Hosted by Photobucket.com

Wednesday, September 14, 2005

novel adaptasi; keterkotakan dalam layar?

catatan diskusi 'novel adaptasi sebagai bagian dari sastra populer', Auditorium Gedung IX FIB UI, Rabu 14 September '05.

"Saya baca beberapa novel adaptasi. Menurut saya, mas Seno sudah melakukan kebaruan dalam BTB. Tapi novel2 adaptasi terbitan GagasMedia terasa terlalu bersetia pada film, tidak ada pemberontakan-pemberontakan. Bagaimana dengan nilai sastra novel adaptasi?"

#

"Saya membaca UV. Ada beberapa bagian dalam buku itu yang menurut saya menggigit. Tapi saya tidak menemukannya pada CS, yang menurut saya njelimet."

#

"Menurut saya, sah-sah saja novel adaptasi tidak berbahasa sastra. Novel adaptasi kan hadir untuk mendukung filmnya."

#

Di atas adalah beberapa tanggapan yang muncul ketika forum novel adaptasi dibuka. Kita bisa bicara berbagai macam hal, menyoal novel adaptasi. Layaknya beberapa forum serupa, diskusi 'film dalam kata' melahirkan pertanyaan dan tanggapan tak jauh beda. Yang kritis akan selalu bertanya: di mana sebenarnya kedudukan novel adaptasi dalam sastra Indonesia? Mana bentuk pertanggungjawaban para penulis terhadap pembaca sastra di tanah air? Adakah jaminan bahwa penulis akan melakukan kebaruan-kebaruan dalam novel adaptasi yang ditulisnya, untuk memperkaya wawasan pembaca? Yang so-so akan melenggang dan sekadar membubuhkan persetujuan, kalau bukan pujian atau pendapat, yang hampir tak pernah negatif tentang novel adaptasi.

Ketika forum bergulir dan menghangat, Seno Gumira dengan senyum adem menanggapi: Tak perlu menyoal perkara kesusastraan novel adaptasi. Lihatlah ke depan, fakultas sastra sudah nggak ada lagi. *Gerr...* Sekarang sastra sudah nggak ada. Novel adalah novel. Kemunculan novel adaptasi secara bisnis dan pasar buku menguntungkan, karena mendukung kemunculan filmnya.
Di lain pihak, Rudy Gunawan yang 'duduk di muka' menggantikan A.S Laksana yang berhalangan hadir di forum sebelumnya berkata, ia sengaja 'memaksa' penulis-penulis senior seperti A.S Laksana, Puthut E.A, dsb untuk menulis novel adaptasi dalam rangka meluaskan pasar buku produksi mereka, yang selama ini hanya dikonsumsi kalangan terbatas. Menulis novel adaptasi, boleh jadi merupakan satu cara untuk memperkenalkan para penulis yang karyanya bermutu tapi tak pernah berhasil dinikmati terlalu banyak orang itu kepada khalayak baca yang lebih luas.

Saya sendiri sependapat dengan Mas Seno Gumira dan Mas Rudy, bahwa menulis novel adaptasi bukanlah perkara yang sepele seperti selalu diduga orang selama ini. Dalam novel adaptasi, penulis ditantang untuk melakukan pemberontakan terhadap teks skenario; menciptakan sesuatu yang ruhnya tak lepas dari film sekaligus menghadirkan kebaruan yang mengikat pembaca pada novel sebagai dirinya sendiri. Bukan menciptakan keterikatan dalam bentuk lain kepada film yang dinovelkan.
Ini sebuah catatan penting ke depan bagi para penulis adaptasi yang ingin mengklaim dirinya tidak terkotak dalam layar.