Hosted by Photobucket.com

Tuesday, August 16, 2005

60 tahun indonesia merdeka # 1

...satu bukti kesewenang-wenangan politik di zaman orde baru... pathetic!

Pemecatan Seorang Puteranya Dari Fakultas Sosial-Politik UI
Kolom Ibrahim Isa

Pada suatu hari (sekitar tahun 1981-an) senat fakultas sosial-politikUniversitas Indonesia mengadakan rapat di kantor senat yang dihadiri olehseluruh pengurus senat. Dalam rapat tersebut Alex Irwan berinisiatif menghadirkan Pramoedya Ananta Toer di kampus UI, sampai kemudian disepakati dan diputuskan bahwa segenap pengurus senat fakultas sospol akan menyelenggarakan acara kampus dengan mengundang Pram selaku pembicara tunggal.

Sebagai salah seorang pengurus senat, Ferdi (salah satu putera Joesoef Isak) ikut juga menghadiri rapat tersebut, dan serta-merta membaca adanya gelagat yang kurang baik mengenai hasil keputusan rapat. Betapa tidak (pikir Ferdi), suatu universitas negeri terbesar dan terkenal berani-beraninya menyelenggarakan acara kampus dengan mengundang seorang tapol yang baru pulang dari Pulau Buru. Ya, meskipun Pramoedya seorang sastrawanterbesar dan termasyhur, dan karya-karyanya diakui oleh dunia internasional, bagaimanapun ia adalah seorang mantan tapol, seperti juga ayahnya sendiri. Apakah tidak kepikiran oleh anak-anak muda seangkatannya itu mengenai hal-halyang bakal terjadi? Baru saja ayahnya terbebas dari interogasi berturut-turutyang melelahkan di Kejaksaan Agung, dan hal itu disebabkan tiada lain karena penerbitan buku-buku Pramoedya itu sendiri. Dan sekarang? Kawan-kawannya itu mau mengundang sastrawan besar itu selaku pembicara utama? Waduh, waduh…. Sebagai anak tapol Ferdi betul-betul sadar akan risiko yang tidak kecil yang bakal menimpa kawan-kawannya, juga menyadari dampaknya terhadap dirinya sendiri selaku bagian dari kepengurusan senat. Namun demikian ia pun memilih untuk diam, karena bagaimanapun ia harus berusaha bersikap demokratis kepada hasil keputusan rapat tersebut.

Maka tibalah waktunya ketika suatu pagi ia bertanya kepada ayahnya mengenai rencana kehadirannya di kampus UI.
"Hadir untuk apa?" tanya sang ayah singkat.
"Lho? Apakah Ayah belum menerima undangan?" Ferdi balik bertanya.
"Undangan dari mana?"
"Ya dari UI."
"Memangnya ada acara apa di UI?"
"Bukankah nanti siang Pak Pramoedya mau berceramah di sana?"
"Apa?!" Serta-merta Joesoef tersentak kaget. Ia menatap Ferdi dengan seksama, seakan-akan tidak mempercayai pendengarannya. Akhirnya Ferdi pun berusaha mengendalikan suasana dengan menceritakan semua yang terjadi mengenai inisiatif kawan-kawan yang berambisi menghadirkan Pramoedya selaku penceramah. Ferdi mengakui bahwa dirinya tak dapat berbuat banyak karena semua itu adalah hak kawan-kawan yang telah diputuskan secara demokratis.

Dan siang itu juga, penyelenggaraan acara berlangsung dengan sangat meriah.
Pramoedya berbicara dengan tegas dan lantang seperti biasa, menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan yang dikemukakan secara antusias oleh para mahasiswa. Ketika itu-boleh dibilang-acara dapat terselenggara dengan sukses dan gemilang. Sambutan-sambutan segenap mahasiswa begitu semarak dan ramainya. Namun kemudian apa yang terjadi…?

Keesokan harinya datanglah keputusan dari pihak rektorat bahwa empat mahasiswa dikenakan pemecatan dari kampus UI, termasuk Ferdi adalah salah satunya. Surat pemecatan segera disampaikan kepada pihak orang tua, dan konon keputusan itu atas perintah langsung dari Menteri Pendidikan Daud Yusuf.
***