Hosted by Photobucket.com

Tuesday, April 05, 2005

:: seorang teman lama ::

Tersihir Cinta?, Please Deh …

Rhein Prabasnaya sebenarnya sosok gadis yang sempurna. Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya hitam tembaga, rambut lurus sebatas punggung yang selalu dibiarkan terurai, gerak-giriknya lincah – karna sering menari waktu kecil, nyambungan kalau diajak bicara. Kecerdasan? Rata-ratalah, paling tidak ia bisa kuliah di jurusan sosial universitas negeri terbesar di Jogja. Tapi Rhein adalah seorang gadis yang kering dalam soal cinta. Meski jumlah lelaki yang mendekatinya sudah lebih dari lima belas, tapi Rhein tak kunjung punya cowok. Lima belas kali pacaran, lima belas kali pula ia gagal. Setiap lelaki yang mendekatinya tak pernah bertahan lebih dari dua bulan hanya gara-gara Rhein punya kemampuan khusus : meramal.

Rhein dianugrahi kemampuan melihat masa depan, gambaran akan peristiwa masa depan yang kemudian benar-benar terjadi. Sialnya, “pengliatan” masa depan yang seringkali Rhein temui biasanya hal-hal yang buruk bagi kehidupan pribadinya. Peristiwa kematian papa-mamanya, kegagalannya dalam bercinta, semua itu adalah pengliatan Rhein sebelumnya.

Tujuh tahun lalu, saat kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa kedua oraang tuanya, Rhein kecil merasakan sesuatu yang aneh : mata sang papa, kesibukan mama, kehidupan berjalan lambat. Lalu, kencannya dengan seorang bernama Gus gagal total karena Gus tak tahan melihat sikap Rhein yang terus terusan ngoceh tentang ramalan, apalagi Gus menurut “pengliatan” Rhein katanya akan terkena penyakit lever. Belum lengkap, cinta sejati Rien kepada seorang bernama Ary Suta ia buang jauh-juah, hanya gara-gara “pengliatan” Rhein mengatakan Ary, sang lelaki senja akan berpacaran dengan Mita, sahabat karib di kampusnya. “ Apa yang salah dengan bisa ngeramal?” (Hal 12)

Sihir Cinta karya Miranda sebenarnya dapat menjadi novel cinta yang jauh lebih cerdas, menarik dan menantang kalau penulis mau. Hidup dalam komunitas teater mahasiswa dan sempat bergaul dengan banyak penulis sukses sebuat saja Ayu Utami, Gunawan Muhammad di komunitas Teater Utan Kayu, seharusnya bisa menjadi modal besar Miranda untuk mengekspresikaan problem cinta yang lebih dari sekedar cerita cinta seperti buku-buku Chicklit yang lagi laris manis di pasaran. Atau jangan-jangan buku ini memang Chicklit?

Bahasa yang ringan, renyah, dan menyegarkan menjadikan Sihir Cinta menarik untuk dibaca oleh siapapun. Saya yang membaca buku setebal 300 halaman ini sangat menikmati gaya tulisan Miranda, terkadang saya dibuat senyum-senyum sendiri. Namun memasuki separuh halaman buku, kita akan menemukan kebosanan. Terlebih penulis masih terjebak dalam kisah viksi yang tak rasional. Berulang-ulang Rhein- yang sebenarnya adalah imajinasi kehidupan nyata sang penulis - melakukan pembicaraan dengan Nimbus, kucing kesayangannya. Mana ada kucing bisa ngomong Mir?. Atau nama-nama tempat yang dibuat sembarangan : Universitas Gagasan Masadepan, Metropolitan TV, Girang Media, Teras TV, Koran Kang Pas, Milas Production. Please deh.. Ada sih tempat-tempat yang yang tak dipalsukan seperti TUK atau TIM, itupun karena sang penulis memiliki kenangan khusus di dua tempat itu. Jurus seperti ini tanpa disadari telah membuat alur cerita jadi konyol.

Endingnya pun mudah ditebak. Bahwa mencintai pada akhirnya adalah persoalan mempercayai dan menghargai perasaan. Rhein tak bisa berbohong bahwa ia sangat mencintai Ary Suta, sang lelaki senja yang dijumpainya saat membuka stan ramal di kampusnya. Demikian pula Ary yang diam-diam mencintai Rhein meski menjalin cinta dengan Mita. Pliss, jangan dibilang mereka saling mencintai gara-gara tersihir cinta, tapi memang cinta membutuhkan kejujuran. Itu saja.

Entah bermaksud agar novel ini laris di pasaran atau tidak, penulis memajang penulis-penulis muda perempuan sukses untuk memberi komentar : Fira Basuki dengan novel jendela yang sukses itu atau Dewi Dee Lestari yang baru saja menerbitkan sekuel ketiga Supernovanya- petir- yang katanya lebih rileks. Ramuan ini sah-sah saja, hanya saja sebuah karya tak semata-mata mengejar pasar, bukan?

Di luar itu, Miranda adalah penulis pemula yang cukup berani. Bukankah yang terpenting dalam menulis adalah keberanian, demikian Katherine Anne Porter pernah berkata, (lihat Menulis dengan Emosi karya Carmel Bird). Kata-katanya di awal pembuka buku sangat apik. Ia menulis : ...Pernahkah kita menghitung berapa banyak karakter sudah terbunuh sejak mereka masih dalam kepala, semata karena idealisme soal gagasan besar?… Ya, miranda tampaknya bukan tipe penulis yang memilih untuk bersabar menunggu gagasan besar yang hinggap di kepala untuk lantas dititiskan dalam cerita. Ia tak ingin karakter yang sudah terbangun mengalami aborsi sebelum berkembang dan lahir. Keberanian ini pula yang membuat Mia menulis, meski bukan gagasan yang besar, meski tentang sihir, meski lagi-lagi tentang cinta. (M. Abdul Syukur, Jkt)