Hosted by Photobucket.com

Monday, July 04, 2005

Catatan Launching

Jumat, 1 Juli.

Berjalan buru-buru menuju panggung utama. Debur jantung nggak karuan dan kepala mau meledak. Dalam sepuluh detik, mata berputar, scanning manusia-manusia di tempat itu. Di sudut kiri depan ada Rako, the sutradara man, reading Ungu Violet. Di tengah, sosok berbalut topi sibuk diwawancara - I guess, he's the star, 'n tebakanku nggak salah. Di dekat panggung, ada Angel-GagasMedia 'n mas EmKa yang bakal memoderatori acara ini.

Setelah mengumbar 'hai-hai' di sana-sini, aku duduk manis di deret kursi penonton. Masih dengan jantung berdebur nggak karuan dan kepala mau meledak. Sudah 'anak' ketiga, tapi namanya mau 'bersalin', kontraksinya tetep sama. Bedanya cuma di cara mengatasinya aja.

then,

tiba-tiba waktu bergerak cepat. Wheew, nggak menduga arena panggung utama saat itu penuh. I know, aku gak akan ge-er, mereka pasti sebenarnya pengen ketemu Dian Sastro 'n Rizky Hanggono, kok. Tapi rasa senang itu nggak bisa diusir.
Ada sekitar duabelasan penanya di forum itu; dengan pertanyaan macem-macem. Tapi satu yang bikin aku tercenung adalah: Apa yang membuatku takut ketika menulis?

Wow.
Apa yang membuatku takut ketika menulis?
gelap...? hantu...? kebutaan...? ketidakpekaan...? lenyapnya imajinasi...? kering ide? writer's block? komputer ngadat?? nggak ada waktu? terlalu banyak ide berpusar di kepala sampaisampai nggak bisa dituliskan jadi katakata?

No.
Setelah beberapa saat tercenung, aku menemukan jawabannya. Yang paling bikin aku takut waktu menulis adalah perasaan nggak jujur. Nggak bisa jadi diri sendiri. Setiap anak punya karakter unik, pasti. Tapi ia selalu membawa sifat ibunya.
That's what I afraid for. Nggak menitiskan gen-ku di bukuku.

sumpah.

[sebuah catatan mengingat acara peluncuran dan book signing Ungu Violet, the novel, Panggung Utama Jakarta Book Fair, 1 Juli '05.]