Hosted by Photobucket.com

Friday, September 02, 2005

>> sebuah hari yang tak tenang <<


...lutcu kalo inget kalimat itu. "Sebuah hari yang tak tenang." Kalimat yang dulu sekali, hampir setahun yang lalu, pernah secara rutin selama kuranglebih seminggu menghias inbox sebagai subject surat elektronik dari seseorang yang berarti.

yup. dan betapa tak tenangnya hari-hari belakangan ini.
tujuh september, lima hari lagi, ada peringatan setahun meninggalnya Cak Munir. begitu banyak yang mesti dipersiapkan dan semua serba tergesa. padahal besok seharian aku harus 'mengeram' di Sanata Dharma lantaran didaulat ngobrol masalah seksualitas, barengbareng Rm. Setiawan dan Nurul Arifin. ini juga rada bikin nggak tenang, karena meskipun sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, aku tetaplah bukan orang yang paham betul fenomena seks dan cinta remaja. pake 'ajian' kira-kira? duh, kupikir aku nggak pengen jadi kaya' salah satu sex-spoke-person di Jogja, yang ngakunya penelitian, tapi setelah bukunya dibaca ternyata banyak pake ajian kira-kira.

anyway...
buku yang tadinya sempat mau kujadikan acuan itu [PANC] emang bikin sedih. menurutku, tidak benar jika seorang penulis melontarkan pernyataan-pernyataan yang 'asal' tanpa didahului riset yang benar, yang jika dipercayai publik akan membawa pada paham yang menyesatkan. untunglah, buku itu tidak membuatku tersesat, karena bagaimanapun aku (dan aku yakin, banyak orang lain juga) cukup cerdas untuk menyaring mana informasi yang 'genah' dan bisa kupercaya, mana yang mesti dibuang.

anyway,
ceritaku mulai melantur tak karuan.
yah...hari memang sudah menjelang senja. dan anganku melantur-lantur entah kemana. ada yang mau menyumbang space di kepalanya?

tak tenang.
ada baiknya mengakhiri hari tak tenang ini dengan secangkir kopi krim, sebatang rokok, dan pemandangan sore dari beranda kos-kosan. ups! aku lupa, aku sudah berhenti berasap.
...dan kini, senja sudah hampir lewat.

-rhein-