Hosted by Photobucket.com

Sunday, September 04, 2005

novel adaptasi: sastra-anak-bawang?

mendiskusikan novel adaptasi barangkali bisa tak ada habisnya. beberapa bulan lalu, komunitas butahuruf, sebuah komunitas membaca-menulis yang baru terbentuk di Jogja, sempat menggelar diskusi mengenai kedudukan novel-novel adaptasi dalam sastra.
ada semacam wacana di kalangan pembaca kritis yang mengatakan novel adaptasi tak lebih sebagai produk budaya populer yang tak ada kontribusinya sama sekali terhadap perkembangan dunia sastra di Indonesia. padahal, sebelum GagasMedia gencar menerbitkan novel2 adaptasi, sudah ada Seno Gumira Ajidarma yang mengadaptasi film Biola Tak Berdawai. padahal lagi, tidak semua novel adaptasi bisa disamaratakan sebagai sastra-anak-bawang, yang notabene tak menarik untuk dikritisi. ketika penulis-penulis 'sastra' [saya sebenarnya tidak suka pengkotakan sastra tinggi - sastra rendah; ini kan sudah zaman posmo] seperti A.S Laksana, Veven S.P Wardhana dan Puthut E.A menulis novel adaptasi, beberapa kalangan kritis mungkin mencibir sebelum sempat membaca karya mereka. kalaupun tidak mencibir, mereka akan menyayangkan.
padahal, apa yang salah dengan novel adaptasi?
menulis novel adaptasi adalah tantangan tersendiri. ia tak seremeh kelihatannya. beberapa penulis yang saya sebut di atas bahkan menciptakan teknik penulisan dan gaya berceritanya sendiri, untuk menghindar dari keterjebakan dalam kungkungan skenario film. apa itu tidak mengkontribusikan sesuatu bagi perkembangan sastra di Indonesia? beberapa waktu lalu, ketika saya melempar wacana soal novel adaptasi di milis pasarbuku, tak ada yang tertarik menanggapi atau mengulasnya. ini membuat saya sedikit curiga: jangan-jangan novel adaptasi memang tak akan pernah punya tempat di dalam sastra Indonesia? menurut Anda?