Hosted by Photobucket.com

Thursday, June 09, 2005

"Cerai = sampah masyarakat?"

Pagi-pagi, seorang teman baik tiba-tiba kirim sms yang bikin hati miris. Bunyinya: kenapa sih orang cerai dianggap kaya' sampah masyarakat? Oh Tuhan, Oh Mama, Oh Papa....

Bagi warga metropolitan sono, bercerai bukan hal baru. Tidak ada 'kengerian sosial' yang mesti mereka hadapi; judgement, bisik-bisik tetangga, gosip miring, pandangan meremehkan etc, etc, etc.
Tapi keadaannya tidak begitu di banyak tempat, rural terutama. Di Jogja, kengerian sosial macam di atas masih jadi momok yang mesti dihadapi, bila seseorang memutuskan untuk bercerai. Buatku, kengerian sosial itu sungguh mengerikan. Ini sih klise tapi bener banget: Siapa sih yang lebih paham yang terbaik untuk diri sendiri selain diri sendiri? Lantas kalau ya, kenapa orang-orang masih saja mengorbankan diri sendiri demi kepuasan mata dan batin masyarakat? Sinting. Kenapa orang-orang sekitar yang mestinya saling mendukung satu sama lain malah jadi bikin parno satu sama lain?

Pagi itu, jawabanku via sms cuma satu kalimat:
Mana yang lebih sakit otak, sebenarnya?


Sebenarnya, yang begini-begini ini salah satu yang bikin orang takut menikah. Gimana mau nikah, kalo belum-belum udah takut cerai? Karena ketika cerai, bakal ada cap yang lengket di badan dan nggak hilang meski dicuci tujuhratus tujuhpuluh tujuh kali pake bunga tujuh puluh rupa pada tujuh tengah malam! => berlaku pada pengidap cap berjenis kelamin perempuan.
Lantas paranoia ini bikin 'wabah' yang lain: kalo takut nikah, samen leven aja 'kali ya...? Lebih aman, gitu loh.
Nah lho??

Jadi, back to my former question: Mana yang lebih sakit otak, sebenarnya?
Or... should I ask Nimbus?