Hosted by Photobucket.com

Monday, April 18, 2005

Surat pendek dari Jakarta; kepada Jakarta.

Djakarta, day 3.
Beberapa hal memang tidak bisa dihapus dari ingatan, seperti juga air bah kenangan (huaa…!) yang menyerbu ketika lagi-lagi, gadis kecil ini terdampar di metropolitan, kota yang tak pernah disukainya, tetapi juga sulit ditanggalkan dari kepala.
Untuk berbagai alasan, ia menyambang Jakarta. Menemukan serpih-serpih pazel dari masa lalu, yang menyusun sebuah fragmen dalam hidup; sebuah fragmen yang tak kunjung usai. Tetapi teka-teki itu terlanjur menyenangkannya, membuatnya betah berkubang dan berlama-lama di dalamnya.
Untuk satu hal, ia datang ke Jakarta. Menemui seorang produser dari SinemArt, seorang sutradara dan seorang penulis naskah. Di suatu siang yang panas, dalam sebuah ruangan yang (kontras) begitu dingin, dengan kepala mendidih-meletup oleh berbagai rencana. Sihir Cinta the movie: demi alasan itulah ia terdampar di sana.
Untuk satu hal lain: ia datang ke Jakarta. Mempersiapkan sebuah pementasan monolog. Yang terakhir. Yang akan terusaikan. Barangkali kali yang membuatnya menangis beberapa hari untuk kembali menjadi dirinya, kepada hari-harinya. (Tetapi, hei! Apa yang tidak usai di dunia, Hun?)
Untuk rasa satu: kepentingan mendesak yang mesti diletupkan, supaya mengecil dan kembali tumbuh, untuk kembali meletup di waktu nanti. Kepentingan yang tak pernah usai – karena diciptakan tidak untuk diusaikan. Sekadar bertemu dan bilang: “I love you, hunni…”, barangkali kecupan kecil di ujung senja dan suara manja yang merambat lewat kabel telepon dan gelombang selular.
Untuk rasa dua: kerinduan pada ibunda, sekadar sebait obrolan pendek di tengah malam buta sebelum mimpi merebutnya dari kenyataan; sebait obrolan tentang kisah-kisah yang telah begitu lama ingin diceritakannya tapi tak pernah.

Jakarta,
Untuk begitu banyak kisah yang tertimbun di balik lipatan siang-malammu yang liat. Sebuah surat pendek dituliskannya: kepadamu.