Hosted by Photobucket.com

Thursday, June 16, 2005

Catatan Kaki di ujung malam jum'at

1…2, 3… Well, I’ve been here for five days: Jakarta. Besok waktunya pulang ke tanah air dengan setumpuk tugas di tangan. Membenahi sebuah tulisan non-fiksi, dan mengelaborasi skenario cerita Sihir Cinta, yang draft keduanya sudah harus kelar akhir Juni nanti. Judulnya: mumet! Musnahlah impian soal liburan, setelah berkutat dengan naskah novel Ungu Violet yang, sumpah mati, dikerjakan dengan sangat serius dan hati-hati itu. ^_^) Anyway, pekerjaan ini kerasa nggak berat karena dia-yang-tak-boleh-disebut-namanya suka sekali menulis, dan pekerjaan ini sebagian bakal dirampungkan di rumah bersama mamah tercinta: Indramayu. Huuhuyy…!

Info penting: senja tadi sebuah pertemuan rahasia dan bawah tanah telah terjadi; antara dua penulis muda perempuan: Icha Rahmantie dan Miranda, dengan seorang penulis top senior: Bp. F.X Rudy Gunawan. Satu orang media relation turut menyusup bersama Icha: kawan Benny La Luna. Persis ketika matahari tinggal segaris dan hanya menyisakan gurat merah di langit muram Jakarta yang penuh polusi, keempat orang itu bertemu muka di sebuah markas yang, demi alasan keamanan, terpaksa disamarkan posisinya. Sebut saja, JT.
Oh tidak, pertemuan rahasia itu tentu saja bukan untuk sebuah kolaborasi penulisan yang akan mengungkap misteri fantastis terjualnya kolor Madonna seharga tujuhbelas juta. Bukan juga untuk merencanakan investigasi terhadap kasus Reza dan Ary Suta yang ‘konon, anu tapi selalu di-anu oleh si anu’ itu. Tidak. Pertemuan rahasia itu berlangsung demi sebuah misi mulia: meningkatkan partisipasi pembaca dalam aktivitas konsumsi dan apresiasi buku-buku populer Indonesia. Nah.
Terciumnya pertemuan rahasia itu oleh beberapa pihak yang diperkirakan bakal mengancam kelangsungan rapat dan mengganggu misi membuat keempat pejuang berhati mulia itu melakukan mobilisasi. Setelah empatpuluh lima menit menanggung debar jantung akibat macet (mengutip peringatan pemerintah: macet dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin), keempat-empatnya kemudian terpuruk di sebuah sudut café di Plaza Semanggi. Di sanalah, mereka melanjutkan pertemuan rahasia itu; limabelas menit pertama bersama seorang pejuang simpatisan: Mr. Richard Oh. Malangnya, setelah menikmati sepiring nasi goreng fuyunghay dan ayam-tanpa-tulang-bumbu-bawang-pedas, pertemuan yang sedianya direncanakan untuk mengusut tuntas perkara ‘konsumsi dan apresiasi’ itu bergeser menjadi sebuah obrolan ngalor-ngidul sekaligus reuni antara keempatnya. Wheew, Indonesia, kau tak bisa melewatkan satu hari saja tanpa ngobrol ngalor-ngidul, tentu.

^_^)

Apapun, pertemuan tadi sore membawa inspirasi dan pencerahan, terutama bagi kami yang muda-muda: Icha ‘n aku, secara Richard Oh menceritakan tentang sebuah novel luar (lupa judulnya, mesti dikonfirm lagi) yang mewarnai seluruh cerita dengan ironi kata dan ungkapan, tidak dengan insiden dan alur, seperti yang masih dilakukan oleh sebagian besar penulis baru Indonesia. Paling tidak, memancing untuk membaca novel yang direkomendasikannya, syukur-syukur belajar menerapkan. Meski pasca-perundingan kami menyimpulkan bahwa kultur Indonesia, juga karakter pembaca yang berbeda, belum memungkinkan lahirnya novel serupa.

Obrolan juga sempat berputar di soal soundtrack film.

Menurut Icha – menurutku juga sih, lagu Padi, “Menanti Sebuah Jawaban” yang dipakai jadi soundtrack film Ungu Violet nggak cocok alias soul-nya nggak masuk ke dalam film. Lagu-lagu indie yang jadi soundtrack film Janji Joni masuk kategori lumayan cocok. Kata Richard Oh, para penata musik film Indonesia belum bisa bikin soundtrack yang bener-bener ‘merasuk’ dan nyatu dengan filmnya. Oh, jadi terpikir… Soundtrack macam apa yang cocok buat film Luv is Magick, yah? Melly Goeslaw? Hmmm…. Peter Pan? Hmmm. (angkat-angkat bahu) Masa’ sih Katon Bagaskara? Yogyakarta?? Get out of here.

Hum. Tapi memang belum waktunya berpikir tentang soundtrack. Skenario menunggu. Ada yang mau urun saran tentang opening film? Kata Icha, Nimbus asyik dipakai sebagai opening shot. Any other suggestion? (rada bingung nih…)