Hosted by Photobucket.com

Thursday, August 04, 2005

skenario untuk Munir: sebuah ajakan menulis

fade in:
Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir, KASUM, mempersembahkan

INT. KORIDOR, PAPAN PENGUMUMAN - anytime is possible
POSTER LUSUH
Sejauh mana kita mengenal Munir? Tidak, maaf. Sejauh mana kita mengenal HAM, bergelut, bersetubuh dan mencintainya? Apakah negara kita menghormati HAM, sebesar penghargaan kita kepadanya? Jika ya, dimana bentuk apresiasi kita? Jika tidak, masih pantaskah kita tinggal diam?

Prosa. Sketsa kata. Puisi. Gumaman. Keluh-kesah. Caci-maki. Gugatan. Ekspresikan kepedulian kita terhadap Hak Asasi Manusia. Fokus tema: Mengapa Munir Harus Dibunuh? Jangan lebih dari dua halaman A4 spasi satu, kirim ke
pojok_psi@yahoo.com selambatnya 14 Agustus 2005. Sekumpulan naskah terseleksi akan dibukukan dalam kumpulan tulisan "Mengapa Munir Harus Dibunuh?" dan diterbitkan oleh GagasMedia. Tersedia penghargaan sepantasnya untuk naskah-naskah terpilih. Hasil penjualan buku akan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kampanye Penegakan Hak Asasi Manusia dan didedikasikan kepada Munir (alm.) dan seluruh perjuangannya.
Buku kumpulan tulisan "Mengapa Munir Harus Dibunuh?", diluncurkan bersama buku kumpulan cerpen F.X Rudy Gunawan "12 Tanda Tanya: kumpulan cerpen Matinya Seorang Pejuang" pada acara:


Malam Apresiasi HAM
Selasa, 6 September 2005
Goethe Institut
, 19.00 s.d 22.00 WIB

Monolog Rieke Dyah Pitaloka tentang Kekerasan Negara
Mimbar Bebas
Peluncuran buku "Mengapa Munir Harus Dibunuh?"
Peluncuran Buku kumpulan cerpen "12 Tanda Tanya"

Terbuka untuk umum.

cut to

INT. RUANG GELAP, SPOTLIGHT KE BUKU DI PERMUKAAN MEJA - malam
12 TANDA TANYA
"Hati itu menggelepar sesaat di tangan perempuan cantik yang belepotan oleh darah segar kekasihnya. Angin pantai laut selatan kembali menghempaskan ombak besar seperti sebuah pelontar gas airmata yang ditembakkan tentara pada para demonstran yang pantang mundur. Yang tidak mengenal lagi apa itu takut, yang hatinya hanya berisi nyali. Hati semacam itu bisa dipastikan adalah hati yang belum terinfeksi oleh penyakit kepentingan apapun. Murni, utuh, belum tergerogoti wabah kehilangan hati.
Ya. Sepertinya, kehilangan hati telah menjadi wabah yang secara diam-diam dan perlahan menggerogoti siapa saja tanpa membedakan suku, golongan, agama, ideologi, atau kategori-kategori perbedaan lainnya. saat ini, manusia-manusia tanpa hati berkeliaran di mana-mana: di panggung politik, di belantara bisnis, di tanah kebudayaan, di terminal-terminal bis, di jalanan, dan bahkan di rumah-rumah keluarga yang sepertinya penuh kebahagiaan." (Tunjukkan Hatimu Padaku, "12 Tanda Tanya", Juli 2005)
#
"Bom apa, itu nggak terlalu sulit untuk dijawab. Intelijen kita, intelijen asing, tentara kita, tentara asing, pasti bisa menemukan dan menjawabnya."
"Setuju."
"Kenapa bom? Ini mulai sulit."
"Sulitnya?"
"Ya sulit. Kenapa bom? Kenapa harus bom? Ini sebuah pertanyaan sulit. Bom meledak, tubuh-tubuh hangus tak berbentuk, kenapa? Kenapa bom? Bom memang pemusnah yang dasyat, tapi kenapa? Bom…, kenapa bom? Kenapa orang lagi asyik menenggak bir harus dibom?"
"Ya kan emang gitu, namanya juga teror!"
"Teror lain soal. Gua nggak lagi ngomongin atau mikirin teror, gua lagi mikirin bom. Hanya bom, tanpa embel-embel terorisme di belakangnya. Bom. Itu saja. Dan pertanyaannya tetap sama: kenapa bom?" (Bom, "12 Tanda Tanya", Juli 2005)
#
"Orang Pertama: "Hal ini tak bisa dibiarkan terus. Harus dicari jalan keluarnya, karena kalau benar Dulhasim mengalami metamorfosa dan menjadi perempuan, ini akan menjadi aib besar yang mencoreng citra dunia perpolitikan kita dalam forum internasional. Memangnya politik kita politik banci?!"
Orang keempat: "Sepertinya kita harus menggagalkan proses metamorfosa ini. Betul begitu Pak Ketua?"
Orang pertama: "Sepertinya harus begitu. Bejo, coba kamu urus proyek ini. Kamu jadi PO-nya. Caranya terserah kamu. Yang penting aman, bersih, dan tidak kampungan. Ingat, kamu tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun!"
Bejo: "Siap Pak! Bejo segera laksanakan tugas!!"

PADA HARI YANG KETUJUH BELAS, DULHASIM MENINGGAL DUNIA."
(Metamorfosa, "12 Tanda Tanya", Juli 2005)
fade out.

(iklan layanan masyarakat ini dipersembahkan oleh Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir.)