Hosted by Photobucket.com

Tuesday, June 07, 2005

Orgasme ala Waria

“Gimana sih, memenuhi kebutuhan biologis kamu?”
“Kalo itu sebenarnya cuma perkara teknis, ya.”

Aku duduk bengong di depan TV. Minggu pagi. Seperti biasa, hari ini waktunya bangun siang. Semalam aku bertahan baca buku baru, yang kemarin dihadiahkan Ary Suta buatku.
“Nih, buat iseng-iseng,” Si doi menyodorkan buku bersampul hijau bergambar gokil itu. Hmm, kaya’nya lucu juga nih. Dan ternyata memang lucu. Maka semalaman aku bertahan membaca habis buku 230-an halaman itu – 237, tepatnya. Setelah beberapa kali jatuh tertidur, tapi bolak-balik terbangun lagi dan dengan keras kepala berusaha meneruskan membaca, akhirnya jam 3 kurang seperempat buku ringan nan lucu itu khatam juga dibaca. Walhasil, minggu pagi ini aku baru melek dan ucek-ucek mata jam setengah sembilan pagi.
Secara bangun siang, kegiatan rutin tetap mesti berjalan: mencari-cari Nimbus untuk dijadikan korban dikerjain, malas-malasan beranjak ke dapur untuk bikin secangkir kopi krim, ribut sebentar kehilangan my breakfast compliment: sigaret, dan klik! menyalakan TV dan duduk manis di sofa.

Dan pertanyaan itu yang pertama kali menyerbu kesadaranku.

Gimana sih, memenuhi kebutuhan biologis kamu?

Perlahan-lahan, aku sadar: yang sedang kutonton adalah acara Good Morning on the weekend-nya Farhan ‘n Indy Barends, dan yang lagi diundang sebagai tamu di acara itu adalah Merlyn dan Sunia. Jeng jeng jeng, siapakah mereka berdua??

Aku kebetulan tahu siapa mereka gara-gara minggu lalu ikutan nonton acara perayaan ulang tahun sebuah penerbit di Jogja. Yang aku tonton adalah acara wayang kondom-nya Slamet Gundono, ki dalang dari Tegal yang tubuhnya... aduhay terlalu berisi itu. Fyi, Slamet Gundono yang sekarang berdomisili di Solo itu adalah dia-yang-mempopulerkan-wayang suket, dan tiga tahun silam keliling-keliling mementaskan Serat Cebolek. Dan Serat Cebolek adalah..... Yah, pokoknya itu lah.

Back to the topic, waktu itu niatnya nonton wayang kondom yang ceritanya dicukil dari Serat Centhini. Serat Centhini itu disusun oleh tiga pujangga keraton atas perintah Pangeran Anom Mangkunegara III tahun 1814. yang kemudian ‘dilenyapkan’ dari keraton karena dianggap ‘nakal’. Aduh, beloknya kejauhan, nggak jadi-jadi cerita! Pokoknya, gara-gara niat mau nonton wayang kondom itulah aku ketemu Merlyn dan Sunia, the tokohs yang diundang Trans TV di acara Good Morning on the weekend itu.
Mereka berdua adalah pengarang yang bukunya sudah terbit. Mereka berdua notabene manusia-manusia cerdas, karena Sunia itu mahasiswa FISIP UGM – adik angkatan, neh (secara tidak langsung trying to say myself ‘cerdas’, huahuahuahua... Ketauan nggak mutunya) – dan Merlyn, konon sedang menyelesaikan S2-nya. Tapi.... Bukan cuma itu. Mereka berdua adalah manusia-manusia yang ‘terperangkap’ tubuh sendiri. Alias perempuan yang terpenjara dalam tubuh laki-laki. Alias waria. Kesamaan mereka berdua adalah buku yang mereka keluarkan, yang sama-sama mengulik persoalan kewariaan mereka.

“Secara filosofis, manusia terdiri dari tiga unsur. Tubuh, jiwa, dan ruh. Jiwa dan ruh saya adalah perempuan. Jiwa dan ruh adalah bagian yang menentukan ‘siapa’ seorang manusia. Sedang tubuh – maksudnya kelamin – hanya alat mengidentifikasi yang membentuk wacana ‘siapa’ secara sosial. Ketika saya merasa jiwa dan ruh saya adalah perempuan, maka tubuh harus mengikuti jiwa.”
Kalimat Sunia tentu not exactly like that, secara aku bukan digital tape recorder, tapi kira-kira itu yang dia katakan pada Farhan berikutnya.
Tentu aku seratus persen percaya dan setuju. Tapi ada yang menggelembung dan membesar di kepalaku, ketika aku ingat statement-nya di awal tadi: Semua sebenarnya cuma perkara teknis.

Statement itu konteksnya seksualitas. Farhan sedang bertanya bagaimana mereka memenuhi hasrat seksual yang timbul; kebutuhan biologis setiap manusia. Karena dua-dua dari mereka belum melakukan operasi kelamin, beda dengan Dorce yang sudah melakukan operasi sejak umurnya masih 22 tahun, alias setelah 12 tahun menyadari bahwa tubuhnya ‘salah’. Dorce tentu tak punya masalah dengan seks, terutama setelah dia melakukan operasi kelamin. Itu membuatnya sama dengan perempuan pada umumnya. But what about them?

Mereka masih punya sesuatu yang – minjem istilah Raditya Dika – ‘kalo jongkok nunjuk’ (beribu maaf buat yang merasa tersindir atau tertohok, karena sumpah postingan ini tujuannya buat didiskusikan bareng, bukan untuk tujuan negatif apapun). Jika jiwa dan ruh mereka adalah perempuan, I just wonder... apa itu juga yang mereka rasakan ketika melakukan sesuatu untuk memuaskan hasrat seksual? Apa mereka juga merasa sebagai perempuan ketika bercinta dengan pasangan, misalnya? Karena menurut logikaku, perasaan yang timbul ketika beraktivitas seksual berkaitan sangat erat dengan genitalia, alias organ, alias identitas fisik yang melekat pada diri mereka. Aku bisa menerima bahwa dalam sebuah hubungan, juga homoseksualitas, ada peran yang lekat pada masing-masing pelaku: aku lelakinya, dan kamu perempuannya. Tapi apakah perasaan itu does really exist lebih dari sekedar pemeranan dalam hubungan seksual? Maksudnya, di luar persoalan ‘yang penting orgasme, tak penting dengan metode apapun’, apakah deep down inside, dengan metode yang digunakan untuk orgasme mereka benar-benar merasa sebagai perempuan? Aku benar-benar pengen tahu.

Ada yang bisa membantu menjelaskannya padaku? (sigh) Secara aku malu kalo nanya ‘ma Ary... ö