Hosted by Photobucket.com

Sunday, February 13, 2005

Bonsaikitten

"Nimbuuuu...usss! Meauw, cini pus. Sarapan gih, masakan spesial nih!" Kuputar kenop kompor gas ke posisi off. Nasi-mentega-daging asap mengepul dalam kuali yang nangkring dengan manis di atas kompor membuatku meneguk ludah. Kriuuukk... Ups!

Laper, ih. Nasinya Nimbus enak juga 'kali ya, buat sarapan...

Aku buru-buru menyendok menu-eksperimental-gak-jelas-ku ke dalam cawan makan Nimbus. Takut memperpanjang imajinasiku. Buatku, sarapan cukup dengan secangkir kopi capuccino dan sebatang rokok.

Kutaruh cawan Nimbus di bawah meja bundar, tempat nongkrong favoritnya.
Ke mana si kucing... Pasti lagi berjemur ria di teras depan.
"Nimbuuuuss! Mau sarapan gak? Keburu dingin lho... Menu spesial nih, Mbus!" jeritku sambil menyalakan tv. Ada berita apa hari ini?

--di teras depan--
Nimbus tergeletak pasrah, tak bisa menyembunyikan muka sedihnya. Tak terusik sedikit pun oleh panggilan nona-tercintanya.

(sigh) Masakan spesial? Oh no... not another experiment, give me a break...

Kerut di muka-sedihnya berlipat-ganda membayangkan sepanjang hari yang menyiksa karena sakit perut (bayangkan kalau wajah kucing bisa berkerut!).
Sebenarnya, apa sih yang sedang membuat Nimbus sedih? Diputusin Pinky, kucing Tante Maya, tetangga, yang manis bin manut itu? (maksudnya yang manis dan manut itu Pinky lho, bukan Tante Maya, ed.) Bukan. Merasa Rhein tak lagi mencintainya karena akhir-akhir ini sering pergi dengan Ary Suta? Enggak. Bagaimanapun, Nimbus sangat menyadari keberadaannya di sisi Rhein tak terusik dan tak tergantikan oleh siapapun. (ya jelas, lah.)

Lantas apa, dong?

Nimbus ingat artikel tentang bonsaikitten yang dibacanya tanpa sengaja di bulletin board friendster-nya kemarin.
Bonsaikitten adalah sejenis 'kekerasan terhadap anak kucing' yang terjadi di New York. Kedengarannya sih imut banget: bonsaikitten. Tapi yang terjadi tidak se-imut itu. Bayangkan! Seorang Japanese memanfaatkan anak kucing sebagai komoditas bisnis dengan cara yang sangat kejam: memasukkan tubuh anak kucing yang sudah dikasih muscle-relaxant [di kepala Nimbus tergambar kecilnya dia yang masih imut-imut banget, yang jalan aja masih bengkok-bengkok belum bener banget, yang masih seneng ngusel-usel p****l susu mamanya] ke dalam botol kecil dan menyekapnya di dalam sana selama-lamanya untuk dijual!!! Nimbus jadi lebih merana lagi ketika membayangkan para anak kucing yang jadi korban kekejaman dan keserakahan otak manusia itu dikasih makan lewat sedotan. Ironisnya, bonsai-bonsai kucing itu dijual, karena sisi menariknya, bentuk tubuh si kucing akan berkembang sesuai dengan bentuk botol yang melingkupinya.

Nimbus mengeong sedih.

Dunia segini luas jadi begitu ciut dalam botol? Dan.... gak bisa ke mana-mana?? Oooooh.... Nimbus melolong.

--di depan TV--
Sudah hampir lima belas menit. Nimbus tak muncul-muncul juga.

Ke mana, sih? Biasanya kan dia paling semangat kalo soal makan!

Aku tak bisa mentolerir kecemasan campur gusar yang tumbuh makin besar dalam kepalaku. Nimbus akhir-akhir ini, sejak pacaran dengan si Pinky, makin sering ngabur pagi-pagi ke rumah Tante Maya, tetangga, dan lebih suka makan di sana. Padahal, kurang apa aku? Aku yang selalu memasakkan sarapan pagi-nya dengan penuh kasih sayang [konon, masakan yang dibumbui kasih sayang rasanya jadi lebih enak, kan? Kalau pakai istilah Brownies, novel adaptasi terbarunya Fira Basuki, 'menunjukkan rasanya'.] dan tidak pernah merebut makanannya [meski sering berpikir untuk itu]... Grrrggh. Keterlaluan ah, kalau Nimbus sampai makan di rumah Pinky lagi. Kemarin kan sudah!

Aku tak bisa menahan geram. Capek memanggil, aku beranjak dan berjingkat ke teras depan. Mengintip. Lagi ngapain sih, si Mbus?

...Hatiku runtuh seketika melihat Nimbus 'teronggok' lemas dengan muka sedih di ujung teras. Kucing hitam lucu yang biasanya ceria dan gokil, sekarang bahkan tidak sadar kalau tempat dia berbaring sudah tak terkena cahaya matahari lagi! [Tujuan Nimbus nongkrong di teras selain pacaran adalah... berjemur]
Pelan-pelan aku membuka pintu depan. Nimbus pasti mendengarku, tapi ia tak bereaksi.

See? There must be something wrong!

Kusenggol perutnya dengan jempol kakiku main-main.
"Da pa, Mbus? Kok sunyi gitu sih? Sarapan dulu, gih. Abis itu cerita. Ato mau cerita dulu baru sarapan?" Aku berjongkok di sebelahnya. Menyisir rambut hitam lebat Nimbus yang, meski sudah lima hari tak dimandikan, masih mengkilat.
Nimbus melenguh pelan.
"Napa sih? Berantem ma Pinky? Kesepian? Ato Pinky hamil? Takut dimarahin Tante Maya, ya?"
Nimbus masih tak mau bereaksi. Malah membuang muka.

Ya ampuuun... Ni kucing kenapa? Masa' sih, harus bawa ke klinik dokter hewan? Ini sih, sakitnya psikologis!

Aku mengucak kepalanya pelan.
"Mbus, hei. Tega bener sih, bikin aku bingung? Cerita dong, jangan jadi mute gitu. Duniaku yang udah sepi jadi tambah sepi nih, kalo kamu gak ceriwis kaya' biasanya. Ayo dong... Tell me 'bout it. Ato aku titipin ke 'sekolah-Tante-Rima', lho!" ancamku. Nimbus, sejak hari pertama kedatangannya di rumahku, paling malas dikembalikan ke rumah Tante Rima. Tante Rima itu tanteku yang punya selusin kucing, diantaranya Nimbus kecil, sebelum berpindah tangan. Kata Nimbus, Tante Rima suka 'kitten-abuse'. Iya, Nimbus, jelek-jelek gitu kan pembela berat Hak Asasi Kucing dan Anak Kucing - HAKdAK!

Kali ini Nimbus bereaksi dengan menghela nafas berat.
"Mending dikembaliin ke Tante Rima, deh," keluhnya.
"Haaa??" Kupingku gak salah denger, nih? "Kenapa, Mbus? Bilang apa?" Jangan-jangan, kupingku emang salah.
"Mending dikembaliin ke Tante Rima, daripada dijadiin bonsaikitten!" sergahnya.

Bonsaikitten?

"Oaallaaaahhh...." Aku segera teringat pada artikel yang beredar di bulletin board friendster-ku kemarin. Pasti itu yang bikin Nimbus mogok ngomong pagi ini. Ya ampun, dasar kucing.

Padahal, bonsaikitten itu kan main-mainan iseng sekelompok orang saja. Permainan wacana, semacam untuk 'meledek' kaum tertentu, via cybermedia. Sarananya cuma satu, situs www.bonsaikitten.com, yang konon memperjualbelikan anak kucing bonsai dalam botol, tapi tak pernah mencantumkan alamat atau nomer rekening yang mesti dihubungi jika kita tertarik membelinya. Situs yang sempat membuat FBI bersibuk-sibuk menyelidiki, karena, tentu saja, tindakan kejam itu bikin kalang-kabut dan ditentang habis-habisan oleh para aktivis pecinta lingkungan dan pecinta binatang.
Aku tak bisa menahan kekehan panjang yang kontan keluar dari mulutku. Nimbus segera menegakkan kepala, mendengar tawaku. Ia memandangku gusar.
"Kok malah diketawain sih?" protesnya.
Aku makin terkekeh. Kusentil kupingnya main-main, sebelum beranjak dan masuk rumah.
"Itu kan cuma isu, Mbus. Makanya, jangan cepet percaya 'ma berita yang beredar di internet! Dah sana sarapan, gih! Keburu dingin."

Nimbus berdiri. Ekornya menegang.
Hum? Isu?? Oh, s**t! Sia-sia dong, acara mogok makanku!

***