Hosted by Photobucket.com

Sunday, September 18, 2005

Aku Ingin Menciummu Sekali Saja!!!

Aku Ingin Menciummu Sekali Saja
Rudy Gunawan, F.X
GagasMedia, September 2005
“Sketsa Kehidupan Remaja Papua; Mengenang Theys Hiyo Eluay”
vi + 140 hal HVS

Bukan hasrat untuk berciuman atau gara-gara terlalu banyak ngobrolin novel adaptasi belakangan ini yang mendorongku untuk baca novel ini (Aku Ingin Menciummu Sekali Saja-AIMSS di-adapt dari sebuah film produksi Yayasan SET-nya mas Garin Nugroho). Hal pertama yang memicuku untuk baca adalah filmnya. Dibandingkan dengan film-film lain yang dinovelkan (alih wacana, kalo pake bahasanya pak Sapardi Djoko Damono) alias diadaptasi oleh GagasMedia, film ini jelas bergerak di jalur yang berbeda. Menurutku, ini film fiksi-politik; dokudrama atau apapun lah (sebelumnya aku minta maaf dulu ke mas Garin kalo ternyata anggapanku ini salah), satu jenis dengan Puisi Tak Terkuburkan, kali ya. Hal kedua yang nggak kalah penting di antara unsur-unsur yang membuat novel ini jadi utuh adalah penulisnya, mas Rudy Gunawan, yang meski (setahuku) nggak pernah benar-benar terjun dalam politik praktis, selalu punya kepedulian lebih terhadap masalah-masalah sosial-politik di Indonesia dan punya wawasan yang kaya dalam bidang itu; didukung oleh background beliau yang pernah sepuluh tahun jadi wartawan di Kelompok Kompas Gramedia.
Dua hal itu yang membuat aku tergerak untuk baca AIMSS; dan begitu menutup buku alias khatam, aku tahu indera pengendusku tidak salah.

Bagi yang suka novel berbau sejarah, atau in some other ways willing to reveal the truth behind history, mungkin macam Saman (Ayu Utami), Jazz, Parfum dan Insiden (Seno Gumira Ajidarma) atau Lingkar Tanah Lingkar Air (Ahmad Tohari), atau suka film Hotel Rwanda yang menceritakan gerakan separatis dan konflik suku Hutu-Tutsi di Rwanda, sebaiknya – lebih tepatnya: wajib – baca novel AIMSS-nya mas Rudy Gunawan.

Di sini, peristiwa yang mengiringi gejolak Papua merdeka yang terjadi di Papua tahun 2000 lalu digambarkan dengan cara yang sederhana, faktual, tapi keren. Peristiwa-peristiwa itu disisipkan dalam catatan-catatan Kasih, seorang tokoh perempuan berkulit putih yang dimainkan oleh Lulu Tobing, di bab 1, 3 dan 6; siaran radio di bab 4 – mengingatkan aku pada film G30S-PKI ‘n Hotel Rwanda, dimana radio jadi media komunikasi politik yang penting – dan ramuan narasi yang sederhana dan rendah hati, dari kacamata remaja puber: Arnold, Sonia, Minus dan Dominggus. Sejarah seperti hadir dan bermain untuk membawa kita pada satu titik pemahaman tertentu.

Tapi, bagaimanapun ini sejarah yang dibalut dengan drama. Dengan hasrat lugu Arnold, remaja Papua yang tiba-tiba begitu ingin mencium seorang gadis berkulit putih bernama Kasih. Dengan kecemburuan Sonia pada ras kulit putih dan primordialisme-nya yang kuat. Kita tak bisa mengharapkan penjelasan yang terlalu utuh dan verbal soal bahasan pokok alias benang merah cerita ini: gejolak gerakan Papua Merdeka. Karena kalau itu yang terjadi AIMSS akan jadi semacam ‘buku sejarah’. Tapi justru di situlah kekuatan novel ini. Selayaknya karakter mas Rudy Gunawan pada tulisan2nya yang lain, AIMSS bukan sang guru yang mahatahu dan tak terbantah, tapi pengajar yang pintar dan kritis, yang terus memacu muridnya untuk bertanya dan berupaya jadi makhluk yang lebih kritis lagi.

Well,
Menurutku, jangan ngaku gaul dan book-worm kalo nggak baca buku ini, deh! Terutama yang selalu berharap dapat ‘sesuatu’ dari buku yang dibaca. Dalam hal itu, percayalah: buku ini WAJIB dibaca.