005

many many things in a night

Beberapa hari ini, aku ‘terkurung’ di negeri antah-berantah; dimana satu-satunya hiburan di rumah adalah sederet track mp3 yang kusimpan di memori ponsel. Well, okay. Pada kunjungan kali ini, sudah ada kemajuan (baca: warnet) di kota kecil ini; yang paling nggak bisa bikin aku lebih betah (sedikit) ketimbang biasanya. Tapi toh aku nggak bisa terus-terusan menghamburkan waktu di warnet, karena selain biaya aksesnya masih relatif mahal dibandingkan jogja dan fasilitas comot-comot data masih agak susah (no kidding, salah satu temenku ngeledek ketika aku bilang lagi nge-net di kota kecilku dengan: “Wah, di sana ada listrik tho?” shut up!), mama bisa ngamuk-ngamuk kalau aku – seperti kebiasaan lamaku kalo di Jogja – lupa pulang gara-gara keasyikan nge-net. Dan ketika sudah berada di rumah, yang notabene bagian antah-berantah dari kota kecil antah-berantah ini, rasanya malas sekali beranjak keluar lagi. Maka, dengan ketiadaan segala device bersifat hiburan yang sudah diangkuti karena statusnya ‘bakal pindah’, sederet track mp3 yang disimpan di memori ponsel tadi jadi sarana hiburan yang sangat berarti. Terutama ketika aku mesti menjalani aktivitas-aktivitas domestik bertajuk ‘berbakti pada mama’ semacam bersih2 rumah, cuci-setrika dsb.
Walhasil, sederet mp3 yang jumlahnya juga tak terlalu banyak itu – dengan penuh keengganan – jadi soundtrack hidupku sehari-hari. Sampe hapal banget urutan lagu-lagunya. Sampai tiba-tiba, pada hari ketiga, aku merasa ada yang janggal.
Tadinya aku berpikir ada yang nggak beres pada file-file mp3ku. Soalnya tiba-tiba mereka terdengar aneh di kuping! Kadang-kadang aku merasa temponya lebih cepat atau lebih lambat – yang setelah dicermati ternyata nggak, tuh – di saat lain file-nya serasa seperti ‘pita kaset yang memuai’ dan menghasilkan suara ‘memuai’ juga, atau kadang semacam ketambahan instrumen baru. Pokoknya janggal lah!
Kept thinking of it, sampai malam ini, malam keempat, aku baru sadar kalau semua itu terjadi karena sepertinya kupingku bertambah peka.
Hmm, ini sih cuma hipotesa; tapi bagiku cukup masuk akal bahwa ketika telinga terus-menerus mendengar sesuatu yang sama secara intens selama beberapa hari berturut-turut, penginderaannya jadi lebih peka, alias mampu menangkap unsur-unsur yang tadinya tak tertangkap. Semacam, waktu kecil aku sering mengucapkan kata ‘ember’ berulang-ulang sampe lama-kelamaan berpikir: kok kata ‘ember’ kedengaran aneh sekali di telinga dan tak masuk akal ya? Hum.... ini sebuah kesadaran yang terlambat ya? Well, okay… kalo bukan menemukan teori, anggaplah aku sedang membuktikannya. ;)
Back then, salah satu lagu yang aku simpan itu punya makna khusus berkaitan dengan peristiwa tertentu – yaa, u know the song… – yang bikin dada bergetar tiap kali mendengarnya dan berkaitan dengan (ehm) seseorang. Nah, – ini pembuktian yang lain lagi – satu waktu, aku berusaha membuktikan kebenaran kata-kata sahabatku, Ruwi Meita, tentang sugesti. Dia, once told me:
“Aku semalam menulis di buku harian: xx akan sms aku jam 12.40 a.m sampai satu halaman penuh.
….dan dia meng-sms-ku jam 12.30 – hanya selisih sepuluh menit dari waktu yang kutulis!”
Aku nggak terlalu terkagum-kagum waktu itu, karena hidupku penuh sugesti dan aku sudah mendengar teori itu sejak lama sekali. Tapi sekali waktu, gara-gara lagu itu, aku tergerak untuk mencoba metode yang diterapkan Ruwi. Nah nah, maka aku memulai pekerjaan (setengah) bodoh itu, menulis dua halaman penuh di buku harian: xx akan sms aku jam 11.30 malam ini.
Percobaan pertama:
Berhasil.

Seperti yang terjadi pada Ruwi, orang itu mengirim sms sepuluh menit lebih awal dari waktu yang kutetapkan. Aku kontan kegirangan. Heay, I can make it! Aku juga bisa, lho… *siul-siul* Tentu saja, keberhasilan ini kupendam sendiri. Cukup aku sendiri yang tahu.

Sialnya, pembuktian itu bikin aku percaya dan ketagihan. Di saat lain, ketika perasaanku jadi sukar dikendalikan, aku mulai menulis pada, seperti percobaan pertama, dua halaman buku.
Percobaan kedua.
Nananana…. Dududu… Bagian menulis sudah kuselesaikan, kini tinggal menunggu bukti. Tik tok tik tok… the clock is ticking, dan aku menunggu dengan penuh kesabaran.
(kurang 10 menit) “Hmm, mana yaa…? Harusnya sebentar lagi dia sms nih.”
Didn’t work.
(pas pada waktu yang ditentukan) “Mm….mungkin sebentar lagi. Kalo kemaren waktunya kurang presisi, mungkin sekarang pas.”
Didn’t work.
(lebih 10 menit) “Ohh, mungkin toleransinya kuranglebih sepuluh sampe limabelas menit sebelum atau sesudah waktu yang ditentukan, ‘kali yaa….”
Still didn’t work.
(lebih setengah jam) *keluh* “Hey… where r uu...? U’re half-an-hour-late!”
Still didn’t work.
(lebih satu jam) *utakatik huruf di buku harian* “Ya sudahlah…”
Still didn’t work!
(lebih dua jam) *kebangun pascatengah malam, tergesa meraih ponsel, meneliti dan menemukan lcd tanpa sms notification* “Damn!!! U idiot!”
Case closed. Kesimpulan: percobaan kedua,
Gagal.

Kata orang, keledai nggak akan kecemplung di lubang yang sama. Tapi ada kalanya, aku jadi orang yang benar-benar bebal. Gagalnya percobaan kedua nggak bikin aku jadi nggak percaya teori itu. Aku masih sempat beberapa kali mencoba, dengan berbagai pre-asumsi – yang terakhir malam ini, barusan – tapi dengan hasil seragam: Gagal.
Now I decide, keyakinanku itu bodoh. Dan no more percobaan. It’s enough!

Di luar dua pembuktian itu, kepalaku saat ini benar-benar penuh berbagai macam hal yang sudah berusaha kupilah dan kumasukkan dalam kabinet sendiri-sendiri, tapi mereka secara impulsif menghamburkan diri dan bercampur kembali dengan suksesnya. Hard to tell. Anehnya, entah bagaimana, aku merasa bahagia di tengah situasi depresif ini. Bahkan di tengah kesadaran bahwa BBM naik 180%, enam buah bom baru saja meledak di salah satu tempat yang aku cintai, dan flu burung masih merebak. Kadang-kadang, manusia mesti menempuh jalan yang aneh for something called ‘kebahagiaan’, ya? (jam satu, lewat tengah malam kamis di kotakecilku)