Hosted by Photobucket.com

Wednesday, September 06, 2006

I Love You, Om... -the novel-

Sebuah pembunuhan telah terjadi. Menyamar sebagai juru warta kematian dirinya sendiri, Orestes masuk ke dalam istana. Mengendap diam-diam ke dalam kamar dan membunuh Aegisthus, lalu Clytemnestra—ibu kandungnya sendiri. Sebuah balas dendam atas permintaan Electra, saudara perempuannya, untuk pasangan yang telah membunuh Agamemnon, ayah kandung mereka. Kisah Yunani kuno ini yang menginspirasi Freud untuk ekuivalensi feminin dari teori Oedipus complex.

Tak ada mitologi Yunani dalam I Love You, Om... Dion bukan Electra yang dendam pada sang ibu karena telah berselingkuh dan membunuh ayahnya. Ia juga tak punya adik laki-laki yang akan membalas dendam atas kematian ayahnya. Ia hanya kadang-kadang sangat merindukan Ayah. Ayah, yang kerap membawakannya buku cerita bergambar—bukan komik seperti yang dibawa ibunya—dan hadiah-hadiah tak terduga dari perjalanannya berlayar keliling dunia. Yang akan membacakan cerita sebelum ia terlelap tanpa jatuh tertidur seperti ibunya. Dion hanya seorang gadis kecil berusia sebelas tahun, yang kerap merindukan perhatian, setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya menjadi sangat sibuk demi mereka. Dion baru berusia sebelas tahun, ketika ia bertemu Gaza. Seorang laki-laki yang akan membujuknya ketika ia ngambek. Yang bersedia menemaninya berkeliling kota sepulang sekolah dan membelikannya es krim. Seperti ayahnya.

Tetapi perasaan itu pun bertransformasi. Dion terlampau kecil untuk dapat menerka, menjelaskan, dan membatasi perasaannya. Gaza yang terlalu matang untuk Dion bahkan kesulitan memahami pergulatan besar dalam dirinya: tentang perasaan, norma, ukuran kewarasan, kerinduan-kerinduan dari masa lalu....

Penis envy. Castration complex. Entah jika Dion juga mengalaminya. Tetapi cinta datang kepada siapa saja. Bahkan pada gadis kecil dua belas tahun dan laki-laki matang dua puluh delapan tahun. Pilihannya ada pada tangan si pelaku. Bukan penonton. Bukan pengamat. Bukan kritikus. Karena cinta bebas nilai.

I Love You, Om... the novel, diadaptasi dari skenario film karya Aviv Elham dan diproduksi oleh Gunja Film dengan judul sama. Diterbitkan oleh GagasMedia, September 2006. 139 halaman, Rp 17.000. []

Wednesday, August 23, 2006

Mobil Tua dan Mata yang Mengintai dari balik Reruntuhan

sebuah pengantar proses

Garudayeksa. Itu namanya. Sebuah kijang tua tujuhpuluhan yang mengantar kami ke kehidupan di balik pepuing dan jejak debu di udara. Yang mempertemukan kami dengan dunia ajaib di balik bencana, dan menjadi saksi tumbuhnya kembali sebuah desa. Tempat di mana anak-anak tak lupa cara tertawa, dan orang-orang tua masih bisa bersenda. Di tengah kepasrahan dan reruntuhan.

Dari balik jendela Garudayeksa berkecepatan sedang, kami merekam tilas hidup desa yang luluh lantak akibat gempa berkekuatan 5,9 S.R, 27 Mei 2006 lalu, yang masih berdenyut tak kenal lelah meski bencana merenggut banyak dari mereka. Sebuah keajaiban yang membuat kami belajar memahami makna paradoks di balik bencana. Lihatlah. Di balik sekian pasang mata yang mengintai ketika kendaraan tua kami menyusur jalan yang membelah desa, kami melihat pijar. Menyala, meski tersaput jelaga sisa gempa. Sekian pasang mata itu tidak semata bertanya: ‘apa bantuan yang dapat diberikan untuk kami’, tetapi ‘apa yang dapat kita lakukan bersama untuk kembali pulih’. Darinya, kami membaca tekad untuk beranjak dari keterpurukan. Sebuah keajaiban.

Dan begitu banyak keajaiban lain. Relawan-relawan yang dengan komitmen penuh mengisi proses dengan atmosfir sejuk waktu ke waktu, bantuan demi bantuan yang datang tak terduga, sampai mogoknya sang Garudayeksa dan ban yang pecah ketika menjalankan tugas. Ajaib, sebab tak ada yang membuat kami surut, meski mesti melangkah dengan tersaruk-saruk. Meski compang-camping.

Armada ini memang compang-camping. Ketika bencana memorak-morandakan sebagian wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah seratus hari yang lalu, Perkumpulan Seni Indonesia, organisasi yang berangkat dari semata-mata komitmen ini, bertanya: apa yang dapat dilakukan untuk mereka, para korban bencana. Apa yang dapat kami gayuh, hanya dengan kapasitas dan kemampuan yang kami miliki. Hingga tersepakati sebuah proses yang demikian sederhana: pendampingan untuk anak-anak korban bencana, pada lingkup yang tak kalah kecil jika diperbandingkan dengan luas lingkup wilayah korban bencana. Sebentuk pendampingan yang diformulasikan dalam program sederhana pula: mengajak anak untuk mengungkapkan, dengan bahasa mereka sendiri, ketakutan-kegelisahan-luka jiwa-pikiran-anganangan dan harapan mereka untuk masa depan. Mengajak anak menyuarakan diri sendiri, dengan sesedikit mungkin menempatkan mereka sebagai objek. Dengan sedikit bekal yang kami miliki, selama bulan Juli hingga pertengahan Agustus, PSI menjalankan pendampingan di beberapa titik, antara lain: Pelemsewu, Kasongan, Pengkol, Bawuran, dan Karangasem.

Lalu, di sinilah kini kami berada, bersama Garudayeksa dan serangkaian keajaiban yang membuat program tahap awal berhasil terlampaui. Sesungguhnya, masih banyak yang ingin kami lakukan untuk bangkit bersama korban bencana. Masih banyak titik yang ingin kami singgahi menitih Garudayeksa: Payak, Bawuran Tengah, lereng Merapi, bahkan Pangandaran, jika saja kami mampu. Mungkin kelak. Sebab, ketika tikar digulung, anak-anak dampingan kami kembali ke rumah, dan sang Garudayeksa disimpan kembali dalam garasi, diam-diam kami menyimpan janji. Untuk selalu kembali.

Kini; Garudayeksa mungkin berhenti. Sejenak saja. Tetapi celoteh anak yang meramaikan hidup kami sebentar kemarin akan menggantikannya, melanglang tanah air dan belahan lain dunia, menceritakan suka-duka mereka di tengah reruntuhan dan kehilangan. Sementara kami hanya bisa memandang dan berdoa: semoga sesuatu yang sederhana ini cukup berarti. Semoga mereka, anak-anak di wilayah bencana, menemukan kekuatannya untuk melompat keluar dari ingatan buruk tentang gempa, pada suatu pagi dini.

Dan inilah armada Garudayeksa, relawan-bagian PSI pada mana saya mesti mengucapkan terima kasih sedalamnya: Landung Simatupang, Hari Santosa, Pak Piet Hari, Ina Landung, Ibu Tuti, Ibnu ‘Denko’ S, Anto, Ivan Bestari, Dewi, Tri ‘Mungil’ W, Prasetyo ‘Sinyo’, Fr. Danang, Anggie, dan Tita.
Terima kasih pula untuk dukungan penuh awak PSI di Betawi terhadap proses: FX Rudy Gunawan, Agung Yudha, Andi Yuwono, Raharja W. Jati.
Serta seluruh keajaiban yang menyertai kami sepanjang proses: Maya, Frans, Ibu Agus Sukidi, Ibu Soni, Paroki Katedral Denpasar, Ibu Retno Iskandar dan KPH Kotabaru, Pak Wiwit C-59, Ninit Yunita dan Adhitya Mulya, Icha Rahmanti, Rumah Seni Cemeti, Rm. Windyatmaka dan Wisma Mahasiswa, Gerakan Jogja Bangkit, Bapak Ryan Masagung dan TB Gunung Agung, Tinuk Yampolsky, Yayasan Pustaka Kelana, Penerbitan Kanisius, Tita Rubi dan Studio Biru, Shabaviz Publishing House Iran, Gun Yayincilik Publishing House Mesir, Bp Diyono dan Masyarakat Pengkol-Kulonprogo, dan semua pihak yang tak dapat disebut satu per satu.


There always be miracle, when you believe.


“You may give them your love but not your thoughts.
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls.
For their souls dwell in the house of tomorrow, which
you cannot visit, not even in your dreams.”

—Kahlil Gibran, The Prophet, “On Children”—

Bencana, Trauma, dan Akar Kultur

Miranda Harlan

Ada satu hal yang kerap ternafikan ketika bencana mengembalikan sebagian manusia ke titik mula kehidupan, dan menggerakkan sebagian yang lain untuk memberi bantuan, hampir tanpa arah dan koordinasi. Ialah akar kultur masyarakat korban bencana.

Pascabencana bagi masyarakat korban adalah masa yang rentan secara sosiokultural. Ketergantungan korban terhadap bantuan di masa tanggap-darurat bencana menimbulkan problema-problema sosial yang peka, karena hiruk-pikuk bantuan tak lepas dari tumpang-tindih kepentingan. Wajar bila isu semacam Kristenisasi, Islamisasi, Indomie-sasi, sampai terbentuknya budaya ‘kridha lumahing asta’, tanpa memasalahkan tendensi di balik pahlawan pemberi bantuan, menjadi isu faktual yang mengkhawatirkan. Tanpa pertimbangan yang bijaksana dari pemberi bantuan, masyarakat korban bencana, alih-alih terbantu, bisa-bisa justru terancam akan tercerabut dari akar kulturnya semula.

Hal ini menjadi kekhawatiran sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta, pascabencana yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei lalu. Menurut mereka, rupa-rupa bantuan yang diterima korban, jika tak dimaknai secara benar, berpotensi membelokkan masyarakat korban dari kultur semula. Kesadaran akan hal ini, bagi kalangan kebudayaan, mestinya tak hanya disadari oleh masyarakat korban alias penerima bantuan, tetapi pun oleh lembaga-lembaga penyalur bantuan.

Kekhawatiran akan bergesernya kultur masyarakat korban akibat bencana disampaikan Whani Dharmawan, yang dengan beberapa budayawan lain seperti Bondan Nusantara dan Miroto, membentuk Gerakan Jogja Bangkit. Sebuah gerakan pemulihan pascabencana melalui pendekatan kultural. Membanjirnya bantuan, menurut Whani, jika tidak dikelola dengan baik oleh lembaga-lembaga distribusi, dapat menimbulkan, semisal, budaya ‘kridha lumahing asta’ atau budaya meminta-minta. Adalah kewajiban lembaga penyalur untuk mengorganisir bantuan yang masuk dan melibatkan masyarakat korban secara sedemikian rupa sehingga terhindar dari mentalitas peminta-minta. Hal senada diungkapkan pula oleh Landung Simatupang, “Jangan sampai bantuan berdus-dus mi instan membuat ibu-ibu lupa cara memasak jangan brongkos.” Pada tataran hidup bermasyarakat, Landung menggarisbawahi kultur bergotong-royong, toleransi, dan saling pengertian, yang terancam pupus jika bantuan tidak disikapi secara proporsional. Terlebih, ketika masyarakat korban bencana berada dalam kondisi mental yang labil.

Karena itu, proses pemulihan kejiwaan korban bencana menjadi urgensi yang mesti pula diperhatikan, di samping pembangunan dan pemulihan fisik. Dengan landasan mental yang kuat, masyarakat akan memaknai bencana sebagai sebuah momentum. Untuk bergerak, membangun kembali, untuk beranjak kepada pemahaman yang lebih. Dengan mental yang sehat, masyarakat korban gempa akan memaknai bencana secara positif, tanpa tercerabut dari akar kulturnya.

Pulih dari trauma melalui gerakan kebudayaan

Gerakan kebudayaan adalah jalur yang dipilih oleh sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta untuk memulihkan kondisi kejiwaan masyarakat korban gempa. Jogja Bangkit—sebuah lembaga yang berdiri atas kerja sama beberapa penerbit dan dikelola oleh Julius dan Penerbit Galang Press—misalnya, menjalankan trauma healing dengan mengelilingkan hiburan Badut Sponge Bob dan Ketoprak Den Baguse Ngarso ke daerah-daerah bencana di Yogyakarta. Pada tataran lanjut, Romo Banar mengatakan media hiburan semacam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk terjadinya dialog antarwarga. Dialog untuk saling berbagi dalam kelompok-kelompok kecil, dengan didampingi fasilitator, adalah salah satu proses pemulihan trauma yang dapat diterapkan untuk orang-orang tua. Sebab, seperti disampaikan Landung Simatupang, trauma yang dialami anak-anak, selain sebagai dampak bencana sendiri, kerap kali merupakan tularan dari orangtua. Sementara pemulihan trauma untuk orang tua, dalam implementasi bantuan, cenderung dinomorduakan dari proses pemulihan trauma untuk anak.

Pendampingan terhadap orang tua dalam proses berbagi dilakukan pula oleh relawan-relawan dari Bulungan, Jakarta, di posko Kepuhan (Imogiri, Bantul) yang dikelola oleh Ihsan ‘Dobleh’ Zulkarnain dan Wendy Shan Wong dari Institut Seni Indonesia. Wendy, pada pengalaman di lapangan, menemukan kenyataan bahwa korban pada usia produktif dan lanjut ternyata membutuhkan muara untuk mencurahkan isi hati. Kebutuhan itulah yang kemudian difasilitasi sebagai salah satu implementasi pemulihan trauma bagi masyarakat korban.

Selain melalui proses berbagi, pemulihan trauma untuk korban usia produktif dapat pula dilakukan melalui bangkit dan hidupnya kembali rutinitas masyarakat sebelum bencana terjadi. Keyakinan akan hal inilah yang melandasi program Gerakan Jogja Bangkit untuk masyarakat korban bencana.

Pascagempa 27 Mei lalu, perhatian warga korban usia produktif terserap pada rehabilitasi hunian-hunian yang rusak, sehingga mereka tak sempat menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi rutinitas sebelum bencana terjadi. Aktivitas inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Gerakan Jogja Bangkit. Dengan memberi bantuan riil sesuai bidang pencaharian masyarakat korban gempa, Whani berharap trauma yang dialami oleh masyarakat korban pada usia produktif akan teratasi. Dua minggu pascagempa, misalnya, Gerakan Jogja Bangkit memberi bantuan dua puluh unit sepeda untuk korban yang sebelum gempa bermata pencaharian sebagai tukang sol sepatu keliling. Gerakan Jogja Bangkit juga mendirikan sekolah dan pondok baca untuk anak di Kasongan, Bergan, dan Payak, Bantul, DIY. Meski dikemas sebagai bantuan untuk anak, Whani berharap pondok-pondok baca ini kemudian menjadi media berkumpulnya orang-orang tua, dan selanjutnya dapat menjadi rangsangan untuk menjalankan aktivitas bermasyarakat seperti semula, sebelum terjadi bencana.

Masih dalam kerangka tujuan dan upaya yang sama, seniman tari Miroto menghidupkan kembali kelompok-kelompok kesenian ketoprak di pedesaan, dan berharap proses tersebut dapat dipentaskan di luar Yogya. Dengan melibatkan mereka dalam proses berkesenian, mengajak korban bencana untuk beraktivitas rutin, dan mengepulkan kembali tungku-tungku dapur mereka, Miroto berharap proses ini memijarkan semangat baru dalam diri korban. Sekali lagi, tanpa menjerumuskan mereka menjadi kaum yang ‘kridha lumahing asta’.

Ekspresi Anak, Sembuhnya Luka

Merujuk pada deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Peringatan Tahun Anak Sedunia (1979), anak-anak termasuk salah satu kelompok yang harus diutamakan sebagai penerima bantuan di saat terjadi bencana.

Ketika perhatian orangtua dan pengampunya terserap pada proses membangun kembali hidup pascabencana, anak menjadi objek yang rentan mengalami gangguan kejiwaan. Anak kerap terlalaikan, dan secara tanpa sadar terus tergerus oleh trauma orangtua dan pengampunya terhadap bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Anak kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri dan mengekspresikan keinginannya untuk dipahami, dalam konteks kehidupan pascabencana. Berbeda dengan korban berusia dewasa yang mampu berbagi beban dan ganjalan yang ditanggungnya kepada orang lain, proses pemulihan trauma untuk anak memiliki kompleksitas dan bentuk penanganan tersendiri.

Piaget, seorang ahli psikologi anak, menyatakan bahwa permainan menjembatani ruang kosong antara pengalaman-pengalaman yang nyata dengan pikiran dan perasaan yang bergolak dalam diri anak. Demikian pula kesenian. Permainan dan kesenian, oleh ahli terapi anak, sejak lama diyakini sebagai bentuk terapi yang tepat bagi anak-anak korban bencana. Melalui bermain dan berkesenian, anak mengekspresikan dirinya dan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan media tersebut, anak menyampaikan kebutuhannya. Dus, kondisi kejiwaannya menjadi lebih mudah dipahami.

Berpijak pada pemahaman tersebut, beberapa lembaga seperti Laboratorium Pembelajaran Cakrawala dan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) memusatkan perhatian dan melakukan pendampingan terhadap anak-anak, melalui proses bermain dan berkesenian bersama. Seperti diungkapkan oleh Detty Aryanti, ahli psikologi anak yang berpengalaman menangani korban trauma Badai Katrina di Amerika Serikat, tahun 2005 lalu, jika orang dewasa mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata, pada anak-anak, mainan dan benda adalah “kata-kata”, dan permainan adalah “bahasa”. Menyediakan media bagi anak untuk berkomunikasi adalah bantuan yang tepat guna memulihkan anak dari trauma.

Hari Santosa, pemilik Sanggar Menggambar Melati Suci yang selama bertahun-tahun berpengalaman bergulat dengan anak-anak, meyakini bahwa menggambar merupakan salah satu media yang tepat untuk mengekspresikan kegelisahan yang tersimpan di alam bawah sadar anak. Bersama PSI, Hari Santosa melakukan pendampingan terhadap anak-anak di beberapa titik bencana, di antaranya Kasongan, Bawuran, Pelemsewu, dan Pengkol. Melalui menggambar, Hari mengajak anak melangkah, mengambil jarak dari penyebab trauma, yang pada tingkat lanjut membuat anak secara mandiri mampu mengatasi trauma yang dialaminya. Selain menggambar, PSI mendekatkan anak dengan tradisi tulis, dan mendorong anak untuk menceritakan pengalaman batinnya dengan membuat cerita. Untuk mendukung keberlangsungan proses kreatif anak, PSI membangun pula perpustakaan sederhana untuk mereka.

Pustaka merupakan infrastruktur kreativitas yang cukup penting. Dalam perjalanan program bersama PSI, Landung Simatupang menemui kenyataan yang menyedihkan; betapa anak di pedesaan masih begitu jauh dari tradisi menulis. Jangankan membuat sebuah karangan utuh, sebagian besar dari mereka belum bisa menulis dengan ejaan yang benar, terlebih menggunakan tanda baca. Gejala ini menunjukkan rendahnya mutu pendidikan anak di pedesaan. Sesuatu yang mestinya dicermati oleh lembaga-lembaga yang peduli.

Serupa dengan PSI, Laboratorium Pembelajaran Cakrawala bekerja sama dengan masyarakat lokal membangun Pusat Kegiatan Anak (Children Center) sebagai upaya memulihkan trauma anak-anak korban bencana. Cakrawala memfokuskan program pada satu desa binaan dengan menyediakan fasilitator, sarana yang diperlukan, serta materi atau “kurikulum” yang terstruktur. Rangkaian kegiatan yang ditawarkan kepada anak terdiri dari tiga tahap. Berawal dari penanganan kebutuhan dasar yang meliputi pemulihan daya kerja indera peraba (bermain-main dengan pasir, air, tanah liat, dan lilin). Pada tahap kedua, anak diajak untuk menggambar, menulis, membuat boneka atau wayang, bermain musik, dan mendongeng. Kesemua keasyikan tersebut bermuara pada tahap ketiga, di mana anak akan membuat pertunjukan; menyusun cerita drama, dan bermain teater. Dengan cara tersendiri, terapi anak melalui teater diterapkan pula oleh Sheep of Peace, bekerja sama dengan Anak Wayang Indonesia.

Bagaimanapun bentuknya, rangkaian upaya pemulihan trauma terhadap korban bencana tak boleh dilepaskan dari akar kultur masyarakat. Seperti diungkapkan Landung Simatupang, lembaga-lembaga penyalur bantuan mesti mempertimbangkan aspek ini secara bijaksana sebelum menjalankan program trauma-healing. Sedapat mungkin, pendampingan yang dilakukan oleh fasilitator di lapangan tak membuat masyarakat korban tercerabut dari akar kulturnya. Terlebih, menimbulkan ketergantungan masyarakat korban terhadap fasilitator dan lembaga bantuan. Proses pemulihan dari trauma tak akan berjalan efektif jika tidak didukung oleh kemandirian korban untuk lepas dari trauma. Adalah tugas kita semua, lembaga fasilitator trauma-healing, untuk mengingatnya.

Tuesday, July 11, 2006

Maridjan: The Man Behind Merapi

Lewat tengah hari menjelang senja, kami memasuki halaman sebuah rumah sederhana yang tampak tenang, meski tak terlalu lengang. Orang tua itu sedang berdiri di pekarangan rumah, bersama beberapa orang yang mengerumun di dekatnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar langkah pelannya mendekati kami. Orang tua itu tersenyum hangat, sembari bersalam. “Sinten, niki?”1 sapanya karib. Dalam sekejap, rasa waswas yang sesekali bersambang selama berada di kawasan Kinahrejo-Kaliadem, lenyap tersapu sorot mata yang arif sekaligus menentramkan hati.

Kedatangan kami disambut langsung oleh Mbah Maridjan, the man behind Merapi.

Kebersahajaan, seperti dikatakan semua orang, nyata lekat pada sosok R. Ng. Suraksohargo, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan itu. Tak sedikit pun tersirat keangkuhan dalam diri sang juru kunci Merapi, meski belakangan ia dikabarkan bersikap mbalela karena menolak perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Jusuf Kalla untuk turun gunung ketika aktivitas Merapi meningkat sampai status Awas. Alih-alih mengungsi, orang tua yang linuwih (dianggap memiliki kelebihan) ini memilih tetap bertahan di Kinahrejo, ketika 14 Juni lalu Merapi kembali mengeluarkan awan panas yang mencapai pemukiman penduduk. Saat itu, warga dukuh Kinahrejo yang terkenal enggan mengungsi berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal mereka menuju Balai Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, termasuk isteri dan anak-anaknya.

Bagi Mbah Maridjan, sikap bertahan adalah salah satu wujud baktinya sebagai juru kunci Merapi, selayaknya nama Suraksohargo, yang secara harfiah berarti ‘menjaga gunung’. Dengan bertahan, Mbah Maridjan menjalankan laku prihatin dan berdoa, memanjatkan permohonan keselamatan. Tak hanya untuk warga yang bermukim di sekitar Gunung Merapi, tetapi juga untuk seluruh warga Daerah Istimewa Yogyakarta. Entah adakah kaitan antara sikap bertahannya dengan mistik dan klenik, seperti kerap dimitoskan. Bagi Mbah Maridjan, ketika Gunung Merapi sedang giat beraktivitas seperti saat-saat ini, hanya berdoa yang bisa ia lakukan. “Saged-e kulo nggih namung nyuwun kawilujengan dumateng Ingkang Maha Kuwaos. Liya-liyane kulo mboten saged, saestu.”2

Persepsi yang mengaitkan Mbah Maridjan dengan dunia klenik mungkin muncul karena ritual-ritual yang dilakukannya sebagai penjaga; juru reresik, juru kunci Gunung Merapi. Caranya memanjatkan permohonan kepada Yang Maha Kuasa memang sarat nilai-nilai tradisional, hal-hal yang belum sanggup dijelaskan dengan nalar pengetahuan dan akal sehat. Hal-hal yang kemudian oleh persepsi umum disepakati sebagai klenik. Tengok sejenak kebiasaannya. Sejak status Merapi ditingkatkan menjadi Awas, sehari-hari Mbah Maridjan menjalankan puasa mutih sebagai laku prihatin. Hanya makan sekepal nasi dan minum air putih, selain mengisap rokok putih kegemarannya. Secara rutin dijalankannya laku tirakat. Bersemadi di kediamannya, di Paseban Sri Manganti (terletak di pos I Gunung Merapi), atau Paseban Labuhan Dalem (pos II). Setiap tanggal 30 Rejeb Tahun Saka ia melakukan ritual Labuhan di Paseban Labuhan Dalem, bersama para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ritual ini biasanya disertai pula oleh rombongan pecinta alam dan masyarakat. Doa untuk Eyang Empu Romo, Eyang Empu Permadi, Eyang Panembahan Sapu Jagat (dikenal juga dengan nama Kyai Sapu Jagat), dan semua yang lenggah3 di Gunung Merapi tak pernah ditinggalkan ketika menjalankan ritual. Selain itu, setiap sudut ruang tamu rumahnya dipenuhi pusaka, foto Sri Sultan Hamengkubuwono X, penanggalan Jawa-Islam, dan foto Gunung Merapi. Tetapi di antara kesehariannya, kerabat Keraton ini tak pernah meninggalkan salat lima waktu di masjid yang dibangunnya di ujung pekarangan rumah. Klenikkah ia?

Wallahu’alam. Seperti dinyatakan sendiri olehnya, sebagian orang menganggap Mbah Maridjan sebagai puncak kearifan lokal, yang karena kedekatan dengan Gunung Merapi dan kejernihan hatinya, sanggup mengenali setiap tanda-tanda yang dikeluarkan sang gunung. Barangkali bahkan tak ada hubungannya dengan mistik dan klenik. “Psikologi Merapi itu ya Maridjan,” ujar Ong Hari Wahyu, seorang perupa, menggambarkan betapa menunggalnya sosok Mbah Maridjan dengan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia ini. “Karena dia sejak kecil di situ. Hidup, makan, minum air Merapi, jadi dia sudah bisa membaca gejala alam.”

Perjalanan Mbah Maridjan mengenal Gunung Merapi tentulah sudah sangat panjang. Maridjan lahir tahun 1927 dan dibesarkan di Merapi. Dari almarhum ayahnya, Mas Penewu Suraksohargo, ia mewarisi jabatan sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tahun 1974, ia diangkat menjadi Wakil Juru Kunci. Pada masa-masa itu ia kerap mewakili ayahnya dalam laku Labuhan, pada peringatan jumenengan (naik tahta) Sultan. Tahun 1982, sepeninggal ayahnya, Mbah Maridjan diangkat menjadi Mantri Juru Kunci. Tiga belas tahun kemudian, Sri Sultan Hamengkubuwono X, lewat Serat Kekancingan Dalem Ngarsa Dalem Sultan Hamengkubuwono X tertanggal 3 Maret 1995, menaikkan pangkat Mbah Maridjan menjadi Mas Penewu Juru Kunci, jabatan yang dipangkunya hingga saat ini.4

Selama lebih dua puluh tahun Mbah Maridjan telah mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengabdikan diri sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tetapi pergulatannya dengan Merapi menempuh jarak berlipat lebih panjang. Sejak kecil, ia yang tinggal di lereng selatan Merapi telah mencerap kearifan sang ayah (yang konon juga dimiliki ibunya) dalam menghadapi tindak-tanduk Merapi. Selama perjalanan panjang hampir seumur hidup, ia tak hanya belajar mengenali gejala-gejala alam berkaitan dengan aktivitas Merapi. Tetapi juga belajar memahami “keinginan” sang gunung yang tak pernah berhenti “memberi” pada warga di sekitarnya tersebut, melalui laku tirakat dan kebersahajaan yang tak pernah lepas.

Bagi Mbah Maridjan, Merapi adalah makhluk gaib yang bernafas, berpikir, dan berperasaan. Jangan mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, demikian selalu pesan Mbah Maridjan. “Mbledhos, njeblug, wedhus gembel,” kepada kami ia merinci istilah-istilah yang umum digunakan oleh masyarakat mengenai aktivitas Merapi, tetapi membuat Sang Makhluk terluka perasaannya. Istilah-istilah itu, menurut Mbah Maridjan, memang umum digunakan, tetapi baginya tetaplah “kurang umum” alias tidak sopan. “Kanggo wong pinter mbok menawi kedah ngaten niku, nanging kanggo wong bodho kados kulo niki nggih mboten makaten.5

Bagi “orang-orang bodoh”, lanjutnya, saat ini Merapi sedang “membangun”. Suara gelegar yang beberapa kali terdengar diibaratkannya sebagai “orang tua yang sedang memecah batu di puncak Gunung Merapi”. Jikapun aktivitas Merapi kini meningkat, itu berarti Sang Gaib yang lenggah di sana sedang punya hajat. Dan menurut Mbah Marijan, selayaknya orang punya hajat, sampahnya tidak akan dibuang ke depan, tetapi ke samping dan belakang rumah.

Sifat Jawa yang sarat simbol tersirat dari cara Mbah Maridjan menjelaskan apa yang tengah terjadi pada Merapi. Gunung Merapi yang terhubung dengan Laut Selatan dan menjadi salah satu poros imajiner sebagai kekuatan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memang diibaratkannya menghadap Keraton Yogya. Sedang bagian “depan rumah” yang dimaksudkannya adalah bagian selatan gunung, yakni kota Yogyakarta. Tak hanya sarat simbol, selayaknya apa yang telah dipercayai selama bertahun-tahun, Mbah Maridjan bersikap sangat halus terhadap Merapi. Ritual dan tatacara yang ia lakukan adalah bentuk penghormatan pada makhluk yang dijaganya. Agar Sang Gunung senantiasa bersabar, tak memasukkan dalam hati perilaku orang-orang kota yang terkesan mengecilkan artinya. Dalam kebijakan pikirnya, Mbah Maridjan menyadari bagaimana sikap “orang-orang pandai” telah melukai Gunung Merapi. Membawa dampak buruk bagi masyarakat yang bermukim di sekitar gunung.

Tak hanya perilakunya yang sarat nilai tradisi. Tutur kata Mbah Maridjan pun selalu bernilai simbolik. Di balik kerendahan hati dan kebersahajaan, lelaki tua yang membuka diri pada dunia dan suka bicara dengan siapa pun ini menyimpan kebijaksanaan. Suatu kali, seperti dituturkan oleh budayawan Landung Simatupang, pada suatu acara hajatan, Mbah Maridjan bercerita. Tentang rombongan pendaki Gunung Merapi yang diantarnya. Mereka, orang-orang kota dengan pakaian modern dan atribut lengkap termasuk sepatu gunung, merasa heran pada Mbah Maridjan yang menyertai perjalanan mereka tanpa alas kaki. Di tengah perjalanan yang sulit, salah satu dari mereka bertanya, kenapa ia tak menggunakan alas kaki. “Kan panas?” Mbah Maridjan diam sejenak. Mengembuskan nafas, memandang tajam si penanya, dan dengan sebersit senyum justru balik bertanya: kenapa mereka tak menggunakan penutup kepala.

Pertanyaannya tentu saja membuat si penanya bingung. Menangkap selisih paham antara mereka, Mbah Maridjan melanjutkan kalimatnya dengan enteng: saya tidak mengenakan alas kaki, tetapi menutup kepala (dengan kopiah). Karena bagi saya, kepala lebih utama daripada kaki. Karena kepalalah yang berpikir dan memberi perintah pada kaki untuk berjalan. Sementara kaki hanya saya gunakan untuk melangkah.

Bagi Landung, cerita di atas menunjukkan bagaimana sikap bijak Mbah Maridjan menempatkan keutamaan dan mengesampingkan logika praktis orang kota, alias “orang-orang pandai”. Sebuah kalimat bermakna ganda, berkonotasi demikian filosofis, yang mungkin hampir tak pernah terpikirkan oleh kita semua. Ceritera ini tersurat pula dalam buku The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, bersama sebuah kalimat bersayapnya yang lain: “Buah yang kamu pungut di bawah pohon terasa manis dan masak, sebaliknya yang kamu petik dari pohon dengan menyogoknya pakai tongkat bambu akan selalu terasa pahit.”6

Monggo lho, silakan dimakan. Ini bukan fantasi,” paksa Mbah Maridjan pada kami, menjelang senja di rumahnya. Dengan cekatan dibukanya setoples kue kering yang manggrok di hadapan kami, ditemani gelas-gelas berisi teh hangat yang kental dan manis yang terasa legit di tengah hawa dingin menusuk tulang. Sekali lagi, ia mengatakan kalimat yang sama: supaya kami segera menikmatinya. “Niki sanes fantasi, niki tenanan,7 ujarnya lucu. Dari pengalaman kami yang pendek bersamanya, sosok sederhana itu memang memancarkan kebaikan hati yang tak dibuat-buat. Tetapi sosok Mbah Maridjan tak sekadar sosok yang baik hati dan bersahaja. Di dalamnya tersimpan kebijaksanaan dan pemahaman tentang esensi hidup. Lewat kesempatan itu, mungkin ia sedang berusaha mengingatkan kami akan hakikat hidup modern, yang kini dipenuhi oleh fantasi belaka. Dan jalan untuk mengetahui yang sebenar-benarnya adalah tidak dengan mengamatinya. Membedahnya dengan pisau analisis. Tetapi menjalaninya. Mencicipinya. Menikmatinya.


Saya ini cuma orang bodoh...”

Dalam beberapa perbincangan dengan narasumber yang berbeda, kami hampir selalu menemukan kalimat yang lantas seolah menjadi trademark Mbah Maridjan. Kalimat yang mengesankan kerendahan hati dan kebersahajaannya, dan menjauhkannya dari kesan hendak menonjolkan diri. Kalimat itu adalah kalimat yang kerap kali meluncur dari bibirnya, bersama seutas senyum hangat. “Saya ini cuma orang bodoh.”

Bagi sebagian orang yang kami temui, Mbah Maridjan memang hanyalah seorang jujur. Tanpa embel-embel kekuatan supranatural. Juru-juru kunci yang lain dapat membuktikan kesaktian dan kelebihan mereka, diiringi pengakuan orang-orang di sekitarnya, yang tidak dilakukan oleh Mbah Maridjan. Tetapi mungkin justru kalimat itulah yang menancapkan kesan kuat akan sosoknya pada diri orang-orang lain. Kesan itu pula yang ditangkap oleh Elisabeth D. Suprapto, penulis buku The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih. Ketika Elisabeth meminta penjelasan, cermatilah tuturan Mbah Maridjan: “Kalau orang pinter diberi satu, akan minta dua. Tapi kalau orang bodoh diberi satu, akan disyukuri.”8

Ungkapan yang selalu diucapkan Mbah Maridjan dengan cara yang jenaka itu tentu memiliki makna yang, selain begitu relijius, juga sangat dalam. Senantiasa bersyukur sesungguhnya membuat manusia menjadi manusia. Membuat manusia menemukan hakikat kesetiaan. Menemukan dirinya yang utuh. Dengan bersyukur, manusia kembali pada kejernihan hati. Dan lewat hati yang jernih, ia melihat hal-hal yang tak terlihat dan tertutupi oleh rasionalitas pikir. Sebaliknya, makna bodoh dalam falsafah Jawa pun mengandung makna tersembunyi. “Yang tak tahu, tetapi sesungguhnya mengetahui.” Dengan menempatkan diri sebagai orang bodoh, manusia akan terus mengisi. Mencoba memahami dengan menjalani. Sebab yang berusaha dipahami pada hakikatnya bukan sesuatu yang berhenti.

Mengungkapkan diri sebagai orang bodoh sesungguhnya adalah cerminan laku ngelmu. Budaya Jawa mengenal ngelmu dan kawruh, jelas Landung Simatupang pada kami di satu perbincangan minum teh sore hari. Yang disebut dengan kawruh adalah ilmu pengetahuan, knowledge. Sedangkan ngelmu adalah mengetahui dengan cara menjalani, nglakoni. Keduanya memiliki tujuan sama: memahami suatu objek. Perbedaannya terletak pada cara yang ditempuh untuk mendapatkan pemahaman.

Kawruh atau ilmu pengetahuan memandang objek sebagai sesuatu yang berjarak dari si pembelajar, di mana objek dibekukan, dimatikan, dihentikan daya hidupnya untuk diamati, dibedah, dipelajari strukturnya, dan selanjutnya dianalisis. Dari situ didapatkan pemahaman terhadap objek. Tidak demikian halnya dengan ngelmu. Dalam ngelmu, dikenal adanya daya hidup objek. Ngelmu memahami objek sebagai sesuatu yang terus bergerak, hidup, berubah. Maka jalan satu-satunya untuk memahami objek yang berdaya hidup tersebut adalah dengan menyatu, menunggal, menjadi sang objek. Memahami pola hidup, pikir, dan perasaan objek. Memahami sesuatu, tidak dengan mengambil jarak, melainkan dengan menyatu. Itulah yang dilakukan oleh Mbah Maridjan. Menyatukan jiwa dengan Merapi.

Penjelasan ini kemudian membawa sedikit penerang, mengapa Mbah Maridjan menolak pergi dari Kinahrejo, dukuh terakhir di lereng Gunung Merapi yang jaraknya hanya kurang lebih 3 km dari puncak tersebut. Sebab jika ia memilih untuk pergi dan mengungsi, maka ia menempatkan dirinya berjarak dengan Merapi. Dan dengan mengambil jarak, ia membekukan Gunung Merapi, sang makhluk berdaya hidup yang senantiasa dipersonifikasikannya sebagai orang tua. Memutus benang pemahamannya. Tak hanya itu; sebagai orang yang senantiasa ngelmu, Mbah Maridjan sangat konsisten.

Sikap konsistennyalah yang membuat masyarakat Kinahrejo menaruh hormat, di samping ia yang lucu dan gemar bicara pada siapa saja. “Dengan siapa saja, dengan anak kecil pun ia tetap hormat. Artinya tidak memandang usianya berapa,” ujar Bademan, salah seorang penduduk setempat. “Yang jelas, masyarakat sini hormat terhadap Mbah Maridjan dengan sikap yang sederhananya itu,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan Mbah Pujowijono, warga Kinahrejo yang rumahnya hanya berjarak seratusan meter dari rumah Mbah Maridjan. “Bapak itu takut sama uang banyak,” komentarnya. Lalu kisah tentang Mbah Maridjan pun meluncur dari bibirnya. Mbah Maridjan yang disebutnya Bapak tak pernah mempertanyakan uang gaji yang pada suatu waktu ketika sampai di tangan berkurang jumlahnya. “Misalnya, mestinya terima lima belas ribu, kalo yang sampe cuma sepuluh ribu, Bapak nggak pernah tanya. Kalo orang lain kan tanya, iki diutang sapa, po piye, gitu kan? Bapak nggak.”

Gaji Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi memang sebulan hanya Rp 5.600,00. Jumlah yang kerap kali diguyonkannya sebagai “lima juta enam ratus ribu rupiah”. Karena itu, Mbah Maridjan biasa mengambil gaji di Keraton tiga bulan sekali, agar jumlah yang ia dapat tak tombok dengan ongkos naik bus ke kota. Mbah Pudjo juga berkisah bahwa Mbah Maridjan, yang dipanggilnya Bapak, takut menerima bantuan banyak-banyak. “Biar Pak Dukuh yang membagi adil. Diberi lebih pun dia tidak mau, maunya sama dengan yang lain,” jelas Mbah Pudjo.

Pribadi Mbah Maridjan memang unik. Itulah yang tak ada pada pribadi-pribadi lain. Ia tak pernah mementingkan diri sendiri. Alasan itu yang dilontarkannya ketika diminta turun dari Kinahrejo, saat status Merapi meningkat menjadi Awas. “Di sini, saya bisa berdoa untuk keselamatan banyak orang. Tapi kalau saya ikut mengungsi, itu berarti saya mengejar kepentingan pribadi.”9 Karakter ini diungkapkan pula oleh warga di sekitarnya, yang sempat bicara pada kami. “Orangnya begitu bersahaja, tidak mementingkan pribadi tetapi mementingkan orang lain, orangnya ramah, dan lucu,” papar Bademan, ketika ditanyai kesannya tentang Mbah Maridjan. Tampaknya, atas alasan ini pulalah Mbah Maridjan menolak undangan pemerintah Jerman untuk menonton langsung pembukaan Piala Dunia 2006. "Aku emoh ora gelem, aku ini orang kecil, tidak tahu apa-apa, ya emoh. Sandalku saja sandal jepit, yo hilang keselempit,"10 jawabnya lugu ketika undangan itu disampaikan kepadanya.

Undangan menonton Pesta Pembukaan Piala Dunia 2006, 9 Juni lalu di Jerman, disampaikan oleh seorang wartawan Jerman yang datang untuk menemuinya. Sang wartawan mendapat mandat langsung dari Walikota Munich untuk menitipkan undangan kepada Mbah Maridjan. Undangan itu bukan basa-basi, tentu, sebab pemerintah Jerman bersedia menanggung seluruh biaya akomodasi Mbah Maridjan, bahkan juga pengurusan paspornya, jika sang juru kunci Merapi tersebut bersedia datang. Sayangnya, sang wartawan yang ketitipan mandat tak bisa bertemu langsung dengannya saat itu, karena yang dicari malah sedang ke puncak Merapi berbekal cangkul di pundak. Tetapi bertemu atau tak bertemu toh hasilnya tak akan jauh berbeda: Mbah Maridjan bergeming.

Reaksi yang lugu pulalah yang muncul dari Mbah Maridjan, ketika mantan presiden RI Megawati Sukarnoputri secara khusus memberinya polis asuransi, dalam kesempatan kunjungannya ke Yogyakarta, awal Juni lalu. Barangkali sang mantan presiden berniat baik, berusaha memahami keteguhan tekad Mbah Maridjan untuk bertahan di Kinahrejo. Padahal ingar-bingar situasi di Merapi mulai meresahkan banyak orang. Boleh jadi pula pemberian asuransi itu sesungguhnya bermakna sebagai sebuah sentilan, bahwa Mbah Maridjan tetaplah manusia biasa. Tetapi Mbah Maridjan memang tak pernah mementingkan diri sendiri. Ia tak perlu polis asuransi. Ia hanya orang lugu yang sedang berusaha memahami kehendak Sang Kuasa, dan kehendak Merapi. “Apa itu, polis, kulo mboten ngertos,” jawabnya lugu ketika berita itu disampaikan kepadanya. Baginya, ada lebih banyak orang yang perlu dibantu, yaitu masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, ketimbang dirinya.

Tetapi hakikatnya, Mbah Maridjan memang hanya seorang manusia biasa. Ketika awan panas menyerang Kaliadem dan sekitarnya, 14 Juni lalu, ia turut mengungsi. Tidak turun ke barak-barak pengungsian bersama warga Kinahrejo yang lain, tetapi ke masjid berarsitektur Jawa yang dibangunnya di ujung pelataran, berjarak sepelontaran batu dari rumahnya. Di sana, ia merapal doa, memohon keselamatan jiwa kepada Yang Maha Kuasa. Ia tak pernah mengingkari kodratnya sebagai manusia biasa. Seperti juga yang kerap diakunya kepada media, dan diungkapkannya pada kami di rumahnya yang sederhana. Saya ini tidak bisa apa-apa, tuturnya dalam bahasa Jawa, masih dengan senyum arifnya yang menyejukkan.

Pak Ponimin dan Pak Sawidjan, abdi dalem Keraton yang menjaga daerah Kaliadem dan menjalankan tugas yang sama dengan Mbah Maridjan, sebagai juru reresik Gunung Merapi, menandaskan hal sama. “Mbah Maridjan itu orang sejujur-jujurnya orang,” tukas Pak Sawidjan, seusai cerita panjang dengan Pak Ponimin mengenai peristiwa awan panas di teras rumahnya, suatu siang. Hal itu diamini Pak Ponimin, sang juru reresik yang linuwih dan dijadikan panutan oleh warga Kaliadem. Dalam obrolannya dengan kami, Pak Ponimin yang enggan bercerita banyak mengenai Mbah Maridjan mengisahkan hal-hal gaib yang dilihatnya, beberapa saat sebelum dan setelah gempa tektonik 5,9 skala Richter mengguncang kota Yogya.

Pak Ponimin memang salah satu abdi dalem yang turut menjaga Gunung Merapi dan dikaruniai kelebihan. Ia dekat dengan para gaib yang nglenggahi Gunung Merapi. Secara implisit, dalam kisahnya Pak Ponimin menegaskan hubungan baik dan saling menghormati yang terjalin antara ia dengan “Keraton Merapi”. Ihwal mitos mengenai adanya “pemerintahan” di Gunung Merapi, seperti juga di Laut Selatan, memang diakui oleh sekalangan orang, terutama mereka yang menganut paham Kejawen.

Mbah Maridjan, boleh jadi memang hanya manusia biasa. Ia tak bisa melihat hal-hal gaib. Tak memiliki kelebihan seperti yang dimiliki Pak Ponimin, kecuali lewat mimpi-mimpi, yang dituainya dalam raga yang tidur ketika bersemadi. Mata lahirnya yang tajam dan cerdas tak sanggup menangkap peristiwa-peristiwa tak kasat mata. Tetapi mata batinnya telah menyampaikan banyak hal kepadanya. Mata batin yang terasah karena laku prihatin, karena kesetiaannya pada Merapi, karena kesederhanaan dan kebersahajaannya sebagai manusia. Mata batinnya menangkap keresahan warga yang timbul karena tindak pragmatisme ilmu pengetahuan modern yang berlebihan dan semata-mata mengeksploitasi gunung yang dijaganya, yang dicintainya dengan pengabdian sepenuh hati. Ketika Mbah Maridjan berkata Merapi sedang murka, berarunglah lebih dalam untuk mencapai makna yang ingin disampaikannya. Boleh jadi jauh di dalam kalimatnya, ia sedang berkata, bukan Merapi an sich yang sedang murka, tetapi warga di sekitar Merapi yang tersia-sia karena tindak kapitalistik dan komersialisasi Gunung Merapi.

Seperti diungkapkan Landung Simatupang, arti penting Mbah Maridjan sesungguhnya adalah karakternya yang tak pernah mementingkan diri sendiri. Mbah Maridjan setia menyuarakan warga yang bertahun-tahun diayomi oleh Merapi. Suara Mbah Maridjan dalam beberapa kasus seperti back hoe (begu) yang menambang pasir di jalur tradisional Merapi dan kasus padang golf Merapi (Merapi Golf) yang dibangun di Cangkringan-lah bentuk pengayomannya yang paling nyata terhadap warga yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi. Bukan perkara anjuran untuk mengungsi atau tidak mengungsi, seperti yang kerap diributkan dan diwacanakan di media massa. Mbah Maridjan tak pernah tidak mengindahkan keselamatan warga lereng Gunung Merapi, meski ia bersikukuh untuk bertahan di tempatnya. Tidak. Tengoklah penggalan indah antara hubungannya dengan Sultan yang tersurat dalam The White Banyan berikut:

Saya mohon kebijaksanaan, supaya Kinahrejo aman-tenteram, tidak diusik oleh pemerintah, untuk pindah. Juga mohon pada Tuhan di Kinahrejo diberi keselamatan.”

Sinuwun setuju, dan dhawuh: “Kalau tidak saya yang menyuruh pergi ... jangan pergi.” 11


1 Siapa, ini?

2 Saya hanya bisa memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Yang lain-lain saya tidak bisa, sungguh.

3 Istilah “yang lenggah” ditafsirkan sebagai makhluk gaib yang menguasai Gunung Merapi

4 Pikiran Rakyat, “Perusak Merapi Harus Tobat”, Mei 2006

5 Untuk orang pandai mungkin harus begitu, tapi untuk orang-orang bodoh seperti saya tidak.

6 The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, Elisabeth D. Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta, 1998

7 “Ini bukan fantasi, ini sungguhan.”

8 The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, Elisabeth D. Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta, 1998

9 Kompas Cyber Media, “Di Rumah Mbah Maridjan Suatu Pagi”, Mei, 2006

10 “mBah Maridjan ‘Emoh’ ke Piala Dunia”, Juni, 2006 (diambil dari mailing list madiunClub)

11 The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, Elisabeth D. Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta, 1998


Sunday, July 09, 2006

Resensi Identitas

[Koran Tempo, Minggu, 4 Juni 2006]

Identitas adalah label yang konstan, yang setia, dan dengan seluruh perekatnya mengingatkan kita terus menerus akan hidup yang nyata, yang hakikat; yang bukan mimpi belaka. Dalam mimpi, identitas dan entitas berbaur dan mengabur. Kekaburan inilah yang membuat jarak antara yang mimpi dan yang nyata. Tetapi, di manakah letak dan makna identitas ketika yang mimpi dan yang nyata berkelindan?

Pemikiran tentang relasi antara entitas, identitas, yang mimpi, dan yang nyata tak berhenti sampai di situ. Dalam Identity (versi bahasa Indonesia berjudul Identitas, diterjemahkan oleh Landung Simatupang), Milan Kundera, dengan cerdas, reflektif, di beberapa bagian cenderung satir, mempertanyakan makna yang mimpi, yang imaji, terhadap identitas; terhadap perihal yang mendasari munculnya gagasan eksistensialisme. Dan yang terpenting, membungkusnya dalam peristiwa sederhana, yang sehari-hari, tanpa menyisihkan keunikan setiap perihal sehari-hari.

(["mb","p.27-28) Chantal tersipu,\ndan percakapan antara dua pribadi ini pun terhenti. Tetapi beberapa\nhari kemudian, Chantal mulai mendapati surat-surat tak bernama dalam\nsampul tak berperangko tak beralamat yang tertuju untuknya, terselip di\ndalam kotak posnya. "Aku menguntitmu ke mana-mana seperti mata-mata.\nKau cantik, cantik sekali." \n \nImaji akan seorang pengagum rahasia memantik kembali gairah hidup\nChantal yang memadam; ia merasa berada dalam kerumunan dan mulai\nterbakar hingga melenyap jadi sosok tak kasat mata karena menua. Imaji\nitu mengembalikan kepadanya gagasan tentang promiskuitas, hasrat\nmenjadi "aroma mawar yang merebak, menembus semua laki-laki dan,\nmenembus melalui laki-laki, merangkul seluruh dunia" (p.43). Lewat\nsurat-surat itu, Chantal merasa identitasnya mengutuh, yang sebelumnya\ntereduksi oleh keberadaan Jean-Marc. Surat-surat itu membuatnya kembali\ntersipu seperti remaja belasan tahun. Ia dengan asyik menerka-nerka\nsiapa laki-laki yang tahu persis detail kesehariannya, dan menghidupkan\nkarakter si pengagum rahasia dalam percintaan-penuh-gairahnya dengan\nJean-Marc. Alih-alih bercerita kepada Jean-Marc, ia memilih untuk\nmenyimpan surat-surat itu di balik tumpukan behanya; menghindari\nkonsekuensi diolok-olok oleh pasangannya sebagai pembual dan menikmati\nkesenangan akan dikagumi itu, sendirian. Hingga sebuah peristiwa\nmembangkitkan kecurigaan dan perasaan telah dikhianati yang rumit\nantara mereka berdua. \n \nSeperti dalam tulisannya yang sudah-sudah, yang analitik, eksploratif\ndan dengan elaborasi yang sabar, Kundera mengungkapkan kegalauan\nmanusia terhadap identitas, terhadap arti keberadaan. Kegalauan demi\nkegalauan itu tercecer dalam sudut-sudut kehidupan Chantal dan\nJean-Marc; cinta, persahabatan, kematian dan setelah-kematian, bahkan\nhidup sebelum kelahiran. "Ketahuilah, bahkan dalam perut ibumu pun,\nyang konon sakral, kamu masih tetap bisa dijangkau. Mereka memfilmkan\nkamu, mereka memata-matai kamu, mereka memperhatikanmu bermasturbasi.\nKamu tidak pernah bisa menghindar dari mereka selagi kau masih hidup,\nitu semua orang tahu. Tapi ternyata kamu juga tidak bisa menghindar\ndari mereka, bahkan sebelum kamu lahir pun. Begitu juga kamu tidak bisa\nmenghindari mereka sesudah kamu mati." (",1] ); Identitas adalah tentang sepasang kekasih yang hidup bersama; Chantal, si perempuan yang bergulat di antara khayalan tentang promiskuitas dan konformisme yang membuatnya baur dalam setiap kehidupan dengan wajah berbeda, dan Jean-Marc, si laki-laki berumur empat tahun lebih muda darinya, yang mencintai Chantal dengan mendalam dan dengan pemikiran romantisnya yang berujung pada katarsis. Pada suatu hari dalam liburan mereka, Chantal berkata kepada Jean-Marc, "Laki-laki tak lagi menoleh kepadaku". Jean-Marc menatapnya tak mengerti. "Lelaki tidak lagi menoleh memandangmu. Memang itu yang bikin kamu sedih?" Bagaimana kau bisa berpikir lelaki tidak lagi menolehmu, padahal aku tidak pernah berhenti mengubermu di mana pun juga kamu? (p.27-28) Chantal tersipu, dan percakapan antara dua pribadi ini pun terhenti. Tetapi beberapa hari kemudian, Chantal mulai mendapati surat-surat tak bernama dalam sampul tak berperangko tak beralamat yang tertuju untuknya, terselip di dalam kotak posnya. "Aku menguntitmu ke mana-mana seperti mata-mata. Kau cantik, cantik sekali."

Imaji akan seorang pengagum rahasia memantik kembali gairah hidup Chantal yang memadam; ia merasa berada dalam kerumunan dan mulai terbakar hingga melenyap jadi sosok tak kasat mata karena menua. Imaji itu mengembalikan kepadanya gagasan tentang promiskuitas, hasrat menjadi "aroma mawar yang merebak, menembus semua laki-laki dan, menembus melalui laki-laki, merangkul seluruh dunia" (p.43). Lewat surat-surat itu, Chantal merasa identitasnya mengutuh, yang sebelumnya tereduksi oleh keberadaan Jean-Marc. Surat-surat itu membuatnya kembali tersipu seperti remaja belasan tahun. Ia dengan asyik menerka-nerka siapa laki-laki yang tahu persis detail kesehariannya, dan menghidupkan karakter si pengagum rahasia dalam percintaan-penuh-gairahnya dengan Jean-Marc. Alih-alih bercerita kepada Jean-Marc, ia memilih untuk menyimpan surat-surat itu di balik tumpukan behanya; menghindari konsekuensi diolok-olok oleh pasangannya sebagai pembual dan menikmati kesenangan akan dikagumi itu, sendirian. Hingga sebuah peristiwa membangkitkan kecurigaan dan perasaan telah dikhianati yang rumit antara mereka berdua.

(["mb","p.61) Di satu bagian, Kundera\nmenyindir televisi dengan serangkaian program representasi kitsch yang\nmenenggelamkan manusia dalam kerumunan komunal dan melenyapkan\nidentitas, justru dengan mengangkatnya ke permukaan. Seperti\ndiungkapkannya dalam The Art of Novel, bagi Kundera novel adalah ajang\neksplorasi eksistensi manusia, tanpa menanggalkan kejenakaan yang satir\nsebagai spirit tulisan-tulisannya. \n \nNovel setebal 175 halaman ini terdiri dari 51 bab pendek-pendek,\nditerjemahkan oleh Landung dengan irama tutur memikat dan kosakata yang\nkaya. Perspektif penutur melompat-lompat dari Chantal ke Jean-Marc ke\npribadi sang penulis; di banyak bagian, pemikiran yang tecermin melalui\nkarakter di dalamnya membuat pembaca berhenti untuk merenung dan\nberefleksi. Surat-surat yang diterima Chantal hampir setiap hari\nmungkin mengingatkan kita pada Dunia Sophie (Jostein Gaarder); bedanya,\nTuhan dalam konteks Dunia Sophie adalah sang pencipta, dan tuhan dalam\nkonteks surat-surat untuk Chantal adalah wujud berhala baru manusia\nmodern: citra diri. Identitas, karenanya adalah sebuah novel posmo yang\nmempertanyakan kembali keberadaan manusia, ketika ia dipandang tak lagi\nsebagai manusia tetapi sebagai semata simulakrum. Pertanyaan itu\nbertahan hingga akhir cerita, di mana Chantal mengalami kebalauan\nidentitas di tengah imaji akan pesta orgy; sebuah kerumitan yang seolah\ntanpa ujung. Identitas meninggalkan gaung panjang selepas membaca. Ia\nmemantik pemikiran dan refleksi mendasar seorang manusia melalui sebuah\nskenario sederhana yang tidak bertele-tele. Akan tetapi, Identitas\nbukanlah sebuah jawaban. Sebab akhirnya justru permulaan pencarian itu\nsendiri. [] \n
*penulis, tinggal di Yogyakarta
",1] ); Seperti dalam tulisannya yang sudah-sudah, yang analitik, eksploratif dan dengan elaborasi yang sabar, Kundera mengungkapkan kegalauan manusia terhadap identitas, terhadap arti keberadaan. Kegalauan demi kegalauan itu tercecer dalam sudut-sudut kehidupan Chantal dan Jean-Marc; cinta, persahabatan, kematian dan setelah-kematian, bahkan hidup sebelum kelahiran. "Ketahuilah, bahkan dalam perut ibumu pun, yang konon sakral, kamu masih tetap bisa dijangkau. Mereka memfilmkan kamu, mereka memata-matai kamu, mereka memperhatikanmu bermasturbasi. Kamu tidak pernah bisa menghindar dari mereka selagi kau masih hidup, itu semua orang tahu. Tapi ternyata kamu juga tidak bisa menghindar dari mereka, bahkan sebelum kamu lahir pun. Begitu juga kamu tidak bisa menghindari mereka sesudah kamu mati." (p.61) Di satu bagian, Kundera menyindir televisi dengan serangkaian program representasi kitsch yang menenggelamkan manusia dalam kerumunan komunal dan melenyapkan identitas, justru dengan mengangkatnya ke permukaan. Seperti diungkapkannya dalam The Art of Novel, bagi Kundera novel adalah ajang eksplorasi eksistensi manusia, tanpa menanggalkan kejenakaan yang satir sebagai spirit tulisan-tulisannya.

Novel setebal 175 halaman ini terdiri dari 51 bab pendek-pendek, diterjemahkan oleh Landung dengan irama tutur memikat dan kosakata yang kaya. Perspektif penutur melompat-lompat dari Chantal ke Jean-Marc ke pribadi sang penulis; di banyak bagian, pemikiran yang tecermin melalui karakter di dalamnya membuat pembaca berhenti untuk merenung dan berefleksi. Surat-surat yang diterima Chantal hampir setiap hari mungkin mengingatkan kita pada Dunia Sophie (Jostein Gaarder); bedanya, Tuhan dalam konteks Dunia Sophie adalah sang pencipta, dan tuhan dalam konteks surat-surat untuk Chantal adalah wujud berhala baru manusia modern: citra diri. Identitas, karenanya adalah sebuah novel posmo yang mempertanyakan kembali keberadaan manusia, ketika ia dipandang tak lagi sebagai manusia tetapi sebagai semata simulakrum. Pertanyaan itu bertahan hingga akhir cerita, di mana Chantal mengalami kebalauan identitas di tengah imaji akan pesta orgy; sebuah kerumitan yang seolah tanpa ujung. Identitas meninggalkan gaung panjang selepas membaca. Ia memantik pemikiran dan refleksi mendasar seorang manusia melalui sebuah skenario sederhana yang tidak bertele-tele. Akan tetapi, Identitas bukanlah sebuah jawaban. Sebab akhirnya justru permulaan pencarian itu sendiri. []

*penulis, tinggal di Yogyakarta

Sunday, June 04, 2006

Wisata Bencana di Akhir Minggu

Transporter gaiacorps melaporkan, Jalan Imogiri Timur, Jalan Imogiri Barat, dan Jalan Parangtritis sepanjang pagi hingga menjelang malam ini mengalami kemacetan hingga sepanjang 3 kilometer.

Kemacetan diperkirakan terjadi karena meningkatnya jumlah wisatawan bencana pada akhir minggu ini, hari kedelapan pascabencana. Kebanyakan mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah bencana dan kamp-kamp pengungsian untuk memotret, atau sekadar melihat aktivitas pengungsi. Tetapi ada pula sejumlah keluarga yang berkeliling dengan mobil. Tidak sekadar untuk ‘berwisata’, tetapi juga membawa bantuan untuk disalurkan ke kamp-kamp pengungsian di sepanjang perjalanan. “Mereka datang sekeluarga, ngobrol-ngobrol, lalu membuka bagasi dan mengeluarkan sedikit bantuan yang mereka bawa,” ujar salah seorang relawan gaiacorps. Menurut Aan, salah satu transporter yang menjadi saksi mata, jenis-jenis bantuan yang mereka bawa di antaranya adalah sembako, hygiene kit, nasi bungkus, atau snack. Semuanya dalam kemasan-kemasan kecil.

Bencana gempa yang menimpa Jogjakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei yang lalu memang tak hanya mengundang keprihatinan massal, tetapi juga perhatian dan decak dari masyarakat, baik penduduk lokal Jogja maupun orang-orang dari luar daerah. Sejak hari kedua pascabencana, kepadatan jalan menuju daerah Bantul dan sekitarnya salah satunya disebabkan oleh mereka yang berdiri di tepi-tepi jalan, memadati situs-situs korban bencana, entah untuk sekadar menonton atau mengambil gambar. Beberapa situs yang mengundang perhatian media dan kalangan luas di antaranya adalah gedung STIE Kerjasama dan gedung BPKP di Jalan Parangtritis.

Maraknya wisata bencana juga ditandai dengan ‘lenyapnya’ kamera dari peredaran. Beberapa teman yang memiliki akses ke media rekam tersebut menyatakan sulitnya mendapatkan kamera Single Lens Reflect (SLR), dari jenis manual hingga digital, terutama pada akhir minggu ini. Demikian pula yang dialami oleh salah seorang teman fotografer amatir yang datang dari Jakarta. Sejak Sabtu hingga Senin mendatang, kedatangan fotografer-fotografer, baik profesional maupun amatir, dari luar daerah ke Jogjakarta, mencapai puncaknya. Mereka datang untuk merekam sisa-sisa bencana di tempat kejadian.

Wisata di kala pascabencana memang ekses yang, kendati ironis, tak dapat terhindarkan. Mobilisasi massa ke daerah bencana terjadi tak hanya karena padatnya arus bantuan, tetapi juga karena besarnya rasa ingin tahu. Masyarakat berlomba-lomba menjadi saksi mata peristiwa; berlomba-lomba mengabadikan situs yang terimbas bencana. Gambar dan rekaman peristiwa seolah barang langka layak koleksi yang mengundang decak kagum dan pantas dibanggakan. Barangkali pula, kelak sebagian dari mereka akan menghuni galeri dalam pameran-pameran foto tematis, menjadi mitos yang hidup dari mulut ke mulut. Menjadi bagian dari kenangan yang, meski menyakitkan, tetap saja mengundang decak kagum. Menjadi wacana yang dipolemikkan, lalu berhenti. Terlupakan. Beberapa dari mereka bisa jadi tak berhenti sampai di situ; gambar dan informasi yang mereka miliki mungkin turut mendatangkan sesuatu untuk mereka yang menjadi korban, yang hidupnya tak berhenti sampai di kamp pengungsian saja. Begitulah seharusnya.

Dalam perjalanan menuju Blali, Seloharjo, saya sempat bergumam dengan seorang teman saat melewati mereka: “Kalau saja mereka yang berdiri di tepi-tepi jalan nggak cuma nonton, tapi ikut melakukan sesuatu untuk para korban bencana.” Teman saya menimpali, “Apalagi jumlah mereka banyak sekali. Kalau sekian banyak orang dikerahkan untuk jadi relawan yang mendampingi korban, bayangin.”

Akhir minggu ini menjadi akhir minggu yang riuh-ramai di daerah Bantul dan sekitarnya. Sejumlah artis pun turut datang, entah apa pun maksud kedatangan mereka. Pengungsi dan korban bencana tentu ikut senang, karena kedatangan mereka membawa buah tangan. Tetapi jangan lupa berempati. Jangan hanya jadi penonton. Mereka tak suka ditonton. Tengoklah salah satu tulisan di tepi jalan:

“Tolong, desa xxx, 100 m (tanda panah) rusak parah. Kami butuh bantuan, bukan jadi tontonan!!!”

Wednesday, May 31, 2006

Yang Tertinggal dan Yang Hilang

Apa yang bisa kamu lakukan ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan tempat tinggal, kenangan, sarana penunjang hidup, bahkan orang-orang yang dicintai? Apa yang tertinggal untuk mereka? Apa yang bisa kita kembalikan kepada mereka, selain harapan akan hidup yang lebih baik?

Ribuan rumah mungkin dibangun, jutaan satuan bantuan boleh jadi berdatangan tak henti-henti, tim medis barangkali bersiaga 24 jam di kamp pengungsi korban, tetapi tak ada yang bisa mengembalikan hidup mereka seperti semula. Yang tertinggal jadi pepuing, di balik jerit terbekam reruntuhan.

Sesedikit apa pun yang dapat dilakukan untuk mereka, kami, Anda; kita gaiacorps, melakukan apa yang mungkin. Mengumpulkan tim medis, merangkul volunteer yang bersedia stay di lapangan, menghubungi base-base bantuan, sampai bersibuk dengan sms dan Yahoo Messenger untuk tujuan kurang lebih serupa. Sedari pagi, kehidupan di kantor Gaia sudah menyala; telepon keluar dan masuk hampir tak berjeda, sebagian orang mondar-mandir, dari telepon ke PC ke benam kertas ke tumpukan bantuan ke kafe di luar ke faksimili ke halaman, sampai kembali ke muka PC. Lalu lintas padat, meski tak sampai memacetkan.

Di sela-sela kesibukan itu, mitos tentang peristiwa-peristiwa aneh bin ironis pun beredar. Kemarin kami menerima sekotak besar bantuan obat-obatan yang ternyata kadaluarsa 4 tahun yang lalu. Masygul dan absurd. Di titik lain, satu atau beberapa pihak mengedrop tenda yang lantas, dengan penuh rasa syukur, didirikan dan dimanfaatkan oleh kampung korban di muka Jogja Expo Center. Belum habis rasa syukur mereka, seseorang tiba-tiba menagih iuran, 200 ribu rupiah per tenda yang berdiri! Alhasil, tenda pun rubuh. Harapan yang sempat mengembang kembali ciut. Belum lagi sikap pengusaha persewaan tenda yang adem-ayem titi tentrem karto raharjo selagi kampungnya turut menjadi korban, dan dengan asyiknya menggelar stok karpet mereka; bukan untuk dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh korban, tetapi untuk ditikam hangat cahaya matahari: dijemur. Betapa tak habis pikir. Pula tak habis pikir ketika isu tsunami di hari pertama gempa disiarkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab hingga membuat panik sekian ribu warga Jogja, demi secuil barang jarahan.

Bagaimanapun, bencana tidak lagi cukup peristiwa yang mengundang keprihatinan massal. Bencana tiba-tiba pun telah menjadi produk; komoditas yang laku dijual ke bendera-bendera pengusung kepentingan. Termasuk dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab di atas. Konflik kepentingan, termasuk klaim-mengklaim daerah, terjadi di sana-sini. Di tengah suasana genting, kepentingan birokrasi terus bertahan tak tergoyahkan, tak bisa diputus. Membuat orang-orang terus mengutuk. Sementara korban terdiam tak terurus. Terbengkalai.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?

To be, or not to be. That is the question.

Adakah tanda tanya itu di kepala Anda?

Yang Tertinggal dan Yang Hilang

Apa yang bisa kamu lakukan ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan tempat tinggal, kenangan, sarana penunjang hidup, bahkan orang-orang yang dicintai? Apa yang tertinggal untuk mereka? Apa yang bisa kita kembalikan kepada mereka, selain harapan akan hidup yang lebih baik?

Ribuan rumah mungkin dibangun, jutaan satuan bantuan boleh jadi berdatangan tak henti-henti, tim medis barangkali bersiaga 24 jam di kamp pengungsi korban, tetapi tak ada yang bisa mengembalikan hidup mereka seperti semula. Yang tertinggal jadi pepuing, di balik jerit terbekam reruntuhan.

Sesedikit apa pun yang dapat dilakukan untuk mereka, kami, Anda; kita gaiacorps, melakukan apa yang mungkin. Mengumpulkan tim medis, merangkul volunteer yang bersedia stay di lapangan, menghubungi base-base bantuan, sampai bersibuk dengan sms dan Yahoo Messenger untuk tujuan kurang lebih serupa. Sedari pagi, kehidupan di kantor Gaia sudah menyala; telepon keluar dan masuk hampir tak berjeda, sebagian orang mondar-mandir, dari telepon ke PC ke benam kertas ke tumpukan bantuan ke kafe di luar ke faksimili ke halaman, sampai kembali ke muka PC. Lalu lintas padat, meski tak sampai memacetkan.

Di sela-sela kesibukan itu, mitos tentang peristiwa-peristiwa aneh bin ironis pun beredar. Kemarin kami menerima sekotak besar bantuan obat-obatan yang ternyata kadaluarsa 4 tahun yang lalu. Masygul dan absurd. Di titik lain, satu atau beberapa pihak mengedrop tenda yang lantas, dengan penuh rasa syukur, didirikan dan dimanfaatkan oleh kampung korban di muka Jogja Expo Center. Belum habis rasa syukur mereka, seseorang tiba-tiba menagih iuran, 200 ribu rupiah per tenda yang berdiri! Alhasil, tenda pun rubuh. Harapan yang sempat mengembang kembali ciut. Belum lagi sikap pengusaha persewaan tenda yang adem-ayem titi tentrem karto raharjo selagi kampungnya turut menjadi korban, dan dengan asyiknya menggelar stok karpet mereka; bukan untuk dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh korban, tetapi untuk ditikam hangat cahaya matahari: dijemur. Betapa tak habis pikir. Pula tak habis pikir ketika isu tsunami di hari pertama gempa disiarkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab hingga membuat panik sekian ribu warga Jogja, demi secuil barang jarahan.

Bagaimanapun, bencana tidak lagi cukup peristiwa yang mengundang keprihatinan massal. Bencana tiba-tiba pun telah menjadi produk; komoditas yang laku dijual ke bendera-bendera pengusung kepentingan. Termasuk dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab di atas. Konflik kepentingan, termasuk klaim-mengklaim daerah, terjadi di sana-sini. Di tengah suasana genting, kepentingan birokrasi terus bertahan tak tergoyahkan, tak bisa diputus. Membuat orang-orang terus mengutuk. Sementara korban terdiam tak terurus. Terbengkalai.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?

To be, or not to be. That is the question.

Adakah tanda tanya itu di kepala Anda?

Tuesday, May 30, 2006

Urgent: bantuan gempa Seloharjo, Bantul, DIY

Halo, ini Miranda, on behalf of Yayasan GAIA, Jln Jembatan Merah 84 B
(Timur LIA).

Mohon dibantu.
Yayasan GAIA sedang mencoba membantu para pengungsi di daerah Pundong
desa Seloharjo Lapangan Mblale Bantul karena daerah ini dianggap nggak
papa padahal apa2. Yayasan GAIA telah keliling dr desa ke desa dan
menyurvey berbagai hal.

Dibutuhkan:
Tenda
Selimut
Kompor dan bahan bakarnya
Alat masak
Makanan kering maupun basah (biskuit, roti, dan semacamnya)
Jarum suntik
Cairan infus
Jarum jahit
Benang jahit
Sofratule
Kassa steril
Alkohol
Rivanol
Betadine
Hipofix
Povidon
OBH syrup
Perban besar
Perban elastis
Bidai
Spalk
Kapas
Furosemide
Pehacaine
Transamin
Adona
Cotrimoxazole syrup
Amoxycillin syrup
Hansaplast
Metocopamide
Sakaneuron
Ibuprofen
Ciprofloxacin
Voltadex
Neurodex
Hufavicee
Daneuron
Amoxicillin
Asam Mefenamat
Terra F
Neuromex
Captopril
Bedak salicyl
Ketokonazole tablet
Multivitamin anak
Mertigo
GG
CTM
Serum ATS
Vaksin TT
Cairan antiseptik

Untuk yang akan menyumbang uang bisa lewat :
No rek gempa Bantul
BCA 0940648114 a/n yudhi hermanu
kancab Rawamangun

Untuk yang punya kenalan NGO/Funding lokal/international yang dapat
membantu, tolong forward kontak ke GAIA atau memforward pengumuman
ini. Untuk yang berminat bisa datang ke GAIA jadi relawan.

Thks sebelumnya.
Miranda.

Yayasan GAIA
Jl. Jembatan Merah 84B Gejayan Yogyakarta
(0274) 524117
0816685871 (Difla)
www.yayasan-gaia.org
http://gaiacorps.blogspot.com