Hosted by Photobucket.com

Thursday, June 30, 2005

launching Ungu Violet, loh!

Haluu....!

Rada deg2an, secara ntar siang launching novel ketiga di Pasar Buku Jakarta.

Buat yang sempat, ga' da kerjaan, lagi nunggu cucian kering, pengen liat-liat buku, baru bernafas lega abis nidurin anak, dsb dsb dsb, dateng yah:

Panggung Utama Pasar Buku Jakarta
Jumat, 1 Juli 2005, 14.00 s.d 15.30 WIS ['S' stands for Senayan, tauk kan? ;)]
Ada Rako Prijanto, Rizky Hanggono, dll.

Dateng yah!
muah!

Monday, June 27, 2005

Legenda Komodo di pulau Komodo

Image hosted by Photobucket.com

Dari Good Morning hari ini: Konon, orang-orang pulau Komodo di Timur Indonesia percaya, kalau dulu Komodo adalah bagian dari nenek moyang mereka (mudah-mudahan, aku nggak salah berpersepsi, yah..). Mereka percaya kalo asal-usul komodo tuh dari manusia. Jadi, dulu banget, ada manusia yang melahirkan anak kembar. Tapi pasangan kembar itu berbeda spesies. Satu manusia, satu komodo. Sayangnya, orangtua mereka kemudian membedakan perlakuan terhadap dua anak kembar itu, alias lebih sayang dan perhatian sama anak yang wujudnya manusia. Akhirnya, karena sedih, sang komodo pergi dari rumah, masuk hutan, dan menetap di sana sampai beranak pinak.

Lihat All 'bout Komodo


Image hosted by Photobucket.com


Warga pulau Komodo biasa hidup berdampingan dengan Komodo. Dan kini, sebagai wujud penghargaan mereka kepada komodo, yang notabene masih sodaraan dengan nenek moyang mereka, warga pulau komodo membuat patung-patung komodo mini.

well,
mungkin nggak ya, suatu saat legenda itu berbalik? Tiba-tiba, ada manusia yang ditakdirkan untuk kawin dengan komodo, untuk mengubah takdir hewan yang dianggap masih keturunan dinosaurus alias kadal ter-guede itu?

......

Dari Pengamen Jalanan Sampe Supernova

Secara badan masih lemes sisa-sisa ambruk seminggu kemarin, pagi hari dibuka dengan sarapan semangkuk bubur (yikes...!) 'n Good Morning + Dorce Show di trans tv. Program-program favoritku di kala libur.

Nggak ada yang menarik selain legenda komodo di pulau komodo di Good Morning (lihat postingan berikutnya). Tapi di Dorce Show, aku melihat pemandangan menyedihkan.
Tamu Dorce kali ini adalah beberapa orang yang kurang beruntung nasibnya + mbak Kristina Dangdut. Dua yang kurang beruntung nasibnya itu adalah ibu-ibu dan bapak pemulung. si Ibu itu punya dua anak, yang (kalo nggak salah) dua-duanya disuruh jadi pengamen di jalanan. Dan dia ngawasin di deket-deket situ.

Sebenarnya fenomena ini sih nggak baru lagi, dan kita kerap melihatnya di sudut jalanan mana pun, apalagi di Jakarta. Tapi I can't believe it: si Ibu tuh keliatan tenang-tenang banget dan just senyum-senyum menanggapi pertanyaan-pertanyaan Dorce. Maksudnya: Sama sekali nggak ada perasaan 'bersalah' atau 'berdosa', atau apa lah, yang tersirat di mukanya, sedikiiii..it aja. Dia kelihatan ikhlas banget anaknya kerja begituan di jalan, sementara dia sendiri nggak jelas kerjaannya apa.
Hari sebelumnya, aku sempet ngeliat sekilasan di program lain tentang hal yang sama. Ibu yang membiarkan anaknya yang cacat jadi pengamen. Di Good Morning sebelumnya juga sempat diangkat soal remaja yang terpaksa kerja jadi 'teman nongkrong' di warung remang-remang di Puncak, dan tanggapan ibunya. Tapi dari tiga program berbeda yang aku liat itu, nggak ada yang ekspresi ibunya se-cuek yang aku liat di Dorce Show pagi tadi. Gila! Aku jadi mikir, sebenernya dia sayang nggak sih, sama anak-anaknya? Jangan-jangan dia juga pernah nyewain anak-anaknya ke pengemis yang lain, kaya' yang biasa kita tau, yang terjadi di sekitar kita.

Jadi inget Supernova Petir-nya Dee. Ada kalimat yang aku suka banget: kalimatnya Ibu Sati ke Elektra (yang saking senengnya sampe aku kutip di skenario film SC draft kedua) :

Setiap orang sudah memilih peran uniknya masing-masing sebelum mereka terlahirkan ke dunia. Tapi, semua orang juga dibuat lupa terlebih dahulu.

just wondering, jalan yang sekarang mereka - ibu dan anak" itu tempuh - adalah peran unik yang mereka pilih itu kah, atau mereka hanya 'masih lupa'? Trus, kalo jawabannya yang kedua, mau sampe berapa lama mereka lupa?

......

Thursday, June 16, 2005

Catatan Kaki di ujung malam jum'at

1…2, 3… Well, I’ve been here for five days: Jakarta. Besok waktunya pulang ke tanah air dengan setumpuk tugas di tangan. Membenahi sebuah tulisan non-fiksi, dan mengelaborasi skenario cerita Sihir Cinta, yang draft keduanya sudah harus kelar akhir Juni nanti. Judulnya: mumet! Musnahlah impian soal liburan, setelah berkutat dengan naskah novel Ungu Violet yang, sumpah mati, dikerjakan dengan sangat serius dan hati-hati itu. ^_^) Anyway, pekerjaan ini kerasa nggak berat karena dia-yang-tak-boleh-disebut-namanya suka sekali menulis, dan pekerjaan ini sebagian bakal dirampungkan di rumah bersama mamah tercinta: Indramayu. Huuhuyy…!

Info penting: senja tadi sebuah pertemuan rahasia dan bawah tanah telah terjadi; antara dua penulis muda perempuan: Icha Rahmantie dan Miranda, dengan seorang penulis top senior: Bp. F.X Rudy Gunawan. Satu orang media relation turut menyusup bersama Icha: kawan Benny La Luna. Persis ketika matahari tinggal segaris dan hanya menyisakan gurat merah di langit muram Jakarta yang penuh polusi, keempat orang itu bertemu muka di sebuah markas yang, demi alasan keamanan, terpaksa disamarkan posisinya. Sebut saja, JT.
Oh tidak, pertemuan rahasia itu tentu saja bukan untuk sebuah kolaborasi penulisan yang akan mengungkap misteri fantastis terjualnya kolor Madonna seharga tujuhbelas juta. Bukan juga untuk merencanakan investigasi terhadap kasus Reza dan Ary Suta yang ‘konon, anu tapi selalu di-anu oleh si anu’ itu. Tidak. Pertemuan rahasia itu berlangsung demi sebuah misi mulia: meningkatkan partisipasi pembaca dalam aktivitas konsumsi dan apresiasi buku-buku populer Indonesia. Nah.
Terciumnya pertemuan rahasia itu oleh beberapa pihak yang diperkirakan bakal mengancam kelangsungan rapat dan mengganggu misi membuat keempat pejuang berhati mulia itu melakukan mobilisasi. Setelah empatpuluh lima menit menanggung debar jantung akibat macet (mengutip peringatan pemerintah: macet dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin), keempat-empatnya kemudian terpuruk di sebuah sudut café di Plaza Semanggi. Di sanalah, mereka melanjutkan pertemuan rahasia itu; limabelas menit pertama bersama seorang pejuang simpatisan: Mr. Richard Oh. Malangnya, setelah menikmati sepiring nasi goreng fuyunghay dan ayam-tanpa-tulang-bumbu-bawang-pedas, pertemuan yang sedianya direncanakan untuk mengusut tuntas perkara ‘konsumsi dan apresiasi’ itu bergeser menjadi sebuah obrolan ngalor-ngidul sekaligus reuni antara keempatnya. Wheew, Indonesia, kau tak bisa melewatkan satu hari saja tanpa ngobrol ngalor-ngidul, tentu.

^_^)

Apapun, pertemuan tadi sore membawa inspirasi dan pencerahan, terutama bagi kami yang muda-muda: Icha ‘n aku, secara Richard Oh menceritakan tentang sebuah novel luar (lupa judulnya, mesti dikonfirm lagi) yang mewarnai seluruh cerita dengan ironi kata dan ungkapan, tidak dengan insiden dan alur, seperti yang masih dilakukan oleh sebagian besar penulis baru Indonesia. Paling tidak, memancing untuk membaca novel yang direkomendasikannya, syukur-syukur belajar menerapkan. Meski pasca-perundingan kami menyimpulkan bahwa kultur Indonesia, juga karakter pembaca yang berbeda, belum memungkinkan lahirnya novel serupa.

Obrolan juga sempat berputar di soal soundtrack film.

Menurut Icha – menurutku juga sih, lagu Padi, “Menanti Sebuah Jawaban” yang dipakai jadi soundtrack film Ungu Violet nggak cocok alias soul-nya nggak masuk ke dalam film. Lagu-lagu indie yang jadi soundtrack film Janji Joni masuk kategori lumayan cocok. Kata Richard Oh, para penata musik film Indonesia belum bisa bikin soundtrack yang bener-bener ‘merasuk’ dan nyatu dengan filmnya. Oh, jadi terpikir… Soundtrack macam apa yang cocok buat film Luv is Magick, yah? Melly Goeslaw? Hmmm…. Peter Pan? Hmmm. (angkat-angkat bahu) Masa’ sih Katon Bagaskara? Yogyakarta?? Get out of here.

Hum. Tapi memang belum waktunya berpikir tentang soundtrack. Skenario menunggu. Ada yang mau urun saran tentang opening film? Kata Icha, Nimbus asyik dipakai sebagai opening shot. Any other suggestion? (rada bingung nih…)

Monday, June 13, 2005

:: Love is Magick script; yummie...! ::

Trivia quiz for today:
1. Kenapa Ary Suta bisa suka banget ama Rhein Prabasnaya yang ‘phreak’ itu?
2. Bapak Syahreza Sudarsa yang cool, calm ‘n confident itu sebenernya [sorry] ‘ngehe’ gak sih?
3. Malam itu, ketika Rhein akhirnya bersedia menemani Reza di hotel Bibis, benarkah semalaman mereka tak melakukan apa-apa, kaya’ pengakuan Rhein ke Mita?

Hehe,
Itu tadi sederet pertanyaan yang terlontar pas diskusi soal film Sihir Cinta. Dasarnya adalah draft pertama skenario Love is Magick by John de Rantau.
John de Rantau adalah sutradara berbakat yang lebih dikenal sebagai sutradara sinetron dan FTV. Bulan April kemarin filmnya, Looking for Madonna, diputar di ajang Singapore International Film Festival (SIFF). Looking for Madonna berkisah seputar kasus HIV AIDS di Papua. Selain itu, tahun 2001 John mengangkat cerpennya Seno Gumira Ajidarma alias ‘mas mira’, Taxi Blues, ke layar lebar. Wheeew, cool…

Lantas,
Nde next trivia quiz is…. Siapa yang bakalan ke-casting jadi Reza Sudarsa? Ada yang berminat daftar? Ato mau ikut casting jadi Nimbus?
[btw, kenapa ya aku suka sekali mengakhiri postinganku dengan ‘menyerahkan’ situasi pada Nimbus? Hmmm…. Menarik loh, untuk diteliti. Apakah ada sepercik gen kucing yang menitis dalam diriku? Atawa jangan2 aku reinkarnasi dari dewi Bahst alias Ubastet?

Thursday, June 09, 2005

"Cerai = sampah masyarakat?"

Pagi-pagi, seorang teman baik tiba-tiba kirim sms yang bikin hati miris. Bunyinya: kenapa sih orang cerai dianggap kaya' sampah masyarakat? Oh Tuhan, Oh Mama, Oh Papa....

Bagi warga metropolitan sono, bercerai bukan hal baru. Tidak ada 'kengerian sosial' yang mesti mereka hadapi; judgement, bisik-bisik tetangga, gosip miring, pandangan meremehkan etc, etc, etc.
Tapi keadaannya tidak begitu di banyak tempat, rural terutama. Di Jogja, kengerian sosial macam di atas masih jadi momok yang mesti dihadapi, bila seseorang memutuskan untuk bercerai. Buatku, kengerian sosial itu sungguh mengerikan. Ini sih klise tapi bener banget: Siapa sih yang lebih paham yang terbaik untuk diri sendiri selain diri sendiri? Lantas kalau ya, kenapa orang-orang masih saja mengorbankan diri sendiri demi kepuasan mata dan batin masyarakat? Sinting. Kenapa orang-orang sekitar yang mestinya saling mendukung satu sama lain malah jadi bikin parno satu sama lain?

Pagi itu, jawabanku via sms cuma satu kalimat:
Mana yang lebih sakit otak, sebenarnya?


Sebenarnya, yang begini-begini ini salah satu yang bikin orang takut menikah. Gimana mau nikah, kalo belum-belum udah takut cerai? Karena ketika cerai, bakal ada cap yang lengket di badan dan nggak hilang meski dicuci tujuhratus tujuhpuluh tujuh kali pake bunga tujuh puluh rupa pada tujuh tengah malam! => berlaku pada pengidap cap berjenis kelamin perempuan.
Lantas paranoia ini bikin 'wabah' yang lain: kalo takut nikah, samen leven aja 'kali ya...? Lebih aman, gitu loh.
Nah lho??

Jadi, back to my former question: Mana yang lebih sakit otak, sebenarnya?
Or... should I ask Nimbus?

Tuesday, June 07, 2005

Orgasme ala Waria

“Gimana sih, memenuhi kebutuhan biologis kamu?”
“Kalo itu sebenarnya cuma perkara teknis, ya.”

Aku duduk bengong di depan TV. Minggu pagi. Seperti biasa, hari ini waktunya bangun siang. Semalam aku bertahan baca buku baru, yang kemarin dihadiahkan Ary Suta buatku.
“Nih, buat iseng-iseng,” Si doi menyodorkan buku bersampul hijau bergambar gokil itu. Hmm, kaya’nya lucu juga nih. Dan ternyata memang lucu. Maka semalaman aku bertahan membaca habis buku 230-an halaman itu – 237, tepatnya. Setelah beberapa kali jatuh tertidur, tapi bolak-balik terbangun lagi dan dengan keras kepala berusaha meneruskan membaca, akhirnya jam 3 kurang seperempat buku ringan nan lucu itu khatam juga dibaca. Walhasil, minggu pagi ini aku baru melek dan ucek-ucek mata jam setengah sembilan pagi.
Secara bangun siang, kegiatan rutin tetap mesti berjalan: mencari-cari Nimbus untuk dijadikan korban dikerjain, malas-malasan beranjak ke dapur untuk bikin secangkir kopi krim, ribut sebentar kehilangan my breakfast compliment: sigaret, dan klik! menyalakan TV dan duduk manis di sofa.

Dan pertanyaan itu yang pertama kali menyerbu kesadaranku.

Gimana sih, memenuhi kebutuhan biologis kamu?

Perlahan-lahan, aku sadar: yang sedang kutonton adalah acara Good Morning on the weekend-nya Farhan ‘n Indy Barends, dan yang lagi diundang sebagai tamu di acara itu adalah Merlyn dan Sunia. Jeng jeng jeng, siapakah mereka berdua??

Aku kebetulan tahu siapa mereka gara-gara minggu lalu ikutan nonton acara perayaan ulang tahun sebuah penerbit di Jogja. Yang aku tonton adalah acara wayang kondom-nya Slamet Gundono, ki dalang dari Tegal yang tubuhnya... aduhay terlalu berisi itu. Fyi, Slamet Gundono yang sekarang berdomisili di Solo itu adalah dia-yang-mempopulerkan-wayang suket, dan tiga tahun silam keliling-keliling mementaskan Serat Cebolek. Dan Serat Cebolek adalah..... Yah, pokoknya itu lah.

Back to the topic, waktu itu niatnya nonton wayang kondom yang ceritanya dicukil dari Serat Centhini. Serat Centhini itu disusun oleh tiga pujangga keraton atas perintah Pangeran Anom Mangkunegara III tahun 1814. yang kemudian ‘dilenyapkan’ dari keraton karena dianggap ‘nakal’. Aduh, beloknya kejauhan, nggak jadi-jadi cerita! Pokoknya, gara-gara niat mau nonton wayang kondom itulah aku ketemu Merlyn dan Sunia, the tokohs yang diundang Trans TV di acara Good Morning on the weekend itu.
Mereka berdua adalah pengarang yang bukunya sudah terbit. Mereka berdua notabene manusia-manusia cerdas, karena Sunia itu mahasiswa FISIP UGM – adik angkatan, neh (secara tidak langsung trying to say myself ‘cerdas’, huahuahuahua... Ketauan nggak mutunya) – dan Merlyn, konon sedang menyelesaikan S2-nya. Tapi.... Bukan cuma itu. Mereka berdua adalah manusia-manusia yang ‘terperangkap’ tubuh sendiri. Alias perempuan yang terpenjara dalam tubuh laki-laki. Alias waria. Kesamaan mereka berdua adalah buku yang mereka keluarkan, yang sama-sama mengulik persoalan kewariaan mereka.

“Secara filosofis, manusia terdiri dari tiga unsur. Tubuh, jiwa, dan ruh. Jiwa dan ruh saya adalah perempuan. Jiwa dan ruh adalah bagian yang menentukan ‘siapa’ seorang manusia. Sedang tubuh – maksudnya kelamin – hanya alat mengidentifikasi yang membentuk wacana ‘siapa’ secara sosial. Ketika saya merasa jiwa dan ruh saya adalah perempuan, maka tubuh harus mengikuti jiwa.”
Kalimat Sunia tentu not exactly like that, secara aku bukan digital tape recorder, tapi kira-kira itu yang dia katakan pada Farhan berikutnya.
Tentu aku seratus persen percaya dan setuju. Tapi ada yang menggelembung dan membesar di kepalaku, ketika aku ingat statement-nya di awal tadi: Semua sebenarnya cuma perkara teknis.

Statement itu konteksnya seksualitas. Farhan sedang bertanya bagaimana mereka memenuhi hasrat seksual yang timbul; kebutuhan biologis setiap manusia. Karena dua-dua dari mereka belum melakukan operasi kelamin, beda dengan Dorce yang sudah melakukan operasi sejak umurnya masih 22 tahun, alias setelah 12 tahun menyadari bahwa tubuhnya ‘salah’. Dorce tentu tak punya masalah dengan seks, terutama setelah dia melakukan operasi kelamin. Itu membuatnya sama dengan perempuan pada umumnya. But what about them?

Mereka masih punya sesuatu yang – minjem istilah Raditya Dika – ‘kalo jongkok nunjuk’ (beribu maaf buat yang merasa tersindir atau tertohok, karena sumpah postingan ini tujuannya buat didiskusikan bareng, bukan untuk tujuan negatif apapun). Jika jiwa dan ruh mereka adalah perempuan, I just wonder... apa itu juga yang mereka rasakan ketika melakukan sesuatu untuk memuaskan hasrat seksual? Apa mereka juga merasa sebagai perempuan ketika bercinta dengan pasangan, misalnya? Karena menurut logikaku, perasaan yang timbul ketika beraktivitas seksual berkaitan sangat erat dengan genitalia, alias organ, alias identitas fisik yang melekat pada diri mereka. Aku bisa menerima bahwa dalam sebuah hubungan, juga homoseksualitas, ada peran yang lekat pada masing-masing pelaku: aku lelakinya, dan kamu perempuannya. Tapi apakah perasaan itu does really exist lebih dari sekedar pemeranan dalam hubungan seksual? Maksudnya, di luar persoalan ‘yang penting orgasme, tak penting dengan metode apapun’, apakah deep down inside, dengan metode yang digunakan untuk orgasme mereka benar-benar merasa sebagai perempuan? Aku benar-benar pengen tahu.

Ada yang bisa membantu menjelaskannya padaku? (sigh) Secara aku malu kalo nanya ‘ma Ary... ö